
Peristiwa penangkapan Nirwan membuat Aris meradang. Sebagai pejabat daerah, dirinya merasa terhina. Laki-laki tua itu segera membebaskan anaknya. Tentu, dengan sebuah syarat untuk sang putra agar tak menganggu lagi Arinda. Jika mengabaikan pesan tersebut, mereka mengancam akan membuat perhitungan kembali.
Aris terpaksa menyetujui syarat konyol tersebut. Demi bebasnya putra kebanggaannya itu. Entah, siapa dalang di balik penangkapan yang cukup membuat heboh Keluarga Anggoro. Pria tua itu hanya bertemu anak buahnya saja, tanpa mengetahui siapa bos mereka.
“Bodoh! Mengejar wanita sampai membuatmu celaka. Kenapa mesti jauh ke tengah hutan hanya untuk memberi pelajaran?”
“Aku menyukai Arinda, Pak. Aku ingin memilikinya seutuhnya!”
Aris melayangkan sebuah tamparan di pipi Nirwan yang memang sudah babak belur. Wajah itu penuh lebam! Karena, ketika peristiwa penangkapan tersebut, ia mencoba kabur. Saat tertangkap, mereka memukuli pria berusia dua puluh lima tahun itu tanpa ampun.
“Anak bodoh! Aku menyekolahkanmu jauh-jauh ke Luar Negeri, tetapi tak bisa membuatmu pintar. Mulai sekarang, kau diam saja! Biar Bapak yang mengurus semua.”
“Aku tidak akan diam kalau Bapak mau menyakiti Arinda.”
“Nirwan! Kau membelanya?!”
“Aku tidak membelanya. Aku hanya menyukainya dan menginginkannya, Pak. Itu saja!”
“Baik! Janji dengan Bapak jika kau sudah mendapatkan semua dari gadis itu, tinggalkan dia?!”
“Kenapa aku harus meninggalkannya? Arinda sangat cantik. Apakah Bapak tak ingin memiliki menantu seperti dia?”
“Kau bilang apa? Jangan membuat malu keluarga kita, Nirwan! Dia hanya anak miskin, ditambah memiliki orangtua berperangai buruk. Suka mabuk dan berjudi. Bagaimana bisa kami berbesan?! Mimpi!”
“Pak ....”
“Jangan membantah, Nirwan! Kau boleh memilikinya, Bapak akan membantumu untuk mendapatkannya. Tapi, hanya sebagai wanita simpananmu saja. Aku tidak Sudi memiliki besan macam Erwin! Memalukan!”
“Wanita simpanan?”
“Ya! Kalau kau setuju, Bapak akan mencari cara agar kalian bisa bersama!”
Tak pernah terpikir sedikit pun untuk menjadikan Arinda wanita simpanan. Nirwan sudah kadung jatuh cinta dengan gadis itu. Lalu, apakah ia harus menyetujui permintaan Aris. Karena, jika berani menolak, jangankan restu, kehidupan mewahnya saja pasti akan di ambil Bapaknya itu.
Untuk saat ini, pikiran Nirwan benar-benar buntu. Ia tak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan sang pujaan hati. Dari cara halus sampai kasar sudah dilakukan, tetapi masih juga tak bisa memiliki gadis itu.
__ADS_1
Arinda, mengapa susah sekali menaklukkanmu. Padahal, kalau saja menurut, kau bisa bergelimang harta. Tapi, ini malah kabur dan entah siapa orang yang menangkapku kemarin itu. Mereka begitu marah karena telah mencoba menyakitimu. Aku tahu itu bukan orang suruhan kekasihmu. Ah, kenapa saingan semakin bertambah banyak sekali?! batin Nirwan.
“Kenapa kau diam saja? Kau tidak setuju?”
Nirwan menghela napas berat, “Baik, Pak. Nirwan setuju, tetapi jangan menyakiti Arinda. Aku sangat mencintai gadis itu.”
Aris terdiam mendengar penuturan sang putra. Ia cukup kesal dengan Nirwan. Kenapa bisa jatuh cinta kepada gadis itu? Apa yang di lihat putranya?!
Awalnya, Aris tak ambil pusing ketika Nirwan merengek. Anaknya mengatakan jika ia menyukai seorang gadis. Pria tua itu pikir kalau sang putra hanya mau bermain-main saja.
Oleh karena itu, Aris menurutinya untuk memberikan sejumlah uang kepada Erwin. Tujuannya, agar memperbolehkan putranya jalan dengan Arinda. Tapi, ia tak menyangka perasaan Nirwan seserius itu.
“Tapi, Bapak tetap tak terima orang-orang itu memukulimu sampai seperti ini. Aku akan membalas perbuatan mereka!”
“Pak, jangan membalas dendam kepada mereka. Orang-orang yang menangkapku kemarin, bukan orang sembarangan.”
“Kau sedang memuji orang yang telah memukulimu!”
“Bukan begitu, Pak. Mereka sangat kejam.”
“Kau lupa siapa Bapakmu? Aku ini pejabat penting! Lihat saja! Aku akan menangkap mereka semua dan memberi pelajaran. Berani-beraninya berurusan dengan Aris Anggoro!”
Seandainya Aris tahu, mungkin ia akan berpikir beribu kali untuk berurusan dengan mereka. Karena, kematian akan semakin cepat terjadi jika berani menyenggol sedikit saja.
❄️❄️❄
Beberapa bulan kemudian
Pengumuman kelulusan telah selesai di umumkan secara serempak se-Indonesia. Gegap gempita seluruh siswa Batavia Internasional School membahana. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
Bagaimana tidak bergembira?! Pihak sekolah menyatakan kalau semua murid kelas tiga di sekolah itu lulus.
Arinda, Dito, dan Zacky pun turut larut dalam acara Akbar tersebut. Senyum tak lepas dari wajah mereka. Masa-masa putih abu-abu yang terindah, usai sudah. Saatnya memasuki era pendewasaan diri di step selanjutnya.
“Rin, Ricko juga lulus,” ujar Dito.
__ADS_1
“Gue ikut senang, Dit.”
“Lu gak mau nanya kabar Ricko sama kita?” tanya Dito.
Arinda terdiam, ia bukan tak ingin tahu kabar Ricko. Hanya saja, takut rindunya semakin menggebu dan itu akan membuatnya sedih.
“Ricko pasti baik-baik aja, Dit.” Arinda berujar dengan yakin.
“Lo bener gak mau nanya, nih?”
“Dit, lu kalo mau ngasih tau kabar Ricko, ya, udah kasih tau aja!” seru Arinda sedikit kesal.
Dito tersenyum, “Ricko kabarnya baik-baik aja, kok.”
“Kan tadi udah gue bilang, Dit.” Arinda menggelengkan kepalanya.
“Dit, sekali-sekali omongan lu yang berfaedah, kek!” seru Zacky mulai kesal.
“Itu gue kasih tau kabar Ricko termasuk berfaedah, Zack.”
“Tauk gelap! Bodo amat! Serah lu, Dit. Capek gue temenan sama lu. Bisa ganti gak, sih, yang rada normal gitu.”
“Kok lu nge-gas, Zack. Sabar jadi orang. Emosian aje!”
“Astaga, Dit! Sumpah, ya. Cabut aja dari sini, Rin.”
Zacky menarik tangan Arinda menuju kantin. Sementara Dito ribut di belakang karena di tinggal begitu saja, ia mengikuti sambil terus mengoceh.
Sepanjang perjalanan, Zacky tak melepas genggaman tangannya kepada Arinda. Pria itu masih penasaran dengan mantan kekasih sahabatnya. Rasa apa kemarin yang membuat seluruh tubuhnya menghangat, hingga saat itu sampai sekarang sulit untuk melupakannya begitu saja.
Seperti saat ini, genggaman tangan Arinda terasa hangat dan nyaman. Zacky pun enggan untuk melepasnya. Bahkan, semakin erat menggenggam.
Sorry, Rick! Gue gak bermaksud mengambil orang yang lu cinta. Cuma gue mulai nyaman dengan gadis cantik ini. Gue bakal melepasnya, saat yakin dan tau debaran rasa apa ini? Kenapa tanpa permisi datang begitu aja, gumam Zacky.
Arinda pun hanya diam saja saat tangan Zacky menariknya. Bahkan, menggenggam semakin erat. Gadis itu pikir mereka juga menganggapnya sahabat. Jadi, ia tak punya pikiran macam-macam tentang apa pun.
__ADS_1
Arinda memang tidak memungkiri. Saat ini, hanya Dito dan Zacky yang ia percaya sebagai teman. Gadis itu tak memiliki orang lain lagi yang dekat dengannya. Kehidupan yang menyedihkan, di tambah pria-pria hanya menyukai parasnya saja, membuat sang primadona itu selektif memilih teman.
Oleh karena itu, Arinda lebih memilih Dito dan Zacky. Karena, kedua pria itu pun mengenalnya dan tak akan menyakitinya. Apalagi, sampai menyatakan perasaan. Gadis itu tak pernah sedikit pun berpikir sampai sejauh itu. Secara, ia mencintai sahabat mereka dan keduanya cukup tahu akan hal tersebut.