ARINDA

ARINDA
Ah, cinta


__ADS_3

Kurang lebih 1-3 episode lagi selesai, ya. Tengssss masih setia membaca 🤗😘


HAPPY READING 😉



Sudah tiga puluh menit berlalu. Namun, Ricko masih saja menangis. Hanya ritme tangisannya sudah mulai menurun.


Arinda pun masih setia membelai lembut rambut milik pria yang ia cinta.


Dito dan Zacky turut menetap menatap kedua insan tersebut dengan sendu. Mereka memutuskan ikut duduk tepat di seberang Arinda dan Ricko.


Dito dan Zacky memilih hanya menjadi penonton. Keduanya membiarkan Ricko tenang di dekat Arinda.


“Rin,” suara serak khas orang habis menangis terdengar. Ya, Ricko akhirnya berhenti mengeluarkan air mata. Sekarang, hanya tinggal sisa-sisa nada tangisan saja.


“Iya.”


Ricko mengangkat kepala dan menatap Arinda sendu. “Aku hanya mau menikah denganmu.”


“Rezeki, jodoh, maut bukan kita yang mengatur,” ucap Arinda seraya menghapus jejak sisa air mata di pipi Ricko.


“Aku hanya cinta sama kamu. Aku gak mau menikahi orang lain selain kamu.”


“Jangan begitu, Rick. Wanita yang Pak Roni pilih pasti yang terbaik.”


“Enggak, Rin. Kamu udah yang terbaik.”


Udah dong, Rick. Aku mau nangis kalo kamu bicara begini. Tapi, kita bisa apa? batin Arinda nelangsa.

__ADS_1


“Rick ....”


“Kita kawin lari saja, Rin?”


Bukan Arinda yang bereaksi, tetapi Dito. “Eh, Tuan Muda! Sekate-kate lu! Itu anak gadis orang mau main bawa kabur aje.” Kemudian matanya menatap Zacky. “Zack, lu ngomel dong, masa adek lu mau di bawa lari?!”


Zacky menyumpal mulut Dito dengan beberapa lembar tisu yang berada di atas meja. Namanya orang lagi putus asa, pasti kata-kata apa saja bisa keluar. Termasuk ucapan Ricko tadi. Lagi pula, dokter muda itu percaya kalau Arinda bisa mengatasinya tanpa menuruti kemauan tersebut.


“Diem.” Zacky berucap sambil melotot.


“Rick, memaksakan kehendak tidak akan menyelesaikan masalah. Aku perempuan. Restu buatku sangat penting. Aku tidak akan pernah mau menikah tanpa keluargamu merestui.”


“Aku bisa gila hidup tanpa kamu, Rin.”


“Uluh-uluh. Cinta mati padaku, huh.” Canda Arinda agar suasana bisa sedikit melumer.


“Rin, aku serius.”


Arinda pun tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia juga sangat mencintai Ricko.


“Kamu sudah makan? Aku buatkan, ya?”


“Iya, Rin. Gue laper. Bikin yang cepet aja. Mi instan pake telor, bakso, sawi, rawit, mangkok, gak usah pake cinta kalo bikin buat gue. Entar demenan lu jealous.” Bukan Ricko yang menyahut melainkan Dito.


“Dito!” Zacky langsung menarik lengan sahabat konyolnya itu menuju dapur. Sepertinya disumpal tisu tidaklah cukup. Memang harus menjejalnya dengan makanan. “Semua bahan ada di lemari. Gih, bikin sendiri.”


“Bikinin, kek, Zack. Gue kan tamu. Mana capek nyetir ngider jalanan tak tentu arah sama Ricko tadi. Ibalah sama gue yang udah gak punya Engkong ini.”


“Eh, kolor Superman! Gue yang udah gak punya orangtua aje, kagak gitu amat.”

__ADS_1


“Language, Zack. Dokter jangan ngomong kasar dong. Entar gue laporin IDI baru nyaho.”


“Diem lu, Dit! Duduk situ. Gue bikinin bentar.”


“Nah, gitu dong. Dari tadi, kek. Jadi, gue kan anteng. Berkah, Zack, kalo kita menjamu tamu sampe kenyang. Itu salah satu memuliakan tamu juga.”


“Iye, Dit, iye. Gue tahu. Diem sekarang atau akan ada kekerasan dalam persahabatan kita di pagi buta dan di dapur ini!”


“Aihhh. Horor. Udah siap masuk berita patroli di stasiun televisi ikan terbang?”


“Diem!”


“Iye-iye.”


🌺🌺🌺


Arinda POV


Ah, cinta ....


Mengapa kisahnya harus berakhir seperti ini? Aku pikir ini cinta sejati. Tak akan pernah mati. Tapi, ternyata itu hanya mimpi.


Sanggupkah aku hidup sendiri. Sanggupkah aku menjalani hari.


Jiwa, tetaplah bersama kewarasan. Raga, janganlah tumbang.


Takdir ....


Berbaik hatilah kepadaku dan Ricko. Perasaan kami sudah porak-poranda, hancur berkeping-keping. Sudilah memberi belas kasih. Satu kali lagi saja.

__ADS_1


Oh, Tuhan ....


Ubahlah hati sekeras batu, agar melunak dan merestui hubunganku dengan Ricko. Izinkanlah kami berjodoh.


__ADS_2