ARINDA

ARINDA
Senjata ampuh


__ADS_3

“ARINDA! Mau ke mana kamu?!”


Duh, Papa, apa mau aku mati muda? Kali ini client-mu mau berniat jahat padaku. Lihat saja, seringainya mengerikan. Bagaimana ini? Perasaan mulai tak enak. Ayo, Arinda! Cari alasan yang masuk akal.


Arinda menarik napas dalam-dalam kemudian mencoba tersenyum sangat manis. “Pa, aku lupa punya banyak PR. Bagaimana jika perginya ditunda dulu sampai Minggu depan?”


“Tapi, kakak ingin pergi denganmu hari ini. Aku ingin mengajakmu ke tempat yang spesial,” sela Nirwan seraya tersenyum misterius.


“Ah, jadi begitu. Bisa kakak tunda sampai Minggu depan. Tugasku menumpuk! Kalau tidak mengerjakannya, aku bisa di hukum oleh guru di Sekolah.” Sial! Tempat spesial macam apa? Sangat mencurigakan?


“Kamu tidak usah khawatir. Jika menurut, kita akan pulang dengan cepat.”


Orang ini benar-benar memuakkan! Lalu, sekarang harus bagaimana? Gue gak ingin pergi sama dia. Haruskah berpura-pura pingsan saja atau akting kesurupan? Ah, jangan-jangan! Nanti kalau benar-benar kerasukan jin, repot. Setan di rumah ini sangat mengerikan. Lihat saja rajanya, 'kan! Arinda membatin seraya menunjuk Erwin dengan ekor matanya.


Gadis itu masih terdiam, karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia memilki firasat tak enak dengan laki-laki ini.


Tapi, sepertinya tak ada pilihan lain lagi selain menerima ajakan itu. Akhirnya dengan berat hati, Arinda terpaksa mengangguk, mengiakan kata-kata Nirwan.


Memang, tak biasanya gadis itu nyalinya menciut ketika berhadapan dengan buaya darat. Pasalnya, pertemuan terakhir mereka berakhir dengan masalah. Jadi, wajar saja jika Arinda memiliki perasaan takut.


Bukan apa, cita-citanya untuk bersama Ricko belum kesampaian. Masa harus lebih dulu mati!


Arinda pun meringis dengan pikirannya barusan. Memang, tujuan hidupnya saat ini hanya untuk Ricko, Ricko, dan terus Ricko. Tak ada yang lain.


Semoga kematian gak menjemput gue dengan cepat, gumam Arinda.


❄️❄️❄️


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembusi jalanan Ibu Kota. Arinda terus komat-kamit merapalkan doa. Perasaannya semakin tak keruan.


“Kita ingin pergi kemana, Kak?”


“Berbelanja! Bukankah kau menyukainya?”


Arinda diam tak menjawab Nirwan. Semoga tak ada hal buruk terjadi. Gadis itu menggenggam erat tasnya.


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Nirwan mengajaknya ke salah satu store ternama. Pria itu mempersilakan Arinda untuk memilih apa pun yang ia mau.


Tapi, gadis itu sedang tidak berminat untuk berbelanja. Lagi pula, wanita yang masih berstatus pelajar kelas tiga itu sudah tak tertarik lagi dengan hal tersebut.


“Kenapa diam? Pilihlah yang kau suka.”


Arinda masih bergeming. Pikirannya ke mana-mana. Wanita bayaran sepertinya bisa apa. Kepuasan pelanggan di atas segalanya kecuali tidur bersama.


Erwin sering mengatakan, kalau ia harus menurut kepada sang tuan yang telah membayarnya. Tentu, bayaran tersebut jatuh ke tangan orangtuanya sekaligus merangkap muncikari putrinya sendiri. Sedangkan dirinya, mendapat hujatan dari masyarakat.


Gadis itu menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar.

__ADS_1


Gue bagai wanita murahan yang tak ada harganya di mata para lelaki. Ricko, aku rindu kamu. Hanya kamu yang bisa menghargai aku, gumam Arinda ingin rasanya menangis.


“Kak, aku sedang tidak mood berbelanja, bisa kita pulang saja.”


“Kakak mengeluarkan uang cukup banyak untuk mengajakmu keluar. Lalu, kau dengan seenaknya meminta pulang!”


Terus, salah gue? Begitu?! Salahin aja tu bokap gue yang tak bermoral. Dan, kenapa juga keluarga berpendidikan nan kaya raya macam lu itu, mau-maunya di permainkan oleh penjahat macam si Erwin. Dasar bodoh! Arinda membatin.


“Kakak saja yang berbelanja? Aku tidak mau membeli apa pun.”


“Baiklah, kita akan pulang.”


Hati Arinda terus gelisah. Ada apa ini? Kenapa juga Nirwan dengan mudah menurutinya? Gadis itu semakin di cekam rasa takut.


❄❄️❄️


Tiba di tempat parkir, ternyata sudah ada dua orang laki-laki duduk di kursi depan. Si pengemudi memiliki badan lebih kecil daripada seseorang di sampingnya.


Arinda mengernyit dan mengumpat dalam hati. Dasar brengsek! Jadi, beraninya membawa tukang pukul. Pengecut!


Arinda dipaksa masuk oleh Nirwan. Mereka berdua duduk di kursi belakang. Gadis itu lagi-lagi harus menurut dan ia benci keadaan ini.


Sudah hampir dua jam perjalanan, tetapi belum juga sampai. Mobil mereka menyusuri jalan yang cukup sepi. Langit di luar juga sudah menampakkan kegelapan.


Arinda mulai khawatir. Mengingat sepanjang perjalanan hanya ada pepohonan di kiri dan kanan. Penerangan pun tertolong oleh cahaya dari sorotan lampu mobil.


Arinda mencoba mengancam Nirwan. Siapa tahu dia takut. Jadi, ia bisa terbebas dari kerumitan ini.


Tapi, di luar perkiraan, justru Nirwan tertawa. Tawa yang terdengar seolah-olah sedang mengejek perkataannya barusan.


“Kau bilang apa? Erwin akan membunuhku? Bahkan, si bodoh itu tak memiliki nyali untuk menatap mataku!”


Kakak benar! Si bodoh itu tak akan mungkin berani memandang orang lain yang telah memberinya banyak uang. Apalagi, sampai membunuhnya! Itu sangat mustahil.


“Kenapa kau diam? Kau setuju dengan perkataanku?” Lanjut Nirwan lagi bertanya dengan penuh penekanan.


Arinda menoleh ke arah Nirwan. “Katakan saja, ke mana kau akan membawaku?”


Nirwan tersenyum, “Kau tidak bisa sabar, ya, Cantik! Tenanglah, kau akan segera tau! Kita akan bersenang-senang.”


Perkataan Nirwan benar-benar membuat Arinda lemas. Ia tak ingin hidupnya berakhir seperti ini. Gadis itu mencoba membuka pintu mobil, tetapi terkunci. Sepertinya, bandit-bandit ini sudah merencanakan semuanya dengan rapi.


Arinda menoleh ke arah Nirwan. Pria itu tengah menatapnya dengan seringai mengerikan.


“Jangan macam-macam denganku, Nirwan! Turunkan aku disini!”


Nirwan mengangkat bahu, tak peduli dengan permintaan Arinda. Pria itu kini sibuk dengan ponselnya. Sesekali mengetikkan sesuatu disana.

__ADS_1


Tak lama kemudian, akhirnya sampailah mereka di sebuah vila yang menjorok ke dalam. Sangat sepi dan gelap. Kiri kanan hanya ada pepohonan tinggi dan lebat. Seperti hutan!


Mereka keluar dari mobil. Lebih tepatnya, Nirwan memaksa Arinda turun. Ada beberapa orang berbadan cukup besar berjaga di depan.


Pria itu menarik Arinda ke dalam vila. Kemudian, laki-laki itu mendorongnya ke dalam sebuah kamar dan menguncinya dari dalam. Mereka sekarang hanya tinggal berdua saja.


Arinda hanya bisa pasrah. Ingin melawan, tetapi banyak sekali penjaga yang mengikuti mereka sampai depan kamar tadi.


“Kau sudah salah memilih lawan, Arinda!”


“Apa maksud, Kakak? Aku tidak mengerti?”


“Kau ingat kejadian di mana kekasihmu menghajarku hingga membuat kita tertahan di ruang keamanan Mall Diamond. Itu sungguh memalukan!”


Nirwan menyeringai dan ia mulai melucuti kemejanya sendiri. Sehingga, bagian tubuh atasnya sudah polos.


Arinda bergeming, betul ‘kan pemikiran gue tadi. Pria gila itu ingin balas dendam. Pantas saja perasaan gue sejak tadi gak enak. Rupanya, ini yang akan terjadi. Lihat saja! Bahkan, laki-laki itu sudah membuka pakaiannya. Mau apa dia? Ingin memerkosa gue? Hei! Tak akan semudah itu, Ferguso!


Arinda mencoba tenang dan menjelajah isi kamar dengan kedua matanya untuk mencari jalan keluar agar bisa kabur. Gadis itu mulai menerapkan ilmu-ilmu yang diberikan Mami Dewi. Salah satu muncikari yang sangat baik. Bahkan, begitu menjaganya dari para pria hidung belang.


Oleh sebab itu, dulu atau pun sekarang, Arinda tak pernah menjadi bagian dari wanita tuna susila di sana. Karena, Mami Dewi sangat menyayanginya dan menganggapnya seperti putrinya sendiri.


Sejak menginjakkan kaki di warung remang-remang. Mami Dewi sering mengajarkan, bagaimana cara untuk melawan atau pun melarikan diri dari para laki-laki brengsek. Wanita itu juga membekali satu resep senjata yang cukup ampuh untuk melumpuhkan lawan.


Sayangnya, Mami Dewi telah berpulang karena penyakit kelamin yang ia derita sejak dua tahun lalu. Sebelum pergi, wanita itu berpesan kepada Arinda untuk menjaga dirinya dengan baik.


“Sudah kubilang, aku punya pacar. Tapi, kakak tidak mau mengerti. Jadi, jangan salahkan aku jika dia memukulimu.”


“BRENGSEK!”


“Kau yang brengsek!”


Nirwan tertawa, “Aku tidak suka wanita pembangkang!”


“Aku bukan wanitamu!”


“Kau benar-benar tidak takut dengan situasi kita sekarang rupanya.” Nirwan menyeringai dan melangkah mendekati Arinda.


“Sayangnya, aku cukup pintar untuk memahami situasi ini sedari awal. Aku akan meyakinkan kakak jika ini adalah pertemuan terakhir kita.”


Seringai Nirwan seketika menghilang. Pria itu mengernyitkan dahi.


“Apa maksudmu?”


Diam-diam Arinda mengambil senjatanya di dalam tas dan langsung menggunakannya untuk melumpuhkan laki-laki itu.


“Nirwan, it's time to say goodbye!”

__ADS_1


__ADS_2