ARINDA

ARINDA
Hal. 05.


__ADS_3

***


Arin menghela nafas pelan, menutup novel yang dibacanya sejak pulang sekolah, mengingat laki-laki yang meminta nomornya kemarin adalah Niko. Dia bukannya menunggu chat darinya, hanya saja dia takut kalau nomornya disebar pada orang lain.


Satu chat masuk ke handphone Arin, diapun segera membukanya aplikasi tersebut.



Membaca chat tersebut, Arin yang tadinya berbaring di atas tempat tidur, mendudukkan dirinya. Matanya membulat sempurna, serta jantungnya juga berdegub kencang.


Danis masa? Batinnya.


Perempuan itu menunggu balasan chat dari Dimas, tapi tidak kunjung di balas. Dia menggigit ujung kuku ibu jarinya, karena terlalu antusias menunggu jawaban dari laki-laki itu. Begitu satu notif chat masuk, Arin segera membukanya.



Membaca balasan dari Dimas, Arin melemas. Dia sudah hampir senang kalau saja itu benar Danis yang menyukainya. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau itu benar Danis. Karena saat Dimas meminta nomornya, dia menatapnya lekat.


Arin tersenyum membaca isi chat tersebut. Laki-laki pertama yang menyebutnya 'manis'. Belum sempat perempuan itu membalas, Dimas mengirim chat lagi.


Perempuan itu membatin sejak tadi, berharap nama 'Danis' yang mengirim chat padanya. Kalau saja benar, mungkin ini akan menjadi keberuntungannya. Jantungnya tiba-tiba berdegub kencang, serta kedua sudut bibirnya terangkat ketika satu chat masuk ke handphonenya.



Arin membaca lagi nama akun itu, yang ternyata itu adalah nama pemain basket terkenal. Kenapa dia tidak menggunakan namanya sendiri? Itu yang dipertanyakan Arin.


Hening. Tidak ada lagi suara notifikasi yang masuk. Arin memeriksa lagi room chat dengan teman Dimas itu, hanya di baca. Dia tidak membalasnya lagi.


"Mbakkkk, Mbak Arin," Teriak Adiknya dari luar kamar.

__ADS_1


Muhammad Arka Ramadani. Adik Arin yang berumur 9 tahun. Dia adalah bocah laki-laki yang menggemaskan, karena tubuhnya yang gemuk. Tak heran kalau Arin selalu gemas dengan Adiknya.


Perempuan itu turun dari tempat tidur, meninggalkan handphonenya di atas meja belajar. Dia membuka pintu kamar, mencari tau apa tujuan Arka memanggilnya.


"Kenapa Dek?"


"Dipanggil Ibuk," Katanya.


"Oke." Arin mencubit pipi Adiknya saking gemasnya.


Seperti biasa, Arka memukul tangan Arin, karena bocah kecil itu tidak suka dicubit pipinya.


*


Hari Senin. Hari yang paling dibenci oleh seluruh umat berseragam sekolah. Karena setelah kemarin weekend, hari Senin adalah hari dimana adanya kegiatan rutin sekolah. Upacara. Benda seperti topi, dasi, sabuk berlogo nama sekolah, kaos kaki putih, serta sepatu hitam, adalah benda yang wajih dikenakan di hari senin. Satu benda saja tidak terlihat oleh guru kedisiplinan, namanya akan mendadak terkenal. Tertera di madding sekolah, menjadi daftar murid tidak teladan.


Kenapa ada Senin, kalau Minggu menyenangkan.


Tapi, bagi Arin, Senin adalah hari yang paling membahagiakan. Karena apa? Selama satu jam lebih, dia bisa menikmati pemadangan menyejukkan di teriknya matahari pagi. Seorang laki-laki tinggi yang memakai atribut lengkap serta seragamnya yang rapi berdiri diantara kerumunan murid lainnya. Siapa lagi kalau bukan Danis Mirza Mahardika. Arin bisa melihatnya dengan jelas karena letak kelasnya yang tepat lurus dari pandangannya. Laki-laki yang saat ini sedang mengobrol dengan teman disampingnya.


Hidungnya yang mancung, dagunya yang membentuk v, bibirnya yang kecil, membuat Arin tidak bisa mengalihkan perhatiannya walaupun satu kedipan saja. Panas yang menghantam tubuhnya, tidak terasa, gumaman Risa yang merengek karena lamanya upacara tidak di hiraukan, suara pidato dari kepala sekolah seakan tidak terdengar di telinga Arin walaupun suaranya menggelegar dari sound.


Saat sedang memperhatikan Danis, laki-laki iku tiba-tiba menatap Arin yang sedang memandanginya. Perempuan itupun mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata dengannya.


"Rin, anterin ke UKS yuk," Rengek Risa.


"Mau ngapain? Kamu sehat-sehat aja gitu."


"Kaki gue pegel nih, ayo lah. Kan lo enak tuh bisa sekalian istirahat juga."

__ADS_1


"Ogah. Bentar lagi selesai kan Ris," Tolak Arin.


Belum sempat Risa merengek lagi, tiba-tiba Arin meringis kesakitan memegangi perutnya. Perih, seperti di tusuk-tusuk sesuatu. Sakit yang begitu hebat seperti ini pertama kalinya dia rasakan. Ah, benar saja. Dia lupa tidak sarapan tadi pagi. Rasa laparnya terkalahkan oleh keantusiasannya mengikuti jalannya upacara ini.


"Rin, lo gapapa?" Tanya Risa yang memegangi lengan kanan Arin.


"Rin, kenapa?" Tanya Nita yang berdiri dibelakangnya juga terlihat khawatir.


"Cepetan anterin Arin ke UKS," Suruh Doni, selaku ketua kelas mereka yang mengetahui kejadian tersebut.


Risa mengangguk. Dia merangkul Arin sambil membawanya ke belakang barisan, melewati beberapa murid kelas yang masih berdiri menjalankan upacara. Begitu sampai di UKS, seorang anggota PMR membantu Risa menidurkan Arin di lantai beralaskan hambal tebal karena semua ranjang dan matras sudah penuh dengan murid lain yang lebih dulu datang ke UKS.


"Ris, beliin aku roti aja di kantin," Lirih Arin sambil mengeluarkan uang Sepuluh Ribu Rupiah dari sakunya.


Risa mengangguk, mengambil alih selembar uang itu lalu bergegas menuju kantin untuk membelikan apa yang disuruh oleh temannya itu. Sedangkan dia masih dibantu satu anggota PMR, yang membukakan sepatunya.


"Ini, Dek minyak kayu putih. Kamu oles ke perut ya. Aku mau bantu yang lain dulu. Kalo masih sakit, panggil aja ya," Kata perempuan itu, lalu meninggalkan Arin untuk menangani murid lain.


Arin mengangguk lemah saat mengambil alih minyak kayu putih dari tangan anggota PMR tersebut. Dia segera meneteskan minyak kayu putih pada telapak tangannya, memasukkannya ke dalam seragamnya, lalu mengoleskan minyak kayu putih pada bagian perutnya. Sedangkan kegiatan upacara telah berakhir, terdengar dari suara langkah para murid yang melewati UKS.


Beberapa menit kemudian, Risa kembali dengan sepiring nasi goreng dan teh hangat. Arin terkejut melihat apa yang dibawa temannya itu tidak sesuai dengan yang dimintanya tadi.


"Kok malah nasi goreng?" Tanya Arin, suaranya masih terdengar lirih menahan sakit.


"Udah, jangan bawel. Duduk Rin. Gue suapin," Suruh Risa.


Arinpun menurut, mendudukkan dirinya pelan. Menerima suapan demi suapan dari Risa.


"Lain kali, sebelum berangkat sekolah sarapan dulu Rin." Kata seorang laki-laki yang berdiri tepat didepan Arin.

__ADS_1


***


__ADS_2