
Dua Minggu berada di Kota Jogja tanpa jeda libur. Setiap hari hanya berisi kerja, kerja, dan kerja. Jadwal tersusun padat dari pagi hingga langit gelap. Pukul sepuluh malam, biasanya mereka berdua baru pulang ke rumah.
Berangkat-bekerja-pulang-mandi-tidur.
Aktivitas keseharian yang akhirnya menjadi kebiasaan rutin. Sikap profesional dan bertanggung jawab selalu mereka tanam di dalam isi kepala masing-masing. Sehingga, tak ada yang mengeluh. Keduanya menjalani dengan enjoy. Walaupun terkadang sesekali lelah menyergap.
“Rin, tolong bacakan jadwal besok.”
Arinda mengangguk. Mengambil benda pipih berukuran sepuluh inci. Kemudian, mulai membaca secara urut, “Pukul delapan pagi, rapat dengan PT. Surya Mandiri. Perusahaan kita akan memutuskan besok, apakah proposal pengajuan kerjasama dari mereka akan kita approval atau tidak?”
“Tunggu! Bukankah kita masih bimbang?”
“Iya.”
“Bagaimana menurutmu?”
“Merek dan brand mereka cukup dikenal sangat baik. Rata-rata penjualan setiap bulan juga bernilai fantastis. Hanya saja, perusahaan tersebut agak sedikit arogan dan banyak menuntut kepada kita sebagai pemilik mal. Mereka juga sering menabrak aturan yang ada. Mungkin, ya, itu terjadi, karena merasa sudah menjadi bintang. Hal biasa yang terjadi jika sedang berada di atas, bukan?”
“Kalau begitu, aku akan mengubah surat kontraknya. Mereka harus tunduk pada aturan kita.”
“Bagaimana jika menolak? Ingat, Sayang! Mereka bintang di setiap cabang Diamond,s Mall. Berhati-hatilah!”
“Kamu meragukanku?”
“Tidak, Tuan Muda. Aku tau kamu memiliki kapasitas mumpuni. Dan, ya, memang sudah saatnya semua harus tunduk pada aturan perusahaan kita. Tapi, tetaplah waspada. Mereka cukup memiliki power.”
“Oke. Aku akan berhati-hati. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Nona,” ucap Ricko tersenyum. “lanjutkan.”
“Pukul sepuluh pagi, rapat dengan seluruh staff marketing Diamond's Mall Jogja. Mereka akan presentasi tentang ide-ide baru dalam mendongkrak penjualan.”
“Aku malas mendengarkan omong kosong mereka. Bisa kamu saja yang hadir?”
“Sayang, kamu tidak boleh mengabaikan mereka. Kita ini tim. Jadi, harus saling mendengarkan. Jangan menganggap dirimu paling hebat. Sehingga, membuat yang lainnya tidak lebih sebagai orang bodoh di matamu.”
Ricko berdecak kesal. “Mulai berceramah.”
“Besok kamu harus hadir. Suka atau tidak! Aku tidak peduli!”
“Hei, Nona. Kamu sedang memerintahku!”
“IYA!”
Ricko mendengus. “Siapa yang menjadi atasan disini? Kenapa aku harus ikut aturan bawahan sepertimu?!”
“Aku tidak mendengar.”
Ricko menganga dan menggerutu. “Menyebalkan!”
“Pukul dua belas, kita makan siang sekaligus penanda tanganan kontrak dengan PT. Adi Raksa. Aku sudah siapkan semua dokumen.”
“Cih, bersemangat sekali!”
Arinda menyipitkan mata. Menyorot Ricko dengan tajam. “Apa maksudmu?!”
“Direktur keuangan mana yang turut campur mengurusi pertemuan dengan klien. Padahal, hanya tanda tangan kontrak saja. Pasti ada sesuatu yang sedang di incar.”
“Mengincar apa?”
“Kamu!”
Arinda tersenyum mengejek. “Ah, kamu cemburu? Rupanya Marketing Director kita mulai jatuh cinta kepada Supervisor VM cantik ini.”
“Tidak usah percaya diri! Cepat bacakan lagi.”
“Dasar gengsian! Cinta tinggal bilang. Nanti aku direbut orang lain, kamu pasti menangis.”
“Baguslah! Setidaknya, aku terbebas darimu.”
“Sayang, kamu ....”
“Ini di kantor, Arinda. Hentikan memanggilku begitu. Dari tadi aku sudah bersabar.”
“Dengar, ya, Tuan Muda. Bukankah Anda yang memaksa agar gadis cantik ini selalu memanggil 'Sayang’.”
“Aku mau meralatnya. Panggil saat di rumah atau di luar jam kerja saja. Aku tidak ingin ada orang yang mengetahui hubungan kita.” Maaf, Sayang. Aku harus menyakitimu lagi. Akibat perintah konyol itu, aku harus kembali mengorbankan perasaanmu. Ini semua demi kamu dan kita.
Arinda membisu. Lagi, ia harus menahan kegetiran mencintai. Namun, ia mencoba biasa saja dan kembali dalam mode profesional.
__ADS_1
“Baiklah. Terserah kamu saja.” Arinda menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. “Jam tiga sore, kita akan berkunjung ke PT. Garda Terdepan untuk membicarakan biaya sewa.”
“Turunkan sepuluh persen untuk mereka.”
“Apa? Rick, jangan bercanda!”
“Kerjakan saja apa yang aku perintahkan, Nona.”
“Kenapa? Mereka tidak akan menolak kesepakatan itu. Percayalah!”
“Berikan kontrak sewa itu selama enam bulan.”
“Setelah itu, bersiaplah kamu akan dipecat oleh Papamu.”
“Ya, aku pasti dipecat untuk naik pangkat.” Ricko tersenyum merekah.
“Terserah! Jadwal besok hanya sampai sore saja. Tapi, pekerjaan menumpuk bisa sampai malam.”
“Tidak usah mengeluh.”
“Aku memberitahu Anda, Tuan Muda. Bukan mengeluh.”
“Iya-iya, Nona Muda. Sekarang, tolong bawakan aku berkas kerjasama dengan PT. Wiguna. Aku ingin meninjau ulang. Sepertinya harus ada yang di revisi.”
“Kamu harus menggajiku berkali-kali lipat, Tuan Muda.”
“Apa maksudmu?”
“Aku sebagai supervisor vm, tetapi juga merangkap asisten, sekretaris, dan pembantumu.”
“Hei, apa-apaan itu yang terakhir!”
“Hei, membuat kopi, menyiapkan pakaian, terkadang kamu minta aku yang membuat sarapan, mencarikan keberadaan kaos kakimu, dan ....”
“Cukup!”
“Masih berani untuk tidak mengakui.”
“Jadi, semua itu ada harganya?”
“Tentu saja!”
“Ricko! Kenapa perhitungan sekali, sih! Kamu 'kan kaya raya.”
“Orang kaya juga manusia, Nona. Semua harus ada harganya. Akan aku berikan daftarnya nanti dan silakan melakukan hal yang sama juga. Biar kita imbang.”
“Ricko! Jahat!”
Ricko mengangkat bahu, tak peduli.
Walaupun sudah menjadi sepasang kekasih, tetapi keharmonisan mereka hanya bertahan selama tiga hari di awal saja. Selebihnya, seperti biasa, bagai tikus dan kucing. Tak pernah akur. Mereka akan saling mendukung perihal pekerjaan saja. Itu pun dalam beberapa hal tetap ada perdebatan kecil.
Keesokan harinya
Jadwal yang padat dengan tingkat kelelahan ikut meningkat. Membuat Ricko dan Arinda semakin enggan beramah-tamah dengan banyak orang. Berjalan bersisian melintasi semua karyawan dan mengabaikan sapaan mereka. Tak peduli jika akan menjadi topik pembicaraan.
Menurut Arinda dan Ricko, menanggapi omongan dan gosip hanya menguras energi tak berguna. Sementara mereka, banyak sekali pekerjaan menanti. Saking setiap harinya selalu berkejaran dengan waktu.
“Selamat siang, Pak Ricko. Perkenalkan saya Handoyo, Marketing Director dari PT. Surya Mandiri. Maaf saya terlambat beberapa menit,” sesalnya seraya mengulurkan tangan.
Ricko membalas uluran tersebut. Lantas, berkata dengan penuh penekanan dan sorot mata yang tajam. Bahkan, seketika aura dingin menguar. “Tepatnya, tiga-puluh-menit. Sangat berkesan.”
“Maaf, Pak Ricko. Saya tidak akan mengulang lagi.”
“Oke. Silakan duduk. Kita mulai saja pembicaraan ini. Saya cukup kagum dengan prestasi penjualan yang luar biasa produk dari perusahaan PT. Surya Mandiri di setiap cabang yang ada di Mal Diamond. Sangat membanggakan.”
Handoyo tersenyum dan membusung. “Terima kasih atas pujian Anda, Pak Ricko.”
Ricko mengangguk. “Ini surat perjanjian kontrak kerjasama kita yang baru. Silakan di baca terlebih dahulu.”
Handoyo mengernyit. Namun, ia mulai membuka dan membaca isi surat perjanjian tersebut. Wajah masam dan helaan napas berat berbarengan muncul.
“Maaf, Pak Ricko. Sepertinya harus ada yang di kaji ulang kembali. Saya kurang setuju dengan isi kontrak ini. Kami tidak pernah melanggar aturan. Lalu, kenapa harus ada punishment potongan margin penjualan sebesar 40 persen jika melakukan itu? Bukankah, kesepakatan seperti biasa hanya sewa per tahun saja.”
“Itu kesepakatan dulu sebelum saya datang. Dan, ya, hanya ada dua pilihan untuk kalian. Menyetujuinya dan kita bekerja sama kembali atau kerja sama kita cukup sampai disini.”
“Tidak bisa seperti itu, Pak Ricko. Bagaimanapun kami tenant dengan omzet terbaik. Seharusnya, lebih di anak emaskan.”
__ADS_1
Ricko tersenyum tipis. “Aku lebih suka mengurus tenant tergolong biasa, tetapi taat aturan. Daripada harus mengurusi tenant anak emas yang tak memiliki attitude baik seperti kalian.”
“Pak Ricko, kita bisa mengkaji ulang kembali bersama-sama sampai menemukan titik tengah.”
“Tidak. Keputusanku adalah mutlak. Silakan bawa dokumen itu ke kantor dan berdiskusi sendiri dengan para petinggi perusahaan Anda. Saya tunggu jawaban sampai lusa nanti di ruang ini dan jam yang sama.”
Handoyo terlihat kesal, tetapi ia tak bisa membantah. Lelaki berbadan tambun itu memilih pamit undur diri.
“Rick, apa semua akan baik-baik saja?”
Ricko menoleh. “Tentu. Kamu khawatir?”
“Ya.”
“Aku tau sedang melakukan apa? Semua konsekuensi sudah aku pikirkan. Sekarang, lebih baik mempercepat rapat bersama staff marketing. Panggil mereka!”
Arinda mengangguk dan keluar dari ruangan untuk memanggil semua staf.
Lima menit kemudian semua sudah berjajar duduk dengan rapi. Tanpa berbasa-basi, Ricko membuka acara presentasi. Kebosanan pun melanda, pria itu memang setengah hati untuk ikut mendengarkan mereka berbicara. Menurut pria itu, mereka tak bermutu.
Akan tetapi, sampai kepada satu orang sedang mempresentasikan mengenai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM. Ricko mendongak dan menyimak dengan saksama.
Telinga dan matanya tajam mendengarkan. Kata per kata ia rekam dengan jelas. Susunan kalimat pun dimasukkan ke dalam isi kepala dan menyimpannya rapi disana.
Usai presentasi, pria bertubuh kecil itu terlihat salah tingkah. Pasalnya, Ricko berdiri dan menghampirinya.
Semua mata saat ini tertuju kepada mereka berdua. Arinda pun turut menyaksikan dengan debaran jantung tak keruan. Karena, takut Ricko akan memaki atau lebih parahnya memecat dengan tidak hormat pria tersebut.
“He-ri War-do-yo.” Ricko mengeja nama di name tag yang dikalungkan.
Heri spontan memucat. Keringat dingin menguar dari kening. Tangannya pun turut berkeringat. Gugup, gelisah, takut, dan gemetar. Rasa bercampur menjadi satu.
“I-iya, P-pak Ricko. Na-nama s-sa-ya, Her-her-heri Wardoyo.”
“Kau gugup?”
“I-iya.”
Ricko tersenyum. Kemudian, bertepuk tangan seraya berkata, “HEBAT! Saya tidak menyangka ternyata memiliki satu orang staf dengan ide luar biasa. Kau boleh duduk.” Lalu, menunjuk Arinda. “Rin, tolong buatkan catatan di kertas untuk Bapak Heri bertuliskan bonus satu bulan gaji. Berikan itu kepada staf keuangan. Katakan itu atas perintahku.”
Semua orang refleks menganga. Termasuk Arinda, tetapi kesadaran segera kembali dan langsung mengangguk seraya mengerjakan titah tersebut.
“P-pak Ricko ....”
“Sudah-sudah! Kau tidak usah berbicara, membuat pusing saja mendengarmu terbata seperti itu. Kau hanya ingin bilang terima kasih, 'kan? Wujudkan saja dalam pekerjaanmu. Teruslah memberikan banyak ide untuk perusahaan dan bekerjalah dengan lebih baik lagi."
“I-iya.” Heri mengangguk dan tersenyum senang.
“Tolong buatkan dokumen kontrak untuk para UMKM, berikan mereka potongan margin penjualan sepuluh persen saja tanpa uang sewa. Dan, beri tempat di lantai dasar di sayap kanan pintu utara. Pantau terus dan beri pembinaan supaya mereka berkembang. Tegur jika melanggar aturan sampai tiga kali. Selebihnya, kalian boleh mengeluarkannya dengan cara tidak hormat. Mengerti?!”
“Mengerti, Pak Ricko.” Semua menjawab secara bersamaan.
“Baiklah, presentasi selesai. Kalian boleh keluar.”
Satu per satu meninggalkan ruangan dengan hanya menyisakan Arinda dan Ricko saja.
“Rick, aku terharu. Ternyata kamu punya hati yang baik.”
Ricko berdecak kesal. “Bicaramu seolah-olah aku ini orang yang tak berperasaan.“
“Memang.”
“Menyebalkan. Tapi, apa aku terlihat membanggakan?”
“Tentu saja. Kamu selalu membanggakan. Tapi, tadi itu luar biasa,” ucap Arinda dengan mata berbinar-binar.
“Kamu senang?”
“Iya.”
Ricko tersenyum dan mendekatkan kursinya ke arah Arinda. Menatapnya penuh minat. “So, kiss me.”
Arinda terdiam. Netra bahagia itu berubah menyipit. Gadis itu ikut mendekat. Ia mulai memegang jas Ricko. Memajukan kepalanya tepat berhadapan dengan wajah tampan itu. Kemudian, berujar sangat pelan nyaris seperti berbisik, “Ini di tempat kerja, Tuan Muda. Jangan sampai hanya perkara sebuah ciuman, orang mengetahui hubungan kita.”
Arinda mendorong Ricko dan menghempas jas tersebut. Kemudian, bangun dari duduknya dan melangkah pergi ke luar.
Ricko mengerjap satu kali. Terkejut! Melongo! Lalu, tersenyum mengejek kepada diri sendiri.
__ADS_1
“Ricko Bagaskara, barusan kau ditolak. Ah, rupanya kamu mau membalas perkataanku kemarin, Nona Muda. Balas dendam yang cantik, secantik wajahmu.” Kemudian, ia menoleh ke arah pintu menatap punggung Arinda yang hampir menghilang dari pandangan. “Awas di rumah nanti. Aku akan menghabisi bibir merah mudamu itu tanpa ampun.”