
“Zack, kenapa ke rumah lu? Gue mau balik ke Apartemen.”
“Gue mau memberi tahu sesuatu.” Zacky menoleh ke belakang, tempat Arinda dan Dito duduk. “Enggak usah khawatir. Kalo takut sama gue, ada Dito yang bakal menjaga lu.”
Arinda menoleh ke samping. Dito mengangguk patuh seraya senyum tiga jari.
Mereka bertiga turun dan memasuki rumah Zacky.
“Koper lu gue taruh di kamar, ya, Rin.”
“Zack! Enggak usah. Lu mau kasih tahu apa? Langsung aja, biar cepet. Setelahnya, gue pulang.”
Arinda enggan untuk menginap. Ia hanya mau mendengar apa yang hendak Zacky beri tahu.
“Zack, sekaranglah waktunya.” Dito berucap seraya menepuk bahu sang sahabat.
“Kalian kenapa, sih? Sebenarnya ada apa?” Arinda memandangi Zacky dan Dito.
“Ayo, Rin!” Zacky menarik tangan Arinda dengan Dito mengekor di belakang.
“Lu mau apa, sih, bawa-bawa gue ke kamar? Lepas tangan gue!”
Zacky menurut.
Ketika tangan itu terlepas, pandangan Arinda lurus ke depan. Kemudian, terbengang melihat pemandangan di dinding kamar. Foto dirinya bersama Zacky saat wisuda beberapa waktu lalu terpajang. Lebih mengejutkan lagi, pigura tersebut bersanding dengan bingkai gambar yang dulu dilihat. Sebuah potret keluarga bahagia.
“Mereka keluarga gue,” ucap Zacky melirik ke Arinda.
Arinda menoleh dengan wajah kesal. “Cabut foto gue, Zack. Gue bukan keluarga lu!”
Zacky diam saja.
Karena geram, Arinda maju untuk mencopot foto dirinya. Namun, lengannya ditahan dokter muda itu.
“Rin, dengar. Bisa kita berbicara baik-baik?”
“Lepas! Gue kasih waktu sepuluh menit.”
“Lu adik kandung gue.” Hanya perlu hitungan detik untuk Zacky mengungkap siapa mereka.
Arinda mengerjap beberapa kali kemudian tertawa. “Halu lu, Zack. Udah, ah. Gue balik.”
“Rin, gue serius.”
Baru saja membalikkan badan, Arinda kembali memutar tubuhnya.
“Ini bukan April Mop atau konten prank. Bercanda boleh, Zack. Tapi, ada batasan.”
Zacky mengambil sebuah amplop dari dalam tas punggung yang belum ia lepas. Kemudian, memberikannya kepada Arinda. “Baca.”
Arinda menerima, membaca dengan saksama, dan seketika tercengang. “Ini ....”
Dito lebih memilih naik ke atas kasur. Pasalnya, ia enggan ikut campur urusan beradik-berkakak tersebut.
“Maaf, Rin. Saat gue tahu, tetapi gak langsung memberi kabar. Gue menunggu bukti itu supaya lu percaya.”
Arinda terduduk lemas di pinggir kasur seraya menggeleng. “Enggak mungkin. Ini bohong kan, Zack?”
“Itu kebenaran, Rin.”
__ADS_1
“Sebelum Papa Erwin wafat. Memang Papa sempat menceritakan kalau mereka bukanlah orangtua kandung gue.”
“Loh, ternyata lu udah tahu.”
Arinda mengangguk. “Jadi, gue bukan anak hasil hubungan gelap. Gue punya asal-usul. Gue ....”
Zacky memeluk Arinda.
“Orang tua kita berprofesi sebagai dokter. Nama Papa dr. Darius Adiwarman, ia merupakan dokter Spesialis bedah Onkologi. Dan, Mama kita, Zahra Alena, adalah seorang dokter anak.”
“Zack ....”
“Lu pernah nanya kan kenapa bisa gue tiba-tiba menjadi dokter? Orang tua kitalah yang menjadikan gue bersemangat mengejar gelar tersebut. Gue ingin seperti mereka.”
“Ternyata itu alasannya.” Arinda melepas pelukan. Zacky pun mengangguk. “Bukankah, gue juga pernah bilang ingin menjadi dokter bedah. Ikatan batin itu ternyata memang kuat. Lalu, di mana mereka? Gue mau ketemu.”
“Mereka sudah meninggal bersamaan dengan hilangnya adik gue. Yaitu elu, Rin.”
Zacky menceritakan kisah sedih perihal kecelakaan dan menghilangnya Arinda. Cerita yang ia dapat dari Om Dahlan dan Tante Rani. Kedua orang yang sudah dianggapnya seperti orangtuanya sendiri.
Arinda bersedih mendengar peristiwa kecelakaan tersebut. “Jadi, gue udah gak punya orangtua?”
“Tapi, sekarang lu punya gue. Gue akan menjadi orangtua, kakak, sahabat, teman, sekaligus penjaga buat lu.”
“Gue masih gak percaya. Kenapa bisa kakak gue sendiri berada dekat sekali. Tapi, kita berdua gak tahu.”
“Gue udah merasakannya saat kepergian Ricko ke London lantas lu memeluk gue.”
“Maksud lu?”
Zacky menceritakan kembali dan flashback kisah di Bandara. Getaran rasa yang membingungkan, itu cinta atau bukan? Lalu, dokter muda itu melanjutkan cerita kalau sudah mencari-cari sang adik sejak lama. Tapi, baru menemukan titik terang sekarang.
“Ikatan batin kita sebagai saudara kandung juga sama kuat.”
Arinda mengangguk. “Zack, bukankah kita satu angkatan sekolah dan sama tahun kelahiran?”
“Melihat dari akta palsu yang mereka bikin, sepertinya orangtua angkat lu asal menebak usia. Makanya, kita bisa satu angkatan dan tahun kelahiran. Lagi pula, usia kita berdua hanya terpaut satu tahun.”
“Siapa nama gue?”
Zacky tertawa. Ia mendudukkan diri di samping Arinda. “Gue sampe lupa memberi tahu nama asli lu.”
“Nama gue adalah ...."
“Zaskia Alicia.”
Arinda terdiam sesaat. Kemudian, berucap, “Nama yang cantik.”
“Secantik elu.”
Arinda tersenyum. “Zack, apa Ricko tahu perihal ini?”
“Ya. Saat pertengkaran malam itu, gue mengungkapkan semuanya. Hanya gue meminta untuk merahasiakan lebih dulu karena ingin bilang sendiri.”
Pantas aja, kamu begitu percaya diri akan mendapat restu Pak Roni. Ternyata, sudah tahu kartu AS-ku. Dasar curang, untung sayang. Aku senang, kita masih ada harapan untuk bisa bersama, Rick. Arinda berucap dalam hati seraya semakin mengembangkan senyum.
“Boleh gantian sekarang gue memeluk elu, Zack?"
“Dengan senang hati.” Zacky merentangkan tangannya dan Arinda langsung memeluknya erat.
__ADS_1
Sementara, tanpa keduanya sadar, Dito sudah pulas di atas kasur.
“Gue senang ternyata masih punya keluarga. Walaupun rasa tak percaya masih menyelimuti."
"Gue pun senang ternyata adik yang selama ini hilang masih hidup. Udah gitu, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, baik hati, tangguh, dan pandai menjaga kehormatan diri."
"Pujian lu berlebihan. Gue aslinya nyebelin, Zack."
"Oh, ya? Se-menyebalkan apa pun elu, gue bakal tetap sayang, kok."
"Peres."
"Serius. No tipu-tipu."
Keduanya tertawa.
"Zack, berarti, ungkapan cinta tempo hari buat gue di depan Ricko adalah sebagai kakak. Gue ngerti sekarang.”
“Ya. Gue akan terus beri cinta dan kasih buat lu, Zaskia.”
“Zack, bolehkah gue tetep dipanggil ‘Arinda’? Bukan apa, nama itu sudah kadung melekat di diri gue. Tapi, kalo lu gak setuju, gak papa.”
“Nama itu memang pemberian Papa dan Mama. Dan, ya, lu tetap Zaskia walaupun dipanggil ‘Arinda’ sekali pun. Jadi, gak masalah.”
“Thanks, Zack. Perlu gue panggil ‘Kakak’?”
“No. Tetap panggil seperti biasa.”
“Oke.”
Zacky melepas pelukan dan bangun. Kemudian, membuka lemari dan mengambil sebuah album foto keluarga. Ia memberikan kepada Arinda.
Arinda membukanya perlahan. Menatapnya dengan sendu. Gadis itu tak menyangka jika benar kata Pak Rahardian. Kalau ia berasal dari keluarga baik-baik dan terhormat.
Tidak heran, jika kalian merestui hubunganku dengan Ricko begitu mudah. Ternyata, sudah tahu siapa jati diriku. Lalu, apakah Pak Roni tak mengetahuinya? Ah, aku rasa ‘iya', mengingat ucapannya terakhir kali. Arinda membatin. Ia teringat pertemuan siang tadi dengan orang nomor satu di Narendra itu.
Flashback on
Suara ketukan pintu kamar terdengar. Arinda bergegas membukanya. Ia kaget mendapati seorang pria tua yang ia kenal dari televisi dan media adalah Roni Bagaskara Narendra.
“P-pak Roni.”
“Rupanya sudah tahu siapa diriku.”
Arinda menunduk. “Iya.”
“Tinggal satu atap dengan cucuku, apakah bisa dikatakan dirimu perempuan baik-baik?”
Arinda semakin menunduk dalam. “Maaf. Saya akan pergi.”
“Ya, pergilah. Aku hanya menerima calon cucu-menantu dari keluarga dan wanita baik-baik.”
Perkataan pria sepuh itu begitu menohok. Tapi, Arinda tak menangis ataupun marah. Pikirnya, apa yang diucapkan Roni adalah kebenaran. Asal-usul yang tak jelas adalah alasan kuat untuk pembenaran tersebut.
Kemudian, Arinda mengangguk dan bergegas membereskan pakaian juga barang-barang lain. Lalu, pamit kepada Roni dan sepasang suami-istri yang terus mengekor sang penguasa narendra.
Flashback off
Ricko, semoga dengan mengetahui siapa jati diriku, Pak Roni akan memberikan restu. Sekarang, kamu pasti sedang berbicara dengan beliau, ‘kan? Aku menunggu kabar baik darimu. Rasa tak sabar untuk bersamamu, Calon Pengantinku, gumam Arinda senang.
__ADS_1