ARINDA

ARINDA
Malaikat tak bersayap


__ADS_3

Seorang laki-laki tengah sibuk berkutat di depan laptopnya. Seperti kebiasaannya setiap pagi, selalu mengecek semua email-email.


Terdapat satu notifikasi pesan masuk. Ia menyipitkan matanya, takut salah melihat. Karena, pria itu pikir alamat tersebut tak ada yang mengetahui.


Lelaki berperawakan tegap dan berwajah tampan itu membukanya. Kemudian, ia memanggil seseorang untuk menonton bersama. Wajah serius kentara sekali terlihat, mereka melihat video itu dalam diam.


Usai menonton, sesegera mungkin ia menghubungi anak buahnya untuk mengurus pencarian.


Laki-laki itu menoleh, “Kau cemas?”


Hanya anggukan yang diberikan sebagai jawaban.


“Aku sudah menghubungi semuanya. Percayakan kepada mereka, gadis itu akan segera ditemukan.”


“Bagaimana dengan ....”


“Jangan terlalu banyak berpikir. Aku juga sudah memerintahkan mereka mengurus yang lainnya. Kita tinggal menunggu kabar saja.”


“Pastikan jika gadis itu ditemukan dalam keadaan hidup. Jangan sampai aku mendengar berita kalau dia sudah mati. Karena, akan ada kematian yang lainnya jika itu terjadi.”


“Ya, kau tenang saja. Bagaimana sarapanku? Apakah sudah siap? Aku sangat lapar.”


“Kau ini, aku sedang serius bicara!”


“Oh, Honey! Jangan marah, aku minta maaf. Tapi, aku benar-benar kelaparan.”


❄️❄️❄️


Tiga mobil jip melaju di atas jalanan berbatu. Bagi mereka, menelusuri hutan adalah hal biasa. Mata pun bagai elang menatap tajam sekitar.


Saat jalan sudah buntu, mereka turun dari mobil. Menyusur kembali hutan dengan memecah orang menjadi beberapa tim. Di tangan mereka sudah siap senapan laras panjang.


Dua orang bertubuh tinggi dan tegap terlihat di badan jalan. Salah satunya adalah Ketua Pasukan Khusus yang ditugaskan untuk melakukan pencarian. Pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya.


“Bos, pasukan sudah menyebar di area hutan dan kawasan vila. Akan kami hubungi jika ada perkembangan.”

__ADS_1


“Susur terus hutan. Jangan berani kembali jika belum menemukan sang nona! Dan, tangkap semua orang yang terlibat. Jangan meninggalkan jejak apa pun. Seret mereka ke markas!”


“Baik, Bos. Perintah siap dilaksanakan!”


❄️❄️❄️


Hanya butuh waktu satu jam untuk menemukan target. Sang ketua langsung memberi perintah.


“Bawa nona ke rumah sakit. Pastikan mendapat perawatan terbaik di Ruang VVIP.”


“Siap, laksanakan!”


Dering ponsel sang ketua terdengar, ia langsung menggulir layar hijau ke atas.


“Semua target sudah di bawa ke markas. Satu orang melarikan diri, tetapi pasukan sedang mengejarnya.”


“Temukan dia atau kau yang akan mati!”


“Siap, Ketua! Perintah dilaksanakan!”


❄️❄️❄️


Gadis itu baru siuman setelah hampir tujuh jam terbaring. Rasa sakit di kaki dan tangan akibat jatuh masih terasa. Ia juga mengalami kelelahan dan dehidrasi, hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Bersyukur semuanya telah terlewati. Seseorang dari balik kaca yang terdapat pada pintu kamar rawat tersenyum. Ia lega gadis itu sudah sadarkan diri.


“Suster, bisa saya minta tolong berikan ini kepada gadis itu. Jika dia bertanya, tidak perlu menjelaskan apa pun. Terima kasih.”


Arinda memandangi kalung dan cincin pemberian Ricko yang tadi diberikan seorang suster. Ia bertanya-tanya, siapa yang sudah menolongnya. Sudah sempat menanyakan perihal itu kepada beberapa suster dan dokter, tetapi tak ada satu pun yang menjawab.


“Pasti kamu yang menolongku ‘kan, Rick?” Baru saja memberi argumen, sepersekian detik kemudian Arinda langsung menyangkal.


“Tapi, tidak mungkin. Kamu masih di London. Ah, jadi siapa yang sudah menolongku. Apakah sekawanan gorila membawaku ke rumah sakit ini? Siapa tau mereka menganggapku kekasih Tarzan.”


Arinda kemudian tertawa dengan pemikirannya sendiri. Terlalu banyak menonton film menjadikannya senang berfantasi.

__ADS_1


Selama satu Minggu lebih Arinda di rawat di rumah sakit. Saat pulang, tak ada kertas penagihan untuknya. Entah, siapa malaikat yang membayar semua biaya itu. Padahal, ia menginap di kamar VVIP.


Gadis itu hanya menitipkan salam kepada suster dan dokter. Salam darinya dan ucapan terima kasih kepada sang penyelamat. Karena, sudah menolongnya dari kematian.


Bahkan, ketika pulang ke rumah, satu mobil pribadi sudah siap untuk mengantar. Mencoba menanyakan hal yang sama kepada sang pengemudi dan jawabannya hanya seulas senyum. Malaikat memang tak terlihat, tetapi nyata adanya.


❄️❄️❄️


Gadis cantik, berkulit putih, dan memiliki hidung bangir itu kembali pulang. Jangan berpikir akan ada sambutan untuknya atau tangisan haru.


Tidak sama sekali! Semua berjalan datar saja. Seperti tak pernah ada yang terjadi. Seandainya mati pun, mungkin mereka bukan mengadakan tahlil, tetapi pesta.


Nita sempat memberi satu pelukan kemudian pergi. Wanita yang begitu di jaga dan di cinta oleh Arinda berlalu tanpa menanyakan kabarnya. Bahkan, tak curiga akan kedatangannya kembali yang tiba-tiba.


Arinda mengikuti sang mama dari belakang. Gadis itu menarik pelan tangan Nita.


“Ma, setidaknya tanyakan kepada putrimu ini, apakah aku ini masih manusia atau bukan? Lihatlah kakiku, apakah masih menapak atau mengambang? Berpura-puralah bersedih agar aku senang,” ucap Arinda sendu.


“Mama tau kamu baik-baik saja. Lalu, apa yang mesti di khawatirkan.”


“Ma ....”


“Mama banyak pesanan kue. Kamu istirahatlah di kamar.”


Mama ....


Arinda menatap kepergian Nita dengan nanar. Kekecewaan tengah meliputinya.


Sementara Erwin, tidak perlu di harapkan! Jangankan bertanya, menoleh saja tidak.


Arinda menghela napas lelah. Di rumah ini memang tidak ada cinta dan kebahagiaan. Suasananya selalu panas, kesejukan hanya ditemukan ketika membuka lemari pendingin dan mengunyah es batu.


Gadis itu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Kaki dan tangannya sudah perlahan membaik. Hanya tinggal pergelangan tangannya masih di sangga oleh gips. Lusa nanti, dokter menyuruh melepasnya di rumah sakit terdekat saja.


Lelah dengan semua yang terjadi, Arinda memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian, gadis itu memejamkan mata. Ia tak mengantuk, tetapi hanya ingin menutup mata saja.

__ADS_1


“Bagaimana cara agar aku membencimu, Ma. Karena, setiap kali mencoba, selalu saja gagal. Aku tak bisa melakukannya.”


__ADS_2