ARINDA

ARINDA
Enam mata


__ADS_3

Berada di ruangan CEO sekaligus berhadapan dengan ayah dari pria yang kita cinta, rasanya pasti canggung dan membuat takut. Pun Arinda, ia menunduk terus tak berani menatap ke depan. Di tambah, ada seorang pria keturunan bule yang menatapnya tajam.


“Arinda, perkenalkan ini Shavic, suami dari putri pertama saya.”


Arinda mendongak dan menyatukan kedua tangan ke depan. “Salam kenal, Pak Shavic. Saya Arinda, Asisten Pak Ricko.”


Shavic mengangguk tanpa menyahut. Wajahnya datar tanpa senyuman.


Sampai menantu pun mengeluarkan aura dingin. Sepertinya, saat mereka berkumpul suasananya sangat beku. Benar-benar keluarga es. Arinda membatin. Gadis itu sepertinya lupa hingga tak menyadari jika dirinya sendiri juga sangat dingin. Jadi, mereka cocok, bukan?


“Maaf, Pak Rahardian. Apakah saya memiliki kesalahan?” tanya Arinda pelan.


“Ya, kesalahanmu adalah hadir di dalam hidup anakku di waktu yang tidak tepat,” jawab Rahardian datar.


“Maaf. Tapi, saya tak memiliki hubungan apa pun dengan putra Anda, Pak. Kami hanya rekan kerja.”


“Oh, ya? Lalu, ini apa?”


Rahardian menunjukkan foto-foto mereka.


Arinda melihatnya dengan melotot. Ia terkejut. “I-itu ....”


Tamat sudah kau gadis pengemis cinta. Pria di depanmu yang notabene ayah dari Ricko pasti murka. Dasar perempuan tak tahu diri! Makanya, jangan merasa sok kepedean bisa mendapatkan pangeran kaya raya. Jalur menuju ke sana terlampau rumit dan terjal. Sekarang, berakhir sudah. Secara tak langsung, kau ditolaknya mentah-mentah untuk menjadi menantu, batin Arinda.


“Bagaimana menurutmu foto-foto itu? Apakah terlihat seperti rekan kerja?”


“Maaf, Pak Rahardian. Sa-saya ....”


“Kamu mencintai putraku?”


Oh, Tuhan! Ini pertanyaan terberat dalam hidupku. Lalu, aku harus menjawab apa? Iya atau tidak. Ricko, kamu di mana, sih? Aku takut sama Papamu. Udah mana tu bule, ipar kamu ngelihatin begitu banget. Aku berasa pencuri. Pencuri yang gagal mendapatkan cinta kamu, Rick. Arinda membatin.


“Sa-saya ... emm ... maaf.” Arinda menunduk dalam.


Biasanya gadis itu akan menjawab pertanyaan siapa pun dengan tegas dan lantang. Tapi, kali ini, ia mati kutu. Tak tahu harus menjawab apa. Jadi, hanya kata maaf yang dapat terucap.


“Jadi, benar kalian saling jatuh cinta?” tanya Rahardian lagi.


Duh, Pak Rahardian yang terhormat. Saya doang, Pak, yang jatuh cinta. Anak bapak enggak. Doi main-main aja. Jahat 'kan tu putra bapak. Tega mempermainkan gadis cantik kayak saya. Padahal, ya, Pak, kalau saya dan Ricko punya anak dijamin bakalan bibit unggul, deh. Baik itu paras ataupun kecerdasan, batin Arinda penuh percaya diri.


“Putra Anda tidak mencintai saya, Pak. Jadi, tidak perlu ada yang Anda khawatirkan. Kami betul-betul hanya rekan kerja.”


“Jadi, anak bodoh itu menurut untuk tak menyatakan cinta kepadamu. Baguslah!” seru Rahardian pura-pura tak tahu.


“HAH!” teriak Arinda refleks seraya langsung menampar mulutnya dengan tangan. “Maaf. Saya kaget. Maksud Anda?”


Rahardian menceritakan perihal larangannya kepada Ricko untuk menyatakan cinta. Arinda sempat menganga tak percaya kalau sang pujaan juga masih mencintainya. Ingin meloncat gembira, tetapi malu kepada kedua orang di dalam ruangan. Jadi, ia hanya tersenyum tersipu.


Namun, kata-kata Rahardian selanjutnya membuat Arinda terdiam. Sang CEO memberi tahu kalau di depan mata sedang menghadapi kondisi yang cukup berbahaya. Gadis itu terkejut. Pasalnya, keselamatannya terancam.


Arinda menunduk dalam. Ia merasa bersalah kepada Ricko. Bahkan, tadi telah menamparnya dengan kencang.


“Arinda, kamu sudah mengerti keadaan kalian sekarang?”


“Iya.”

__ADS_1


“Bagus.”


“Pak, boleh saya bertanya sesuatu?”


“Tentu.”


“Apakah Anda merestui saya bersama Ricko?”


Rahardian spontan tertawa. Bahkan, pria di sampingnya tersenyum simpul.


“Ternyata benar yang menantuku katakan. Kamu gadis yang cerdas, berani, dan tegas.”


Memang pria dingin itu tahu apa tentangku? Bicara apa dia kepada Pak Rahardian? Aneh! Kenal saja baru hari ini, batin Arinda seraya menatap Shavic sekilas. Pasalnya, ia enggan menatap lama-lama netra hijau dan tajam itu.


“Terima kasih. Saya cukup tersanjung.”


“Sebagai seorang Ayah, saya tak pernah melarang putra-putriku bersama siapa pun. Asal, mereka orang baik-baik dan dari keluarga baik-baik.”


Mendengar perkataan Rahardian, seketika kepercayaan diri Arinda luluh lantak. Pasalnya, ia bukan dari keluarga baik-baik. Papanya hanya seorang pemabuk dan pejudi. Bahkan, putri semata wayangnya saja tega dijual. Pupus sudah harapan untuk bersama Ricko. Gadis itu benar-benar harus pasrah akan nasib percintaannya yang gagal.


Hei, gadis bodoh! Makanya, bangun! Seharusnya, dari awal kau menyadari jika keputusan untuk bersama Ricko adalah salah. Keluarga ini terlalu tinggi seperti berada di atas langit. Susah untuk menggapai dan menyejajarkan dengan mereka. Sementara kau! Jangankan harta, nama baik pun tak punya. Arinda membatin sedih.


“Dari jawaban Anda saya cukup mengerti. Maaf, saya begitu lancang telah mencintai putra Anda. Saya akan pergi darinya, setelah masa kontrak kerja berakhir.”


“Lalu, membuat putraku bersedih.”


Arinda menatap Rahardian. “Maaf, Pak Rahardian. Saya tidak termasuk dalam kriteria Anda. Saya memiliki masa lalu yang suram. Juga, saya bukan dari keluarga baik-baik.”


Arinda terpaksa berterus terang. Ia hanya tak mau berbohong. Karena, gadis itu mulai menyadari siapa dirinya dan posisinya. Tidak lebih dari wanita tak tahu diri dengan latar belakang keluarga berantakan.


Oleh karena itu, Arinda tak ingin merusaknya dengan dirinya masuk ke dalam keluarga tersebut.


“Arinda, suatu saat kamu akan tahu dari mana kamu berasal,” ucap Rahardian.


“Saya cukup tahu dari mana saya berasal. Saya memiliki latar belakang keluarga yang buruk.”


Rahardian menggeleng. “Kamu dari keluarga terhormat dan baik-baik, Arinda.”


Arinda mengernyit. “Maksud Anda?” Baik-baik dari mana? Apakah memiliki orangtua suka mabuk-mabukan dan berjudi termasuk dalam kriteria terhormat? Belum lagi, dulu aku pun sangat akrab dengan dunia malam dan citra buruk sebagai perempuan matre. Mereka sepertinya salah paham atau salah orang. Ah, aku pusing!


“Akan tiba saatnya kamu akan mengetahuinya sendiri.”


“Maaf, Pak Rahardian. Boleh saya meminta penjelasan?"


“Tidak.”


Aku benci teka-teki! Hidup yang kujalani sudah cukup berat. Kenapa harus menambahnya dengan kata-kata misterius? Arinda membatin jengkel.


Mendengar jawaban Rahardian, Arinda memilih diam. Ia enggan memperpanjang pertanyaan yang jelas-jelas sudah tahu apa jawabannya. Pikir gadis itu, mungkin benar, beliau salah orang. Karena tak ada kata terhormat atau baik-baik untuk pemabuk, pejudi, dan penjual putrinya sendiri.


“Nona ....”


Arinda mengalihkan perhatian kepada Shavic, pria bule yang sedari tadi diam saja. Tapi, tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan Nona.


“Panggil Arinda saja, Pak.”

__ADS_1


Shavic mengabaikan permintaan Arinda. “Nona, saya harap kalian berdua bisa saling menjaga. Dan, mulai sekarang berhati-hatilah. Apa yang kalian berdua sedang lakukan saat ini, mereka mulai mengendus.”


“Bisa Anda menjelaskannya, Pak?”


“Tidak. Tapi, saya cukup tahu kau gadis yang cerdas. Pasti bisa memahaminya dengan cepat.”


Berdosakah aku jika mencubit gemas pipi mereka berdua. Apa keduanya pikir aku ini permainan labirin? Atau cenayang yang bisa membaca pikiran? Bahkan, aku bukan wonder woman sungguhan yang bisa menghadapi musuh tanpa rasa takut? Mengapa tidak mengatakan saja dengan gamblang? Membuat mumet saja! Setidaknya, aku dan Ricko bisa terhindar dari mati konyol. Arinda membatin kesal.


“Arinda, bisa saya meminta sesuatu?” tanya Rahardian memohon.


“Iya, tentu boleh jika saya mampu,” jawab Arinda seraya tersenyum tipis.


“Jangan memberi tahu Ricko jika kita mengobrol disini.”


....


Beberapa saat berada dalam ruangan besar bersuhu sangat dingin, tetapi menguarkan atmosfer panas. Membuat Arinda gerah. Ia akhirnya memutuskan pamit undur diri. Daripada kadar kecantikannya berkurang akibat banyak mengerutkan kening.


“Pap, apa rencanamu sekarang?”


“Biarkan mereka berdua memecahkan masalah-masalah itu. Suruh anak buahmu cukup memantaunya dari jauh saja. Bertindak jika keduanya sudah tak sanggup atau terjepit situasi.”


“Bagaimana dengan musuh yang belum kita tahu siapa mereka?”


“Papa sedang mencari informasi tersebut. Kamu bantu Papa juga, ya?”


“Tentu. Dengan senang hati, Pap.”


“Shavic, jangan pernah beri tahu wanita-wanita Narendra. Papa malas jika mereka sudah merongrong. Susah untuk menolak nanti. Kau tahu sendirilah bagaimana ketiganya.”


Shavic tersenyum dan mengangguk. Pasalnya, salah satu dari mereka adalah istrinya tercinta. Yang di mana benar ucapan sang mertua. Ia pun akan sulit menolak permintaan sang istri. Seperti yang sudah-sudah.


Karena, pria-pria Narendra akan sangat garang di luar. Tapi, menciut ketika sudah berhubungan dengan wanita-wanita tersebut.


🌺🌺🌺


Berbicara dengan pria-pria yang memiliki kadar kepintaran di atas rata-rata, membuat Arinda frustrasi. Ia membasuh mukanya berkali-kali dengan air dingin hanya untuk menurunkan suhu panas di kepala.


Kemudian, menatap wajahnya di cermin dan tersenyum getir.


Arinda POV


Sebenarnya, ada apa? Apa yang sedang terjadi? Mengapa dunia orang kaya begitu rumit?


Lalu, keselamatanku pun turut terancam. Tapi, apalah arti nyawaku ini. Ricko lebih penting.


Jika aku mati, tak akan mengubah apa pun. Berbeda dengan Ricko. Jika dia mati semuanya akan berubah.


Aku harus menjaga Ricko. Setidaknya, aku masih memiliki waktu beberapa bulan lagi untuk terus berada di sisinya.


Dan ....


Apa maksud Pak Rahardian mengenai asal-usulku? Memang aku berasal dari mana?


Papa Erwin, aku anakmu, 'kan?

__ADS_1


__ADS_2