ARINDA

ARINDA
Menyerah


__ADS_3

HAPPY READING 🤗💞


.


.


.


“ARINDA!”


Suara itu?


Arinda menoleh dan mendapati Ricko dengan wajah garang berjalan cepat ke arahnya. Kemudian, tanpa aba-aba menarik lengan kecil itu agar berdiri.


“Bagus! Jadi, begini kelakuanmu?”


“Ricko, ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan?”


“Lalu, apa?”


“Maaf, bukan saya menyela urusan kalian. Tapi, kita tidak sengaja bertemu dan hanya mengobrol saja,” ujar Alfian.


Ricko menatap tajam Alfian. Kemudian, pergi meninggalkannya seraya menarik Arinda.


“Masuk!” Ricko mendorong tubuh Arinda agar masuk ke dalam mobil.


Mobil sedan hitam itu memelesat di atas aspal jalanan Kota Malioboro. Begitu sampai di rumah, Ricko menarik paksa Arinda keluar dari mobil.


“Ricko! Lepas! Sakit!”


“Diam!”


“Ricko!”


Rasa tak sabar melihat Arinda terus meronta. Ricko menggendongnya bagai karung beras. Masuk ke dalam rumah dan menapaki anak tangga satu per satu. Pintu kamar bernuansa hitam-putih dibuka secara kasar dan menguncinya.


Ricko melempar Arinda ke atas kasur. Kemudian, mengungkung tubuh Arinda dengan badan kekarnya.


“Aku berasa deja vu. Bukankah kesalahan ini dulu pernah kamu buat?”


Arinda diam.


“JAWAB!”


Arinda masih tak menyahut.


“Aku pikir kamu sudah berubah. Tapi, nyatanya masih sama seperti dulu.”


Hening!


Ricko mengangkat tangan Arinda ke atas. Gadis itu diam. Tak meronta ataupun mencoba untuk lari.


“Aku sungguh membencimu! Kamu menghancurkan hidupku! Kamu yang membuatku menjadi enggan untuk mencintai wanita lain lagi. Semua salahmu!”


Arinda sama sekali tak merespons. Wajahnya datar, bibirnya terkatup rapat, matanya menatap kosong.


“Kenapa diam? BICARA!”


Hening!


“Kelakuanmu tidak lebih dari perempuan murahan!”


Arinda menatap Ricko, tetapi memilih diam. Ia akan membiarkan Ricko berbicara sesuka hati walaupun hatinya begitu sakit.


“BICARA!”


Masih tak ada sahutan.


“Kalau begitu lebih baik kita putus!”


“Ya, sampai kapan pun, kita memang tidak akan pernah menyatu. Dari segi mana pun, jelas kita berbeda. Aku hanya perempuan murahan, sementara kamu pria berharga. Aku hanya wanita hina yang terlalu banyak berharap mendapat cinta pangeran tampan sepertimu. Maaf, keberadaanku membuatmu selalu susah. Mulai detik ini kita hanya rekan kerja seperti yang kamu bilang."


Arinda mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ricko. Kemudian, mendorong tubuh kekar itu agar menjauh. Turun dari kasur dan keluar dari kamar.


Di balik pintu kamarnya, Arinda luruh ke lantai. Menangis sejadi-jadinya di sana. Sesak!


Arinda POV


Akhirnya, selesai.

__ADS_1


Aku minta maaf, Ricko.


Perempuan murahan ini memang tidak pantas untuk laki-laki sempurna sepertimu. Memang tidak sepatutnya wanita mengejar cinta seorang pria. Apa lagi sampai memaksa.


Caraku memang salah!


Aku mengaku kalah!


Aku menyerah!


Maaf, jika memperjuangkan cintamu hanya sampai disini. Aku bukan tak sanggup mengejarmu.


Akan tetapi, aku tak ingin melihatmu semakin menderita akibat gadis bodoh ini selalu mengikutimu.


Ricko ... berbahagialah selalu dengan atau tanpa aku.


Dan ... semoga kamu bisa menemukan cinta lain. Maaf, sudah membuatmu menjadi mati rasa.


Maaf, jika aku juga adalah penyebab kehancuranmu.


Maaf ....


🌺🌺🌺


Pagi hari, di meja makan hanya ada Ricko sendiri. Arinda sudah berangkat ke kantor lebih dulu.


“Panggilkan Arinda untuk turun sarapan,” titah Ricko kepada Lily.


“Maaf, Tuan Muda. Nona sudah berangkat usai Subuh tadi.”


“Apa?!”


Suara gebrakan meja dan pecahan kaca kentara terdengar gaduh. Membuat seluruh asisten rumah tangga kaget dan ketakutan.


“SIAL!” Ricko langsung pergi ke kamar bersiap untuk ke kantor.


Melajukan mobil sedan hitam dengan kecepatan tinggi. Ricko menggeram dan memukul kemudi beberapa kali.


Sampai di kantor, tentu suasana masih sepi. Karena, baru jam tujuh pagi. Sementara kantor buka pukul delapan .


Ricko langsung masuk ke ruangan. Kosong!


Keluar kembali menemui satpam yang berjaga. “Belum ada yang datang?”


SIALAN! KE MANA DIA? batin Ricko.


“Anda mencari siapa, Pak?”


“Bukan urusanmu!”


“Maaf, Pak. Saya kira cari Mbak Arinda.”


“Memang ke mana dia?”


“Makan bubur ayam, Pak. Di belakang gedung. Tadi saya ketemu di sana.”


Ricko langsung melangkah cepat. Arinda adalah tujuannya.


“Enak?”


Arinda mendongak tanpa menyahut. Ia memilih melanjutkan makannya kembali.


“Mau bubur, Den?” tanya penjual bubur kepada Ricko.


“Tidak,” jawab Ricko cepat.


Arinda menghabiskan buburnya dengan cepat. Membayar dan segera pergi.


Ricko mengikuti dari belakang seperti anak hilang. “Aku minta maaf atas perkataanku semalam. Aku mengaku salah. Aku hanya cemburu.”


Cemburu gundulmu! Cinta aja enggak. Bagaimana bisa bilang begitu? Pendusta! Arinda membatin.


Tak ada sahutan dari Arinda. Pergerakan langkah itu pun semakin cepat.


Arinda merasa sudah di titik lelah teramat sangat. Diam, tak peduli, dan masa bodoh adalah sikap yang sengaja ia tampilkan.


Masuk ke dalam kantor. Lalu, melangkah menuju ruang kerja dan mulai membuka laptop. Mengerjakan semua dengan serius.


Sementara, Ricko duduk diam di meja kerjanya seraya terus menatap Arinda.

__ADS_1


“Kamu ingin aku ambilkan teh?”


Kamu ambilkan bintang di langit pun, aku tak akan terpengaruh. Memuakkan! gumam Arinda.


Tak ada sahutan.


Sepuluh menit berlalu dalam diam.


“Aku buatkan secangkir kopi. Mau?”


Emang bisa? Membedakan gula dan garam aja gak tau. Paling ujungnya nyuruh office boy. Menyebalkan! Arinda membatin kesal.


Hening!


Hanya suara cicak-cicak di dinding dengan seruan tak jelas. Ingin menangkap seekor nyamuk atau meledek si nyamuk berjas hitam yang sedari tadi terabaikan. Poor Ricko!


Silih berganti karyawan keluar masuk ruangan. Tak ada satu pun yang sanggup berlama-lama berada di sana. Pasalnya, wajah keduanya sedang dalam mode kebekuan dengan suhu persis di Antartika.


Waktu terus berjalan. Jam sudah menunjuk pukul dua belas siang. Namun, baik Arinda ataupun Ricko tak ada yang beranjak.


Hening!


Sampai suara Ricko memecah keheningan. “Arinda, kita makan siang di alun-alun Kota Jogja. Ayo!”


Arinda mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu disana. Kemudian, menaruhnya kembali ke atas meja.


Ricko sudah berdiri dan mematung di tempat. Menghela napas lelah dan keluar dari ruangan seorang diri.


Tiga puluh menit kemudian


Suara ketukan pintu terdengar. Arinda beranjak bangun dan mengambil pesanan makanannya. Satu loyang piza berukuran sedang siap untuk disantap.


Tak berapa lama, pintu terbuka menampilkan Ricko dengan membawa satu loyang piza ukuran besar.


“Arinda, aku membawakan piza untukmu.” Ricko berucap sumringah. Namun, senyumnya seketika menghilang ketika melihat sudah ada satu loyang di atas meja.


Bahkan, Arinda tengah menyantapnya tanpa mengalihkan tatapan pada laptop.


Ricko memilih duduk di kursinya dan menyantap sendiri piza tersebut.


🌺🌺🌺


Waktu terus bergulir. Kesepakatan kerja dengan semua tenant sudah rampung 100 persen. Beberapa kendala pun teratasi dengan baik. Bahkan, pihak PT. Surya Mandiri akhirnya mengalah dan menyetujui kontrak baru.


Tak terasa juga, masa kerja selama satu bulan di Jogja selesai. Hari ini adalah terakhir mereka berdua bekerja. Besok pagi sudah harus kembali ke Jakarta lagi.


Selama dua Minggu terakhir kebersamaan, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Arinda. Ia hanya akan bicara jika menyangkut pekerjaan. Selebihnya, membisu.


Kepahitan yang harus Ricko terima dari kebisuan Arinda. Gadis yang masih ia cinta dalam diam.


Saat merajut benang asmara kembali. Ricko meluruhkan semua rasa bencinya. Ia memaafkan Arinda. Bahkan, berjanji akan membahagiakan gadis itu dengan curahan cinta dan kasih sayang.


Namun, malam itu tiba-tiba sang papa datang menemuinya di rumah. Kemudian, mereka berdua berbicara empat mata dengan perdebatan sengit. Ricko tak bisa menerima begitu saja titah Rahardian.


Baru saja menjalin kasih dengan Arinda lagi. Akan tetapi, kenapa mesti menurut pada syarat dan perintah yang menurut Ricko semuanya konyol.


Rahardian menjabarkan konsekuensi yang akan diterima dengan jelas kepada Ricko kalau melanggar.


Jika masih ingin terus bersama Arinda, Ricko harus mematuhi titah sang papa. Yakni, tidak boleh memublikasikan hubungan mereka kepada khalayak ramai. Lebih parahnya, itu hanya satu dari sekian syarat dan perintah yang mutlak tak bisa dibantah.


Akibat titah konyol tersebut, dengan terpaksa Ricko harus mengalah demi Arinda. Karena, takut dengan konsekuensi jika melanggar. Ia menjadi urung mengungkapkan perasaanya kepada sang pujaan. Bahkan, membatalkan niat untuk membahagiakannya dengan cinta dan kasih sayang.


Justru, Ricko harus terpaksa berlaku dan berbicara kasar. Berlawanan dengan hati nurani.


Setiap kali menyakiti Arinda pun, hati Ricko ikut terasa sakit. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk. Sama seperti terakhir saat ia mengatakan jika membenci gadis itu. Juga menyebutnya perempuan murahan. Dadanya turut sesak usai mengucapkan kata-kata kejam tersebut. Ucapan itu tak sengaja keluar dari mulutnya akibat terserang rasa cemburu.


Perjuangan cinta yang entah sampai kapan akan berakhir dengan bahagia.


Saling mencintai, saling berdekatan, dan saling menjaga hati masing-masing agar tak ada orang lain memasuki area tersebut. Keduanya melakukan semua itu. Namun, sayangnya nasib baik belum berpihak kepada mereka.


Ujian cinta semakin terasa berat. Arinda pun memilih menyerah.


Ricko lebih tersiksa lagi mendapati sikap Arinda yang selalu mengabaikannya. Di tambah jalinan kasih yang telah berakhir.


Kedudukannya sebagai pewaris sungguh membuat pria itu jengkel. Ingin rasanya laki-laki itu menjadi orang biasa. Agar bebas bersama gadis yang telah hatinya pilih. Arinda adalah wanita yang menjadi pilihan hatinya.


Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞


Saranghaeyo 💞😘

__ADS_1


Vote-nya jangan lupa 🤗💞


Like-nya juga jangan lupa, yess 👍🤗💞


__ADS_2