ARINDA

ARINDA
Dosen genit


__ADS_3

HAPPY READING 🤗💞


.


.


.


Tangis haru mengiringi para peserta sidang satu Minggu lalu. Kebahagiaan tengah menyelimuti para mahasiswa. Ketegangan dan perjuangan selama menuntut ilmu telah usai. Mereka semua dinyatakan lulus, termasuk Arinda.


Arinda melengkungkan bibirnya ke atas. Gadis itu bergegas pergi mengurus administrasi untuk acara wisudanya.


Kampus menyatakannya lulus tanpa revisi. Jadi, ia gerak cepat mengurus semuanya. Rasanya tak sabar untuk mengenakan toga.


Arinda termasuk mahasiswi berusia paling tua di antara teman seangkatannya. Gadis itu lulus kuliah dengan usia sudah mencapai 28 tahun. Menuntut ilmu tidak mengenal batasan umur, ya. Jadi, gadis itu cuek saja. Toh, niatnya untuk belajar bukan bermain-main. Keterlambatan itu pun bukan di sengaja melainkan terbentur masalah biaya.


Cita-cita menjadi dokter saja terpaksa harus ia kubur.


Kurang lebih tiga jam wara-wiri di kampus. Dua jam untuk hal yang penting. Sisanya berfoto ria dan berbincang-bincang sejenak bersama teman seangkatan. Arinda hanya duduk diam mendengar mereka berceloteh. Sesekali tersenyum tipis.


Di kampus Arinda terkenal dingin. Namun, gadis itu selalu bersikap sopan. Ia pun tetap pada pendiriannya yakni tidak banyak bicara.


Oleh karena itu, mereka sangat menyegani Arinda.


Pria-pria pun tak berani mendekatinya meskipun rasanya ingin. Tembok tinggi sebagai batasan yang Arinda buat adalah salah satu alasannya.


Gadis itu juga selalu menjaga jarak kepada lawan jenis. Apalagi, yang memiliki gejala mata tak berkedip saat ia lewat dengan mulut menganga. Tanda-tanda naksir yang akan langsung mendapat lampu merah. Yakni, diberi tatapan yang dingin dan menusuk.


Selesai dengan segala urusannya, Arinda berniat untuk pulang. Kebetulan, hari ini ia libur bekerja. Jadi, ingin bersantai di rumah sambil nonton film horor favoritnya sejak kecil. Suzzana!


Baru saja sampai tempat parkir motor dan ingin memakai helm, dering ponsel terdengar. Arinda menaruhnya sementara di atas jok dan merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.


Gadis itu mengernyit saat melihat nama Alfian tertera di layar.


Mau apa lagi dosen itu? Arinda membatin.


Rasa tak enak hati dan keterpaksaan yang membuat Arinda menggulir tombol hijau ke atas.


“Selamat siang, Pak.”


“Siang Arinda. Kamu di mana?”


“Parkiran motor, Pak.”


“Aku ingin mengajak makan siang. Anggaplah untuk merayakan kelulusanmu. Ya, bisa juga di bilang untuk ucapan rasa terima kasihmu. Karena, skripsimu lulus tanpa revisi berkat saya sebagai dosen pembimbing, kan?”


Astaga! Pamrih sekali Bapak dosen ini. Bilang langsung aja mending, Pak. ‘Karena, saya masih cinta sama kamu'. Kayaknya tu kata-kata lebih terhormat, batin Arinda.


“Maaf, Pak. Saya enggak punya uang untuk mentraktir makan siang. Belum gajian. Duit saya sudah habis buat bayar administrasi acara wisuda. Baru saja di bayarkan.”


Dari seberang sana terdengar suara tawa.

__ADS_1


“Kamu itu lucu. Saya yang akan mentraktir. Kamu tinggal datang saja.”


Duh, ini dosen gencar banget, sih. Nikah makanya, Pak. Biar gak menggoda mahasiswi berusia paling tua ini. Eh, tetapi muka gue gak kalah sama yang muda-muda loh! batin Arinda.


“Harus sekarang, Pak?”


“Iya, saya sudah disini.”


Arinda menghela napas lelah.


“Iya, Pak. Saya berangkat.”


“Saya akan kirim lokasinya.”


“Iya, Pak. Baik ... siap ... oke."


Telepon ditutup. Satu pesan masuk dari Alfian.


Kemudian, Arinda mencari kontak seseorang dan mengetikkan sesuatu disana. Lalu, mengirimkannya secepat kilat.


“Done! Oke, Arinda! Enggak ada yang perlu di khawatirkan. Pemberitahuan sudah di umumkan! Mari sekarang makan siang dengan tenang.”


Gadis itu melajukan motornya di atas aspal jalanan ibu kota seraya terus membatin. Jadi, orang cantik itu, ribet! Di mana-mana mesti ada aja yang ngincer. Tapi, sayangnya yang di incar beneran malah gak peduli.


Arinda meringis dan merasa ironis kepada dirinya sendiri. Ia hanya bisa berkeluh kesah. Pasalnya, susahnya menggaet Ricko, sama seperti rumitnya saat mulai menyusun skripsi. Mumet, ruwet, capek, mau nangis, rasa ingin menyerah juga ada. Semua campur jadi satu. Manis, asem, asin, ramailah rasanya.


Semoga ending hubungan sama Ricko nanti, kayak hasil sidang skripsi gue, tanpa revisi. Jadi, bisa lanjut wisuda. Dalam hal sama doi, gue nikah, sah, dan kawin uwuwww! Punya anak cakep-cakep kayak bapaknya yang super dan nyaris sempurna itu. Ya, Tuhan! Kabulkanlah doa gadis hampir putus asa ini, batin Arinda lagi.


🌺🌺🌺


“Tak apa Arinda. Duduklah!”


Kenapa perasaan gue gak enak, ya? Udah mana salah kostum. Kirain restoran biasa, gak taunya mewah banget, batin Arinda.


“Pak, kenapa tidak bilang tempatnya high class seperti ini.”


“Kenapa?”


Pake nanya? Bapak, sih, enak. Pake kemeja, jas, rapih pokoknya. Lah, gue! Sepatu butut, celana belel, untung pake kemeja, walo warnanya ijo ngejreng! Mana sepanjang perjalanan dari pintu masuk sampai duduk disini berasa Putri Indonesia. Semua mata tertuju sama gue yang berpakaian abstrak bin absurd ini. Arinda menggerutu dalam hati.


“Saya salah kostum, Pak.”


“Kamu pakai apa saja tetap cantik,” ucap Alfian mengerling ke arah Arinda.


Arinda memaksakan sebuah senyum dan mengabaikan mata genit itu.


“Maaf, Pak. Apa tidak berlebihan mengajak saya makan di tempat seperti ini?”


“Untuk wanita sepertimu, ini tidak menjadi masalah.”


Ingin rasanya Arinda bersikap dingin. Tapi, ini dosennya yang sudah banyak berjasa dalam pembuatan skripsi. Pria ini juga seorang guru yang pantang untuk kita balas ucapannya dengan Afgan alias sadis. Gadis itu takut kualat! Nanti ilmu yang sudah sampai malah menjadi tidak berkah kalau ia kurang ajar.

__ADS_1


Pasrah! Ya, hanya itu yang bisa Arinda buat. Walaupun mual dan muak saat ini tengah ia rasa.


“Alfian!”


Seseorang tiba-tiba datang dan memeluk sang dosen. Mereka seperti ibu dan anak.


Tunggu!


Ibu dan anak?! gumam Arinda mulai resah.


Wanita sepuh itu menoleh ke arah Arinda.


“Ini calon menantu ibu?”


Apa! Calon mantu? Duh, Bu, maap. Saya sudah teken kontrak sejak masih menjadi embrio kalau jodohnya bernama Ricko Bagaskara Narendra bin Rahardian Bagaskara Narendra titik. Arinda membatin, syok!


“Ibu, gadis ini mahasiswi Alfian.”


Demi kesopanan, Arinda berdiri dan mencium tangannya.


“Nama saya Arinda, Bu. Mahasiswi Bapak Alfian.”


“Ibu kira calon mantu. Cantik sekali! Kenapa hubungan kalian hanya sebatas dosen dan mahasiswi? Menikah juga ibu merestui.”


“Ibu ....”


Alfian menggeleng kemudian menuntun sang ibu untuk duduk.


Ini sebenarnya acara apa, sih! Kan yang lulus sidang gue? Terus, kenapa mesti ada Ibunya Alfian. Berasa lagi pertemuan keluarga. Mana atmosfernya jadi semakin kaku, batin Arinda.


“Maaf, Arinda. Kamu mungkin bingung. Kebetulan ibu baru pulang dari Jogja dan mengajak makan siang bersama. Jadi, saya ajak sekalian makan dengan kita. Kamu tidak apa-apa, 'kan.”


Seperti tahu apa yang ada dipikiran Arinda. Alfian menerangkannya terlebih dahulu sebelum gadis itu bertanya.


Bapak dosen yang terhormat. Enggak pa-pa, apanya? Bikin tegang tau gak. Hanya berdua bapak aja saya kikuk banget. Ini ditambah ibu Anda, Pak. Duh, rumit banget hidup gue! Tapi, ada bagusnya juga, sih. Ya, minimal bapak gak bisa genit sama saya. Arinda membatin.


“Iya, tidak apa-apa, Pak. Makan bersama-sama seperti ini justru lebih menyenangkan.” Boong 'kan gak boleh, ya. Tapi, kalo demi kebaikan katanya boleh. Aman!


🌺🌺🌺


Satu pesan masuk ke dalam aplikasi hijau. Seseorang membukanya kemudian menyunggingkan senyum dan menggelengkan kepala. Ia tak habis pikir, haruskah sampai seperti ini.


Seandainya dulu kamu melakukan ini.


“Ah, sepertinya mulai saat ini. Notifikasiku akan terus berbunyi dan berisikan laporan-laporan. Lakukanlah sesukamu! Kita akan lihat, sampai sejauh mana kamu merasa lelah. Kemudian, berhenti untuk melakukan ini semua.”


Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞


Saranghaeyo 💞😘


Jangan lupa vote-nya 🤗💞

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol like-nya juga 🤗💞


__ADS_2