ARINDA

ARINDA
Arinda Nabila


__ADS_3




Kecemasan, ketegangan, dan kelelahan berakhir sudah. Selama hampir kurang lebih dua bulan, Arinda dan Ricko harus bolak-balik pengadilan untuk menjadi saksi kasus suap, penggelapan uang, dan pembunuhan berencana.


Dito pun tidak ikut menjadi saksi. Karena, lelaki itu ketika ditanya via telepon oleh Ricko, memohon agar tak ikut terlibat. Di tambah juga tak memiliki waktu untuk bolak-balik ke Pengadilan.


Persidangan bersyukurnya hanya berlangsung sebentar. Pasalnya, semua bukti lengkap dan kuat. Bahkan, para tersangka pun sudah mengakui. Jadi, pengadilan bisa dengan cepat mengetuk palu tiga kali.


Otak penggelapan uang adalah Dennis dibantu oleh empat area manajer senior. Beberapa kepala staf baik di pusat maupun cabang turut menjadi tersangka. Dan, orang luar seperti beberapa tenant, Handoyo, dan tiga staf pusat PT. Surya Mandiri ikut menjadi pesakitan.


Bahkan, staf biasa seperti beberapa orang gudang, petugas keamanan mal, dan bagian administrasi turut terseret.


Leni, Seno, dan Dennis pun terkena pasal berlapis yakni penggelapan uang, kasus suap, dan pembunuhan berencana.


Seketika semua orang yang terlibat dalam korupsi dinyatakan bangkrut oleh pengadilan. Harta mereka disita untuk membayar kerugian perusahaan. Dengan total setelah penghitungan ulang mencapai triliunan.


Siska, Lusi, dan Jessica pun ikut masuk sel. Pasal pembunuhan berencana menjerat mereka.


Akan tetapi, Siska hanya sebentar berada di tahanan. Selebihnya dan mungkin seumur hidup akan abadi di Rumah Sakit Jiwa. Hasil pemeriksaan medis menyatakan jika wanita itu mengalami gangguan kejiwaan.


“Rin, kamu jadi ikut donor darah?”


“Jadi. Kamu?”


“Aku menemani saja, ya.”


“Kenapa tidak ikut sekalian?”


“Tak apa.”


“Sepuluh menit lagi mulai. Kita turun sekarang aja. Habis itu makan siang di restoran piza, ya?”


“Bukannya di kantor sudah menyiapkan menu sehat untuk para penderma?”


“Ricko, ih! Aku mau makan piza,” ucap Arinda seraya mencebik.


Ricko tertawa seraya mengusap kepala Arinda. “Gitu aja ngambek.”


“HALO, BRO!”


Arinda dan Ricko menoleh. Namun, bukan mereka yang terkejut melainkan seseorang yang baru datang itu.


“Arinda! Lu ngapain disini?”


“Lu sendiri ngapain disini, Dit?” Ricko balik bertanya.


“Ketemu sohib. Kangen gue sama lu.”


“Bokis!” seru Ricko.


“Dit, gue mau donor darah. Lu mau ikut?” tanya Arinda.

__ADS_1


“Boleh tuh! Kuy!” jawab Dito bersemangat.


Ketiganya keluar dari ruangan dan bersiap mendermakan darah.


🌺🌺🌺


“Rin, gue serius nanya. Lu ngapain?” tanya Dito masih penasaran seraya menggigit piza.


“Kerja, Dit,” jawab Arinda.


Sejak kejadian di vila puncak dan membuat Dito tak sadarkan diri. Mereka bertiga belum bertemu lagi. Jadi, sahabat Ricko itu belum mengetahui apa pun.


“Gile lu, Rick. Sebegitunya gak mau jauh dari Arinda. Sampe kudu kerja aja mesti bareng. Kalo gitu, buru, deh. Sebar undangan. Gue sama Zacky siap menjadi groomsmen-nya.”


Arinda tersenyum kikuk. “Kita cuma teman dan rekan kerja, Dit.”


“Hah! Aje gile! Rick, nyesel lu kalo Arinda sampe disamber cowok lain. Lelet banget, sih, bukan buruan lamar!” seru Dito geregetan sendiri.


“Udah, deh, Dit. Lu dateng bikin kisruh aja. Sebenernya, lu mau ngapain ke kantor gue?” Ricko mencoba mengalihkan pembicaraan.


Satu Minggu yang lalu, Ricko terbang ke Belanda khusus hanya untuk menemui sang kakek. Ia ingin bicara empat mata.


Saat tiba di kediaman Roni. Pria sepuh tersebut mengabaikan Ricko. Tapi, ia tetap gencar mendekati sang kakek. Semua keluarga sudah merestui hubungannya dengan Arinda. Hanya tinggal restu dari Opa-nya saja.


Ricko bertekad akan menaklukkan hati Opa Roni. Sebagai cucu kesayangan, ia yakin bisa meluluhkan sang kakek.


Dan, benar saja. Tiga hari berada di Belanda dan terus merayu, akhirnya Roni menyerah.


Merasa kasihan, Roni memilih mengikuti kemauan sang cucu. Namun, dengan satu syarat. Pria sepuh itu meminta pertemuan terlebih dahulu dengan Keluarga Arinda.


Hanya dua hal yang perlu di garis bawah. Siapa pun yang masuk ke dalam keluarga kelak. Harus berasal dari keluarga dan orang baik-baik. Itu saja.


Dua kriteria yang dulu tidak ada pada Shavic. Oleh sebab itu, pria itu memilih insaf agar Keluarga Narendra merestui hubungannya dengan Rifa.


“Zacky bentar lagi balik ke Indonesia. Satu Minggu yang lalu gue teleponan. Tapi, gak tahu tepatnya kapan dateng,” terang Dito.


“Oh. Itu doang. Telepon kan bisa, Dit,” ujar Ricko.


Dito berdecak kesal. ”Di bilang gue kangen sama lu, Rick.”


“Wah! Kalian pasti senang kumpul lagi,” sela Arinda.


“Yoi, Rin.”


🌺🌺🌺


Ricko dan Arinda kembali berkutat dengan pekerjaan setelah makan siang. Dito pun langsung pamit pulang. Katanya, ada urusan pekerjaan.


Selang beberapa menit kemudian. Telepon genggam Ricko berdering.


“Halo.”


“Bos, saya sudah kirimkan email perihal Keluarga Nona Arinda.”


“Oke.”

__ADS_1


Ricko menutup telepon dan langsung membuka email tersebut. Membacanya dengan saksama. Ia mengusap wajahnya secara kasar. Memijit pelipisnya kemudian mengepalkan tangan.


Email tersebut berisikan data-data tentang Arinda yang merupakan anak angkat. Orang tua gadis itu menyogok seseorang agar bisa membuatkan akta kelahiran.


“Arinda, apa kamu tahu jika Mamamu yang telah di makamkan bukanlah ibu kandung?”


Ricko menatap ke arah pintu, seolah-olah bisa menembusinya. Karena, meja kerja Arinda berada di balik sana.


“Apa yang akan terjadi jika kamu mengetahui fakta ini? Lalu, bagaimana juga aku harus menjelaskan kepada Opa? Akan semakin lama saja aku mempersuntingmu, Sayang.”


Ricko bingung. Opa Roni meminta bertemu keluarga Arinda. Tapi, kenyataan yang ada justru semakin membuat semuanya rumit.


“Ke mana aku harus mencari keberadaan keluarga kandungmu?”


Ricko langsung mengambil ponsel dan menelepon orang suruhannya tadi.


“Halo.”


“Iya, Bos.”


“Cari sampai dapat di mana keluarga kandung Arinda. Kau harus menemukannya.”


“Baik, Bos. Tapi, mungkin membutuhkan waktu.”


“Tidak masalah. Kerahkan orang-orangmu. Jika kau mendapatkan info lebih cepat. Aku akan memberi bonus sepuluh kali lipat.”


“Baik, Bos. Perintah langsung dilaksanakan.”


Telepon ditutup oleh Ricko.


“Aku pasti menemukan keluargamu, Arinda. Bersabarlah, Sayang.”


🌺🌺🌺


Sementara, sore hari di tempat lain.


“Dokter Faris, bagaimana sampel darah yang dibutuhkan? Dapat?”


“Tentu saja.” Faris menunjukkan satu kantung darah hasil donor tadi siang di gedung perkantoran milik Narendra Corp.


“Terima kasih, Dok.”


“Traktir makan jangan lupa.”


“Beres.”


“Baiklah. Sekarang kita ambil darahmu. Setelahnya, akan langsung kukerjakan.”


“Butuh berapa lama untuk hasilnya keluar?”


“Kurang lebih dua sampai empat Minggu. Bisa lebih cepat, sih. Mau menunggu, 'kan?”


“Tentu.”


Aku yakin seribu persen bahwa kamu adalah Kia. Gadis kecil yang dulu hilang! Bukti DNA ini akan aku berikan kepadamu. Supaya, aku tidak dianggap membual. Tunggulah kakakmu sebentar lagi. Bersabarlah, batinnya seraya tersenyum dan bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2