
Episode ini berhubungan sama episode ke-3 (Night Club)
Suasana pagi ini di sekolah, entah kenapa begitu riuh? Berdesak-desakan di depan mading dan saling berteriak kaget.
Pagi-pagi sudah bising! Arinda berseru dalam hati tanpa berniat ingin mencari tahu apa penyebabnya.
Ia heran dengan orang-orang yang senang bergosip. Gadis itu sekarang merasa bersyukur tidak memiliki satu orang pun teman perempuan. Setidaknya, di kupingnya tak ada yang berisik perihal sesuatu yang tak penting.
Arinda berlalu begitu saja, melewati mereka menuju perpustakaan. Masih ada waktu lima belas menit, gumamnya.
Gadis itu mengambil sebuah buku dari rak kemudian mencari tempat duduk. Tapi, belum juga ia mendudukkan diri, teman satu kelasnya dengan tergesa-gesa datang menghampiri.
“Rin, gawat!” seru Nia.
Arinda mengernyit dan hanya menjawab dalam hati. Apa, sih! Gawat apanya?
“Ricko, Rin!”
Ricko?
“Foto mesra pacar lu sama Siska ditempel di Mading. Sekarang, Ricko lagi di kelas marah-marah.”
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Arinda. Mendengar kalimat terakhir, membuatnya bergegas berlari menuju kelas. Ia meninggalkan begitu saja Nia di Perpustakaan.
Bodoh! Karena panik gue sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada Nia. Tapi, tunggu! Foto mesra apa maksudnya? Sejak kapan Ricko dekat sama Siska? Dasar ular! Pagi-pagi kau sudah membuat ulah. Benar-benar menjengkelkan! batin Arinda.
❄️❄️❄️
Wajah Ricko terlihat tak bersahabat. Beserta kedua sahabatnya, mereka berjalan cepat menuju kelas Siska. Pria yang sedang menampilkan raut marah itu mendorong pintu dengan kasar. Sehingga, menimbulkan bunyi yang cukup keras! Spontan ulahnya membuat seluruh orang yang berada di dalam kaget.
Ricko menggebrak meja tepat di depan Siska. Laki-laki itu melemparkan sebuah foto yang sudah dicopotnya di Mading.
“MAKSUD LU APA!”
Tanpa rasa bersalah, Siska berdiri berhadapan-hadapan dengan Ricko.
“Ada apa ini, Rick?” tanya Siska pura-pura tidak tahu dan mengambil foto yang dilemparkan tadi.
“Enggak usah pura-pura! Elu ‘kan yang nempel itu di Mading.”
Siska menutup wajahnya kemudian berseru. “Aduh, gue malu! Kita ketahuan mesra kayak begini! Siapa, sih, yang menyebarkan ini?”
Mendengar jawaban Siska membuat Ricko semakin naik pitam. Rasanya ingin menghajar wanita licik itu. Untung perempuan! Coba bayangkan kalau yang melakukan adalah laki-laki, sudah bisa dipastikan akan berakhir di Rumah Sakit.
“Lu ...!" Ricko menunjuk Siska dengan tatapan tajam.
“Ada apa, ini?” suara teriakan berbarengan Jessica dan Lusi menggema di Kelas.
Sama seperti Siska, mereka pura-pura tidak tahu. Jessica pun menghampiri sahabatnya dan mengambil foto tersebut.
“SISKA! JADI, LU SAMA RICKO PACARAN!” teriak Jessica sengaja agar semua mendengar.
Siska tentu saja senang dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Ketiga orang itu tengah menjalani lakon. Mereka merencanakan ini sudah dari jauh-jauh hari, untuk menjauhkan Arinda dari Ricko.
“Jangan mengada-ada lu, Jess!” bela Dito.
Zacky mengangguk setuju.
Flashback on
Sementara seorang wanita berpakaian seksi menampilkan senyum smirk. “Ini waktunya!"
“Ricko!"
Ricko menoleh. “Siska!"
__ADS_1
Siska memeluk Ricko dari belakang. Spontan laki-laki itu terkejut. Kemudian, langsung melepaskan tangan tersebut dari perutnya secara kasar.
“Apa-apaan lu?"
“Gue kangen sama lu, Rick!”
Ricko menaikkan satu alisnya. “Aneh! Pergi!”
Ricko tidak menyadari jika satu jepretan dari kamera ponsel diam-diam telah berhasil memotret momen tersebut.
“Ada apa, nih?” tanya Zacky.
Dito dan Zacky datang menghampiri. Usai dari toilet, mereka melihat dari kejauhan Ricko tengah berbicara dengan seorang wanita dan bergegas mendekati.
“Siska!” seru Dito dan Zacky berbarengan saat tahu siapa wanita yang tengah bersama dengan Ricko.
“Mau apa lu disini?” Zacky menatap Siska curiga.
“Lu pada lupa, ini tempat umum. Lagi pula, gue cuma menyapa Ricko. Bye!”
Siska segera berlalu pergi dengan senyum kemenangan karena misinya berhasil.
“Rick, curiga gue sama dia.”
“Tu cewek tadi sempet meluk gue dari belakang. Orang aneh!”
“Serius?” tanya Zacky.
Ricko mengangguk kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. “Udah tengah malem, gue balik duluan.”
“Kita juga mau balik, bareng aja.”
Flashback off
“Foto ini mengatakan semuanya!” Lusi mengompori.
Ricko lebih memilih menggebrak meja kembali untuk melampiaskan emosinya!
Arinda yang hampir sampai pun kaget mendengar bunyi cukup keras dari arah kelasnya. Ia berlari semakin cepat.
Sial! Kelas terasa jauh, gerutu Arinda dalam hati.
“RICKO!” Begitu sampai, Arinda langsung berteriak menyebut nama sang kekasih.
Peluh keringat keluar dari dahi dengan napas masih tersengal-sengal. Kelas yang berada di lantai dua paling ujung, membuatnya kelelahan berlari.
Semua menatap kedatangan Arinda. Tapi, yang tidak terlibat, tak berani ikut campur. Seperti biasa, mereka hanya menjadi penonton saja.
Ricko menghampiri Arinda. “Sayang ....”
Arinda mengabaikan dan melewati Ricko begitu saja. Kemudian, mengambil foto dari tangan Jessica. Gadis itu mengamatinya. Sebuah foto yang menjadi penyebab utama kegaduhan.
Dalam foto tersebut, Siska tengah memeluk Ricko dari belakang. Arinda menatap saksama dan berani menyimpulkan jika itu berlokasi di sebuah Club. Karena melihat ada begitu banyak botol minuman dan seorang bartender di depan sang kekasih.
Mata indah Arinda melirik tajam. Ia tersenyum tipis sekali hingga nyaris tak terlihat oleh orang lain. Gadis itu cukup mengerti sekarang kalau perempuan licik ini ingin menjebak Ricko.
Tatapan dingin Arinda berikan untuk Siska dan kekasihnya secara bergantian.
“Sayang, aku berani sumpah kalau gak ada apa-apa di sana. Kita gak berbuat aneh-aneh. Zacky dan Dito saksinya.” Ricko langsung menarik kedua sahabatnya agar mengiakan ucapannya.
Mereka berdua dengan kompak mengangguk.
Ricko sudah cukup takut melihat tatapan yang diberikan sang kekasih. Begitu menusuk!
“Di foto ini siapa? Kamu?” tanya Arinda. Ia hanya mau memastikan saja.
__ADS_1
“Iya. Tapi ....”
“Kamu suka sama Siska?” tanya Arinda lagi.
Gadis itu sengaja melakukannya. Agar Siska mendengar langsung dari mulut Ricko dan menjadi tahu diri.
“Enggak, Sayang. Aku cuma cinta sama kamu.”
Ricko meraih tangan Arinda dan mengecupnya beberapa kali. Membuat semua orang yang berada di kelas terkejut.
Kurang ajar! Bukan adegan kayak gini yang gue harapkan, batin Siska.
Arinda melepaskan tangan Ricko dan berjalan mendekati Siska.
“Lain kali, kalau mau menjebak cowok jangan pakai trik murahan. Udah jelas di foto itu siapa meluk siapa? Bukan berpelukan!” seru Arinda mulai muak dengan sandiwara yang mereka buat. "gue juga yakin, gambar ini dipotret sama dua konco lu itu, 'kan?" Tunjuknya kepada Jessica dan Lusi yang berdiri di samping Siska.
Arinda begitu kesal oleh kelakuan grup tante menor itu. Sudah berlari kencang, tahu-tahunya hanya foto semacam ini yang diterima.
Eh, tunggu! Bukan berarti gue ingin Ricko dan Siska benar-benar berpelukan mesra, ya. Duh, awas saja kamu kalo berani melakukan itu! batin Arinda.
Ricko tertegun, ia tak menyangka jika kekasihnya tahu jebakan Siska. Pria itu pikir, Arinda akan marah dengannya, tetapi nyatanya tidak. Laki-laki itu mulai bisa bernapas lega. Pacar gue bukan hanya cantik, tetapi juga pintar, gumamnya.
“Maksud lu apa? Gue beneran berpelukan sama Ricko!” Siska tak mau kalah.
“Gue kasih tahu, ya, kalau berpelukan itu seperti apa?”
Arinda berjalan mendekati Ricko. Tanpa aba-aba memeluknya dari depan. Kemudian, memberikan sebuah kecupan di bibir seksi sang kekasih.
Duh, pagi-pagi udah sarapan bibir aja gue. Murahan banget lu, Arinda. Tapi, bodo amat, dah, terlanjur basah, nyebur sekalian. Arinda membatin.
“I love you, Sayang,” ucap Arinda seraya tersenyum dan melepaskan pelukan.
Akan tetapi Ricko dengan cepat meraih pinggang ramping Arinda. kemudian, ikut memberi kecupan di bibir merah muda milik sang kekasih.
“I love you too.”
Arinda tersentak kaget dan cepat-cepat melepaskan diri dari Ricko. Gadis itu berdebar-debar.
Ini jantung bisa diem gak, sih! batin Arinda.
Siska justru tengah kesal dengan kelakuan dua sejoli tersebut. Karena, seenaknya memamerkan kemesraan di depan semua orang yang berada di Kelas. Wanita itu terbakar api cemburu. Harapan mereka bertengkar tinggal angan saja.
Sementara, kedua sahabat Ricko malahan tak terkejut. Mereka pernah melihat secara live adegan yang lebih hot dari itu.
Satu kelas ikut terbengang dengan adegan yang baru saja mereka lihat. Ada pula yang menyesal karena tidak merekam.
“Udah paham!” Arinda menatap Siska kemudian menarik tangan Ricko, “Ayo, Sayang!”
Entah mau di bawa ke mana Ricko oleh Arinda, padahal bel sudah berbunyi.
“Sayang, kita mau ke mana? Bel udah bunyi.”
Ke mana aja asal jangan di kelas! Aku udah gak punya muka. Malu sama teman sekelas cium bibir kamu. Mana pake acara dibales lagi. Kesal tapi senang! Senang tapi kesal! Arinda membatin.
Bunyi gebrakan meja serta tatapan sinis di berikan Siska kepada sepasang kekasih yang baru saja berlalu pergi. Amarah sudah membuncah! Tapi, apa daya, dari segi mana pun, ia sudah kalah.
“SIAL! Kenapa Arinda selalu beruntung? Dasar perempuan murahan! Lihat aja apa yang bakal gue perbuat sama lu nanti!”
“Sis, kayaknya susah untuk mengancam Arinda. Cewek matre kayak gitu, gak peduli Ricko mau selingkuh atau enggak! Buat dia yang penting 'kan dapat uang banyak.”
“Benar tu kata Lusi.”
“Jadi, lu berdua udah menyerah?”
“Bukan begitu, kita harus pakai taktik lain supaya mereka pisah. Nanti kita pikirkan bareng-bareng. Gue juga benci sama tu cewek. Selalu aja dapat cowok ganteng dan tajir. Padahal, kita jauh lebih cantik!”
__ADS_1
Siska menyeringai. “Oke!”