ARINDA

ARINDA
Obat penawar


__ADS_3

Seluruh keluarga menyambut gembira keputusan Ricko untuk tinggal di London. Mereka dengan antusias mempersiapkan semua. Selanjutnya, memberi tahu kabar baik ini kepada pihak sekolah.


Anggun menyiapkan aneka macam hadiah untuk seluruh guru di Sekolah. Tak lupa juga, cenderamata untuk semua teman-teman Ricko. Wanita yang memiliki kepribadian hampir sama dengan namanya itu mengatakan, kalau semua hanya sebagai rasa terima kasih.


Ricko dan Rifa hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat sang mama begitu bersemangat. Beradik-berkakak tersebut memilih tidak ikut campur. Mereka membiarkan Kanjeng Ratu di rumah itu berbuat sesuka hati.


Akhirnya, pengambilan rapor pagi tadi berjalan dengan lancar. Rahardian dan Anggun datang berdua. Mereka ingin mengambil hasil nilai sang putra sekaligus berpamitan dengan pihak sekolah.


Sayangnya, baik Ricko ataupun Arinda, enggan menemani orangtua mereka.


Keduanya masih dalam mode patah hati. Jangankan ke sekolah. Untuk sekedar mandi pagi saja tak mau. Entah, apakah ada orang yang sedang broken heart bisa menjadi malas seperti itu? Padahal, kebersihan mutlak harus tetap di jaga supaya terbebas dari kuman.


Memang pasangan serasi. Dalam hal kejorokan saja kompak. Semoga gatal-gatal tidak menyergap kulit mulus mereka. Enggak lucu kan kalau muka sudah total, tetapi terus menggaruk.


❄️❄️❄️


Suara klakson dari mobil Zacky berkali-kali terdengar. Dito bangun dari keasyikannya yang sedang mengutak-atik motor vespa antik warisan mendiang sang buyut. Dengan wajah merengut. Ia membuka pagar rumah lebar-lebar. Agar mobil berwarna hitam itu bisa masuk.


“BERISIK BANGET! Ganggu Song Joong Ki aja!” omel Dito. Merasa wajah se-cute artis korea tersebut. Jadi, ia membawa namanya.


Zacky keluar dari mobil dan menyelonong masuk ke dalam rumah tanpa permisi seraya membalas ucapan Dito. “Salah sendiri rumah segede kebon, tetapi gak punya satpam! Kim Woo Bin kan mau bertamu.”


“Mang Ujang lagi nyetor sisaan isi perut di tempat harta karun!”


“Buru ganti baju, gue tunggu sini,” titah Zacky seraya mendudukkan diri di sofa yang terdapat di Ruang Tamu.


“Mau ngapain? Gue sibuk!”


Zacky berdecak, “Ke rumah Ricko. Kuy, cabut. Buruan!”


“Ogah!”


“Wah! Udah gak sohib.”


“Bukan begitu, entar kita di sana cuma duduk diem doang. Udah mana pulang pas banget jam dua belas malem. Berasa Cinderella gue.” Dito bergidik oleh ucapannya sendiri.


“Sore kita balik.”


“Terus mau ngapain ke sana?”


“Udah seminggu kita gak nengokin si Ricko. Lu gak khawatir?”


“Pasti die baek-baek aja. Bonyok-nya kan udah dateng.”


“Cepet, deh. Kebanyakan ngomong lu! Buru ganti baju!”


“Semangat banget!”


“Kita juga mau ngajak Ricko ke Bali. Memangnya lu gak mau dia ikut?”

__ADS_1


“Iye-iye. Tapi, kita pesen makanan dulu yang banyak. Trauma gue sama kelaparan.”


Zacky hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan Dito. Memang benar, saat menemani Ricko yang sedang galau kemarin, mereka sama sekali tidak makan ataupun minum. Untung angin di balkon wara-wiri.


Setidaknya, mereka bisa kenyang makan angin. Bonusnya kerikan di rumah sampai gosong.


Persahabatan mereka cukup kental dan juga sepenanggungan. Satu sakit, ya, semua harus ikut merasakan. Cuma beda rasa sakitnya saja. Ricko sakit di hatinya. Dito dan Zacky sakit akibat karya indah terlukis di punggung.


❄️❄️❄️


Di dalam mobil, Dito sibuk memainkan ponsel. Hingga membuat Zacky mengernyit.


“Ngapain lu? Dari tadi gue lihat sibuk sama hape.”


“Lagi nyari menu yang cocok buat obat orang galau. Makanan pedes kayaknya pas buat menghilangkan pusing akibat putus cinta.” Dito berucap asal.


Entah, pria itu mendapat filosofi bodoh itu dari mana.


“Astaga! Maksud lu buat Ricko?”


“Siapa lagi?”


“Jangan macem-macem, Dit. Di lempar Ricko dari atas ketinggian, kelar idup lu!”


“Elah, Zack. Biar si Ricko normal lagi idupnya.”


Mendengar penuturan Dito, lagi-lagi Zacky hanya bisa menggelengkan kepala.


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Ricko. Seperti biasa, rumah mewah tersebut tampak sepi.


Setelah memarkirkan mobil, Zacky segera melangkah menuju lift. Sebelum berangkat tadi, ia sudah menelepon sahabatnya untuk mengetahui posisi terkini. Ricko pun menjawab sedang berada di Rooftop.


Sementara Dito akan segera menyusul. Ia mengatakan sedang menunggu ojek online yang lagi on the way mengantar makanan pesanannya.


Pintu lift berdenting kemudian terbuka. Zacky keluar menghampiri Ricko yang terlihat berada di ayunan sedang bermain gitar.


“Rick!”


Ricko menoleh kemudian menaruh gitar di bawah ayunan. Wajahnya datar dan tampak lelah.


“Sendiri?” tanya Ricko.


“Dito di bawah lagi nunggu ojek online. Bentar lagi naik.”


“Oh.”


“Apa kabar lu, Bro?”


“Enggak usah basa-basi, Zack.”

__ADS_1


Zacky menggelengkan kepala, punya sohib dua pada begini amat. Si Dito koplak, yang ini sensi. Gue doang emang yang normal, gumamnya.


“Kita ke Bali besok.”


“Gue enggak.”


“Kenapa lu gak ikut? Itung-itung perpisahan sebelum resmi jadi orang bule.”


“Males!”


Zacky berdecak, “Masa gue berdua Dito doang.”


“Happy holiday.”


“Yaelah, Rick. Lu kenapa? Arinda juga gak bakal ikut. Kabarnya aja gak ada tu anak.”


“Jangan sebut nama itu lagi di depan gue!”


“Makanya, masih sekolah jatuh cinta jangan sampe lapisan terbawah lautan. Sekalinya tu cinta ilang, susah kan dicari! Menyelami asmara kelewat dalem, sih!”


Ricko berdecak kesal. Tapi, ia tak menyahuti Zacky. Mood-nya sedang tidak ingin berdebat tentang cinta kepada Arinda.


Karena, yang di katakan Zacky memang benar. Terlalu dalam mencintai kemudian kehilangan. Akibatnya, bisa seperti sekarang ini, melakukan apa pun jadi tak bersemangat.


“OI, PARA JOMLO! GUE BAWAIN BANYAK MAKANAN DAN MAKARONI NGOHO SUPER PEDES!”


Dito datang dengan wajah riang. Tanpa rasa bersalah berteriak. Ia menenteng banyak plastik berisi makanan di tangan.


“Suara lu bisa bikin pecah gendang telinga gue! Berisik!”


Dito terkekeh-kekeh mendengar omelan Ricko. “Sorry, Bro! Abis gue antusias menyambut member baru.”


“Sial! Maksud lu gue!”


“Ya, iyalah! Mulai sekarang, lu harus hormat sama kita yang udah senior, Rick.”


“Cih, jomlo kok bangga!” ejek Ricko.


“Hei, Kisanak! Jangan sembarangan berbicara kau! Menjadi jomlo itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi, kita kudu bangga. Mengerti!”


“Itu artinya lu gak laku, Dit.”


Dito mengerucutkan bibir mendengar ucapan pedas dari Ricko. Ingin rasanya menangis. Tapi, malu pada semut yang berbaris di dinding. Laki-laki kok cengeng, begitu kira-kira kata mereka.


Sementara Zacky tertawa lepas mendengar penuturan Ricko. “Makanya, udah jomlo jangan kebanyakan ngomong, Dit. Cool dan kalem dong kayak gue.”


“Cih, nyebelin lu pada!”


Karena kesal, Dito mengambil makaroni ngoho yang tadi dibeli dan melahap tanpa ampun. Tapi, sesudah itu dia melempar makanan tersebut. Kemudian, menuangkan air minum untuk dirinya sendiri. Pria itu lupa kalau camilan itu sangat pedas.

__ADS_1


Ricko dan Zacky tertawa terpingkal-pingkal. Selalu ada saja kelakuan Dito sehingga sering membuat suasana seketika ceria.


Tanpa ketiganya sadar, mereka telah menemukan obat penawar galau yakni persahabatan. Sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka.


__ADS_2