
[Rick, aku izin pulang. Tiba-tiba, kepalaku sakit]
Satu pesan terkirim. Arinda segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan segera melajukan si Brown.
Lelah dengan banyaknya pekerjaan dan beban pikiran membuat Arinda pusing. Ia memilih pulang untuk mengistirahatkan diri.
Tiga jam kemudian
Arinda merasa pintu apartemenya ada yang membuka. Tapi, berhubung kepalanya masih sakit. Ia enggan untuk beranjak. Bahkan, masih berada di bawah selimut. Matanya terpejam kembali. Karena, menganggapnya sedang bermimpi.
Namun, kasurnya bergerak seperti ada yang menaiki. Arinda membuka setengah matanya. Menurunkan selimut sampai ke dada. Akan tetapi, belum juga menoleh, seseorang sudah memeluknya dari belakang.
Arinda spontan kaget dan menolehkan kepala. Ia mendapati Ricko tersenyum ke arahnya.
“Ricko.”
“Kamu sakit?”
“Pusing."
“Tidurlah lagi. Aku akan menemanimu.”
Arinda tak menyahut. Ia justru kembali memejamkan mata.
Ricko menarik gadis itu agar tangan kekarnya bisa menjadi bantalan kepala. Dan mendekapnya semakin erat. Pria itu pun akhirnya ikut terlelap.
Dua jam kemudian
Ricko terbangun. Posisi mereka tak berubah. Tak berapa lama kemudian Arinda bergerak.
“Ricko.”
“Hm.”
“Aku masih sakit kepala.”
“Kita ke dokter, ya?”
“Tidak mau.”
“Kalau begitu minum obat saja. Aku belikan sebentar.”
“Tidak mau.”
“Lalu, mau apa?”
“Bakso beranak super pedas.”
“Apa?!”
🌺🌺🌺
Ricko ngilu melihat Arinda memakan bakso dengan banyak sambal. Bahkan, itu mangkuk keduanya. Sudah dilarang, tetapi ia tetap saja mengeyel.
“Apa perutmu tidak sakit?”
“Tidak. Ini justru menyembuhkan sakit kepalaku.”
Arinda menghabiskan mangkuk kedua baksonya. Wajahnya terlihat senang.
“Ah, akhirnya aku membaik.”
“Aneh. Sakit kepala bukannya minum obat, tetapi malah makan sambel.”
“Bakso, Rick, bukan sambel.”
“Dua mangkuk tadi buatku isinya bukan bakso melainkan sambel. Kuah memerah bikin merinding.”
Arinda mencebik. “Kamu kenapa kesini? Pekerjaan kantor sedang banyak, Rick.”
Ricko berdecak kesal. “Kamu lebih penting. Lagi pula aku bisa menyelesaikannya besok.”
“Ricko.”
“Apa?”
Arinda beranjak bangun dan menghampiri Ricko.
“Maaf, tadi pagi menamparmu. Sakitkah?” tanya Arinda seraya mengusap pipi Ricko.
“Tidak. Aku hanya terkejut. Lagi pula aku yang salah. Mau memaafkanku?”
“Tentu.”
__ADS_1
“Soal pernikahan itu ....”
“Sudah, Rick. Jangan membicarakannya lagi. Aku tidak akan meminta hal tersebut.”
“Tapi, aku ....”
Belum selesai pria itu bicara, Arinda sudah menyambar bibir Ricko. Tapi, dengan cepat lelaki itu melepasnya.
“Arinda ....”
Lagi-lagi, belum selesai Ricko berbicara, Arinda kembali mendaratkan ciuman. Menahan pria itu dengan memeluknya erat.
Namun, Ricko dengan sedikit tenaganya menjauhkan tubuh Arinda. Kemudian, berlari menuju lemari pendingin. Meminum langsung air dalam botol seraya mengipas bibirnya dengan tangan.
Arinda menghampiri Ricko dengan tatapan heran. “Kamu kenapa? Apa ciumanku menjijikkan?”
“Bukan ....” Ricko menghentikan ucapannya dan kembali menenggak satu botol minuman hingga tandas.
“Ricko, iihh. Aku tersinggung! Aku hanya mau minta maaf. Ciuman itu permintaan maafku.”
Ricko tak memedulikan ucapan Arinda. Ia mencari gula. Membuka satu stoples bening dan menyendokkan langsung ke dalam mulut. Lalu, langsung menyemburnya.
“Asin!”
Kembali, Ricko mengacak dapur Arinda dan membuka satu stoples bening lainnya. Mengendusnya kemudian mencicip sedikit. Ketika dirasa lidahnya manis. Ia langsung menyendokkan dua sendok sekaligus ke dalam mulut. Mencecapnya seraya mengusap bulir keringat yang keluar dari kening.
“Ricko!”
“Pedas, Arinda! Ciumanmu pedas! Ah, tidak. Maksudnya, bibirmu pedas!”
Arinda menaikkan satu alisnya, bingung. “Pedas? Kok bisa?”
Ricko mengembuskan napas berat. Rasa pedas di bibirnya sudah berangsur menghilang berkat gula tadi. Ia menghampiri Arinda dan mencubit gemas pipi putih bersih itu.
“Tentu saja bisa. Kamu 'kan habis makan kuah sambel. Ciumanmu kali ini benar-benar hot. Pedas dan panas.”
“Bakso, Rick. Bukan kuah sambel.”
“Terserah sajalah!”
“Jadi, tidak mau aku cium?”
“Kali ini, iya!”
“Ya, ampun. Ukuran jahat buatmu kenapa dangkal sekali, sih, Arinda? Aku kepedasan! Ini untuk pertama kalinya aku tidak tertarik dengan bibirmu.”
“Ricko, iiihh!”
🌺🌺🌺
Pagi hari yang cerah. Melaju bersama si Brown membelah jalanan ibu kota. Begitu sampai di tempat parkir, Arinda tidak langsung menuju meja kerja. Ia mau mampir sebentar ke pantry untuk membuat teh manis.
Namun, saat melintasi tangga darurat. Ia berhenti melangkah. Karena, mendengar suara orang berteriak. Arinda celangak-celinguk untuk melihat kondisi. Saat dirasa sepi dan aman, gadis itu mulai menguping.
Mendekatkan telinga, menajamkan pendengaran. Arinda menganga tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Entah, siapa saja yang berada di sana. Gadis itu hanya hafal satu suara, yakni milik Pak Dennis, Direktur Keuangan Narendra.
Mereka semua merencanakan penjebakan untuk Ricko. Entah semacam apa. Pasalnya, semua berhenti bicara saat salah satu ponsel berdering.
Hah! Berdering? Ponsel gue yang bunyi. Mati gue! batin Arinda berteriak dan langsung me-reject panggilan tersebut.
Arinda segera berlari memasuki toilet dan berdiam diri di sana sampai suasana aman.
Akan tetapi, suara pintu toilet terbuka semakin membuat Arinda mengucurkan keringat. Ia tak memungkiri kalau saat ini tengah ketakutan.
Duh, Arinda pagi-pagi nasib lu udah apes. Cepet mikir biar selamet. Arinda membatin.
Satu per satu suara bilik dibuka terdengar. Arinda berada di posisi ujung. Ia memegang erat ponselnya. Menunduk dalam seraya memejamkan mata.
Dan, tiba-tiba sebuah ide terlintas. Arinda segera membuka google dan mulai melakukan pencarian.
Ketemu! teriak Arinda dalam hati.
Suara orang buang air besar beserta ledakan-ledakan bomnya mulai berbunyi. Gaungnya terdengar begitu menjijikkan. Bahkan, Arinda pun rasanya ingin muntah.
Dan ... sepertinya berhasil. Suara langkah cepat dan pintu terbuka kemudian menutup terdengar.
Seketika, Arinda mengembuskan napas lega. Peluh keringat di kening diusapnya dengan tangan.
Ia mulai melangkah keluar bilik. Perlahan, mengayunkan langkah menuju pintu keluar toilet. Menyembulkan kepala seraya menoleh ke kiri dan kanan. Saat suasana aman, gadis itu bergegas keluar dan berlari menuju ruangan. Melupakan teh manis. Karena, seleranya sudah hilang akibat bunyi bom tadi.
Memasuki ruangan Ricko dan langsung mendudukkan diri di depannya.
“Rick.”
__ADS_1
Ricko menoleh kemudian mengernyit. “Tumben sekali kamu berantakan?”
“Tapi, aku masih cantik, 'kan?” tanya Arinda seraya menggulung rambutnya tinggi.
“Iya.”
“Rick.”
“Apa?”
“Aku akan menjagamu.”
Ricko tersenyum. “Pria tidak dijaga oleh wanita. Di sini harus aku yang menjagamu.”
“Kita saling menjaga.”
“No. Aku yang menjagamu. Dan, kamu tidak perlu melakukan hal yang sama. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Tapi, Rick ....”
“Hei, Nona. Ada apa? Kenapa tiba-tiba pembicaraan kita menjadi berat?”
Ah, iya. Bodoh ... bodoh ... bodoh! Kenapa gue terus terang banget. Ya, gengsi dong si Ricko. Mana mau tu cowok dijagain perempuan. Oke, gadis pintar. Lu harus sembunyi-sembunyi. Arinda membatin.
“Aku hanya takut kamu capek. Habisnya, berkas kasus suap itu belum selesai, 'kan?”
“Sudah selesai. Tinggal aku bawa ke meja hijau. Senin depan kita bertemu pengacara. Tolong catat dalam jadwal, ya.”
“Oke. Kamu memang pintar. Lalu, bagaimana perkembangan kasus itu?”
“Mengejutkan!”
“Ceritakan!”
“Nanti.”
“Ricko, ceritakan sekarang.”
“Bekerja dulu. Kita ada rapat, bukan? Sepuluh menit lagi.”
“HAH!” Arinda melirik jam tangannya. “Oh, Tuhan! Aku belum menyiapkan dokumen!”
Arinda bergegas keluar ruangan dengan terburu-buru.
Melihat tingkah Arinda, Ricko menggelengkan kepala. “Asisten sembrono! Untung sayang!”
🌺🌺🌺
Usai rapat, Arinda dan Ricko kembali ke ruangan. Gadis itu menodong cerita yang sempat tertunda.
Ricko menceritakan dengan gamblang kasus tersebut. Ia bilang ada beberapa nama lagi yang mungkin menjadi tersangka.
Bahkan, pria itu bilang kerugian perusahaan mencapai hampir satu triliun. Karena, setiap proyek baru turut menjadi bancakan para tikus berdasi di kantor. Surabaya dan Yogyakarta pun tak luput dari kecurangan.
“Satu triliun itu uang atau apa? Kenapa banyak sekali?”
“Mereka tidak mengambilnya sekaligus melainkan secara bertahap selama dua puluh tahun itu.”
“Jahat sekali.”
“Sudah tidak usah kamu pikirkan. Aku akan mengurusnya.”
Arinda mengangguk dan mengambil dua buah undangan di atas meja Ricko. “Perayaan ulang tahun? Kita di undang?”
“Iya, keponakan Pak Dennis ulang tahun. Nanti kita datang bersama. Anggap saja itu hari terakhir kita menghargainya sebelum menjebloskannya ke dalam penjara.”
Arinda membisu. Ia memikirkan pembicaraan Dennis dan sekutunya di tangga darurat tadi pagi. Mereka bilang akan menjebak Ricko.
Oh, tidak! Jangan-jangan ini jebakan untuk Ricko. Bagaimana ini? Arinda membatin.
Di tengah kecemasannya, Arinda teringat Pak Rahardian.
“Rick, aku mau ke toilet dulu.” Belum juga Ricko menyahut. Ia sudah bergegas keluar.
Melangkah menaiki lift untuk menuju ruangan Rahardian.
“Pak Arif, apakah Pak Rahardian ada?”
“Tidak ada. Tadi pagi Pak Rahardian baru saja meninggalkan Tanah Air kembali ke London.”
“Boleh saya meminta nomor teleponnya?”
“Tidak.”
__ADS_1
Ah, sial. Aku terlambat. Lalu, bagaimana sekarang? Aku tidak tahu rencana Dennis. Sepertinya, aku benar-benar harus menjaga Ricko, batin Arinda.