ARINDA

ARINDA
Harapan Arinda


__ADS_3

Arinda berteriak kencang. Ia meluapkan semua perasaannya. Suara debur ombak pun tak mampu mengalahkan jeritan tersebut. Embusan angin ikut menjadi saksi kalau seseorang tengah dirundung nestapa.


“RICKO!”


Gadis itu jatuh terduduk di atas pasir. Usai keluar dari rumah Ricko, ia memutuskan untuk pergi ke Pantai. Mencoba menenangkan diri.


Air mata terus berderai. Arinda sudah lunglai, kepalanya menunduk. Rasa ingin mati.


Gadis itu terisak-isak. Suara memilukan yang terdengar sangat menyayat hati. Ia merasa hidup ini begitu penuh dengan penderitaan. Belum lama mereguk manisnya cinta, tetapi kini harus terluka.


Hari pun sudah beranjak malam. Arinda masih tetap berada di tempat tanpa mengubah sedikit pun posisinya. Ia sudah terlalu lelah bergerak. Bahkan, kalau saja sudah tak waras. Mungkin bunuh diri menjadi pilihan. Untung saja akal sehat masih bekerja dengan baik. Jadi, hal bodoh tersebut hanya sekedar angin lewat.


Suara telepon berdering dari dalam tas selempang yang dipakai. Arinda bergeming. Sesaat kemudian baru mengambil ponsel tersebut. Menggulir tombol hijau ke atas tanpa lebih dulu melihat siapa yang menelepon.


“Halo, Rin!”


Suara dari seberang sana terdengar panik.


“Iya.”


“Rin, ada apa, sih? Kenapa Ricko mengamuk? Lu berdua bertengkar?”


“Kami udah putus.”


Hening!


Ketika tak ada lagi suara dari seberang sana. Arinda menutup telepon dan mencoba berdiri. Akan tetapi, kakinya terasa kebas. Ia meluruskan lebih dulu seraya menatap langit dengan sendu


Arinda berkata dalam hati ....


Aku adalah kesedihan. Hanya memiliki satu orang teman bernama sepi. Hampa, itulah hidupku.


Mulai saat ini, aku sendirian melewati hari. Mungkin ... aku juga tak lagi dapat tersenyum. Karena, bibir ini terlalu sibuk dengan isak tangis.


Tak akan ada lagi tawa bahagia seperti saat bersamamu. Sekarang, hanya berdiam diri saja yang bisa kulakukan seraya menunggu datangnya malam. Berharap sang bunga tidur menghadirkanmu.


Sebenarnya, kenyataan hidup ini sudah ingin membuatku berlari. Meninggalkan dunia fana agar aku tak lagi membasahi mata dengan tangisan.


Air mata yang tak akan pernah berakhir hingga kurasa dunia adil. Ah, seandainya saja kematian bisa menyelesaikan masalah.


Ricko ....


Harapan pada dunia hanya satu. Bisa hidup bersamamu. Itu saja. Kalau suatu saat kita bertemu lagi. Aku akan memberi lagi cinta untukmu.


Cinta yang tulus seperti saat ini. Hanya untukmu.


Tunggu aku. Jangan hapus rasa cintamu kepadaku, ya. Aku mohon.


❄️❄️❄️


Dito dan Zacky bergegas pergi ke rumah Ricko setelah mendapat telepon dari Bi Irah. Mereka secepat mungkin datang. Tapi, begitu tiba di tempat kejadian perkara. Betapa kagetnya melihat kamar yang berantakan seperti terkena angin puyuh. Terlihat Ricko duduk di balkon dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Dito dan Zacky mencoba menghampiri. Mereka tak bertanya apa pun, hanya duduk menemani. Keadaan seperti ini, lebih baik diam. Membiarkan sahabatnya berbicara saat sudah tenang. Juga atas kemauan sendiri.


Beberapa jam berlalu, tak terasa hari sudah malam. Tapi, mereka bertiga masih duduk bersama tanpa suara.


Membuat Dito sedikit frustrasi. Ia keluar dari balkon dan menelepon Arinda untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Dito terpekik kaget mendengar hubungan mereka telah berakhir. Pikirannya berkelana, bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah selama ini baik-baik saja? batinnya.


Dito tak menjawab kekasih sahabatnya lagi. Ia sudah cukup terkejut melihat kamar Ricko yang luluh lantak. Di tambah lagi, pria itu diam membisu. Lalu, Arinda mengatakan mereka putus.


Kejutan bertubi-tubi diterima secara beruntun. Jadi, wajar saja jika ia syok akan semuanya ini.


Dito menoleh ke arah Zacky. Kemudian, memanggilnya dengan isyarat tangan.


“Ada apa?” tanya Zacky begitu berada di dekat Dito.


“Mereka putus.”


Zacky terkejut. “Kok bisa?”


“Mana gue tahu? Arinda tadi bilang begitu.”


“Masalahnya apa?”


“Mana gue tahu.”


Zacky baru saja mau bertanya lagi kepada Dito. Tapi, sudah dipotong lebih dulu.


Zacky mendengus, “Minggir! Gue mau nanya Ricko.”


Dito langsung menahan lengan Zacky. “Lu kan tahu kondisi Ricko, memprihatinkan kayak begitu. Dari tadi juga cuma diem aja.”


“Makanya kita harus tanya.”


“Jangan, deh. Kita tanya hal yang lain aja. Bagaimana?”


“Apa?”


“Dia udah makan atau belum? Biar kita ajak makan bareng. Gue juga laper.”


Zacky berdecak kesal. Bisa-bisanya di saat genting seperti ini Dito bercanda.


“Dit, serius dikit kenapa, sih?”


“Frustrasi boleh, tetapi perut kan juga kudu kenyang. Biar sedihnya lebih menjiwai.”


“Dito,” Zacky menutup mulut sang sohib dengan kedua tangan agar diam.


“Lepas. Apa-apaan lu?” Dito menghempas tangan Zacky dari mulutnya secara kasar.


“Dasar temen laknat. Di kirim Ricko ke Antartika jadi sohib penguin, baru tahu rasa.”

__ADS_1


“Elah, Zack. Ini udah jam sembilan malem. Kita mantengin anak perawan yang lagi galau dengan perut keroncongan. Bisa-bisa kita bertiga mati bareng disini.”


“Lambe lu bisa dikontrol gak. Minta banget dilakban.”


“Kalo lu lakban, pegimana cara gue makan? Lewat pori-pori? Di kata gue Spongebob kali, punya lobang pori segede gaban.”


“Diem.”


“Orang belom makan disuruh diem. Lu gak tahu apa, laper bisa mengubah orang.”


“Dito!”


“Iye-iye.”


Zacky dan Dito memutuskan kembali menemani Ricko. Pria itu masih tetap sama, tak bersuara.


Sampai akhirnya, Zacky memberanikan diri bertanya.


“Rick ....”


Akan tetapi, baru saja menyebut nama sahabatnya. Ricko sudah menyela omongan Zacky.


“Lu berdua balik, gih. Gue baik-baik aja.”


Apaan yang baik-baik aja. Kamar lu aja hancur lebur, Sob. Astaga! Ulah si cinta buta begini amat. Sampe bikin lu kayak orang hidup segan, mati tak mau. Makan enggak, minum juga enggak. Untung masih napes! Dito membatin.


“Kita berdua gak ada gawean, Rick. Jadi, nemenin lu gak masalah,” tutur Zacky menepuk bahu Ricko pelan.


“Iya, kita juga gak mau lihat surat kabar online besok tentang berita kematian lu. Akibat putus cinta.”


“Dito!” seru Zacky.


Zacky memiting kepala sahabat koplaknya. Dari tadi ia sudah cukup menahan kesal dengan mulut Dito yang gak bisa di-upgrade dengan omongan orang normal. Selalu saja nyeleneh.


Tiba-tiba, Ricko tertawa. Tawa yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Sehingga, membuat Dito dan Zacky bergidik.


Mereka takut sahabatnya yang tengah terombang-ambing akan cinta itu kesurupan jin. Iya, kalo persis kayak punya Aladdin, bisa minta tiga permintaan. Nah, kalo sekelas Buto ijo. Bagaimana? Mereka bisa ditelan mentah-mentah.


Kesempatan itu juga dimanfaatkan Dito untuk lepas dari pitingan Zacky. Mereka berdua melongo melihat sahabatnya masih saja tertawa.


“Rick, lu sehat?” tanya Dito penasaran.


Ricko menoleh ke arah kedua sahabatnya dan berhenti tertawa.


“Gue memang cinta Arinda. Tapi, buat mati secepat itu karena wanita pengkhianat. Enggak ada dalam kamus gue, Sob.”


“Pengkhianat!” seru mereka berdua berbarengan.


Dito dan Zacky saling pandang. Lewat isyarat mata, mereka saling bertanya. Tapi, tak ada satu pun yang mengerti. Kedua orang yang sedang dalam kebingungan itu hanya diam dengan pemikiran masing-masing.


.

__ADS_1


__ADS_2