ARINDA

ARINDA
Syarat yang berat


__ADS_3



“Bi, tunggu! Ada apa?”


“Tuan Ricko, Non ....”


❄️❄️❄️


Perlahan Arinda menaiki anak tangga menuju lantai dua. Menapakkan kaki dengan ritme sangat pelan tanpa meninggalkan jejak bunyi.


Detak jantung berpacu sangat cepat. Jujur saja, saat ini gadis itu tengah dalam ketakutan. Pasalnya, Bi Irah tadi mengatakan Ricko sedang mengamuk.


Tak ada satu pun, asisten rumah tangga yang berani menghentikan sang tuan muda. Ia sedang dalam mode level sangat pedas.


Mereka memilih meminta pertolongan dan kebetulan Arinda datang. Bagi Bi Irah dan semua pekerja di rumah mewah itu, saat ini gadis itu sang penyelamat.


Suara-suara barang hancur dan bunyi pecahan kaca kentara sekali terdengar. Belum lagi teriakan bergaung dengan nada sangat tinggi. Menimbulkan rasa takut kepada siapa pun yang mendengar. Pantas saja tak ada yang berani mendekat. Sang empunya kamar benar-benar sedang tak terkendali.


Arinda sudah berada tepat di depan kamar Ricko. Gadis itu sedang bergulat dengan pikirannya. Ia pun juga takut menghadapi kemarahan sang kekasih.


Akan tetapi, Arinda cukup sadar jika ini semua terjadi karena kesalahannya. Sehingga, membuat pria itu menjadi kalap. Gadis itu berpikir, ia harus segera meminta maaf.


Saat memegang gagang pintu, tangan Arinda bergetar. Ketakutan semakin menyergap bagaikan seorang terdakwa. Akhirnya, dengan terpaksa gadis itu membuka pintu. Pelan sekali, nyaris tak terdengar.


Pintu perlahan terbuka dan langsung menampilkan keadaan yang porak-poranda. Arinda terbelalak melihat pemandangan di dalam kamar. Semua barang berserakan tak berbentuk. Kaca jendela pecah dan pakaian-pakaian pun tak luput menjadi korban.


“Ricko,” panggil Arinda lembut.


Ricko menoleh sesaat. “Pergi.”


Arinda justru mendekat. Berjalan di atas puing-puing demi sebuah permintaan maaf.


“PERGI!”


Pria itu tahu jika Arinda tak menurut. Tapi, ia sedang tak berselera meladeni wanita yang sudah mengkhianatinya ini. Ricko pun tak mau kalau gadis itu menjadi pelampiasan kemarahan.


Jadi, Ricko lebih memilih mengusirnya. Agar tak terkena samsak emosi yang sedang meletup.


“Jangan mendekat! AKU BILANG PERGI!”


Gadis itu tak peduli, ia terus saja melangkah. Beberapa langkah lagi ia akan sampai pada sang kekasih. Tapi, seketika terhenti. Sebuah pigura foto melayang dan mendarat tepat di samping kaki Arinda.


Hening!


Tak ada yang berbicara ataupun bergerak. Mereka berdua diam di tempat masing-masing. Sampai suara Arinda memecah keheningan.


“Maaf.”


“Aku tidak suka pembohong. Pergi dari sini atau kau akan menyesal.”


“Aku mohon, Rick. Biarkan aku menjelaskan ....”


“PERGI!”


Arinda berlari memeluk Ricko dari belakang. Menangis sejadi-jadinya di bahu lebar itu. Ia tak akan pergi sampai sang kekasih memberi maaf.


Ricko diam, tak menolak. Rasa hangat mulai menjalari tubuh. Ia mengepalkan tangan, kesal dengan dirinya yang tak bisa menolak pelukan tersebut. Rasa tenang dan nyaman tiba-tiba saja menyergap.


Ricko terpejam. Mencoba merasai dekapan sang kekasih. Berharap saat ia membuka mata, itu adalah mimpi belaka.

__ADS_1


“Maaf, Rick.”


Sial! Ini bukan mimpi. Ricko membatin.


“Lepas.”


Di belakang bahu Ricko, Arinda menggelengkan kepala. Isak tangis semakin menjadi-jadi.


“Jangan membuatku bertambah marah. Lepaskan pelukanmu.”


Suara pelan itu terdengar menusuk. Karena takut, perlahan Arinda melepasnya juga.


“Aku tak ingin mendengar apa pun darimu. Bukti nyata yang kulihat sudah menjawab semua.”


“Ricko ....”


“Lebih baik menyudahi hubungan ini. Kita putus!”


Arinda berangsur memeluk Ricko kembali. Kali ini, gadis itu memeluknya dari arah depan.


“Aku mencintaimu, Rick. Aku mohon, tarik kata-katamu kembali.”


Cih, kau sedang memainkan sandiwara? Aku muak mendengarnya. Aku juga begitu mencintaimu. Sangat! Tapi, lihat! Kenapa harus berbohong dan menduakanku, Arinda? batin Ricko.


“Tolong, jangan membuatku harus berbuat kasar padamu. Lepaskan aku dan pergilah menjauh.”


Ricko masih berusaha berkata dengan lembut walau rasa ingin memaki. Karena cinta yang tertanam sangat kuat, membuatnya tak bisa melakukan hal tersebut. Ia hanya sesekali berteriak menyuruh Arinda pergi tanpa bisa mengeluarkan kata-kata kasar.


“Aku gak mau pergi sebelum mendapat maaf darimu.”


Cukup sudah, Arinda! Jangan salahkan aku jika lepas kontrol. Ricko membatin.


Arinda mengangguk tanpa berniat sedikit pun melepas pelukannya.


“Aku akan memaafkanmu. Tapi, ada satu syarat yang harus kamu penuhi. Kamu mau?”


Arinda mendongak. Menatap sang kekasih dengan matanya yang basah.


Ricko kemudian menunduk. Mereka berdua saling berpandangan.


“A-apa syaratnya?”


Ricko menyeringai, “Tidur denganku.”


Gadis itu tersentak mendengar penuturan Ricko. Bagaimana bisa ide gila itu muncul? Ke mana pria yang selalu menjagaku. Kenapa kamu jadi begini? batin Arinda.


Tanpa aba-aba, pria itu menubrukkan bibir mereka. Arinda terkejut. Akan tetapi, cengkeraman tangan Ricko di bahu dan kepalanya sudah lebih dulu menahan. Laki-laki itu mencecap dengan buas.


Ricko berjalan maju dan Arinda terpaksa melangkah mundur. Pria itu menjatuhkan tubuh mereka pada kasur miliknya.


Mengungkung Arinda dengan tubuhnya yang kekar.


Arinda meronta-ronta. Air matanya terus mengalir, bahkan semakin deras.


Arinda merasa ini sudah tidak benar. Di tambah, ia kini berada di bawah kendali Ricko. Kedua tangannya langsung diangkat ke atas dan dipegang sangat erat.


Amarah tengah merasuk. Jadi, memohon ataupun meronta rasanya percuma.


Ricko melahap habis bibir manis itu tanpa jeda. Belum lagi gigitan-gigitan kecil ikut diberikan. Membuat Arinda merasakan sensasi menggelenyar di dalam dirinya yang sulit untuk ditolak. Gadis itu tak memungkiri, memang pria ini cukup lihai dalam hal tersebut.


Arinda terpaksa diam mengikuti permainan Ricko. Gadis itu terkungkung oleh tubuh sang kekasih. Badannya yang kecil tak sanggup untuk melawan.

__ADS_1


Cukup lama bibir mereka menyatu. Sampai akhirnya, Ricko melepaskan juga. Pria itu tak lantas beranjak. Melainkan menatap dengan intens seraya mendekatkan keningnya pada Arinda.


Nafas tersengal-sengal akibat kelelahan tak terelakkan lagi. Peluh keringat pun perlahan mengalir, padahal kamar itu ber-AC.


“Aku tidak munafik. Bibir merah mudamu memang membuatku ketagihan. Tapi, sayangnya dengan ini juga kamu menggoda pria lain di saat hubungan kita masih terjalin.”


Arinda menggeleng. “Aku hanya mencintaimu.”


Ricko tersenyum mengejek seolah-olah kata-kata itu adalah kepalsuan belaka. Pria itu mendekatkan bibirnya pada telinga Arinda.


“Saat ini aku tidak butuh kata cintamu. Kamu hanya ingin aku beri maaf, bukan? Jadi, terimalah syarat dariku." Ricko berbisik sensual.


Kemudian, menggigit lembut telinga sang kekasih. Wangi dari rambut Arinda pun ikut menguar. Pria itu benar-benar semakin terbuai.


Arinda terisak, untuk kesekian kalinya ia menggeleng.


“Rick, jangan begini.”


Ricko tertawa, “Kenapa? Menolak? Kamu sudah tidak gadis atau memang benar berbohong.”


Kenapa kamu mempertanyakan kegadisanku, Rick? Apakah di matamu aku terlihat murahan? gumam Arinda kecewa.


“Ricko ... ahhh ... ja-jangan ... hentikan ....”


Ricko menciumi leher Arinda. Pria itu meninggalkan beberapa tanda di sana kemudian naik ke bibir yang sudah membengkak akibat serangan sebelumnya. Menyesapnya lagi berkali-kali. Laki-laki itu tak peduli dengan derai air mata sang kekasih.


Ricko semakin menggila. Ia menciumi seluruh wajah Arinda dan kembali ke bibir favoritnya. Turun lagi mencium leher jenjang tersebut dengan beringas.


“Ricko, ja-jangan. Ahhh, lepas ....”


Ricko menghentikan aktivitasnya. “Kenapa? Bukankah kamu ingin aku beri maaf?”


“Caranya jangan begini, aku bisa menjelaskan semua.”


Ricko membelai rambut panjang sang kekasih. Pria itu juga mengusap lembut bibir ranum Arinda. Kemudian, menghapus jejak basah dengan ibu jari.


“Aku tak butuh penjelasanmu. Sudah kuberi pilihan. Katakan, apa yang kamu pilih?”


“Aku tidak mau.”


Hening!


Ricko memandangi gadis yang sangat ia cinta dengan intens. Melihat wajah sembabnya akibat terus menangis. Walaupun begitu, aura cantik masih terlihat.


Arinda tak memiliki nyali untuk menatap Ricko. Keberanian berlari entah kemana. Ia takut, karena netra tajam itu seperti ingin menelannya hidup-hidup.


“Baiklah, mulai sekarang jangan pernah lagi menemuiku. Hubungan kita berakhir sampai disini.” Ricko bangun dari atas tubuh Arinda. “pergi dan jangan pernah kembali.”


Akhirnya, gadis itu bisa bernapas lega. Karena, bisa lepas dari kungkungan tubuh atletis Ricko. Kemudian, bangun dan turun dari tempat tidur. Ia tidak pergi, melainkan menatap kekasih yang sekarang telah resmi menjadi mantan dengan sendu.


“Aku bilang pergi! Jika tidak, aku akan benar-benar mengurungmu di kamar ini sampai besok pagi.”


“Rick ....”


“PERGI!”


Arinda mengambil tasnya dan bergegas melangkah keluar kamar dengan perasaan berkecamuk. Laki-laki yang diharapkan bisa menjadi sandaran hidup sudah tak ada lagi. Sekarang ia sendirian. Hari-hari kini akan diisi dengan kesepian.


Sebelum benar-benar pergi, Arinda membalikkan tubuhnya. Menatap kamar mantan kekasih tersayang untuk terakhir kali.


Ricko, aku akan selalu mencintaimu. Sekarang atau nanti tak akan pernah berubah. Suatu saat kita dipertemukan kembali. Aku berjanji, akan membuatmu bertekuk lutut lagi padaku dengan cinta tulus yang kupunya. Sampai jumpa lagi, Sayang! Arinda membatin.

__ADS_1


__ADS_2