
Namun, tiba-tiba ada tangan kekar memeluknya erat. Arinda menegang. Untuk beberapa saat tak bergerak. Ia mematung di tempat dengan mimik terkejut.
“Terima kasih sudah datang menolongku.”
“Ricko.”
“Kamu baik-baik saja, 'kan?”
Saat kegaduhan mulai terjadi. Ricko sebenarnya perlahan mulai sadar. Namun, kepala dan tengkuknya masih terasa sakit.
Dalam kesadaran yang belum pulih benar itu, secara samar melihat aksi heroik Arinda.
Ingin bangun dan menolong. Akan tetapi, Ricko pun menjadi terpaku sendiri menyaksikan semuanya.
Bahkan, Ricko terkejut saat sebilah pisau keluar dari selipan salah satu bagian tubuh sang pujaan. Pria itu bertanya-tanya dari mana ide itu muncul.
Ricko takjub dan hampir tak memercayai apa yang ia lihat. Namun, senyum langsung terbit. Pria itu bangga mencintai gadis manja, tetapi di luar dugaan ternyata sangat berani.
Arinda membalikkan badan dan memeluk Ricko kemudian menangis. “Tapi, aku terlambat menolong kamu.”
“Aku masih hidup. Jadi, tidak ada yang terlambat. Sudah jangan menangis,” ucap Ricko membalas pelukan Arinda.
Mereka berdua mengabaikan tiga makhluk yang terus berteriak minta tolong. Bahkan, melupakan sejenak Dito yang tergeletak.
“Enggak! Pokoknya, aku terlambat, Rick. Aku kesal!” seru Arinda memukul punggung Ricko.
“Jangan suka memukul, nanti tangan kamu sakit. Kenapa kesal?” Baru saja sadar. Tapi, kepalaku mulai berdenyut. Rasa mau pingsan lagi. Arinda, bisakah kamu jangan mulai lagi merajuk.
Arinda berhenti memukul dan melepas pelukannya. Kemudian, menunjuk badan Ricko. “Lihat tu kelakuan si Tante Menor. Mereka buka baju kamu. Ih, aku gak rela. Aku aja gak pernah buka baju kamu. Pokoknya, aku gak terima.”
“Siapa Tante menor?” tanya Ricko seraya melihat tubuhnya yang benar saja sudah terbuka seperti apa kata Arinda. Ia mengancingkan kemejanya kembali.
“Siska, Jessica, dan Lusi.”
Ricko menggelengkan kepala seraya tersenyum. Kemudian, mengacak rambut Arinda dan mencubit gemas pipi itu.
“Cemburu?”
“Ya, iya! Mereka pasti udah meraba-raba kamu. Ih, aku kesal membayangkannya!”
“Sudah, yang penting kita selamat.”
“Pokoknya setelah pulang kamu harus cuci badan kamu pakai tanah dan mandi kembang. Biar bersih dan bekas sentuhan mereka lenyap.”
Astaga! Apa, sih, yang ada dipikiran gadis cantikku ini? Masa harus sampai begitu, ucap Ricko mumet di dalam hati.
“Ricko! Kenapa gak jawab? Tu kan kamu senang, ya, ada bekas sentuhan mereka di badan?” Lanjut Arinda semakin merajuk.
“Oke, Tuan Putri. Setelah pulang aku akan melakukan semua yang Anda perintahkan. Sudah puas atau belum.” Memang bicara denganmu harus mengalah. Tidak ada yang boleh menolak. Menjawab pun hanya berlaku untuk jawaban 'iya'. Kalau sebaliknya, alamat tak akan kelar pembicaraan unfaedah ini.
“Janji?”
“Iya.”
“Ya, sudah. Ayo, kita pergi! Kamu gendong Dito, ya.”
__ADS_1
Ricko mengangguk dan langsung menggendong sahabatnya di punggung.
Sebelum benar-benar pergi. Arinda memberikan kenang-kenangan lebih dulu kepada trio tersebut. Gadis itu menginjak satu per satu kaki mereka dengan sepatunya. Sehingga, membuat mereka semakin bertambah kesakitan.
“Biar rasa. Itu sebagai balasan karena sudah berani nyolek-nyolek Ricko.”
Melihat kelakuan Arinda. Ricko menggelengkan kepala. “Arinda, cukup. Ayo, kita keluar.”
“Kita lewat jendela, Rick. Karena, di luar banyak penjaga.”
“Kita keluar lewat pintu. Aku akan menghadapi mereka. ”
Arinda menurut. Berbekal semprotan cabai dan pisau di tangan. Gadis itu mengekor Ricko.
Baru saja keluar kamar, mereka sudah di hadang para penjaga berbadan besar dan kekar.
“Mau ke mana kalian?! Tangkap mereka!”
Ricko tersenyum sinis. Menurunkan Dito di lantai. Kemudian, menggemeretakkan badannya ke kiri dan kanan. Sudah lama pria itu tak berkelahi dan sekarang sangat bergembira. Karena, bisa mengasah bakatnya kembali.
“Arinda, mundur. Jaga Dito saja!”
Gadis itu mengangguk dan mundur teratur.
“Come on! Maju!” seru Ricko menantang kepada orang-orang di depannya tersebut.
Beberapa orang maju dan mulai memukul Ricko, tetapi tidak kena.
Tanpa basa-basi, Ricko membalas dengan mengayunkan tinju ke arah mereka satu per satu. Semua terdorong mundur dengan hidung mengeluarkan darah. Melangkah lagi menendang yang lainnya di depan sana.
Perkelahian dengan sistem siapa kuat dia selamat terus saja berlangsung.
Arinda pun terpesona. Sambil duduk bersila dengan bertopang dagu di samping tubuh Dito. Ia menatap Ricko dengan tatapan memuja. Menganggap perkelahian yang sedang berlangsung tersebut sebagai pertunjukan.
Arinda POV
Tuhan! Aku ikhlas kok menjadi jodohnya.
Ganteng, keren, tajir, kuat, dan six-pack.
Bahu lebarnya aja, ya, ampun! Sandar-able banget. Dada bidangnya pun peluk-able.
Ricko, kawin, yuk! Eh, maksudnya nikah dulu.
Duh, otak gini banget. Ngeres kayak halaman rumah.
....
Sedang asyik-asyiknya mengkhayal, tiba-tiba suara letusan senjata api terdengar. Ricko terjerembab ke lantai dengan darah mengucur.
“RICKO!” Arinda spontan bangun dan melempar pisau di tangannya ke arah si penembak.
Pria itu melepas pistolnya karena pisau itu mengenai tepat di lengan.
Arinda langsung menyemprotkan air cabai ke wajah penjaga yang mau menyerangnya sampai mengaduh kesakitan. Hanya tinggal dua orang yang masih bertahan. Selebihnya, sudah terkapar oleh Ricko. Kemudian, gadis itu melanjutkan menendang tulang kering mereka hingga terjatuh.
__ADS_1
Akan tetapi, diam-diam pistol berhasil di raih kembali oleh si penembak tadi. Kemudian, pria itu mengarahkan pelatuknya ke arah Arinda.
Ricko yang masih sadar dan melihatnya langsung bangun dan melindungi tubuh wanita itu dengan tubuhnya. Ia memeluk erat gadisnya. Keduanya terjatuh ke lantai dengan posisi Arinda di bawah dengan tangan sang mantan menjadi bantalan.
Suara letusan pistol pun kembali terdengar beberapa kali. Kemudian, pria itu terkapar bersimbah darah.
“RICKO!” Arinda berteriak. Tangis histeris pun tak terelakkan. “Katanya janji akan menjaga nyawamu agar terus hidup. Supaya kamu bisa cium bibirku terus. Aku akan menepatinya. Tapi, jangan mati!” Arinda semakin terisak.
“Aku masih hidup,” suara Ricko lirih.
Bibir Arinda membulat. Seketika berhenti menangis. Ia melihat di depannya sudah terkapar pria yang mau menembaknya tadi.
Ternyata bukan Ricko yang mati melainkan pria itu, batin Arinda.
“Kamu memang harus terus hidup.”
“Tentu saja. Demi bibirmu, aku tidak akan mati secepat itu.”
“Brengsek,” ucap Arinda memukul punggung Ricko pelan. Posisi mereka masih berpelukan dengan Arinda tetap berada di bawah.
Ricko tersenyum dan berkata lirih, “Kiss me.”
“Tapi, luka tembakmu ....”
“Aku butuh bibirmu sekarang, please.”
Arinda melepas pelukannya dan langsung mendaratkan ciuman. Menyesap bibir Ricko dengan lembut.
Ricko pun membalas dengan hasrat menggila. Mereka berdua berpagutan mesra.
Tanpa mereka berdua sadar, sudah banyak orang-orang datang. Spontan semuanya langsung membalikkan badan. Karena, malu menatap dua sejoli tersebut. Untuk menegur sang tuan muda dan nona muda pun tak bernyali.
Sampailah seseorang berperawakan tinggi, tegap, berwajah bule, dan bermata hijau datang. Matanya melotot melihat adegan di depannya. Lalu, menggelengkan kepala.
“Ricko! Arinda! Bisa kalian menyudahi kemesraan salah tempat itu. Teruskan lagi nanti saat kalian hanya sedang berdua saja.”
Refleks Ricko dan Arinda melepas penyatuan bibir mereka. Menoleh dan berteriak berbarengan.
“Kak Shavic!”
“Pak Shavic!”
“Bangunlah dan kita keluar sekarang!” titah Shavic.
Gadis itu menunduk seraya berbisik. “Aku malu, Rick.” Kemudian, tanpa sengaja memegang luka tembak di atas dada Ricko sehingga membuat pria itu mengaduh. “Ricko, maaf. Aku gak sengaja.”
Shavic menggelengkan kepala. “Sakit?” tanyanya kepada Ricko.
“Sakit, Kak,” jawab Ricko.
“Saat berciuman tadi belum terasa sakit, heuh?!” seru Shavic mencebik.
“Kakak terlalu lama datang. Jadi, aku butuh sesuatu untuk sejenak meredakan rasa sakit.”
Kembali, Shavic menggelengkan kepala. Kemudian, ia memapah Ricko keluar. Arinda mengekor di belakang.
__ADS_1
Sementara Dito diurus oleh anak buah Shavic.
Semua penjahat di vila pun di bawa untuk kemudian diserahkan ke Kantor Polisi. Termasuk trio Tante menor.