
HAPPY READING 🤗💞
.
.
.
Pandangan berbinar-binar bertemu dengan netra menusuk hati. Sangat kontras! Akan tetapi, keduanya tak ada yang memutuskan tatapan mereka.
Sepuluh tahun tak saling jumpa. Selama itu juga tak berkomunikasi lewat media apa pun. Mereka lost contact!
Kabut rindu pun menyelimuti Arinda. Bahkan, gadis itu rasanya ingin berlari memeluk tubuh tegap itu untuk sekedar melepas kerinduan.
Sementara Ricko, di benaknya hanya ada kata benci. Seandainya ia bisa memilih, lebih baik tak bertemu daripada kebencian semakin membuncahkan.
Kita memang tak bisa mengubah atau menghindari takdir. Namun, keadaan dulu dan sekarang telah berbeda.
Bertemu kembali hari ini bagai setitik air di Padang tandus untuk Arinda. Berbeda dengan Ricko, ini semua merupakan mimpi paling buruk.
Suara mendeham dari Dini membuyarkan pikiran mereka. Keduanya memutus tatapan itu kemudian menjadi salah tingkah.
“Arinda, Pak Ricko meminta untuk mengantarnya berkeliling dan menjelaskan tentang pekerjaanmu. Kamu sudah siap?”
Jangankan berkeliling? Di pinta untuk jadi istri aja aku siap, kok, Mbak Dini, gumam Arinda.
“Tentu! Aku sudah siap.”
Suara ketukan pintu terdengar. Seseorang menyembulkan kepalanya.
“Maaf, saya mau mengajak Mbak Dini makan siang di Kantin. Apakah Pak Ricko dan Mbak Arinda mau ikut?”
“Tidak!” jawab mereka berdua secara bersamaan dan keduanya kembali salah tingkah.
“Pak Ricko, jika Anda masih membutuhkan sesuatu, saya akan menunda makan siang,” ujar Dini berbasa-basi dan mencoba mengabaikan pikirannya yang penuh dengan pertanyaan melihat kekikukan mereka.
“Pergilah.”
“Terima kasih, Pak.” Kemudian, Dini menoleh ke Arinda. “Rin, Mbak makan siang duluan, ya. Baby sudah kelaperan.”
“Iya, Mbak.”
Dini pergi keluar ruangannya meninggalkan dua orang mantan kekasih tersebut di dalam. Suasana pun menjadi canggung. Mereka bingung harus bicara apa?
Sampai akhirnya suara sangat lembut dari Arinda memecah keheningan.
“Sayang, kamu mau makan siang denganku?”
Ricko menatap tajam Arinda dan membatin. Apa-apaan gadis ini memanggilku dengan kata 'sayang'. Dia pikir aku akan luluh begitu saja seperti dulu. Cih! Mimpi!
“Sudah datang terlambat! Lalu, salah menyebut nama orang! Apa kepalamu terbentur sesuatu?!”
Judes banget! gumam Arinda.
Arinda mengerucutkan bibirnya. Gadis itu tetap bertekad akan mendapatkan kembali cintanya yang telah hilang. Walaupun bibir manis tersebut sudah berubah menjadi pedas dan harga dirinya terjun bebas. Ia tak memedulikan itu!
Arinda pun menganggap wajar semua sikap Ricko. Pasalnya, gadis itu tahu betul kalau di masa lalu memang bersalah. Jadi, anggaplah ini semua sebagai penebusan dosa yang harus ia terima.
“Maaf, Sayang. Di kampus ada satu dosen mengejarku terus. Sudah aku tolak, tetapi tetap saja masih mendekati. Jadinya, aku terlambat.”
Ricko mengernyit, “Aku tidak peduli!”
__ADS_1
“Aku hanya mau menjelaskan perihal keterlambatanku. Aku juga gak mau kamu cemburu.”
Cemburu! Mimpi saja sana! batin Ricko.
“Hei, Nona! Bangun dari tidurmu, ini sudah siang!”
Ricko pergi berlalu keluar dari ruangan. Arinda mengikuti dari belakang. Saat pria itu berhenti mendadak, otomatis mereka bertabrakan.
“Kau bisa berjalan dengan benar atau tidak!”
“Sayang, kamu yang berhenti mendadak. Aku 'kan belum siap. Kecuali, kamu ajak nikah sekarang, baru aku siap.”
“Arinda! Cukup! Hentikan bualanmu dan panggilan menjijikkan itu untukku!”
“Aku tidak mau.”
“Arinda ....”
“Iya, sayang.”
Ricko melirik ke kiri dan kanan. Takut ada yang mendengar gadis ini menyebutnya dengan panggilan itu. Untungnya suasana sepi, karena sedang jam makan siang.
“Berhenti mengikutiku!”
“Tidak bisa! Kan aku mau menjadi tour guide untukmu hari ini.”
“Tidak perlu!”
“Tetap tidak bisa. Aku tidak mau dipecat karena mengabaikan permintaan atasan.”
“Aku atasanmu sekarang dan dengan hormat memerintahkan untuk tidak mengikuti.”
“Memang kamu mau ke mana?”
Refleks Ricko mengerjapkan kedua matanya saat menyadari ucapannya barusan. Kemudian, membatin. Bodoh! Kenapa memberitahu kepada Arinda ke mana kau akan pergi?!
“Aku juga belum makan. Ikut, ya?”
Suara pemberitahuan sekaligus permintaan dengan nada manja keluar dari bibir Arinda. Gadis itu menggigit bibirnya kemudian menunduk.
Ah, Shit! Kenapa harus menggigit bibirmu, bodoh! Ricko membatin.
“Kalau mau ikut, harus diam. Jangan banyak bicara!"
Arinda mengangkat kepalanya dan mengangguk kemudian tersenyum senang. Gadis itu juga dengan percaya dirinya memegang lengan Ricko. Tapi, pria itu langsung melepasnya secara kasar.
“Jangan menyentuhku!”
“Kamu dulu sering menggandengku. Aku hanya berpikir inilah saatnya untuk membalas sikapmu. Itu saja.”
Pria itu menggelengkan kepalanya dan bergumam. Mana ada balasan yang seperti itu. Astaga! Rasanya aku ingin mengguyurmu dengan air. Supaya sadar kalau Ricko-mu yang dulu tidak lagi sama.
🌺🌺🌺
Di sebuah restoran, mereka berdua benar-benar makan dalam diam. Arinda menurut. Ia tak peduli, yang penting buatnya bisa bersama Ricko.
Gadis itu pun memesan banyak makanan. Ia lapar berat! Pasalnya, tadi pagi belum sempat sarapan karena takut kesiangan sampai kampus. Energinya pun sudah terkuras akibat sidang skripsi. Di tambah lagi harus membereskan berkas. Kemudian, terburu-buru sampai kantor hingga berlarian. Rangkaian kejadian tersebut membuatnya sekarang kelaparan.
Usai menyelesaikan makan. Mereka istirahat sebentar untuk menurunkan makanan tersebut.
“Dosenmu tidak memberi makan, ya?” sindir Ricko heran melihat Arinda makan banyak sekali tadi.
__ADS_1
“Dia menawarkan, tetapi aku tolak.” Arinda menatap Ricko. “Kamu cemburu? Tadi katanya tidak peduli. Kenapa sekarang harus mengingat ucapanku soal dosen itu?”
“Percaya diri sekali!”
“Tidak usah gengsi.”
“Terserah!”
“Sayang ....”
“Berhenti memanggilku seperti itu!”
“Tidak mau!”
“Kau mau kupecat?”
“Aku bekerja dengan sangat baik. Kamu tidak punya alasan untuk memecatku.”
“Alasan mudah untuk kucari!”
“Jahat!”
Jahat mana kamu atau aku?! Kamu berselingkuh! gumam Ricko.
“Memang!”
Arinda mengerucutkan bibirnya. Gadis itu kesal sekaligus sedih. Ricko-nya yang dulu sudah berubah. Karena, dari tadi membentaknya terus dan galak sekali. Tapi, tekad bulatnya masih membara untuk mendapatkan pria itu kembali.
Dengan seiringnya waktu, kamu pasti akan luluh denganku. Aku akan menjamin itu. Lihat saja! Kamu akan kembali bertekuk lutut kepadaku, Ricko Bagaskara, batin Arinda.
🌺🌺🌺
Ricko POV
Arinda menjelaskan secara detail apa-apa yang telah ia kerjakan. Aku mendengarkan dengan saksama. Kita tidak berjalan berdua melainkan ada beberapa staf dari mall ikut menemani.
Aku cukup terkejut, ternyata benar saja ucapannya yang menyebut jika kerjanya sangat baik. Ya, memang harus kuakui kinerjanya sangat luar biasa!
Gadis ini pun kunilai cukup profesional. Dari tadi menjelaskan, selalu memanggilku dengan kata 'Pak', bukan 'sayang'. Setidaknya, dia tahu menempatkan diri.
Tapi, satu hal yang membuatku aneh. Tiba-tiba, gadis ini memancarkan aura dingin. Tatapannya tajam. Jika tersenyum pun hanya membentuk sebuah garis lurus. Semua staf terlihat sekali menaruh rasa hormat dan segan.
Gadis ini seperti tak tersentuh!
Berbeda saat tadi kami hanya berdua. Ia tak henti-hentinya tersenyum ceria. Bahkan, tak berhenti mengoceh. Ada saja perkataan dan polahnya yang membuatku kesal. Tapi, ia tak marah saat kubentak. Justru menampilkan wajah yang menurutku menggemaskan.
Tidak ... tidak ... tidak, apa maksudnya menggemaskan? Aku harus membuang jauh-jauh pikiran ini.
Ingat! Kau membenci gadis ini, Ricko. Sangat membencinya! Taruh itu di kepalamu agar kau tidak lagi terbuai oleh pengkhianat cantik ini.
Sial! Lagi-lagi mulutku masih memujinya.
Tapi, tunggu! Apakah selama sepuluh tahun terakhir ini ada hal yang terjadi denganmu, Arinda. Sehingga membuatmu terlihat berbeda saat berada di tengah keramaian.
Apa yang telah kulewatkan?
Ah, bodoh! Tentu saja banyak yang kulewatkan. Dan itu bukan lagi urusanku. Aku tidak peduli!
Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞
Saranghaeyo 💞😘
__ADS_1
Jangan lupa vote-nya 🤗💞
Jangan lupa klik tombol like-nya juga, ya 💞🤗