
“Rick!” panggil Arinda membuka pintu, tetapi hanya menyembulkan kepalanya saja.
“Masuk, Arinda.”
Dari hari ke hari sikap Ricko semakin lembut kepada Arinda. Sudah tidak pernah marah, membentak, dan berkata kasar. Pria itu memperlakukannya bak princess.
Semakin membuat hati Arinda berbunga-bunga. Pasalnya, jantungnya sering berdetak tak keruan seperti irama lagu cinta. Membuatnya terlena!
“Sibuk?”
“Minta apa?”
“Piza. Aku laper. Tadi makan siang hanya makan sedikit di kantin.” Arinda melangkah maju dan mendudukkan diri di depan Ricko.
Ricko memberikan ponselnya. “Pesanlah sesukamu.”
Arinda mengambil ponsel tersebut dengan hati riang. “Kamu mau?”
“Ya.”
Arinda langsung membuka aplikasi ojek online. Memesan satu loyang piza berukuran besar beserta dua lemon tea.
Memang hanya mereka berdua bisa bebas makan kapan saja. Bahkan, ketika jam istirahat sudah usai. Untung anak bos dan asisten kesayangannya. Kalau bukan, pasti sudah dipecat.
Selesai memesan, Arinda membuka kamera dan memotret dirinya sendiri disana. Memang dasar kurang kerjaan.
Untung Ricko tidak menyadari kelakuan sang asisten. Karena, sedari tadi sibuk berkutat di depan laptopnya.
Tiga puluh menit kemudian
Makanan dan minuman sudah berada di atas meja kerja Ricko. Tanpa sungkan Arinda memakannya dengan lahap.
“Rick, makan dulu.”
“Nanti.”
“Mau aku menyuapimu?”
“Boleh.”
Arinda mengerjap. Akhir-akhir ini gadis itu sering termakan omongannya sendiri. Tapi, herannya kejadian yang serupa hanya berbeda aksi saja sering terulang. Jadi, sulit membedakan apakah itu kapok atau ketagihan.
Mau tak mau Arinda menggeser kursinya mendekati Ricko. Menyuapi pria itu piza. Lalu, gadis itu memandangi laptop yang dari tadi menjadi objek netra pekat sang atasan.
“Itu bukannya PT. Surya Mandiri? Ada apa dengan mereka?”
“Sudah dua hari ini aku memeriksa semua berkas mereka dari awal sampai terakhir perpanjang kontrak enam bulan lalu. Banyak kasus suap di lapangan. Beberapa cabangnya yang berada di Diamond’s Mall di luar kota adalah kasus terbanyak.” Ricko menoleh menatap Arinda. “Ini korupsi.”
Arinda tercengang tak percaya. “Korupsi? Bagaimana bisa? Bukankah semua terjaga ketat.”
“No! Kita lengah. Ada orang kuat di balik semua ini. Tentu memiliki jabatan tak biasa di kantor.”
Tiba-tiba Arinda teringat sesuatu. “Di Jakarta aku sempat menendang beberapa tenant dengan kasus serupa. Mereka mencoba menyogokku.”
“Jadi, ini pernah terjadi di Jakarta juga?”
__ADS_1
Arinda mengangguk. “Memang bukan PT. Surya Mandiri. Tapi, kasus mereka hampir sama. Dan, kamu tau ....” Arinda menatap lekat Ricko. “,... aku di janjikan mendapat uang 50 persen dari harga sewa.”
Ricko terdiam. Bukan sedang mempermasalahkan itu. Tapi, ia memikirkan hal lainnya dengan rasa kagum.
Memang tidak salah aku memilihmu untuk menjadi wanitaku kelak. Cerdas, jujur, memiliki loyalitas tinggi, cantik, dan menggairahkan, batin Ricko seraya menepis pikiran kotor di kepala untuk kata terakhirnya itu.
“Aku mengerti sekarang. Terima kasih sudah menjadi karyawan teladan, Arinda.”
Arinda mengangguk. “Lalu, kamu akan mengusutnya?”
“Ya. Mau membantuku?”
“Dengan senang hati.”
Ricko dan Arinda saling menatap. Kemudian, mereka tersenyum penuh arti.
🌺🌺🌺
“Rick!”
“Apa?”
“Kantor ini sepi. Tolong jangan jauh-jauh dariku.”
“Kamu takut?”
“Tidak. Aku hanya sedang tidak mood bertemu makhluk halus.”
Alasan macam apa itu? Mana ada bertemu setan antara mood dan tidak. Bilang takut saja gengsi sekali, gumam Ricko.
“Semoga.”
Setan paling menakutkan saat ini adalah aku, Arinda. Berduaan begini di tempat sepi. Rasanya ingin menerkammu hidup-hidup, batin Ricko.
Arinda dan Ricko berencana untuk mengumpulkan berkas-berkas usang beberapa tahun silam. Oleh karena itu, mereka sudah mengatur waktu terlebih dahulu kalau hari Sabtu ini akan mengunjungi kantor. Hari yang dirasa sangat pas untuk penyelidikan.
Saat ini, mereka berada di ruang arsip. Keduanya mulai mencari satu persatu bukti yang akan dipakai untuk menggugat.
Dua puluh menit menjelajah ruang arsip. Arinda menemukan satu disket dan dokumen terselip di urutan tahun yang salah. Seharusnya, kedua barang itu berada di arsip tahun 2000, tetapi menyatu di tahun 1995.
“Rick, aku menemukan sebuah disket dan dokumen dua puluh tahun lalu. Sepertinya, ini awal mula kecurangan itu bermula. Ada yang mencoba menyembunyikan.”
Ricko mengambil kedua barang itu. Ia membaca isi dokumen. Kemudian, mengernyit dan membatin. Bukankah, Papa di angkat menjadi CEO sekitar dua puluh tahun lalu. Apakah setelah itu mereka merasa memiliki kebebasan? Karena, Papa sudah tidak menjadi direktur keuangan. Ah, sepertinya perlu dilakukan audit secara menyeluruh dengan tim khusus dan rahasia.
Ricko menatap Arinda. “Mau bekerja keras untuk mengumpulkan bukti bersamaku? Aku butuh kamu untuk menjadi tim audit rahasia.”
“Tentu. Ayo, kita cari bukti lainnya!”
Mendengar persetujuan tersebut, Ricko tersenyum sumringah. Kemudian, mereka berdua mulai mencari berkas yang dibutuhkan lagi. Keduanya harus sampai menaiki tangga untuk menemukannya. Karena, arsip berusia lama posisinya berada pada rak paling atas.
“Arinda, sudah turunlah. Aku sudah selesai. Jadi, biar aku yang meneruskan pencarian di atas,” ucap Ricko berdiri di bawah tangga menunggu Arinda turun.
“Iya, aku turun.”
Arinda menuruni tangga secara perlahan. Namun, saat masih berada di undakan dua anak tangga terakhir, Arinda melangkahinya sekaligus. Alhasil, ia hampir jatuh. Beruntung Ricko dengan cepat menangkap tubuh mungil itu. Jika tidak, sudah jatuh ke lantai.
__ADS_1
“Hati-hati. Sudah duduk saja. Jangan naik tangga lagi.”
“Iya.”
Satu jam kemudian
Setelah mendapatkan beberapa barang bukti untuk diperiksa, Ricko memutuskan untuk pulang.
“Kita pulang? Aku akan memeriksanya nanti malam.”
“Kamu akan mengecek berkas-berkas dan disket itu sendirian?”
“Iya. Besok 'kan libur. Jadi, tak masalah untuk lembur sampai pagi sekali pun.”
Arinda terlihat berpikir. Akan tetapi, ia sedikit takut untuk merealisasikan pikirannya. Jadi, ia diam saja.
🌺🌺🌺
Pukul tujuh malam berada di lorong sepi apartemen mewah. Membuat Arinda merinding. Pasalnya, ia sudah tiga puluh menit berada di depan pintu tanpa berbuat apa-apa selain mondar-mandir.
Pikirannya sedang berdebat antara melanjutkan atau membatalkan. Arinda hanya takut Ricko marah dan mengusirnya.
“Bagaimana ini? Masuk atau tidak, ya?”
Lima menit berlalu, Arinda memutuskan untuk memencet bel. Ia pikir ini bagian dari pekerjaan. Lagi pula, Ricko bilang mereka berdua adalah tim audit rahasia. Tak sopan rasanya membiarkan teman satu pekerjaan bekerja sendiri, bukan?
Catat itu sebagai pembenaran Arinda saja. Karena, belum tentu Ricko membenarkan malam-malam ke apartemennya sendirian dengan alasan tersebut.
Sudah berkali-kali memencet bel, tetapi tidak ada jawaban.
“Ke mana Ricko? Apa dia pergi?”
Mencoba kembali memencet bel. Namun, tetap tak ada jawaban. Arinda akhirnya nekat menekan nomor pin. Dan, kembali pintu itu terbuka.
“Ah, masih sama rupanya. Sembrono sekali! Sudah tau ada gadis patah hati mengetahuinya, mengapa belum diganti juga.”
Arinda masuk ke dalam. Suasana apartemen terlihat sepi, tetapi kali ini lebih rapi. Gadis itu mendudukkan diri di atas karpet di depan sofa tepat berhadapan dengan televisi.
Arinda memainkan ponselnya sambil menunggu Ricko. Entah, pria itu berada di mana. Di telepon pun tidak aktif.
Tiga puluh menit kemudian
Terdengar suara pintu terbuka. Asalnya dari kamar Ricko. Arinda memerhatikan seseorang yang keluar dari sana. Pria itu hanya mengenakan handuk yang di lilit di pinggang. Dan, satu handuk kecil yang dikalungkan di leher. Badan atletis dengan rambut yang basah itu terlihat menggiurkan di mata sang asisten.
Ricko berjalan ke dapur. Ia menyeduh kopi sachet. Pasalnya, pria itu kapok membeli kopi secara terpisah dengan gula. Karena, rasanya bukan manis melainkan menjadi asin.
Ricko terus saja melakukan aktivitasnya. Setelah selesai membuat secangkir kopi. Ia melangkah lagi duduk di sofa. Menyalakan televisi sambil menyeruput minuman itu.
Tanpa sadar jika seseorang sedari tadi memerhatikan. Bahkan, tengah bersusah payah untuk menelan saliva. Bagaimana tidak, lelaki itu dengan santainya duduk di dekat Arinda yang berada persis di sampingnya sedang duduk di bawah.
“Ricko.” Arinda memanggil.
Ricko menoleh ke arah sumber suara. Dan, ia seketika terlonjak kaget melihat Arinda hingga membuatnya hampir terjungkal.
Lilitan handuk itu pun hampir terlepas. Nyaris saja!
__ADS_1
“ASTAGA! ARINDAAAAAAAAA!”