
Enam bulan kemudian
Di sekolah, sudah tak ada yang mengganggu Arinda lagi termasuk trio tante menor. Mereka benar-benar menepati janjinya untuk tak mengusiknya. Setidaknya, gadis itu bisa sedikit bernapas lega. Tenang bersekolah tanpa ada yang menganggu.
Sejak berpisah dari Ricko, Arinda menjadi sangat dingin kepada laki-laki. Ia menolak semua ajakan berpacaran. Bahkan, sudah tak tertarik saat banyak pria yang mengiming-iming limpahan materi.
Gadis itu menjadi tak tersentuh. Bicara pun seperlunya saja.
Image buruk di sekolah pun perlahan luntur. Citranya sekarang adalah gadis dingin bermata tajam. Arinda tak akan sungkan menatap laki-laki yang berani mengganggunya.
Ia akan memberi tatapan menusuk seperti ingin membunuh. Karena sorot mata teduh yang sering memancar sudah hilang. Senyum yang sering ia tebar pun perlahan sirna. Wajah itu telah berubah menjadi datar.
❄️❄️❄️
Pintu rumah terbuka dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga. Siapa lagi pelakunya kalau bukan raja di rumah itu. Sang penguasa kehidupan Arinda dan Nita.
“Nita!”
“NITA!”
“NITA!!!”
Wanita paruh baya itu bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk menghampiri Erwin.
“Mana Arinda?!”
“Di kamarnya, Pa. Ada apa?”
“Suruh anak itu bersiap. Akan ada yang datang sebentar lagi.”
“Pa, Arinda baru saja pulang sekolah, masih capek. Kapan-kapan saja, bagaimana?”
Erwin menatap tajam Nita. Laki-laki itu paling tak suka ada yang membantah dan menasihatinya. Pria itu mencengkeram leher sang istri erat dengan sorot tajam.
__ADS_1
Erwin tak mau melewatkan kesempatan kembali kehilangan uang dari pelanggan anaknya. Orang itu sangat royal dalam memberi uang. Jadi, mana mungkin 'kan ia mau melepaskannya begitu saja.
Erwin banyak menyodorkan pria kepada Arinda. Tapi, tangkapan besar memang hanya dari pelanggan setianya itu. Keluarganya begitu menyayangi laki-laki manja itu. Sehingga, rela mengeluarkan banyak uang demi gadis yang putranya suka.
“Cepat jalan! Jangan membantah!” Erwin menghempaskan Nita hingga tubuhnya terdorong membentur dinding.
Karena takut, mau tak mau, Nita menurut. Hatinya tak tega melihat Arinda hidup seperti ini. Tapi, ia juga tak bisa meninggalkan sang suami begitu saja. Wanita paruh baya itu memiliki alasannya sendiri.
Nita bagai tengah memakan buah simalakama. Memihak anaknya salah, memihak suaminya pun salah. Hidupnya serba salah dan itu membuatnya tersiksa!
Mama minta maaf, Nak! Seharusnya dulu tak membawamu hidup bersama kami. Seandainya saja bisa mengulang waktu, batin Nita menyesal.
Nita mencoba membuka pelan kamar Arinda. Pintu berwarna putih tersebut ternyata terkunci. Ia mengetuknya dan memanggil beberapa kali nama sang putri. Tapi, tetap tak ada jawaban.
Sekitar sepuluh menit kemudian baru pintu itu terbuka. Kepala Arinda menyembul dari balik pintu dengan wajah baru bangun tidur. Usai pulang sekolah tadi, gadis itu langsung merebahkan tubuhnya pada kasur mungil miliknya. Ia sangat lelah!
“Iya, Ma,” kata Arinda masih dengan muka bantalnya seraya sesekali menguap.
Nita langsung menerobos masuk ke dalam dan menutup pintu kamar.
“Iya, Ma. Tadi ada jadwal Pendalaman Materi untuk Ujian Sekolah sampai jam dua. Soal-soalnya banyak sekali. Aku sampai pusing tadi.”
“Mama minta maaf, tetapi ....”
Nita berpikir sesaat, ia kasihan melihat Arinda yang kelelahan. Oleh sebab itu, dirinya bingung untuk menyampaikan perintah Erwin.
“Ada apa, Ma? Si brengsek itu pasti menyuruhku berganti pakaian untuk menjual diri lagi, 'kan?!”
Seperti tahu apa yang ada dipikiran Nita. Arinda ceplos saja bicara. Memang apalagi yang pria tua itu mau. Selain melemparnya kepada pria bodoh pengemis cinta lewat jalur menyogok seperti ini.
“Arinda, dia Papamu. Tidak baik berbicara kasar seperti itu.”
“Aku hanya berkata kasar, Mama sudah menasihatiku. Sementara Papa berperilaku jahat, kenapa memakluminya? Seharusnya kita meninggalkan pria tua itu.”
“Arinda ....”
__ADS_1
“Ya-ya, aku akan berganti pakaian dengan baju terbaik dan berdandan secantik mungkin agar nilai jualku terus naik.”
“Arinda ....”
“Bisakah Mama keluar dari kamarku? Aku mau berganti pakaian.”
Nita keluar dari kamar dengan rasa bersalah. Entah, mau sampai kapan ketakutan terhadap Erwin menghilang. Sebagai Ibu, ia tahu sudah sangat gagal melindungi putri satu-satunya itu.
Nita hanya bisa berdoa. Semoga sang putri bisa menjaga dirinya dengan baik ketika berada di luar sana. Ia akan sangat sedih bila terjadi sesuatu yang buruk menimpa Arinda.
Doa mama akan selalu bersamamu, Nak. Mereka di sana pun pasti akan ikut melindungimu.
❄️❄️❄️
Arinda mematut dirinya di cermin. Wajah murungnya tak bisa disembunyikan. Ia akan tersenyum ketika berada bersama pria-pria yang membayarnya. Wanita bayaran harus begitu, bukan?!
Gadis cantik itu sudah siap dengan tampilannya. Memakai kaos putih dengan jaket kulit hitam. Di padu dengan rok kotak-kotak dan sepatu kets berwarna putih. Rambutnya ia kuncir satu kemudian bergegas mengambil tasnya dan segera keluar dari kamar.
Entah, siapa kali ini yang terjerat oleh mulut manis Erwin. Tapi, Arinda tidak pernah melupakan satu senjata yang menurutnya cukup ampuh. Gadis itu selalu membawanya ikut bersama kemana pun dirinya pergi. Untuk berjaga-jaga dan akan menggunakannya di waktu yang tepat.
“Pa, aku sudah siap!” teriak Arinda.
Maksudnya, gadis itu ingin mengejek Papanya. Jika putrinya yang cantik dan bernilai uang tersebut selalu siap melayani laki-laki. Sesuai tarif yang disepakati dengan Erwin.
Arinda menuruni tangga dengan wajah dibuat sangat riang. Padahal, hatinya kesal setengah mati! Saat sudah sampai di ruang tamu, betapa terkejutnya ia melihat seorang pria tengah menatapnya dengan seringai mengerikan.
“Arinda! Kita bertemu lagi!”
Arinda diam mematung di tempat.
Tidak-tidak! Apa-apaan ini, pasti pria itu mau membalas dendam, batin Arinda.
Arinda mundur satu langkah dan bersiap balik badan menuju kamarnya. Tapi, suara bariton Erwin menghentikan rencananya untuk melarikan diri.
“ARINDA! Mau ke mana kamu?!”
__ADS_1