ARINDA

ARINDA
Hal. 09.


__ADS_3

***


Niko menerjapkan matanya beberapa kali, mendengar jawaban dari perempuan yang berdiri di depannya itu. "Kamu beneran Rin?" Tanyanya.


Arin tersenyum, "Iya, Kak."


"Berarti, kamu mau jadi pacarku?"


"Mau Kak."


"Yes!" Teriak Niko lalu memeluk Arin saking senangnya.


Teriakan Niko itu di dengar oleh anggota basket di lapangan. Ilham, yang sedang berada disana, membelalakkan matanya, melihat perempuan yang disukainya itu dipeluk laki-laki lain. Termasuk Danis, yang berekspresi sama dengan Ilham. Entah apa arti ekspresi dari laki-laki itu.


Niko melepas pelukannya, dia mencubit kedua pipi Arin gemas. "Pacarku," Katanya. "Sekarang, ikut aku yuk." Niko menariknya pelan meninggalkan area tersebut.


"Kemana, Kak?" Tanya Arin yang mengikuti langkah sang kekasih.


"Ke kelasku," Kata Niko yang sekarang menggandeng tangan kiri Arin. "Mau aku kenalin sama sahabatku."


Setibanya mereka di kelas Niko, dia menghampiri seorang perempuan yang sedang asik mengobrol dengan teman-temannya di bangku belakang.


"Nes," Panggil Niko.


Perempuan yang dipanggil Niko itu menoleh, "Apaan?" Tanya.


Niko merangkul Arin dengan bangganya. "Kenalin, pacarku."


"Widiiihh, akhirnya kamu ngomong juga sama dia Nik," Jawab Nesa.


Hanya Nesa yang berekspresi senang mendengar perkataan Niko, teman-temannya tidak. Mereka tidak bereaksi apa-apa, hanya melirik sekilas pada Arin dan melanjutkan obrolan mereka. Nesa berdiri, mengulurkan tangannya pada Arin.


"Aku Nesa, sahabatnya si tengil ini."


Arin menjabat uluran tangan Nesa, "Arin, Kak."


"Pacarnya Niko," Sambar Niko.


"Iye, udah gak usah ngomong dua kali. Salam kenal ya Rin. Yang betah sama dia, soalnya cerewet nih bocah." Nesa menonyor pelan kepala Niko.


"Sialan! Yaudah, aku mau pacaran dulu sama yayang. Bye." Niko menarik Arin keluar dari kelasnya.


Kali ini, Niko membawa Arin ke kantin. Niko menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu, sedangkan dia memesan minuman untuk mereka berdua. Beberapa menit Niko meninggalkan pacarnya, dia kembali dengan dua gelas jus alpukat di tangannya. Laki-laki itu meletakkan satu gelas di depan Arin.


"Makasih Kak."


"Kok masih manggil 'Kak'?"


"Terus?"


"Panggil sayang dong." Niko mencubit pelan pipi kanan Arin.


"Dari tadi nyubit pipi mulu," Ujar Arin.

__ADS_1


"Abisnya, pipimu itu gembul banget. Gemes aku yang."


Arin hanya menimpali dengan senyum simpulnya. Sedangkan Niko mulai menikmati jus alpukatnya. Sama halnya dengan Arin, yang juga menikmati minumannya.


Ting~


Satu pesan masuk ke handphone Arin. Diapun segera membuka isi dari pesan tersebut.


081358XXXXXX


Arin,,,


Arin tidak tau siapa pemilik nomor ini, dia juga tidak berniat membalas pesan tersebut. Itu kebiasaannya yang tidak pernah membalas pesan dari nomor yang tidak dikenal.


*


Selama memasuki awal semester baru, kelas Arin berpindah di deretan kelas XII Teknik Komputer dan kelas XI Pariwisata, kemarin. Hanya dua kelas X yang berpindah ke area sana. Kelas Arin dan Akuntasi-2. Karena, tahun ajaran kali ini SMK Bhakti menambah satu program jurusan, yaitu broadcasting, jadi selama masa pembangunan kelas baru, beberapa murid di kelas X harus bergantian menempati kelas.


Ini amat sangat tidak nyaman, karena kelasnya jauh dari lapangan basket. Ia tidak bisa lagi mencuri pandang pada laki-laki pujaan hatinya saat bermain basket di jam istirahat. Tapi sisi baiknya, dengan jarak seperti ini mungkin Arin bisa sedikit melupakan urusan hatinya pada Danis, dan fokus pada Niko, pacar pertamanya.


Memang, setiap kali ada hati yang hancur, selalu ada jalan lain untuk memulai melangkah dijalan baru. Menerima Niko sebagai kekasihnya mungkin hal yang tepat saat ini. Arin memang sedih karena tau laki-laki yang di sukainya sejak lama telah menerima perempuan lain sebagai kekasihnya. Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk tidak berlarut dalam kesedihan. Dia memilih untuk menuntun Niko masuk ke hatinya secara perlahan.


"Rin, dicariin noh sama ayang mbeb," Tunjuk Risa ke arah pintu, yang baru saja kembali dari kamar mandi.


Arin mengikuti arah yang di tunjuk Risa. Tepat di ambang pintu kelas, Niko bersandar sambil memasukkan tangan kirinya ke celana pramukanya. Tangan kanannya melambai, menyuruh Arin untuk menghampiri dirinya.


"Asik bener yang udah gak jomblo," Sindir Kiki.


"Gak kekantin Yang?" Niko.


"Enggak, udah makan. Tadi dibawain bekal sama Ibuk."


"Widih, siapa nih Nik?" Tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Arin.


"Adekku," Jawab Niko.


Jawaban Niko membuat Arin terkejut Tapi detik berikutnya, Niko menggenggam tangan kirinya. "Becanda. Ini pacarku Yan."


"Gercep banget kamu kalo masalah cewek," Sindir teman Niko benama Yayan itu.


"Ya iyalah, kalo gak gercep entar diambil sama lo!" Ketus Niko.


"Yang onoh tuh gimane?" Tanya Yayan.


"Yang onoh mana?" Tanya balik Niko.


"Anak Administrasi tuh, yang pendek, dadanya gede," Jelas Yayan.


"Dia udah punya pacar kok," Jawab Niko.


"Masa? Kemarin diruang Osis kamu bareng terus sama dia," Sindirnya lagi.


Arin hanya diam, mendengarkan percakapan mereka. Entah si Yayan ini sengaja mengujinya atau memang dia ingin memperjelas soal perempuan yang disebut Yayan tadi.

__ADS_1


Niko berdecak, tangan Arin juga masih saja di genggamnya. "Jangan ngomong sembarangan kamu Yan. Kalo gak percaya Tanya aja sama Deni. Adek kelas yang kemarin daftar Osis." Niko melepas genggamannya, mengusap pelan rambut Arin. "Jangan percaya omongan dia Yang, bacotnya gak bermutu."


Arin hanya tersenyum sambil mengangguk. Memang teman Niko ini terlihat seperti biang gossip. Bibirnya yang tebal, gaya bicaranya, sudah sangat kelihatan sekali. Dan lagi, prinsip Arin, kalau dia tidak menyaksikan sendiri suatu perkara yang di dengarnya, perempuan itu tidak akan menganggapnya benar.


"Iya, Dek. Aku bercanda kok hehe. Moga langgeng yes sama Niko," Ucap Yayan.


Tangan Niko mengibas pada Yayan, mengusir. "Dasar lambe turah. Pergi sono! Ganggu orang pacaran aja."


"Galak bener, iye aku pergi. Jangan lupa nanti kumpul Osis," Jawab Yayan, yang langsung pergi meninggalkan sepasang kekasih tersebut.


Selama mereka berdua mengobrol, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Termasuk beberapa siswi dari kelas kelas Ezra, yang tepat berada di samping kelasnya. Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba seorang perempuan berpostur tinggi, dengan rambut lurus sebahu, menghampiri Arin dan Niko.


"Kamu Arin ya?" Tanya sambil menyilangkan kedua tangan.


"Iya, Mbak."


"Nanti pulang sekolah, bisa kekelasku sebentar?" Tanyanya.


"Emang ada apa ya, Mbak?" Tanya Arin, karena dia merasa tidak ada urusan dengan perempuan yang tak di kenalnya itu.


"Ada yang mau aku omongin, bentar aja kok Dek."


Arin menganguk, "Oh ya udah Kak."


Perempuan itu mengacungkan jempol kanannya lalu pergi meninggalkan Arin dan Niko.


"Kamu ada kenal sama cewek tadi?" Tanya Niko.


"Enggak, Kak."


Niko berdecak, Arinpun menyadari. Laki-laki itu terlihat kesal karena sesuatu.


"Kak Niko kenapa?"


"Aku marah sama kamu." Niko membuang pandangannya dari Arin.


"Marah? Emang aku salah apa?"


"Kamu masih aja manggil aku 'Kak'."


Arin terkekeh, dia melihat ekspresi Niko persis Arka saat meminta mainan pada Ibunya.


"Malah ketawa, aku ini lagi marah ya sama kamu," Ketus Niko.


"Ya udah, Maaf yang." Ucap Arin.


Kali ini Niko menghela nafas dalam-dalam.


"Kenapa lagi?" Tanya Arin.


Niko menatap Arin yang sekarang masih terkekeh. "Kamu imut banget tau gak sih."


***

__ADS_1


__ADS_2