
Usai keluar dari kamar, Ricko bergabung kembali di ruang tamu.
“Rick ....”
Ricko menggeleng. “Masih diam, Zack. Hanya sedikit merespons saat gue bicara tentang pernikahan.” Ia menunjuk pipinya. “Gue ditampar dan di usir keluar.”
Semuanya mengembuskan napas berat.
“Arinda sangat mencintai Anda, Pak Ricko. Sejak dulu sampai sekarang. Dia menolak banyak pria hanya untuk menunggu Anda.” Dini mulai buka suara.
“Dan, bodohnya aku, ketika kami berjumpa kembali justru menolaknya dengan kasar.”
“Saya tahu. Saya sempat menyuruhnya untuk melupakan Anda dan menikah dengan pria yang mencintainya. Tapi ... Arinda menolak. Dia bilang, jika tidak bisa menikah dengan Anda, menjadi perawan tua adalah pilihannya yang tidak bisa dibantah. Anak itu tidak tertarik dengan pria mana pun kecuali lelaki yang bernama Ricko Bagaskara.”
Ricko menunduk dalam. Rasa bersalah semakin menyergap.
Dini melanjutkan ceritanya. Dari mulai orangtuanya yang menjualnya, bersikap kasar, terakhir mengusirnya dari rumah.
“Arinda sempat berkelana tak tentu arah ketika keluar dari rumah. Bahkan, sampai berada di Bandung.”
“Di Bandung? Sendirian?” Zacky bertanya.
“Ya. Dia sendirian,” jawab Dini.
“Arinda.” Zacky menutup wajahnya. Ngenas dengan kisah hidup sang adik.
Dini kembali bercerita tentang kehidupan Arinda di Bandung. Mulai dari menjadi SPG, pelayan, sampai bekerja di sebuah salon dan butik.
“Tak ada satu pun pekerjaan yang awet. Karena, pria-pria selalu mengganggunya. Waktu menjadi pelayan, Bapak dan anak malah sekaligus berbarengan menyukainya. Dan, saat di butik calon menantu si pemilik terang-terangan menyatakan cinta. Padahal, pernikahannya sudah di depan mata. Tapi, Arinda menolak mereka semua dan memilih pergi.”
Dini bercerita juga perihal pertemuan mereka lengkap dengan kondisi gadis itu yang ketakutan. Juga cerita tentang pertama kali Arinda masuk untuk bekerja di Narendra. Sampai tiba-tiba dipindahkan menjadi VM.
Ricko menyimak dan mulai mengerti sekarang mengapa Arinda bisa masuk perusahaan keluarganya. Ternyata awalnya karena Dini. Lalu, dilanjutkan oleh skenario cantik sang wanita-wanita Narendra.
__ADS_1
“Arinda. Mengapa hidupmu berliku-liku?” Zacky mengusap wajahnya kasar. Ia sedih mendengar semuanya.
“Bersyukurnya anak itu pandai menjaga diri. Arinda lebih memilih kehormatannya tetap terjaga untuk suaminya kelak daripada banyak harta. Oleh karena itu, hidupnya selalu sulit. Karena, parasnya menyusahkannya dalam mencari uang. Anda pria beruntung jika berjodoh dengannya, Pak Ricko. Ia wanita baik-baik.”
Ricko sudah tersenyum sumringah. Pasalnya, ia juga termasuk pria beruntung karena memiliki cinta Arinda.
“Tu anak emang juga luar biasa cantik. Gue, sih, mengakui kalau Arinda memiliki pesona mematikan,” ujar Dito tersenyum.
Ricko melirik tajam Dito. “Perempuan yang lu puji itu punya gue, Dit!”
Mendengar perkataan Ricko yang tidak santai, spontan senyum tadi lenyap. Dito menoleh ke arah sahabatnya. Benar saja, matanya memancarkan kilat cemburu. “Woles, Bro. Enggak usah nge-gas. Gue gak bakal rebut. Walaupun gue sanggup.”
“Percaya diri banget lu, Dit, sanggup merebut Arinda dari gue?!”
“Lu berdua bisa gak ributnya tahu diri dan tempat! Fokus ke adik gue dong!” sewot Zacky.
Ricko dan Dito terdiam.
“Adik? Apa maksudnya?” tanya Dini bingung. Pasalnya, yang ia tahu Arinda adalah anak tunggal.
“Entah, bagaimana caranya memberi tahu Arinda dengan kondisinya yang seperti sekarang ini?” Zacky kebingungan.
Dini mengembuskan napas lega. “Ini berita baik. Saya lega ternyata Arinda masih memiliki keluarga. Kita akan memberi tahu jika ia sudah lebih tenang. Kalau sekarang memang agak sulit. Mengingat peristiwa penembakan terjadi di depan mata. Anak itu sepertinya masih syok.”
“Ya. Tolong beri tahu kita jika Arinda sudah bisa di ajak berbicara baik-baik,” pinta Zacky.
“Tentu.”
🌺🌺🌺
“Zack, kenapa lu gak bawa Arinda ke psikolog?” tanya Dito.
Saat ini, mereka bertiga berada di Apartemen Ricko.
__ADS_1
Zacky mengembuskan napas lelah. “Seandainya semudah itu, Dit.”
“Tunggu! Gue berbicara apa pun tadi Arinda diem aja. Pas menyinggung tentang pernikahan baru bereaksi.” Ricko menatap Zacky dan Dito. “Apa ada yang mengganggu pikirannya perihal tersebut?”
Baik Dito mau pun Zacky tak tahu harus menjawab apa. Karena, memang tidak mengetahui secara pasti isi kepala Arinda. Jadi, mereka memilih diam dan hanya saling melempar pandangan.
🌺🌺🌺
Usai Dito dan Zacky pulang, Ricko memilih masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan diri di atas kasur berukuran king size. Meletakkan kedua tangan di bawah kepala sebagai bantalan. Netra pekat menatap langit-langit kamar.
Sebuah pesan di aplikasi hijau berbunyi. Mengalihkan perhatian ke arah benda pipih itu.
Ricko mengernyit melihat isi pesan tersebut. Sebuah tiket penerbangan ke Bali untuk besok pagi jam tujuh dan vila pribadi.
Penasaran. Tombol dial langsung dipencet.
“Halo, Kak Shavic! Apa maksud tiket dan vila ini?”
🌺🌺🌺
Bandara Soekarno-Hatta
Berjalan gontai menuju kursi pesawat. Duduk tepat di samping jendela. Menatap keluar dengan serius. Sampai tak menyadari seseorang sudah mendudukkan diri di sebelah dengan senyum sumringah.
“Selamat tinggal Jakarta.”
“Sampai bertemu di Bali. Salah satu pilihan yang tepat untuk honeymoon. Bukan begitu, Calon Pengantinku?”
Arinda mengerjap mendengar suara seseorang yang tak asing di sampingnya. Menoleh perlahan dengan jantung berpacu cukup cepat. Mimik terkejut dengan mata melotot dan mulut membulat terpatri.
“RICKO!”
Senyum mengembang di bibir Ricko. “Calon pengantin priamu hampir tertinggal, Nona.”
__ADS_1