ARINDA

ARINDA
Insiden membawa keberuntungan


__ADS_3



Suasana cukup ramai di Bandara Adi Sucipto, Sleman, Yogyakarta. Beruntung siang ini langit menunjukkan secercah sinar. Karena, sedari malam kota yang salah satunya terkenal sebagai Kota Pelajar tersebut, tiada henti menurunkan hujan.


Dua anak manusia pun turut hadir dengan mimik berbeda. Sang wanita menunjukkan senyum sumringah yang tak luntur dari bibirnya. Namun, pria di depannya justru berwajah kesal dan berjalan sangat cepat.


“Sayang!”


Boro-boro menyahut, menoleh saja tidak!


“Sayang ... Ricko, tunggu!”


Tiba-tiba, suara koper jatuh dan mengaduh kesakitan dari Arinda menggema secara bersamaan. Berhubung wanita cantik yang terjatuh. Jadi, banyak pria mencoba menghampiri untuk menolong.


Akan tetapi, baru saja ingin membantu. Suara bariton seorang pria tampan yang sudah resmi menjadi mantan bergema!


“BERHENTI! JANGAN ADA YANG MENYENTUHNYA!”


Spontan semua laki-laki tersebut urung menolong. Pasalnya, selain berteriak kencang. Wajah itu juga terlihat bengis saat menatap mereka!


Ricko melangkah cepat! Kemudian, menghampiri Arinda seraya memapahnya menuju kursi tunggu.


“Kamu tu bisa gak berjalan dengan benar. Pakai matamu untuk melihat ke depan!”


“Aku mau mengejar kamu. Tapi, kakiku tersandung.”


Ricko menatap gadis di depannya itu dengan geram. Kemudian, berjongkok untuk melihat kondisi kaki yang jatuh tadi. Lantas, satu sentilan cukup kencang mendarat di kening Arinda.


Gadis itu refleks mengaduh kesakitan seraya memegang keningnya. Namun, si tersangka justru terlihat melotot!


“Pantas jatuh. Lihat! Kamu pakai sepatu terlalu tinggi! Lain kali, pakai yang casual!” seru Ricko seraya melepas stiletto tersebut dan mengecek kaki Arinda. Siapa tau ada yang terluka.


“Aku 'kan mau keliatan cantik di depan kamu.”


“Memangnya sepatu ini dipakai di wajahmu sampai bisa terlihat cantik!”


“Ricko ....”


“Diam!”


“Ricko, jangan bentak aku. Aku 'kan lagi sakit. Seharusnya, kamu tu memberi kasih sayang berlebih lagi.”


Satu sentilan mendarat kembali di kening Arinda. Tapi, kali ini lebih pelan.


“Ganti sepatumu!”


Arinda terdiam sesaat. Kemudian, berujar pelan seraya menunduk takut. “Sepatu yang aku bawa seperti ini semua.”


Ricko melongo! Ingin rasanya mencaci-maki gadis cantik di depannya ini. Tapi, apa daya. Pria itu hanya mampu menghela napas berat. Capek!


“Seandainya saja, menenggelamkan orang itu tidak termasuk dalam kategori pembunuhan. Mungkin aku sudah melakukannya padamu, Arinda!”


“Jahat!”


“Menyusahkan aku seperti ini juga termasuk kejahatan. Kamu tau?!”


“Mana ada yang seperti itu?”


“Diam!”

__ADS_1


Ricko melepas sepatunya. Kemudian, memakaikannya pada kaki Arinda. Sementara dirinya terpaksa mengalah tidak mengenakan alas kaki.


“Sayang ... sepatunya kebesaran.”


Ricko menoleh dengan wajah jengkel seraya menunjuk-nunjuk kening Arinda. “Kamu itu bodoh atau apa?! Ini sepatuku, bukan kepunyaanmu. Jelas berbeda ukuran!”


Lalu, Ricko mengeluarkan ponselnya. Beberapa kali men-dial nomor yang sama. Namun, tak juga diangkat.


“Ke mana mereka? Apakah tidak tau kalau aku akan datang hari ini?”


Ricko mendudukkan diri di samping Arinda. Ia berpikir sejenak. Kemudian, menoleh menatap gadis yang sedang bersandar pada kursi.


“Kamu bisa berjalan?”


Arinda menoleh. “Mau digendong sama kamu.”


“Arinda ....”


Gadis itu cengar-cengir. “Tapi, aku perlu berpegangan pada sesuatu supaya bisa berjalan dengan benar. Masih sakit.”


“Ayo!” Ricko berdiri dan memberikan lengannya untuk menjadi pegangan.


Namun, Arinda justru tersenyum licik. Otaknya bekerja sangat baik dan cepat jika itu berhubungan dengan Ricko. Asas manfaat harus dipakai semaksimal mungkin.


Gadis itu ikut berdiri, tetapi malah memeluk pinggang Ricko!


“Arinda! Apa-apaan, sih! Lepas!” Ricko mencoba melepas tangan yang sudah melekat erat.


“Aku hanya takut jatuh. Kalau begini aku bisa berjalan dengan benar,” ucap Arinda dengan alasan mengada-ada.


Ricko mengusap wajahnya kasar. Terserah sajalah! Ia sudah lelah dan lapar. Mau tak mau pria itu mengalah.


Ricko mendorong troli bagasi berisi koper-koper Arinda. Sementara, dirinya hanya membawa satu tas punggung yang berisi laptop dan alat kerja di dalamnya. Semua pakaian dan keperluan lainnya sudah tersedia.


“Kita makan dulu. Aku lapar.”


“Iya, aku menurut padamu saja.”


“Bagus! Teruslah seperti itu. Karena, setelah ini aku akan membuangmu ke tengah hutan supaya bisa menjadi santapan binatang buas.”


“Hutan?”


“Iya, hutan. Makanlah yang banyak nanti agar mereka kenyang melahapmu.”


Arinda terdiam kemudian tanpa sadar menceracau. “Di sana gelap, sepi, dan menakutkan. Aku naik ke atas pohon agar tidak diserang binatang buas. Tapi, aku jatuh. Rasanya sangat sakit!”


Pria itu menoleh heran. Namun, wajah Arinda tak terlihat, karena tertutup kepala gadis itu yang tengah memeluk erat pinggang Ricko.


Ia bingung dengan ucapan aneh yang keluar dari bibir merah muda itu. Akan tetapi, pria itu memilih untuk mengabaikannya. Karena, Ricko pikir Arinda hanya berhalusinasi saja.


Seandainya, Ricko melihat wajah itu. Begitu sendu dengan mata berkaca-kaca.


Arinda pun semakin mengeratkan pelukannya. Seolah-olah ingin mengatakan jika dirinya tengah ketakutan!


“Arinda, lepaskan tanganmu dan duduklah! Kita makan dulu.”


Gadis itu duduk, diam, dan sorot matanya tak terbaca.


Ricko mengernyit dan memegang telapak tangan itu. Dingin!


“Arinda, kamu sakit? Kenapa tanganmu dingin?” tanya Ricko seraya mengusapnya lembut agar menghangat.

__ADS_1


Arinda refleks langsung menarik tangannya. Ia menyunggingkan senyum. Menutupi rasa takut yang tadi sempat menghinggapi.


“Sayang, kamu mengkhawatirkanku? Ah, aku terharu,” ucap Arinda mengerling menggoda.


Spontan Ricko tersadar akan perlakuannya barusan. Helaan napas lelah menjurus pasrah terdengar.


Kita baru menginjakkan kaki disini. Masih berada di Bandara. Tapi, lihatlah! Tanpa sadar, aku sudah terbuai. Oh, Tuhan! Bagaimana cara menghindarinya? Arinda, tak adakah sedikit rasa takut saat bersamaku seperti dulu. Selalu menolak dan ketakutan kalau hanya berdua. Ayolah! Untuk satu bulan ini saja. Takutlah denganku, batin Ricko mulai frustrasi.


“Mau makan apa?” tanya Ricko mengalihkan pembicaraan.


“Piza.”


“Dari dulu sampai sekarang. Itu masih menjadi makanan favoritmu.”


“Kamu masih ingat? Tu, 'kan! Kamu masih cinta sama aku.”


Ricko memukul kepala Arinda dengan buku menu. “Jangan terlalu percaya diri. Mengingatnya bukan berarti masih cinta. Mimpi terus sana kalau perlu tidak usah bangun lagi!”


“Sayang! Kamu dari tadi selalu ingin aku mati.”


“Memang!”


“Jahat!”


“Memang!”


“Sayang, kamu tu ....”


“Diam atau aku tinggal disini sendirian!”


Satu jam kemudian


Ricko terus sibuk dengan ponselnya. Ia masih penasaran, kenapa tak ada satu pun pekerjanya yang mengangkat telepon.


“Kamu menelepon siapa?”


“Supir.”


“Mungkin mereka lupa dan saat ini sedang sibuk. Jadi, tidak mengangkat teleponmu.”


Ricko mengangguk. Kali ini, ia setuju dengan Arinda.


“Kalau begitu kita naik taksi saja.”


“Iya.”


“Sudah kuat berjalan sendiri?”


Arinda menggeleng. “Belum.”


“Manja!”


“Hanya sama kamu.”


“Tidak peduli!”


“Aku kasih tau supaya kamu gak cemburu.”


“Terserah sajalah! Ayo, cepat jalan!”


Arinda tersenyum dan langsung kembali menempel erat kepada Ricko.

__ADS_1


__ADS_2