ARINDA

ARINDA
Kecanduan


__ADS_3

Harapan satu-satunya kandas sudah. Arinda memutuskan kembali ke ruangan Ricko. Berjalan gontai dengan wajah lesu tak bersemangat. Kemudian, mendudukkan diri di sofa.


Ricko mengernyit melihat Arinda masuk tanpa kata dengan wajah tersebut.


“Rin,” panggil Ricko.


Tak ada sahutan.


“Arinda,” panggil Ricko lagi.


Hening!


Ricko beranjak bangun. Ia menghampiri Arinda dan duduk di sampingnya. Menatap lekat gadis yang sedang terbengang menatap ke depan.


Tiba-tiba, satu ide jail muncul di kepala. Ricko mendekatkan wajahnya ke arah Arinda untuk mengetahui reaksinya. Namun, gadis itu tetap bergeming. Tanpa menunggu lagi. Pria itu langsung mendaratkan ciuman di bibir merah muda favoritnya.


Arinda sontak kaget. Lalu, mendorong wajah sang atasan. “Ricko! Apa-apaan, sih?! Ih, kamu tu jangan suka curi-curi kesempatan!”


Ricko mencebik. “Ya, kamu bengong aja. Aku takut kamu kesambet.” Duh, gemas banget, sih. Pake acara sok jual mahal. Kemarin aja nyosor-nyosor duluan. Sayang aja lagi pedes tu bibir. Kalo enggak, aku bakalan menghabisinya tanpa ampun, tanpa jeda, dan tanpa batas waktu.


“Ricko, ih!”


“Ada apa, sih?”


Arinda menatap lekat Ricko. “Pak Dennis dan sekutunya ingin menjebakmu. Aku mendengar sendiri pembicaraan mereka. Aku hanya takut di pesta nanti terjadi sesuatu kepadamu.”


Arinda terpaksa berbicara jujur. Karena, tak memiliki pilihan lain. Ia hanya ingin Ricko mewaspadai diri.


Bagi gadis itu, nyawa Ricko sangat berharga. Berbeda dengan harga nyawanya yang tak memiliki nilai apa pun. Bahkan, mungkin kematian bisa menjadi ide terbaik untuk melepas semua beban berat kehidupan yang cukup kejam.


Aku akan menjagamu dengan nyawaku, Rick. Denyut jantungku adalah kamu. Jadi, kamu harus terus hidup. Biar pun aku bisa saja mati. Aku tak apa mengorbankannya untukmu. Arinda membatin sendu.

__ADS_1


“O, ya? Jadi, mereka sudah mencuri start? Lalu, kamu mengkhawatirkanku, tetapi lupa mengkhawatirkan diri sendiri.” Arinda, justru aku mencemaskanmu. Aku bahkan tak peduli dengan nyawaku. Keselamatan dirimu nomor satu.


“Ricko, aku serius!” seru Arinda kesal. Pasalnya, Ricko terlihat santai.


Ricko tertawa. “Kamu lupa siapa aku? Aku cukup menguasai beberapa ilmu bela diri. Judo, tinju, karate, dan kedua tanganku cukup piawai untuk mematahkan leher seseorang.”


“Ricko! Kamu tu benar-benar, ya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyombongkan diri.”


“Aku tidak sombong. Kan kamu yang terlalu mengkhawatirkanku. Jadi, supaya kamu tenang, aku mengatakan semua.”


“Memang kamu akan menjagaku?”


“Tentu saja.”


“Aku pun.”


“Arinda, tetap berada di sisiku saat pesta nanti dan kamu akan baik-baik saja. Lalu, jangan pernah berpikir untuk menjagaku. Aku bukan laki-laki lemah.”


“Dengan apa? Dengan tubuh mungilmu ini?”


“Ricko, ih!” Sial! Ricko terlalu meremehkan wanita sepertiku. Biar pun memiliki tubuh kecil. Tapi, nyali ini besar. Berkali-kali pun hampir kehilangan nyawa. Namun, lihat saja sampai dengan hari ini masih bernapas. Di dunia malam yang kelam, aku bisa menjadi perempuan licik. Kabur adalah keahlianku, Rick.


“Tidak ada bantahan. Menurut padaku dan kita berdua akan selamat.”


Rick, terkadang otot sering kalah oleh otak. Dan, sepertinya Dennis dan sekutunya menggunakan otak juga otot untuk menjebakmu. Tapi, mungkin kita bisa saling melengkapi ... ah, iya, benar. Kamu punya otot dan aku akan menggunakan otak. Kita akan menjadi partner yang cocok. Tinggal faktor keberuntungan yang menentukan. Yaitu, semoga nyawa kita masih bersatu dengan badan. Arinda membatin.


“Berjanji padaku, kamu akan terus hidup?” Setidaknya, teruslah hidup untuk keluargamu. Orang-orang yang menyayangimu. Kalau aku, siapa yang mau peduli? Kita saling cinta pun rasanya tiada guna. Sulit untuk menyatukan perasaan kita berdua. Terlalu rumit dan terjal.


Ricko menyunggingkan senyum dan menggesek hidungnya dengan hidung Arinda. “Kita akan terus hidup.”


“Kita?”

__ADS_1


“Ya, kamu dan aku,” ucap Ricko seraya mendaratkan ciumannya di bibir Arinda. Kemudian, melepasnya dan menatap lekat sang pujaan. “aku tak pernah bisa tahan jika melihat bibirmu. Bibir seksi merah mudamu sangat membuatku kecanduan. Bolehkah aku sering merasakannya?”


“Kamu harus membayarnya.”


Ricko menaikkan satu alisnya. “Jadi, ada harganya?”


“Tentu saja.”


“Berapa aku harus membayarnya?”


“Bayarlah dengan nyawamu. Teruslah hidup. Dan ... aku akan merelakan bibir merah muda ini untuk selalu kamu rasakan.”


Ricko menyunggingkan senyum dan menyentuh bibir Arinda dengan ibu jari. “Demi bibir merah muda nan seksi milikmu. Aku akan menjaga nyawa ini agar terus hidup.”


“Goodboy,” ucap Arinda seraya mengacak rambut Ricko.


“Berjanjilah hanya aku yang boleh merasakannya?”


“Tentu. Bibir ini hanya milikmu.”


“Kata-kata itu sangat manis dan sungguh membuatku terbang mengawang.”


“Aku cinta kamu.”


Aku juga cinta kamu, ucap Ricko dalam hati. Kemudian, mendaratkan kembali ciumannya dengan hasrat menggebu.


Yuhuuuu, aku kasih challenge. Mau?


Mau aja, yess. Hehehe ....


Kalau episode hari ini sudah mencapai 30 likes dan 10 komentar. Kuy! Enggak pake lama aku up episode berikutnya langsung.

__ADS_1


Tararengkyuuu 😘🤗💞


__ADS_2