
Hiruk-pikuk Bandara Soekarno-Hatta tiada habisnya. Lalu lalang orang kentara terlihat. Petugas Airport Helper turut berjajar menyambut untuk membantu.
Belajar dari pengalaman lalu. Kali ini, Arinda memilih mereka untuk membantunya. Gadis itu kapok mengharapkan iba Ricko untuk menolong.
Maksud hati ingin terlihat ‘sweet’. Tapi, malah pahit yang diterima. Kakinya tersandung.
Namun, saat ini Ricko justru menawarkan berkali-kali untuk membantu. Akan tetapi, Arinda menolak dengan alasan tak ingin merepotkan.
“Tidak perlu naik taksi. Aku antar kamu pulang.”
“Makasih, Rick. Kita sama-sama capek. Jadi, langsung pulang ke rumah masing-masing rasanya lebih baik.”
“Aku gak capek.”
Arinda diam tak menyahut. Lalu, berhenti melangkah tepat di depan sebuah taksi biru. Meminta tolong Airport Helper tadi untuk memasukkan koper-kopernya ke dalam bagasi mobil. Kemudian, memberi sedikit uang tip dan berucap terima kasih.
“Aku pulang dulu, Rick. Terima kasih untuk semuanya.” Arinda masuk ke dalam mobil.
Ricko memandangi kepergian taksi biru itu dengan sorot mata tajam. Tangannya terkepal. Netra pekatnya membara. Senyum sinis pun dilayangkan.
Ricko POV
Arinda, kamu yang mulai membuka kembali lembar kisah cinta kita. Padahal, sudah bertahun-tahun aku menutupnya rapat.
Bahkan, menahan gejolak rindu hingga isi kepala ini aku doktrin. Kalau aku membenci bukan mencintaimu. Supaya, tidak ada bayang wajahmu yang bisa membuatku tersiksa.
Akan tetapi, saat bertemu kembali kamu terus menggodaku. Tak berhenti mengganggu ketenangan hidupku. Padahal, aku sudah mencoba menghindar.
Lalu ....
Setelah cinta itu bangkit kembali. Gairah hidupku pun menjadi bersemangat.
Dan ....
Sekarang dengan seenaknya kamu mau pergi begitu saja. Jangan harap, cantik!
Aku tak akan membiarkanmu pergi dengan mudah. Jangan mimpi aku akan melepasmu!
Aku akan menuntut pertanggung-jawabanmu!
Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan kepadamu! Bersiaplah, Sayang!
🌺🌺🌺
Ricko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Menemui sang papa yang sudah hampir satu bulan berada di Jakarta.
Selepas kedatangannya ke Jogja untuk bertemu sang putra dengan misi rahasia antara ayah dan anak. Karena, tak ada satu pun dari wanita-wanita Narendra mengetahui perihal tersebut.
Rahardian sengaja menutupinya agar para wanita kesayangannya tidak cemas. Bahkan, Roni pun tak tahu-menahu.
“Pap!” suara teriakan Ricko menggema di dalam ruangan kerja milik Rahardian.
“Papa tidak tuli. Jadi, tidak perlu berteriak.”
“Aku mau protes.”
“Hm.”
“Pap, dengar aku gak, sih?!” Ricko mendudukkan dirinya tepat di depan Rahardian.
“Bicara saja, anak bodoh. Papamu mendengar.”
“Gara-gara titah konyol Papa. Aku putus dengan Arinda.”
__ADS_1
“Itu berita bagus. Selamat, Nak.” Rahardian berkata tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian pada laptop di depannya.
Ricko melongo. Ia menggeram. “Pap, aku cinta Arinda.”
“Cinta itu akan membunuh Arinda. Bersabarlah dulu.”
“Tapi, Arinda tak mau bersabar, Pap. Aku diputuskan karena menggantung dan menyembunyikan hubungan kami.”
“Kalau begitu kamu yang harus bersabar.”
Entah, Ricko memang sering kesal jika berbicara dengan sang papa. Ia juga heran dari mana orangtuanya ini bisa tahu jika mereka menjalin kasih.
“Sejujurnya, aku terkejut Papa mengetahui hubunganku dengan Arinda.”
Rahardian menutup laptopnya dan mengalihkan perhatian kepada si bungsu. “Papa adalah orangtuamu. Mungkin terlihat tak peduli di matamu. Tapi, Papa tau semua tentangmu, Ricko Bagaskara Narendra.”
Ricko terdiam. “Iya, Pap. Maaf. Tapi, aku mencintai Arinda. Aku tidak sanggup hidup tanpa dia.”
“Kalau begitu menurut dengan Papa.” Rahardian menatap lekat sang putra. “Ricko, tak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya.”
“Kalau begitu aku mau win-win solution.”
🌺🌺🌺
“Onti, Alindaaaa!” Gadis kecil berusia lima tahun itu berteriak dan berlari kepelukan Arinda. Logat cadel karena belum fasih berbicara huruf r menjadi kelucuan tersendiri.
“Sayangnya Aunty.” Arinda menangkap gadis kecil itu. Kemudian, menggendong dan memeluknya sangat erat.
“Onti lindu aku?”
“Pasti dong, Sayang. Febi rindu tidak?”
“Lindu. Tapi, bunda ja-at. Aku gak boleh ke lumah Onti. Aku mau main.”
Gadis kecil itu terlihat berpikir. Tapi, dengan gemas Arinda menciumi pipi kiri dan kanannya yang chubby.
“Ayo, kita masuk. Aunty bawa sesuatu buat Febi.”
“Asiiiiikkkk!”
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Usai makan gulai ikan patin yang terjamin paling juara, maksudnya di lidah Arinda. Mereka memutuskan meneruskan berbincang-bincang di ruang keluarga. Sebelumnya, Mbak Dini menidurkan Febi lebih dulu.
“Mbak, si Brown sehat 'kan?”
Satu cubitan mendarat tepat di lengan Arinda. “Kamu itu, bukan menanyakan kabar Mbak-mu ini. Malah si Brown.”
Arinda cengar-cengir.
“Tenang aja, Rin. Dini itu setiap hari cerewet. Tiap waktu selalu mengingatkan dengan nada bossy-nya supaya merawat dan memerhatikan si Brown. Bentar-bentar disuruh menengoknya. Mas sampe pusing,” ujar Fajar.
“Aaaaa, Mas Fajar dan Mbak Dini emang terbaik. Makasih!” seru Arinda.
“Ya harus begitu dong. Itu 'kan titipan orang. Harus di jaga. Apalagi si Brown suka ngambek. Jangan sampe Mbak dan Mas Fajar ikut patungan buat benerin. Rugi dong,” sahut Dini.
“Mbak Dini tega banget,” ucap Arinda pura-pura sedih. Kemudian, tak lama tertawa.
Dini dan Fajar pun ikut tertawa.
“Ya, sudah. Kalian ngobrol berdua, deh. Biar lebih lepas rindunya. Mas tinggal dulu, ya, Rin.”
Arinda mengangguk. “Iya, Mas. Tau aja kita mau woman talk.”
Fajar tersenyum. Kemudian, berlalu pergi masuk ke kamar tidur.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
“Ricko?”
“Baik.”
“Sudah putus lagi?”
Arinda menunduk. Saat kembali menjalin kasih, gadis itu memang memberitahu Dini dengan bahagia. Namun, hari demi hari berlalu. Arinda tak lagi menunjukkan mimik bergembira ketika di video call. Wanita berbadan dua itu menebak jika terjadi masalah atau mereka putus.
“Iya,” jawab Arinda lirih.
“Sudah kapok? Atau ... masih penasaran?”
“Aku tidak kapok, Mbak.”
“Jadi, mau mengejarnya lagi?”
“Tidak.”
“Dia menyakitimu, 'kan? Kamu lelah?”
“Seburuk apa pun Ricko memperlakukan aku. Aku bisa terima, Mbak. Hanya saja disini dia yang menderita.”
“Jadi, kamu mau bilang sedang mengorbankan dirimu demi kebahagiaan Ricko?”
“Enggak tau, Mbak. Aku hanya gak sanggup liat Ricko tersiksa. Apalagi, penyebabnya adalah aku. Dan, aku juga gak sanggup menjadi kekasih tak dianggap. Rasanya seperti simpanan bos-bos.”
“Jadi, kalian sembunyi-sembunyi?”
“Aku maunya enggak. Tapi, mungkin Ricko malu memiliki kekasih sepertiku. Jadi, itu alasan kuat kedua kenapa aku memilih menyerah saja.” Karena, memang dia juga tak mencintaiku. Kan hubungan kami bisa terjalin atas dasar pemaksaan. Aku yang memaksanya.
“Kalau begitu, cepat buka hatimu untuk yang lain dan segeralah menikah.”
“Mbak Dini tu kenapa, sih. Bicaranya nikah terus. Memang gak boleh perempuan memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya? Banyak, kok, Mbak yang seperti itu.”
“Mbak gak peduli sama perempuan lainnya. Mbak pedulinya sama kamu.”
“Mbak, aku gak mau menikah. Biar aku hidup sendiri sampai mati.”
“Arinda! Kamu tau apa yang barusan terucapkan itu?”
“Tau, Mbak. Menjadi perawan tua, 'kan?”
Dini menjitak kepala Arinda hingga mengaduh. “Memang kamu gak mau punya anak selucu Febi?”
“Ya, udah. Nanti aku bawa Febi ikut tinggal sama Aunty-nya ini. Aku bakal merawat dan membesarkan seperti ibu kandungnya sendiri.”
“Enak aja! Nikah sana! Jadi, bisa bikin sendiri!”
“Nikah sama siapa, Mbak? Aku hanya bernafsu sama Ricko seorang. Lelaki lain aku melihatnya aja udah males.”
“Astagfirullah! Arinda!” Dini menjewer Arinda hingga mengaduh. “di sana ngapain aja kalian?”
“Kerja, Mbak.”
“Kamu masih ting-ting, 'kan?”
“Ih, Mbak Dini. Aku belom lepas segel, kok. Masih perawan ting-ting. Paling juga ciuman bibir doang sambil pelukan. Enggak bakal bikin hamil, ‘kan?”
"ASTAGHFIRULLAHALADIZM! ARINDA NABILA!”
__ADS_1