
“Rick, kau pulanglah. Biar mereka kakak yang urus.”
Ricko mengangguk. “Makasih, Kak. Selalu menolongku.” Ia memeluk Shavic.
“Kewajiban seorang kakak memang menjaga adiknya.” Shavic menepuk pelan punggung Ricko.
Shavic yang dulu kejam, sekarang berbeda. Sikapnya jauh lebih baik. Ia banyak belajar dari sang istri bagaimana cara menyayangi. Terutama kepada keluarga sendiri meskipun itu hanya saudara ipar. Hanya wajah dan gesture-nya saja masih sama, dingin. Sudah pembawaan dari sana.
Keluarga Narendra memang tak pernah terdengar gaung pertengkaran sesama saudara. Beradik-berkakak begitu saling menyayangi dan melindungi. Oleh karena itu, Shavic terbawa sifat mereka.
Akan tetapi, jangan berharap mendapat belas kasihnya jika berani mengganggu keluarga kecilnya dan Narendra.
“Kita pulang duluan, Kak.”
Shavic mengangguk. “Ya.”
Usai Ricko pergi bersama yang lain. Shavic mulai mengurus Nirwan beserta anak buahnya dan akan mengantar mereka ke Kantor Polisi. Sementara Aris menghilang entah ke mana.
🌺🌺🌺
“Om, tukeran tempat duduk, yuk.”
“Om Erwin udah tidur, Dit. Tu pules,” sahut Zacky.
“Hah! Nasib gini amat.” Dito menghela napas lelah.
“Kenapa, sih, Dit?” tanya Zacky.
“Lu lihat aja tu kelakuan sejoli gak tahu diri. Kesel gue! Nemplok aje! Macam cecak sama dinding, tak terpisahkan,” omel Dito.
“Rick, aku kan bilang jangan begini. Tu kan Dito marah.” Arinda kembali mencoba melepaskan pelukan Ricko, tetapi tidak berhasil.
“Enggak usah peduli sama Dito. Biarin aja.”
“Ngeselin lu, Rick!”
“Bodo amat, Dit!”
Usai pamit kepada Shavic, mereka berlima langsung pulang. Zacky merelakan diri menyetir mobil sedan milik Dito.
Erwin pun tanpa bertanya lagi duduk di kursi depan. Pria sepuh itu berpikir supaya Arinda bisa duduk berdampingan dengan Ricko di belakang. Namun nahas bagi Dito, ia harus duduk berdampingan dengan sejoli tersebut.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong kenapa wajah kalian bertiga lebam? Bekas perkelahian di rumah Zacky atau berkelahi dengan anak buah Nirwan saat mau menyelamatkanku?” tanya Arinda.
“Loh, kamu tahu dari mana kita berantem di rumah Zacky?” tanya balik Ricko.
“Sebelum ditangkap Nirwan, aku ke rumah Zacky. Mau curhat.”
“Apa? Curhat!” Ketiganya berseru berbarengan dengan mimik terkejut.
Arinda menceritakan jika ia sedang butuh seseorang untuk berbagi kesedihan. Lalu, entah kenapa wajah dokter muda itulah yang terlintas. Tapi, gadis itu belum memberi tahu di balik alasannya ingin mencurahkan isi hati.
Namun, begitu sampai di rumah Zacky. Justru mendengar pembicaraan yang membuatnya kecewa.
“Gue kesel sama lu, Zack! Gue udah menganggap lu sahabat bahkan kayak kakak sendiri. Tapi, pake acara jatuh cinta segala. Nyebelin!” omel Arinda.
“Rin, gue tu emang ....”
“Zack, beri tahu bersama bukti.” Ricko memperingatkan.
“Beri tahu apa?” tanya Arinda.
“Kamu mau curhat apa dengan Zacky? Kenapa gak sama aku?” tanya Ricko mengalihkan pertanyaan Arinda.
“Tidak mau. Kamu suka marah.”
“Apa, sih, Dit?”
“Bagus si Ricko udah tahu siapa elu, Zack. Kalo kagak ... gue jamin ini hari terakhir lu bernapas di dunia.”
“Nyindir aja terus, Dit. Entar elu yang gue bikin hari ini terakhir bernapas.”
“Ricko Bagaskara!”
“Dito duluan, Rin.” Ricko membela diri.
“Dih, apaan. Ngadu-ngadu lu, Rick. Pake segala suara sok-sok dimanjain lagi. Geli gue dengernya.”
“Dito Mahendra!”
“Iye, Ndoro Putri. Gue diem, nih.”
Zacky sudah cekikikan di kursi kemudi. Ia tidak menyangka jika power sang adik mampu membungkam kedua sahabatnya. Dokter muda itu semakin tak sabar saja untuk memberi tahu kebenarannya.
__ADS_1
Ah, Arinda. Siapa sangka wanita semenggemaskan dirimu adalah adikku. Zacky membatin sumringah.
🌺🌺🌺
“Nak, terima kasih sudah bantu Om menolong Arinda.”
“Sama-sama, Om.” Ketiganya menjawab kompak.
“Makasih udah membantu Papa menolongku. Kalian sahabat terbaik,” timpal Arinda.
“Sebut aku juga. Calon suami kamu, Rin,” iba Ricko dengan suara memelas seraya meraih tangan Arinda dan mengecupnya.
Dito dan Zacky menggelengkan kepala. Mereka berdua saling pandang dan memberi kode.
Arinda melepaskan genggaman tangan Ricko. Kemudian, tersenyum dan mencubit gemas pipi lelaki tampan itu. “Pulang, ya. Aku mau istirahat, capek.”
“Iya, Rin. Kita balik dulu. Bye!” Dito dan Zacky kompak menarik lengan Ricko. Mereka sengaja melakukannya. Karena, kalau tidak menyudahi obrolan sejoli itu, tidak akan pulang-pulang.
“Lu berdua apa-apaan, sih?!” protes Ricko tak terima.
Adu mulut kembali terjadi. Tak ada yang mau mengalah di antara mereka bertiga.
Melihatnya dari kejauhan, Arinda sudah menggeleng atas kelakuan ketiga pria itu Kemudian, ia dan Erwin masuk ke dalam. Akan tetapi, baru saja menutup pintu, seseorang menodongkan pistol.
“Kalian berdua harus mati!”
Suara letusan senjata api terdengar dua kali. Teriakan Arinda pun menggema.
“PAPA!”
Dua pria berusia tak berbeda jauh sudah tergeletak bersimbah darah. Arinda memeluk salah satunya seraya menangis histeris.
Mendengar bunyi tersebut, spontan Ricko, Dito, dan Zacky berhenti melangkah. Mereka langsung berlarian balik ke tempat Arinda dan mendobrak pintu.
“ARINDA!”
Tetangga penghuni apartemen pun keluar karena mendengar suara letusan tersebut.
Tenggsss semuanya sudah mampir. Jejak jempol, comment, juga vote-nya tengkiu. Ailophyuufull pokoknya. Kalian terdebesst😘
Daaann ....
__ADS_1
Perasaan gue bilang mau ending. Tapi, Napa kagak kelar-kelar ini cerita, yak. Semoga gak pada bosen dengan cerita yang belum berkesudahan ini, yaa 😁🤗
Besok aku libur, ya, Guys 😉