
Berpacu bersama si brown, kuda besi kesayangan. Melintasi hiruk pikuk jalanan ibu kota. Menyalip di antara kendaraan roda empat. Ingin berkemudi dengan cepat, tetapi sayangnya kemacetan menghambat!
Waktu! Arinda mengejarnya!
Pasalnya, si bos sedari tadi sudah marah-marah. Semua orang tanpa kecuali terkena imbas. Bahkan, Dini yang tak pernah kena omel pun ikut menjadi korban.
Satu divisi ketakutan! Tak ada yang tahu-menahu, kenapa tiba-tiba sang marketing director itu terus meluapkan kobaran amarah di pagi hari yang cerah?
Arinda terpaksa meninggalkan briefing paginya. Karena, Mbak Dini terus menelepon dan meminta agar gadis itu cepat datang.
Satu jam kemudian
“Se-lamat pa-gi. Maaf ter-lambat,” sapa Arinda dengan deru napas masih tersengal-sengal.
Semua memandang gadis cantik itu dengan wajah sendu dan tegang! Pasalnya, sebentar lagi mereka akan menyaksikan amarah yang meluap dari Ricko untuk Arinda. Karena, ia datang terlambat.
Akan tetapi, tak ada yang terjadi. Bahkan, Ricko mengabaikan kedatangan Arinda.
Gadis itu segera duduk di kursi kosong tepat di ujung berhadapan dengan Ricko. Arinda melepas kacamata yang masih bertengger di hidung mancungnya. Lalu, pandangannya bertemu dengan netra sang pemimpin divisi. Namun, beberapa saat kemudian pria itu terlebih dahulu memutuskan tatapan mereka.
“Siapkan presentasi kalian!” titah suara dingin milik Ricko dan membuat suasana semakin mencekam.
Ada apa dengannya? Aneh sekali. Arinda membatin.
Atmosfer angker terus menyelimuti suasana di ruang rapat. Bahkan, satu divisi itu merasa sedang berada di ruang interogasi dan merekalah tersangkanya.
Pasalnya, setiap orang yang presentasi selalu saja ada kesalahan yang membuat Ricko murka! Sarapan berupa makian pun diberikan cukup royal oleh sang atasan.
Nasib bawahan dengan posisi sang pemimpin divisi adalah pewaris menjadikan mereka pasrah. Mau mencoba berargumen, tetapi mana berani. Belum sempat mengoreksi ucapan saja, netra pekat itu sudah menatap tajam! Nyali seketika berhamburan dan berganti wajah pucat pasi!
Herannya, dari semua orang yang presentasi, Ricko tak berkomentar apa pun kepada Arinda. Ia lolos tanpa hambatan! Lebih anehnya, sang bos sama sekali tak menatap gadis itu.
Saat Arinda berbicara, Ricko asyik sendiri membaca berkas di tangan. Seolah-olah tak peduli!
Suara ketukan pintu terdengar. Salah satu karyawan masuk dan memberikan map yang berisi beberapa lembar kertas penting.
Dini menerimanya, membuka, dan melihat apa yang tertera disana. Seketika wanita itu mendongak dan menatap Arinda dan Ricko secara bergantian.
Ada apa?
Pertanyaan tersebut diberikan oleh semua orang di dalam ruangan, tetapi hanya dipikiran mereka masing-masing. Namun, Ricko segera merampas kertas tersebut dan membacanya dengan teliti.
Sama seperti Dini, Ricko pun langsung menatap Arinda. Tatapan kesal sekaligus helaan napas beradu secara bersamaan.
Ada apa? Kenapa Mbak Dini dan Ricko menatapku begitu? batin Arinda.
🌺🌺🌺
Bunyi gebrakan meja tak hentinya bergaung. Seseorang dengan raut wajah tampan nan dingin terus saja mengomel tak keruan.
Sejak semalam, suasana hatinya sangat tidak baik. Di tambah lagi harus mendapatkan kabar yang membuatnya semakin naik pitam.
“Arinda! Arinda! Arinda! Terus saja dirimu membuat kepalaku serasa mau pecah! Kapan kamu menjauh dari hidupku?!”
“Tidak akan pernah!”
__ADS_1
Ricko mengernyit kemudian membalikkan badan. “Arinda ....”
Arinda melangkah mendekati Ricko. “Kenapa marah-marah terus?”
“Bukan urusanmu!”
Arinda terus melangkah semakin dekat. Ricko memilih mundur, tetapi sialnya sudah mentok membentur tembok.
“Menjadi urusanku kalau kamu nanti kena serangan jantung, stroke, atau hipertensi kemudian mati muda!”
“Kamu menyumpahiku supaya cepat mati?!”
Arinda melangkah kembali sehingga jarak mereka hanya sekitar satu jengkal saja. Kemudian, memukul dada bidang itu satu kali.
“Mana mungkin! Tapi, kamunya tu aneh banget hari ini. Kenapa memarahi mereka semua di ruang rapat? Kita belum menikah, masa aku sudah harus merasakan menjadi janda!”
“Siapa juga yang mau menikahimu?”
“Kamu!”
“Tidak sudi!”
“Ricko Bagaskara!”
“Harusnya yang marah sama kamu itu aku!”
“Aku salah apa?!”
“Seenaknya masuk apartemen orang lain! Dasar tidak punya sopan santun!”
“Salahkan dirimu sendiri kenapa memakai nomor pin apartemen tanggal jadian kita dulu!”
Ricko teringat memang belum sempat mengganti nomor pin tersebut. Kesibukan membuatnya lupa untuk melakukannya.
“Lupa atau masih cinta!”
“Lupa!”
“Bohong!”
“Terserah! Dan kamu, jangan lagi memasuki apartemenku! Apalagi, sampai mengacak-acaknya kembali!”
“Aku tidak mengacak-acak! Justru aku membantumu membersihkannya dan mencuci pakaian-pakaian kotor yang berserakan! Tidak tahu terima kasih!” Tunggu! Pakaian ... itu ....
“Tidak usah sok-sok perhatian! Aku tidak membutuhkannya! Akan ada yang datang satu Minggu sekali untuk bersih-bersih!”
Mereka berdua saling berteriak dengan intonasi tinggi! Sahut-menyahut tanpa henti, terus keluar dari bibir keduanya. Kali ini, tak ada yang mau mengalah!
Akan tetapi, kalimat terakhir Ricko sama sekali tak digubris oleh Arinda. Ia sedang berfokus pada sesuatu dan menatapnya tanpa sadar.
Melihat Arinda tak lagi menyahut, Ricko refleks terdiam. Kemudian, mengikuti ke mana arah mata itu memandang.
Ricko melihat bagian area sensitifnya sedang menjadi objek pandangan Arinda.
“Kamu melihat apa?” tanya Ricko seraya menatap curiga.
“Itu ... kamu ....”
“Apa?”
__ADS_1
Tangan Arinda terjulur hendak menarik celana Ricko. Tapi, dengan cepat tangan kekar itu menahan.
“Arinda! Mau apa kamu?!”
“Aku hanya mau lihat, kamu memakai pakaian dalam atau tidak. Karena, semalam aku mencucinya dan ....”
“Diam!” Pria itu menutup mulut Arinda dengan kedua tangannya.
Oleh sebab itu, hari ini Ricko marah-marah. Karena, semalam mendapati semua baju kotornya sudah tertata dengan rapi di jemuran. Termasuk, pakaian-pakaian dalamnya yang menggantung sempurna di hanger roll. Kaget, kesal, dan malu bercampur jadi satu!
Dan, untuk menutupi semua rasa tersebut, Ricko memilih bersikap lebih kejam dari biasanya. Juga untuk menyamarkan kegugupannya di depan Arinda.
Gadis itu melepas secara kasar tangan Ricko!
“Aku hanya khawatir kamu tidak memakainya atau masih basah dipakai juga?”
“Memang kamu pikir aku semiskin itu sampai-sampai membeli pakaian dalam saja tidak mampu! Sembarangan!”
Arinda terlihat berpikir kemudian berucap seolah tanpa dosa. “Oh, memakai yang baru. Apa warna hitam lagi yang kamu beli?”
Ricko melotot! Kembali, rasa malu sekaligus kesal datang menghampiri. Ia heran dengan gadis ini, kenapa begitu gamblang membicarakan pakaian dalam seseorang di depan orangnya langsung?!
“Diam! Ke mana rasa malumu?!”
“Memang aku melakukan apa sampai harus malu? Aneh!”
“Astaga, Arinda! Kamu sedang membicarakan pakaian dalam seorang pria!”
“Oh, iya. Aku semalam memegangnya juga ikut malu sendiri dan ....”
Ricko lagi-lagi harus menutup mulut Arinda.
“Diam!” Kemudian, melepasnya seraya menunjuk kening gadis itu. “di pikiranmu ini berisi apa? Berhenti membicarakannya!”
Arinda meringis kemudian menatap Ricko. Sepersekian detik kemudian baru tersadar akan kebodohan tersebut.
Ya, ampun! Malu banget, sih! Masa anak gadis inget-inget celana dalam cowok. Biar pun calon suami, tetapi 'kan belum muhrim. Arinda, otak lu sudah ternoda. Dasar bodoh! Gadis itu membatin.
Arinda cengar-cengir. Mundur perlahan. Tapi, baru saja mau berbalik, Ricko meraih pinggang ramping itu dan memeluknya erat.
“Kenapa? Baru menyadari sikap dan ucapan tak senonohmu kepadaku.”
Arinda menelan salivanya. “A-aku minta maaf. A-aku banyak pekerjaan. Bisa lepaskan tanganmu.”
Ricko menggeleng. “Banyak pekerjaan, tetapi sempat mampir kesini. Sungguh karyawan teladan.”
Arinda menyunggingkan senyum. “Ricko ....”
“Iya, Sayang.”
Arinda terpaku! Panggilan tersebut tak membuatnya senang sama sekali. Karena, keluar di saat yang tidak tepat. Justru, itu terdengar seperti mengejek.
“Ricko ....”
Ricko mengelus pipi Arinda. “Sayang, dengar ....”
Tiba-tiba, tiga kecupan super cepat mendarat di kedua pipi dan bibir Ricko. Ia spontan kaget sehingga melepaskan tangannya di pinggang itu.
Arinda memakai kesempatan tersebut untuk melepaskan diri. Kemudian, berlari keluar ruangan.
__ADS_1
Ricko pun mematung! Kemudian, mengerjapkan matanya dua kali. Ketika kesadaran kembali, ia mengulum senyum dan menggeleng.
“Aku mati-matian menahannya. Tapi, kamu malah membangunkan singa jantan ini. Awas kamu Arinda! Dan, bibir itu masih saja lembut. Aku merindukannya. AH, SIAL!"