ARINDA

ARINDA
Mati lampu


__ADS_3

Musuh lama hadir kembali. Entah, apa yang Siska dan Dennis rencanakan. Arinda tidak tahu. Hanya saja, gadis itu cukup muak melihat Medusa ini lagi. Rasanya dunia berputar hanya sekitar mereka saja. Menjengkelkan, bukan?


Mereka berdua saling melempar tatapan tajam dan senyum sinis. Tak ada satu pun yang mau menyudahi pandangan tersebut. Aura permusuhan pun kentara terasa.


Arinda maju satu langkah, berdiri tepat di depan Ricko. Perempuan harus melawan perempuan. Pria lebih baik tak ikut campur. Begitu kira-kira pemikiran Arinda.


“Hai, kawan lama,” sapa Siska.


“Menyapa siapa?” tanya Arinda santai.


Siska menutupi rasa kesal dengan tertawa. “Di depanku hanya ada kalian berdua.”


“Ah, seperti itu. Kalau begitu, Anda salah orang. Karena, kita tidak pernah berkawan. Jadi, bagaimana mungkin menjadi kawan lama?”


Siska bergeming mendengar ucapan Arinda. Ia mengepalkan tangan. Sial! Mau mempermalukanku! Lihat saja kau, Arinda. Hari ini akan menjadi hari terakhirmu bernapas, batinnya.


Suara MC mengalihkan perhatian dua perempuan yang sedang saling melempar argumen. Nama Siska dipanggil untuk naik ke atas panggung. Wanita yang merupakan salah satu personel tante menor saat sekolah dulu, langsung melangkah pergi tanpa pamit. Bahkan, menoleh ke arah Arinda-Ricko pun tidak.


“Mau pulang? Aku mual melihat wajahnya.”


“Ya, ayo kita pulang, Rick!”


Baru saja mau melangkah, lampu tiba-tiba mati. Keadaan menjadi gelap gulita. Suasana pun menjadi bertambah riuh oleh suara teriakan orang-orang yang panik.

__ADS_1


“Rick, kita terlambat. Permainan sepertinya sudah di mulai. Kita target mereka.”


“Tetap berada dekat denganku.”


“Iya.”


“Ayo, kita cari jalan keluar.”


“Kita butuh cahaya. Aku ambil ponsel dulu.”


“Jangan, Rin. Itu akan membuat kita tersorot.”


“O, oke.”


Arinda berjalan bersisian dengan Ricko. Pria itu memeluk erat pinggang sang pujaan. Mereka melangkahkan kaki menuju arah mana pun. Lelaki itu menjadi tempat berpijak. Ia terus menatap ke depan. Wajahnya terlihat fokus agar bisa melangkah dengan benar.


Saat mengayunkan langkah. Tiba-tiba, kaki Arinda seperti ada yang memegang. Kalau saja Ricko tak memeluknya dengan erat, mungkin sudah jatuh tersungkur.


“Kamu tidak papa?”


“Iya.” Perasaanku semakin tak enak. Aku dan Ricko tak bisa melihat dengan benar keadaan sekitar. Tapi, sepertinya mereka cukup hafal targetnya berada di mana. Tadi pun, kakiku tidak tersandung apa-apa melainkan ada yang benar-benar memegangnya.


Saat mulai kembali melangkah. Samar, Arinda melihat seseorang berjalan dari arah sebelah kanan dan kiri. Mereka menuju ke arahnya dan Ricko dengan membawa sesuatu di tangan masing-masing.

__ADS_1


Arinda menyipitkan mata untuk melihat dengan jelas. Ia menganga.


“Ricko, awas!” Gadis itu refleks langsung mendorong Ricko. Supaya, tak terkena benda tumpul yang sudah mengayun.


Ricko terdorong. Tapi, ia spontan dengan sigap menangkap benda tersebut. Hampir saja wajahnya terkena hantaman. Namun, pria itu tak melihat seseorang juga mengayunkan benda yang sama dari arah belakang.


Dan, benda tersebut tepat mengenai tengkuknya hingga jatuh tersungkur. Ricko langsung tak sadarkan diri.


Arinda seketika panik. Ia baru saja mau menghampiri Ricko. Namun, seseorang mendorongnya dan orang lainnya membawa tubuh atletis itu menjauh.


“Ricko.”


Arinda mencoba mengejar Ricko. Mencari jalan dalam kegelapan.


Tanpa sepengetahuan gadis itu, benda yang sama mengayun. Akan tetapi, keberuntungan sepertinya berpihak pada Arinda. Kali ini, kakinya benar-benar tersandung sesuatu hingga dirinya jatuh. Dan, saat menoleh ke belakang seseorang tengah memukul angin.


Dengan cepat Arinda mengayunkan kakinya ke arah benda keramat milik pria tersebut.


Arinda beranjak bangun dan mengambil benda di tangan pria asing itu. “Hai, Dude! Smile!” Satu pukulan keras mendarat tepat di wajah. Dan, laki-laki itu jatuh dengan posisi satu tangan memegang si burung Pipit dan tangan lainnya memegang wajah.


"Ups! Sorry!" Arinda melempar benda tumpul itu. Ia memilih berjalan dengan posisi jongkok agar musuh tak mengetahui keberadaannya.


Suasana di dalam pun semakin mencekam. Pasalnya, tak ada yang bisa keluar.

__ADS_1


Akhirnya, arinda menemukan sebuah dinding. Ia mendudukkan diri di lantai seraya menekuk kedua kakinya. Pikirannya berkelana seputar Ricko saja. Kecemasan tengah menyelimuti gadis itu.


Ricko, kamu di mana? Semoga tak terjadi apa-apa. Teruslah bertahan hidup. Setelah ini aku akan segera datang menolongmu. Arinda membatin.


__ADS_2