
Pukul lima pagi Arinda terbangun. Badannya terasa pegal karena tidur hanya beralaskan permadani. Ia memaksa Erwin memakai kasurnya. Gadis itu mana tega membiarkan sang papa tidur di bawah.
Namun, rasa pegal pun harga tak seberapa yang harus dibayarnya. Karena, Arinda bahagia bisa bersama dan akur dengan Erwin. Sang papa kini adalah prioritas dan segalanya.
Arinda mengambil ponsel dan menyalakannya. Sejak malam pertemuannya dengan Erwin sampai pagi ini ia belum menengok benda pipih tersebut.
Notifikasi pesan dan missed call muncul banyak sekali. Semuanya dari satu orang yang sama.
“Mati gue. Ricko.” Mata Arinda melotot. Namun, ia memelankan suaranya karena Erwin masih tertidur.
Gadis itu beranjak bangun dan masuk ke kamar mandi. Kemudian, menelepon Ricko.
“Halo, Rick.”
“Halo, Sayang,” suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar dari seberang sana.
Arinda justru mengernyit. Ia melihat kembali nama orang yang ditelepon pada layar. Terpampang emoji hati berwarna merah di sana.
Benar, kok. Ini nomor Ricko. Tapi, kok, manggil sayang. Aneh banget. Tu cowok masih mimpikah? Arinda bergumam seraya masih menatap layar ponsel. Kemudian, menaruh benda pipih itu lagi di telinga.
“Halo, ini Ricko, 'kan?”
“Iya, Sayang.”
Arinda menjauhkan ponselnya. Kembali ia menatap layar. Tu kan, itu, sih, bukan Ricko. Memang dari suaranya juga beda. Kesayangan gue kan biasanya suaranya serak-serak seksi. Kalo tadi, serak juga, sih. Tapi, serak-serak minta kawin. Duh, serem banget, sih. Enggak terjamah seharian kemarin aja, handphone gue langsung kerasukan jin, batinnya dan ia merinding.
Arinda mematikan telepon dan menaruhnya di atas lemari kecil yang menempel di tembok. Ia memutuskan untuk mandi saja.
Sementara di seberang sana sudah mengomel pria tampan dengan muka bantalnya ke arah layar ponsel. Pasalnya, secara sepihak telepon dimatikan.
🌺🌺🌺
“Pa, aku berangkat kerja dulu. Ini sarapan, buah-buahan, dan obat Papa.” Arinda menaruhnya di atas nakas. “Nanti aku kirimkan makan siang lewat ojek online. Di kulkas juga ada kue. Papa makan saja.”
“Terima kasih, Nak. Papa merepotkanmu.”
“Tidak ada orangtua yang merepotkan anaknya, Pa. Mulai sekarang biarkan aku mengurus Papa dengan baik dan benar.”
Erwin tersenyum. Hatinya tersentuh oleh kata-kata Arinda. “Papa beruntung memiliki putri sepertimu.”
“Tentu. Aku memang anak yang sempurna.”
“Kamu benar.”
Mereka berdua tertawa.
“Baiklah. Aku berangkat, Pa. Kalau Papa bosan jalan-jalan saja di sekitar sini. Tapi, jangan jauh-jauh. Takut tersasar, aku susah mencari nanti.”
Erwin tersenyum dan mengangguk.
Arinda mencium tangan dan pipi Erwin kemudian melangkah keluar. Pria paruh baya itu menatap kepergian sang putri dengan senyum terpatri.
Gadis itu melangkah menuju lift. Namun, baru saja sampai, Arinda terkejut. Pasalnya, ia melihat sesosok pria tampan tengah bersandar pada dinding.
Mata mereka bertemu.
Oh, tidak! Sepertinya Ricko sedang dalam mode tidak santai. Duh, bagaimana ini? Alamat pagi-pagi dapet sarapan tambahan berupa omelan. Arinda membatin.
Pintu lift berdenting kemudian terbuka. Ricko langsung masuk ke dalam dengan Arinda mengekor.
Gadis itu berada tepat di depan Ricko. Ia tidak berani menoleh ataupun menyejajarkan diri di samping sang pujaan.
Pintu lift kembali berdenting kemudian terbuka. Ricko melangkah keluar lebih dulu dan menarik tangan Arinda agar mengikutinya. Pria itu tak menoleh sedikit pun. Mood-nya masih jengkel akibat telepon tadi pagi.
Ricko membuka pintu mobil dan menyuruh Arinda masuk lewat ekor matanya. Gadis itu menurut dan mendudukkan diri di samping kursi kemudi.
Ricko masuk ke dalam mobil. Terdengar helaan napas sebelum ia memutuskan untuk mulai berbicara.
“Kenapa tadi pagi kamu menelepon? Tapi, kamu juga yang mematikan?"
Bibir Arinda membulat. “O, telepon itu benar dari kamu?”
Ricko menoleh seraya menaikkan alisnya. “Memang kamu pikir siapa?”
“Jin.”
Ricko menganga. “Sayang ....”
“Kamu jin juga, ya? Ih, aku mau turun.” Arinda ingin segera keluar, tetapi dengan cepat Ricko langsung mengunci mobil.
__ADS_1
Ricko memegang lengan Arinda. “Jin apa? Siapa?”
“Kamu.”
“Sayang, aku bukan jin.”
“Tu kamu panggil aku 'sayang'. Kan udah lama gak pernah menyebutku begitu. Mana suara kamu ... duh, gimana, ya? Begitu, deh.”
Ricko tertawa. “Memang ada yang salah kalau aku panggil calon istri dengan kata 'sayang'. Terus kenapa suara aku?”
“Suara kamu lembut banget. Terus calon istri? Apa, sih, Rick?”
Memang, alih-alih ingin marah. Justru sedari tadi suara yang keluar malah lembut. Bahkan, semakin lama semakin melembutkan.
“Kemarin aku sudah bilang akan menjadikan kamu istri. Aku juga sudah menyatakan perasaan, 'kan?”
“Oh, itu serius. Aku kira prank.”
“Sayang ....”
“Tidak perlu memanggilku 'sayang’.”
“Kenapa?”
“Nanti tidak jadi.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Dulu kita saling memanggil ‘sayang’, tetapi akhirnya terpisah lama sekali. Terus kita bertemu lagi dan aku memanggilmu begitu. Lalu, jadian hanya sebentar kemudian putus. Kamu mengerti maksudku, 'kan?”
Ricko mengangguk. “Kamu memercayai hal seperti itu?”
“Entah. Hanya saja sekarang jika kita belum benar-benar menikah, lebih baik tidak memiliki dulu panggilan khusus.”
Ricko mengangguk. “Untuk alasan ini aku baru setuju. Tidak untuk mitos yang kamu bilang sebelumnya itu.”
“Kamu tu kadang menyenangkan, tetapi kadang menjengkelkan.”
“Tapi, kamu cinta.”
“Sok tahu.”
“Aku suka memakan marshmallow untuk mengembalikan mood booster. Mungkin nanti mau coba?”
“Bibir kamu layaknya marshmallow. Lembut, kenyal, dan manis. Malah lebih nikmat. Mau memberi?”
“Tidak. Dasar perayu ulung.”
Ricko tertawa. “Kenapa tidak merayu balik?”
“Tidak mau.”
🌺🌺🌺
“Kantor imigrasi? Kita mau ap ... loh, kok, aku ditinggal.”
Ricko turun lebih dulu dan berjalan memutar. Ia membuka pintu mobil untuk Arinda. “Ayo, Nona.”
Arinda tersenyum. “Kirain kamu ninggalin aku.”
Ricko mengacak rambut Arinda. “Tidak akan pernah. Ayo!” Ia menarik tangan sang pujaan.
“Rick, kita mau apa kesini?”
“Bikin paspor buat kamu. Kita kan mau ke Belanda.”
“Jadi, kamu serius mau ngajak aku bertemu Pak Roni?”
Ricko berdecak kesal. “O-pa. Panggil Opa saja. Toh, akan menjadi keluargamu juga.”
“Iya, kalau Pak Roni senang aku panggil begitu. Kalau enggak kan yang malu aku, Rick.”
“Opa pasti menerima.”
“Aku tetap mau panggil 'Pak Roni' titik.”
“Ya, sudah. Terserah sajalah.”
“Rick, tunggu.” Arinda menarik tangan Ricko.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Aku kan tidak bawa surat lengkap.”
“Sudah aku bawa.” Ricko mengangkat map dari tangannya.
Hah! Kapan itu map ada di tangan Ricko. Kok, gue gak lihat, ya? Arinda membatin bingung.
“Rick, kamu dapat dari mana surat-surat itu?”
“Rahasia.”
“Ricko, ih!”
Ricko mendapatkan surat-surat tersebut dari dalam lemari kecil di samping kasur milik Arinda. Pria itu menemukannya saat hari Minggu kemarin menunggu sang pujaan pulang.
Itu pun tanpa sengaja. Saat bosan di atas kasur dan menarik maju-mundur lemari tersebut. Lalu, terlihatlah surat-surat itu. Kemudian, Ricko menelepon sopirnya untuk memfotokopi.
🌺🌺🌺
Kembali ke kantor setelah jam makan siang. Arinda dan Ricko berkutat lagi dengan pekerjaan.
Arinda pun di dalam ruangan Ricko duduk di sofa. Gadis itu disuruh sang atasan mengecek berkas-berkas.
“Rin, kalau sudah selesai, tolong aku cek email masuk.”
Tak ada sahutan.
“Rin, kamu dengar, 'kan?”
Hening!
Ricko menoleh ke arah di mana Arinda berada. “Arinda, kamu tidur.” Ia beranjak bangun dan menggelengkan kepala. “Bisa-bisanya tertidur di tengah pekerjaan. Kalau sudah menjadi istriku, kamu di rumah saja. Daripada lelah bekerja seperti ini.”
Ricko membenarkan posisi Arinda yang tadi tidur menelungkup di atas tumpukan berkas. Menaruh tubuh molek itu di atas sofa. Pria itu membuka jasnya dan menyelimuti kaki polos sang pujaan.
Beberapa hari terakhir, Arinda cukup kelelahan. Di tambah juga sedari kemarin tidur tidak berada di tempat dan posisi yang nyaman. Badan gadis itu masih terasa kaku dan pegal.
Suara telepon berdering. Ricko cepat-cepat mengangkat ponselnya agar tidak mengusik tidur Arinda.
“Halo.”
“Halo, Bos. Kami sudah menemukan keberadaan Erwin, orangtua angkat Nona.”
“Di mana dia?”
“Di apartemen Nona sendiri.”
“Apa?”
“Iya, Bos. Jika Anda mengizinkan kami akan bertamu. Lalu, menanyakan siapa orangtua kandung Nona kepada Erwin.”
“Ah, itu ... tidak perlu. Cari di mana pun keberadaan orangtua kandung Nona tanpa melibatkan Erwin.”
“Baik, Bos.”
Telepon tertutup. Ricko menatap Arinda lekat.
Ricko POV
Apa maksudnya ini? Kenapa kamu menyembunyikan keberadaan Erwin dariku?
Apakah kamu sudah tahu kalau Erwin bukan orangtua kandung? Tapi, tidak. Jika sudah mengetahui wajahmu pasti akan terlihat sedih.
Rin, apa yang kamu pikirkan tentangku? Kenapa masih saja harus ada rahasia di antara kita?
Kita saling mencintai, tetapi aku merasa kamu menjaga jarak. Tapi, kenapa? Apa alasannya?
Hati ini sakit, Rin. Kamu mencintaiku. Tapi, tidak memiliki kepercayaan kepadaku.
Aku benar-benar mulai frustrasi dengan hubungan kita. Jangan buat aku putus asa, Rin. Aku sedang memperjuangkanmu.
Aku cinta kamu.
Aku mau menikahimu.
Aku berjanji akan membahagiakanmu.
Semoga kamu tidak pernah berpikir untuk meninggalkanku. Karena, aku gak sanggup hidup tanpa kamu, Arinda Nabila.
__ADS_1