
Sudah dua Minggu Ricko tidak masuk ke kantor. Keluarganya menyuruh istirahat. Padahal, pria itu merasa telah sehat dan juga tidak betah berada di rumah terlalu lama.
Pasalnya, selama itu pula tidak bisa bertemu Arinda. Karena, gadis itu mengatakan sedang sibuk. Jadi, tidak bisa datang menjenguk. Kesibukan di kantor dan juga menyiapkan berkas kasus suap untuk di bawa ke pengadilan.
Sejujurnya, itu adalah alasan Arinda untuk Ricko atas suruhan Rahardian. Agar sang pujaan mengerti kenapa dirinya tidak datang menjenguk. Walaupun pada kenyataannya memang benar sibuk.
Rahardian ingin Ricko banyak istirahat agar cepat pulih. Lelaki itu hanya takut kedatangan Arinda menganggu jam tidur sang putra.
Arinda pun menurut. Gadis itu juga ingin Ricko cepat sembuh.
Saat mendengar sang cucu kesayangan tertembak, Roni panik. Ia mencemaskan kondisi Ricko. Sekaligus geram dengan putranya yang tak becus menjaga anaknya sendiri.
Pada hari ini pun, semua keluarga di wajibkan datang. Untuk ia minta penjelasan sekaligus pertanggungjawaban.
Begitu menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta. Roni langsung menuju kediaman Rahardian. Ia datang bersama Risa, putri kedua Rahardian dan Anggun.
Dengan derap langkah perlahan. Roni berjalan menuju kamar sang cucu. Namun, mengurungkan niat untuk menemui Ricko. Karena, pria itu tengah tertidur.
Lalu, Roni memilih langsung ke ruang keluarga. Semua anak, menantu, cucu, dan Shavic disuruhnya cepat berkumpul agar bisa cepat di interogasi.
Roni duduk di sebuah sofa panjang dengan Risa dan Anggun mengapitnya. Sementara Shavic dan Rifa duduk di seberang mereka. Lalu, Rahardian memilih agak menjauh dari sang ayah. Namun, tetap bisa terlihat dan mendengar dengan jelas.
Dengan wajah murka dan sorot mata tajam. Roni tanpa sungkan membentak semua orang.
“MENJAGA SATU ORANG SAJA TIDAK BISA! KE MANA SAJA KALIAN?! BAGAIMANA JIKA RICKO MATI?! SUDAH KUBILANG JAGA ANAK ITU!” Kalimat berintonasi tinggi dilayangkan Roni.
Semua diam. Tak ada yang menyahuti sang penguasa Narendra.
“Rahardian! Shavic! Kenapa bisa datang terlambat menolong Ricko?! Sudah tidak peduli pada cucuku, heuh!” teriak Roni menunjuk kepada anak dan cucu-menantunya dengan intonasi sedikit diturunkan.
“Biasanya, anak buah Shavic ada yang mengikuti Ricko. Tapi, selama itu dilakukan tak pernah terjadi apa pun. Oleh karena itu, kita berpikir kalau anak itu bisa menjaga dirinya dengan baik. Jadi, tak perlu sampai membuntutinya secara terus-menerus. Hanya memberikan waktu kalau sampai pukul sebelas malam belum kembali, baru bergerak,” terang Rahardian.
“Omong kosong macam apa itu! Buktinya cucuku celaka!” sewot Roni tak terima.
“Dokter bilang luka tembaknya tak ada yang mengkhawatirkan. Dan, Shavic beserta anak buahnya datang tepat waktu,” sahut Rahardian.
“Seharusnya, Ricko tak perlu mengalami luka tembak jika saja kalian menjaganya sejak awal!” balas Roni.
“Ya, sudah. Kita mengaku salah. Berhentilah marah-marah. Ingat, tensimu cukup tinggi. Jangan sampai masuk rumah sakit akibat darah tinggi.” Rahardian memilih mengalah, ia capai juga berdebat dengan sang ayah.
“RAHARDIAN! KAU MENYUMPAHIKU?!” teriak Roni kembali ke intonasi awal, tinggi.
Memang hanya Rahardian yang berani menyahuti Roni. Pasalnya, yang lain enggan berurusan dengan orang nomor satu di Narendra.
Mereka enggan berargumen yang ujungnya pasti harus mengalah juga. Seperti Rahardian sekarang ini.
Bahkan, Shavic pun memilih diam daripada meladeni kemarahan lelaki sepuh tersebut. Padahal, namanya turut disebut, tetapi ia tak marah. Justru, memaklumi sikap Roni.
Bagaimanapun posisi Ricko sebagai pewaris memang seharusnya ada yang menjaga terus setiap saat. Bukan malah merasa yakin semua akan baik-baik saja. Hanya perkara sang penerus pandai ilmu bela diri.
Shavic pun turut merasa bersalah karena lalai menjaga adik iparnya.
__ADS_1
Suara berdeham membuat semuanya menoleh.
“RICKO!” seru Anggun langsung berdiri menghampiri sang putra. “Kenapa keluar dari kamar? Kamu 'kan belum sembuh betul.”
“Aku sudah sehat, Mam. Tidak usah khawatir,” jawab Ricko.
Terkadang Ricko agak kesal dengan keluarganya yang selalu khawatir berlebihan. Sampai tertembak saja harus istirahat sampai dua Minggu. Menurutnya, itu terlalu kekanak-kanakan. Karena, ia merasa bukan lagi anak kecil.
Tapi, apa daya. Ricko harus menurut.
“Ricko! Kemari, Nak. Peluk Opa.”
Ricko menghampiri Roni dan mendudukkan diri di samping sang kakek. Kemudian, memeluk erat pria sepuh itu.
“Opa, apa kabar?” tanya Ricko. Kemudian, lanjut memeluk wanita-wanita Narendra.
“Seharusnya, Opa yang menanyakan kabarmu. Bukan malah sebaliknya, Ricko.”
Ricko tersenyum. Kemudian, berujar, “Opa, jangan memarahi siapa pun. Ini semua salahku karena kurang hati-hati menjaga diri. Lagi pula, aku baik-baik saja.” Ia sempat mendengar sekilas pembicaraan mereka. Oleh karena itu, harus ada yang diluruskan.
“Besok-besok kamu harus dikawal.”
“Aku tidak akan menyukainya, Opa.”
“Ricko ....”
“Opa tidak percaya padaku?”
“Opa, aku akan menjaga diriku lebih baik lagi. O, iya. Opa tahu tidak? Aku memiliki seorang wanita yang hebat. Dia saja sebagai perempuan bisa menjaga dirinya. Bahkan, menolongku saat di vila sebelum Kak Shavic datang. Lalu, apa katanya jika aku memiliki penjaga? Itu akan menurunkan martabatku sebagai laki-laki.”
“Perempuan? Hebat? Dia menolongmu di vila? Siapa dia?” rentetan pertanyaan diberikan Roni.
Seketika semua menegang mendengar pembicaraan cucu dan kakek tersebut. Pasalnya, mereka menutup rapat tentang Arinda. Karena, kejadian dahulu saat Ricko putus. Kemudian, menghancurkan kamarnya dan sampai berkelahi, membuat Roni tak menyukai gadis tersebut.
Akan tetapi, dengan polosnya Ricko menyenggol nama Arinda. Tanpa tahu akan akibatnya nanti.
“Ricko, kita istirahat di kamar. Ayo, Papa antar!” Rahardian mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Diam, Rahardian! Aku sedang berbicara dengan cucuku.” Roni kembali berfokus pada Ricko. “Siapa dia, Nak?”
“Namanya Arinda. Aku mencintainya Opa. Aku akan menikahinya. Toh, masalah kita sudah selesai, bukan?”
“Arinda?” Sepertinya nama itu tak asing. Aku pernah mendengarnya. Tapi, di mana dan kapan?
“Iya, aku sangat mencintainya, Opa.”
“Siapa dia? Kenapa tidak pernah memperkenalkan kepada Opa?”
“Kami pernah berpacaran sewaktu SMA. Lalu, aku pindah ke London dan sekarang bertemu lagi.”
Roni terdiam sejenak. Ia masih mencoba mengingat nama itu.
__ADS_1
Sementara, selain Roni dan Ricko. Semuanya menegang menunggu setiap kata yang keluar dari bibir sang penguasa Narendra.
Mereka merasa sia-sia telah menutupi identitas Arinda selama ini. Karena, Ricko justru begitu gamblang bercerita.
Roni menatap Ricko. Tatapan penuh selidik. “Apa dia gadis yang menyebabkan kamu menghancurkan kamar?”
Ricko tersenyum. “Iya. Tapi, itu sudah berlalu. Aku mencintainya, Opa.”
“Lupakan dia!”
Ucapan Roni begitu menohok Ricko. Ia kaget dengan apa yang Opa-nya katakan. Seketika senyumnya luntur. “Kenapa?”
“Opa tidak menyukainya! Dia sudah menyakitimu.”
“Opa. Dia gadis baik. Lagi pula, aku sudah melupakan hal tersebut. Dan, setelah mengenalnya nanti, aku yakin Opa pasti akan menyukainya.”
“Sekali Opa bilang tidak! Ya, tidak!”
“Tapi, Opa ....”
“TIDAK ADA BANTAHAN RICKO!”
Ricko tersentak kaget saat sang opa membentaknya. Ini untuk kali pertama, pria sepuh itu melakukan hal tersebut kepadanya.
“Biarkan mereka bersama,” sela Rahardian membela Ricko.
“Diam kau Rahardian!”
“Ricko anakku. Bagaimana mungkin aku diam? Restui saja mereka.”
“Risa! Kapan jadwal kepulangan kita ke Belanda?” tanya Roni dan mengabaikan permintaan Rahardian.
“Lusa, Opa.”
“Kalau begitu sekarang kita pulang.” Sebelum beranjak pergi. Roni menatap sang cucu tajam. “Dan, kau Ricko! Jangan pernah bermimpi Opa akan memberikan restu!”
Ricko menatap lurus ke depan tanpa menyahuti sang kakek. Pria itu mengepalkan tangan.
Ricko POV
Sial!
Masalah yang satu selesai. Kenapa harus datang lagi masalah yang lain?
Itu pun datang dari Opa.
Arinda, maafkan aku.
Maaf, harus menggantungmu dan menungguku kembali. Juga, terpaksa menelan pil pahit untuk kedua kali. Aku janji ini adalah yang terakhir.
Aku akan meluluhkan hati Opa lebih dulu. Baru menyatakan cinta kepadamu dan setelahnya kita akan menikah.
__ADS_1
Sekali lagi, aku harap kamu mau bersabar.