
“Arinda, aku sudah selesai. Kau mandilah dulu.”
Nirwan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe. Kepalanya menunduk seraya mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Padahal, kepungan orang-orang yang dulu menangkapnya tengah menyambut tepat di depan pintu.
Saat tak ada sahutan dari Arinda, Nirwan mendongakkan kepala. Ia terkejut melihat banyak yang menodongkan pistol kepadanya. Pria itu refleks mengangkat kedua tangannya.
Menyerah adalah keputusan terbaik kalau masih sayang nyawa!
Tubuhnya didorong secara kasar mendekati dinding. Jarum suntik berisi obat bius, sudah diberikan. Selang beberapa detik kemudian Nirwan tak sadarkan diri.
Sebelum meninggalkan kamar. Sang komandan tim donat gula menelepon sang ketua untuk bertukar kabar.
“Halo, Ketua. Operasi berhasil! Kami sudah melumpuhkan semua target. Nona pun selamat.”
“Suruh satu orangmu untuk mengikuti. Pastikan jika Nona baik-baik saja saat tiba di rumah!”
“Baik, Ketua!”
“Bubarkan diri! Berjalanlah secara berpencar. Sembunyikan senjata api kalian dengan benar. Di hotel itu banyak siswa sekolah sedang mengadakan pesta. Jangan sampai mereka melihat!”
“Siap, Ketua! Laksanakan!”
Sang komandan menutup teleponnya dan beralih kepada pasukannya.
“Operasi selesai! Tinggalkan target utama! Kita keluar dengan berpencar!” titah sang komandan tim donat gula.
Semua pasukan keluar kamar dan menguncinya kembali seolah-olah tidak terjadi apa pun. Mereka berjalan secara berpencar sesuai perintah.
❄️❄️❄️
“Nona, Anda sudah aman. Pergilah cepat!”
“Terima kasih. Siapa nama Anda, Om ... Mas? Eh, saya panggil apa?”
“Tugas saya sudah selesai. Saya permisi, Nona.”
“Tugas apa?”
Pria yang sudah menolong itu hanya membungkukkan badannya ke arah Arinda. Salah satu sikap hormat untuk sang nona. Tanpa menjawab pertanyaan atau pun kata terakhir. laki-laki itu berlalu pergi begitu saja.
“Aneh! Gue cuma mau tau aja namanya siapa? Barangkali, lain waktu bisa membalas budi. Ah, sudahlah terserah! Sekarang yang penting gue selamet.”
Arinda berjalan melewati jalan setapak di samping hotel. Ia berniat untuk naik taksi untuk pulang. Jalanan itu sangat sepi dan memiliki penerangan yang kurang.
“ARINDA!”
Seseorang meneriakinya dengan volume yang bisa membuat kuping sakit. Kemudian, Arinda menoleh dan mendapati Erwin tengah berjalan oleng ke arahnya dengan wajah murka.
__ADS_1
“Papa ....”
Tanpa mereka sadar, tatapan setajam elang mengintai dari kejauhan. Tugas terakhir seseorang di malam ini untuk melindungi sang nona.
❄️❄️❄️
Kim Woo Bin as Zacky Aldiano
Song Joong Ki as Dito Mahendra
Bonus foto Ricko:
Mark Prin as Ricko Bagaskara Narendra
Tujuh hari setelah kelulusan, tepatnya di malam Minggu. Pihak sekolah mengadakan Prom Night untuk merayakan perpisahan sekolah. Acara diselenggarakan di sebuah hotel ternama di bilangan Jakarta.
Semua murid ikut serta dalam perayaan tersebut, kecuali satu orang yang tak hadir, yakni Arinda. Gadis itu beralasan jika sedang tak enak badan.
Suasana hotel sangat ramai oleh para penjaga berpakaian seragam yakni kemeja putih yang dibalut dengan jas hitam. Di setiap sudut tempat, mereka pasti ada dengan tatapan mengawasi. Wajah menakutkan, ditambah badan tinggi besar membuat orang yang berlalu lalang agak takut dan terganggu.
Seandainya saja mereka tahu siapa orang penting tersebut. Mungkin biji mata mereka akan melesak keluar saking kagetnya. Karena, salah satu teman sekaligus murid di Batavia Internasional School yang menyebabkan semua penjagaan ini begitu heboh.
Bersyukur, selama acara berlangsung semua aman terkendali. Pesta berjalan dengan semestinya dan sangat meriah.
Dito dan Zacky pun turut serta. Mereka berdua tak melewatkan kesempatan terakhir bersama teman-temannya. Bersenang-senang untuk terakhir kali sebelum menutup buku seragam putih abu-abu.
“Zack, kangen gak, sih, lu sama Ricko dan Arinda? Harusnya 'kan mereka ada di tengah-tengah kita.”
“Munafik kalo gue bilang gak kangen, Dit! Mereka juga pasti sama rindunya kayak kita.”
“Seandainya bisa ngulang waktu, ya.”
“Namanya juga hidup, Dit. Ada pertemuan pasti ada perpisahan juga.”
“Tapi kita masih bersama, Zack?”
“Itulah bodohnya gue! Kenapa mesti bareng elu terus, sih?!”
“Sial! Ganteng-ganteng gini gue calon arsitek.”
“Baru calon, itu juga kalo lulus.”
__ADS_1
“Zack, doa yang bener bisa, 'kan?”
Zacky tertawa tanpa menyahuti sahabatnya lagi.
Semenjak tidak ada Ricko, mereka selalu pergi berdua saja. Tapi, pernah satu kali mereka mengajak Arinda. Itu pun langsung kapok. Pasalnya, gadis itu mengajak ke toko buku dan tidak beranjak dari siang sampai menjelang sore.
Kebosanan yang hakiki jelas terlihat di wajah Dito dan Zacky! Ingin marah, tetapi gak tega. Untungnya cantik! Coba kalau orang tersebut ganteng, sudah bisa dipastikan makian dan sumpah serapah keluar dari bibir mereka berdua.
Sejak saat itu, Zacky dan Dito lebih memilih pergi berdua saja. Dari pada sengsara berada di tengah-tengah jutaan buku dalam waktu yang lama. Menurut keduanya, itu siksaan terpedih dalam sejarah hidup mereka sejak menghirup udara ruang persalinan, sampai menjadi ganteng seperti saat ini.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dito pun memilih pulang lebih dulu. Ia mengganti pakaian formalnya dengan kaos putih dan jaket.
“Zack, gue balik!”
“Sejam lagi, deh. Entar gue anterin pulang.”
“Besok pagi-pagi buta, gue ada tugas nganter nyokap ke rumah Engkong Naim. Kalo gue kesiangan, alamat nama Dito Mahendra dicoret dalam daftar warisan sama tu aki-aki.”
“Tapi, lu 'kan gak bawa mobil, Dit?!”
“Zack, please! Perhatian lu sama gue, kurangin, deh. Gue jijik!”
Zacky pun baru menyadari ucapannya barusan dan langsung meralatnya.
“Enggak usah kepedean. Tadi pagi, gue liat di berita online lagi marak kasus mutilasi. Gue cuma gak tega lu mati dengan cara mengenaskan begitu, Dit. Si Engkong nanti mewariskan tanah berhektar-hektarnya nanti sama siapa kalo lu koit duluan!”
“Dasar temen durjana! Bangcaaat!”
Dito beranjak pergi dengan wajah menekuk kesal seraya gerutuan mengiringi setiap langkahnya.
Sementara Zacky tertawa terbahak-bahak!
Memang tak ada yang bisa menandingi kesintingan mereka berdua. Saling serang, tetapi juga saling sayang. Eh, sebagai sahabat, ya. Bukan jeruk makan jeruk.
Dito sampai di depan hotel. Sebenarnya ia bisa memesan ojek online atau taksi biru yang berjajar di dalam area parkir khusus mereka. Hanya saja, ia merasa kehausan. Ingin kembali ke pesta untuk mengambil minum, tetapi pria itu enggan melihat wajah Zacky.
Jadi, ia memilih menyeberangi hotel dan membeli sebotol minuman di gerobak dorong. Kemudian, menenggak minuman tersebut hingga tandas.
Dito pun memutuskan untuk menunggu taksi di luar. Kata abang penjual minuman. Sesekali masih lewat walaupun kondisi agak sepi dan remang-remang.
Saat menunggu tersebut, dari seberang jalan Dito tak sengaja melihat seorang laki-laki tengah memukuli seorang wanita. Jiwa pahlawan dalam dirinya tentu merasa berpacu untuk menolong.
Dengan langkah gagah, Dito mendekati bagai tikus cokelat pemakan keju yang ingin melakukan penyelamatan terhadap seekor burung kenari kuning dari terkaman kucing berkaki dua.
Dito sukses menahannya!
Baca episode pertama 'PROLOG'
__ADS_1
Kelanjutan episode ini, ada di prolog.