
“Oke! Ladies and gentlemen! How about we play something?” tanya Dito bersemangat.
“Oke!”
“Oke!”
“Oke!”
Dan permainan pun di mulai ....
“Siap semua!” teriak Dito.
Tanpa menunggu jawaban dari yang lain. Dito memutar botol dengan kencang dan berhenti tepat di depan Zacky.
“Sial! Kenapa mesti gue yang pertama!” gerutu Zacky.
“Truth or dare?” tanya Dito tersenyum usil.
“Truth!” jawab Zacky cepat.
“Cemen, lu!” sindir Dito.
“Bodo amat!”
“Siapa cewek yang lagi lu taksir?” Dito bertanya karena penasaran. Pasalnya, beberapa hari terakhir ini, sahabatnya sering terlihat melamun seperti orang tengah patah hati.
Zacky berdecak kesal. “Dasar lambe lu, Dit! Kepo aja sama urusan asmara gue.”
“Ya, elah. Tinggal jawab doang.”
“Kalo gitu gue ganti dare aja.”
“O, tidak bisa! Jawaban pertama tidak bisa diubah atau diganggu gugat.”
“Awas, ya!”
Dito mengangkat bahunya. Tak peduli dengan ucapan yang terdengar seperti ancaman tersebut.
“Annisa, anak IPA. Teman sekelas Arinda.” Lanjut Zacky menjawab cepat.
“Wah! Selera lu yang berhijab, gak sangka gue.”
“Tunggu! Setau gue, Annisa itu gak mau pacaran. Di kelas juga banyak yang suka dan semua berakhir dengan penolakan,” sela Arinda menerangkan.
“Iya, Rin. Gue termasuk salah satu yang ditolak juga,” lirih Zacky.
“Ops! Sorry, Zack.” Arinda langsung menutup mulutnya agar tak menyinggung nama Annisa lagi.
Tiba-tiba, terdengar tawa dari Dito. Ia tertawa terbahak-bahak.
Zacky refleks melempar kardus piza yang telah kosong ke arah Dito, agar berhenti menertawakannya.
“Apaan, sih, sakit tahu!”
Arinda dan Ricko hanya bisa menggelengkan kepala. Bertengkar adalah rutinitas harian yang tak akan pernah hilang di antara mereka.
“Gue lagi patah hati, malah ketawa. Enggak ada akhlak!”
“Alah! Enggak usah sok dramatis, deh. Bilang suka sama Annisa, tetapi menggoda Farah jalan terus.”
__ADS_1
“Farah buat lucu-lucuan doang!”
Dito berdecak, “Anak orang di-PHP. Parah lu, Zack.”
“Siapa yang PHP? Dia-nya aja over pede. Ya, gue iseng-iseng. Lumayan buat hiburan.”
“Dasar Pangeran es, kadal burik, kecoa terbang, kutu kupret! Kualat, baru nyaho, lu!” umpat Dito sekaligus menyumpah.
“Dit! Lanjut!” titah Ricko mulai kesal. Lagi-lagi mereka berdebat!
Baru saja Zacky ingin membalas, tetapi langsung ia urungkan. Karena melihat Ricko sudah mulai kesal.
Dito memutar botolnya kembali. Kali ini berhenti di depan Arinda.
“Truth.” Belum juga ditanya, tetapi Arinda sudah mengatakannya lebih dulu.
Dito tersenyum misterius ke arah Arinda.
“Jangan tanya macam-macam sama cewek gue, Dit!” Ricko memperingati, karena melihat senyum mencurigakan dari Dito.
“Ya, elah, Rick! Belum juga gue tanya.”
“Sayang, aku gak apa-apa kok.”
Dito menjulurkan lidahnya ke arah Ricko. “Tu dengar!” Melirik ke arah target. “siap, ya, Rin.” Arinda mengangguk. “Sudah berapa kali lu berciuman hot di bibir kayak tadi? Terus sama siapa aja?”
Arinda tersentak kaget, ia sekarang gugup.
“I-itu gue, itu ...,” Sial! Dito kenapa menanyakan perihal ciuman, sih! Bikin orang mati kutu aja.
Melihat Arinda tergagap dan tak melanjutkan omongan. Ricko mencoba menyudahi pertanyaan Dito. Pasalnya, ia pun tak berminat mendengar berapa banyak sang kekasih sudah berciuman dan dengan siapa saja. Rasanya, belum mendengar saja, darahnya sudah mendidih.
“Dalam permainan ini, kita bebas mau menanyakan apa pun itu!” Dito membela diri.
“Iya, tetapi kan ....”
“Rick.” Arinda memotong ucapan kekasihnya.
Ricko menoleh. Dito dan Zacky pun turut memandang Arinda.
“Gue baru satu kali ini ciuman di bibir dan melakukannya dengan Ricko. Tadi, disini.” Lanjut Arinda, menunjuk pada sofa. Kemudian, menundukkan kepala karena malu.
Spontan semua menatapnya tak percaya. Gadis yang terkenal suka gonta-ganti pacar ini, bagaimana mungkin belum pernah berciuman sama sekali.
Ricko menatap intens sang kekasih yang tengah menunduk. Antara senang dan tidak percaya.
Senang, karena ternyata ia laki-laki pertama yang mencium Arinda. Dan, rasa tidak percaya timbul penyebabnya, ya, reputasi tersebut.
Kalau benar ini kali pertama buat kamu. Apakah artinya kamu benar-benar cinta sama aku atau sekedar mau coba-coba? Please, Sayang! Semoga kamu gak berbohong. Aku bisa menerima kekurangan dan masa lalu seburuk apa pun itu. Tapi, tidak untuk kebohongan. Aku benci pembohong! Ricko membatin.
“Tunggu-tunggu, ini ciuman pertama lu, Rin?” tanya Zacky.
Arinda mengangguk.
Semua menatapnya semakin heran.
“Sorry, Rin. Semua orang cukup tahu kalo mantan lu banyak. Terus, kok, bisa?” tanya Dito.
Ricko sengaja membiarkan saja kedua sahabatnya bertanya kepada Arinda. Karena ia juga sama penasaran.
__ADS_1
“Gue gak pernah pacaran lama dengan siapa pun. Salah satu alasannya, karena mereka menuntut ini dan gue selalu menolak. Lalu, mereka marah. Gue memilih untuk memutuskan hubungan tersebut,” terang Arinda.
“Jadi, alasan lu putus sama yang lain, karena gak mau dicium doang?” Zacky terus mengkonfrontasi.
“Gue gak suka disentuh secara sembarangan!” jawab Arinda tegas.
“Tapi, lu tadi sama Ricko bukannya ....”
Dito tak meneruskan ucapannya. Tapi, semua cukup mengerti apa maksudnya dan menunggu apa yang ingin dikatakan Arinda.
Ricko pun bertanya-tanya, kenapa Arinda memperbolehkannya? Sementara dengan yang lain tidak?
“Gue cinta sama Ricko.” Seandainya hubungan ini nanti akan berakhir, gue gak akan pernah menyesali keputusan tersebut. Biarlah Ricko menjadi orang pertama.
Semua terkejut dengan jawaban Arinda. Ricko cukup tahu, jika gadis ini memang mencintainya. Tapi, ia pikir dengan mantan-mantan sang kekasih sama saja.
“Jangan bilang kalo gak ada satu pun rasa cinta untuk mereka?” Zacky bertanya lagi.
Arinda kembali mengangguk.
“Wah! Ini gila, sih! Selamat buat lu, Rick! Mendapatkan ciuman pertama dari primadona sekolah,” ucap Dito berapi-api.
“Gue pulang dulu, ya. Udah sore, takut Mama khawatir.” Arinda mengalihkan pembicaraan.
Baru saja ia mau beranjak pergi, tangan Arinda sudah ditarik Ricko. Kemudian, pria itu memeluknya erat.
“I love you, Sayang.” Ricko melepas pelukannya, “aku antar kamu pulang,”
Arinda mengangguk.
“Gue anter Arinda dulu,” pamit Ricko kepada Dito dan Zacky.
Mereka berdua mengangguk tanpa bicara. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
🌺🌺🌺
Di dalam mobil, tak ada satu pun di antara mereka yang bicara. Ricko memandang lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Arinda. Pria itu sedang berbahagia sekaligus malu dengan kekasihnya. Karena sering merengek-rengek minta cium. Beruntung rengekkan tersebut tidak berakhir dengan kata putus seperti yang lain.
Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai.
“Rick, makasih.”
Baru saja Arinda ingin menjejakkan kaki turun dari mobil, tangannya lebih dulu ditahan Ricko.
“Sayang, terima kasih untuk semua. Cinta, ciuman pertama, dan perhatian kamu. I love you,” ucap Ricko seraya tersenyum dan mengecup tangan Arinda.
“I love you too.”
🌺🌺🌺
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Arinda terus melengkungkan bibir ke atas. Ia sedang berbahagia!
Gadis itu membuka pintu rumah dan terdiam saat matanya tak sengaja bertabrakan dengan netra tajam seseorang.
Seorang pria tengah duduk bersama sang papa di Ruang Tamu.
Seketika senyum gadis itu menghilang.
Apalagi ini? Aku lelah!
__ADS_1