ARINDA

ARINDA
Baku hantam


__ADS_3




Suasana canggung menyergap. Aura dingin kentara terasa dari tiga pria yang duduk saling berjauhan. Dua di antaranya saling melempar tatapan membunuh sementara sisanya mencoba menjadi wasit.


Sudah tiga puluh menit berada di ruangan yang sama, tetapi tak ada yang bersuara. Sampai suara sang wasit memecah keheningan. Dialah yang menyeret keduanya secara paksa. Agar berkumpul untuk berdiskusi.


“Lu berdua kenapa, sih? Merebutkan Arinda?” tanya Dito kepada Ricko dan Zacky.


Mereka bertiga berkumpul di rumah Zacky.


“Salah si Zacky. Dia mau rebut Arinda dari gue!” Ricko berseru kesal.


“Arinda single. Dia bukan milik siapa-siapa. Jadi, gue juga punya hak yang sama buat mendekati!” sahut Zacky emosi.


“BRENGSEK!” Baru saja ingin bangun untuk menghajar Zacky. Dito dengan cepat mencegahnya.


“Lu apa-apa jangan maen hajar dong, Rick. Mentang-mentang jago bela diri. Kita ini bersahabat, udah kayak keluarga malah. Bukan samsak emosi lu.” Dito berkata seraya menahan lengan Ricko.


“Lu denger ucapannya dong, Dit. Dia mau menikung Arinda,” ujar Ricko seraya menunjuk Zacky lewat ekor mata.


“Ya, udah kita bicara baik-baik. Jangan sampe gara-gara perempuan doang persahabatan kita hancur. Bikin malu aja.”


Ricko menghempas tangan Dito yang masih memegangnya. “Lu mendingan menasihati dia. Karena Arinda punya gue!”


Zacky tertawa. “Lucu! Lu aja hanya menjadikannya teman. Sinting! Gue jelas gak terima!”


“Jangan bilang kalo lu cinta Arinda?!” Ricko mempertanyakan.

__ADS_1


“Iya! Bahkan, lebih dari cinta! Puas lu!” Zacky menjawab cepat.


Kesal mendengar jawaban Zacky. Tanpa aba-aba, Ricko bangun dan langsung menyerang dokter muda itu. Meninjunya beberapa kali hingga membuat wajahnya lebam. Bahkan, darah keluar dari sudut bibir.


Kejadian yang begitu cepat membuat Dito terlambat bergerak. Namun, ia langsung meleraikan.


Akan tetapi, tanpa mereka sadar Arinda sudah mendengarkan pembicaraan tersebut. Hatinya kini semakin luluh lantak. Ungkapan perasaan dari Zacky membuatnya kecewa.


Arinda pikir, Zacky baik dan perhatian terhadapnya karena menganggapnya sahabat. Namun, ternyata memiliki maksud lain.


Dengan langkah lunglai, Arinda meninggalkan kediaman Zacky. Ia memilih tak muncul di hadapan mereka. Walaupun gadis itu tahu betul pertengkaran tersebut penyebabnya adalah dirinya sendiri.


Namun, Arinda sudah tidak peduli. Hatinya telah hancur berkeping-keping.


Sebelumnya, saat berada di jembatan, tiba-tiba terlintas wajah Zacky dalam pikiran. Tanpa menunggu lagi, Arinda melajukan si Brown ke sana. Ia butuh teman bicara untuk mencurahkan segala isi hati.


Akan tetapi, begitu tiba, bukannya masuk ia memilih berdiam di balik pintu. Mendengarkan pembicaraan ketiga sahabat tersebut dan berujung pada kekecewaan.


Alih-alih meleraikan, justru Dito terkena tinju dari keduanya hingga terpelanting ke belakang.


Namun, baik Ricko ataupun Zacky tak memedulikan Dito. Mereka saling baku hantam.


Ricko menguasai perkelahian. Tapi, walaupun begitu, Zacky pantang menyerah. Dengan muka dan tubuh yang sudah babak belur ia membalas. Meskipun beberapa kali memeleset.


Takut salah satu dari mereka mati. Karena, tak ada satu pun yang mau mengalah. Dito sengaja memecahkan guci yang terdapat di samping sofa. Pria itu terpaksa melakukan hal tersebut agar keduanya berhenti bertikai.


Ricko dan Zacky menoleh. Dan, benar saja mereka berhenti berkelahi.


“BANGCAT LU BERDUA! MAU PADA MATI KONYOL! HAH!” teriak Dito murka. Kemudian, berdiri di tengah-tengah mereka.


“Gue gak ikhlas, Dit. Kalo si brengsek ini mempermainkan Arinda!” seru Zacky seraya memegang pipinya menahan nyeri.

__ADS_1


Si Ricko sialan! Muka ganteng gue bonyok udah. Badan gue juga pada ngilu di hajar. Duh, mana besok ada seminar. Zacky membatin.


“Gue gak mempermainkan Arinda! Gue serius sama dia!” Ricko berteriak tak terima atas tuduhan Zacky.


“Kalo lu serius, kenapa hanya menjadikannya temen?!” Zacky membalas sewot.


“Gue punya alasannya, Zack!” sahut Ricko.


“APA?! GUE BAKAL TERIMA KALO ALASAN LU MASUK AKAL!” Zacky mulai lepas kontrol.


“BUKAN URUSAN LU!” balas Ricko dengan intonasi yang sama.


Dito yang berada di tengah hanya bisa mengembuskan napas lelah. Lagi dan lagi keduanya adu mulut.


“SEKARANG ARINDA MENJADI URUSAN GUE!” timpal Zacky.


Ricko kembali naik pitam. Wajahnya sudah semakin terlihat menyiratkan rasa tak suka. Ia mengepalkan tangan dan mau memulai lagi perkelahian. Pria itu maju, tetapi Dito menahannya.


“Rick! Rick! Sabar, Rick! Zacky bisa modar lu hajar lagi. Gue ogah menjadi saksi di pengadilan. Repot. Enggak punya waktu juga. Gue kan orang sibuk.” Dito mulai gemetar. Pasalnya, amarah setan tengah menguasai Ricko.


Dito sialan! Kalo gue mati malah kagak mau bersaksi. Sohib laknat! Gue sumpahin warisan berhektar-hektar dari Kong Naim jamuran. Biar aja jadi basi kagak laku-laku tu tanah. Zacky memaki dalam hati sekaligus menyumpah.


Namun, Ricko justru mendorong Dito yang menghalangi jalannya.


Ricko mulai mencengkeram baju Zacky dan mengangkatnya tinggi. Ia meninju perut dokter muda itu hingga mengaduh.


“SIAPA ELU?! HAH!” teriak Ricko.


Baru saja mau melayangkan satu tinju lagi. Kali ini mengarahkan ke wajah Zacky. Namun, pria yang sudah kepayahan itu berkata dengan lantang dan fasih. Sehingga menghentikan pergerakan Ricko.


“ARINDA ADIK GUE! ZASKIA ALICIA!”

__ADS_1


__ADS_2