
Salah satu gedung hotel di Jakarta tampak ramai oleh para mahasiswa berbaju toga. Mereka datang bersama sanak keluarga. Wajah sumringah kentara terlihat. Senyum terus mengembang di bibir semuanya.
Akan tetapi, berbeda dengan seorang gadis cantik di sudut sana. Ia memakai kebaya dengan baju toga membalut.
Seketika rasa percaya dirinya berlari entah ke mana?! Karena, hanya dia seorang tanpa ada yang mendampingi.
Padahal, kemarin ia meyakinkan diri tak akan bersedih saat wisuda hanya perkara datang sendirian. Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Ternyata datang seorang diri sangat menyakitkan.
Arinda mundur perlahan, ia memilih menunggu di tempat lain sampai acara di mulai. Gadis itu duduk di Lobi Hotel. Masih ada waktu satu jam untuk mengistirahatkan hati dan pikiran agar tenang.
Selang beberapa menit kemudian ada suara berteriak memanggil. Gadis itu menoleh. Ia mendapati dari kejauhan seorang pria berpakaian rapi. Laki-laki itu memakai jas senada dengan warna celana. Akan tetapi, Arinda berfokus pada jas putih yang ditenteng.
“Arinda!”
Begitu mendekat, pria itu mengembangkan senyum. Kemudian, mendudukkan diri di samping Arinda.
“Zacky! Lu ....”
“Gue ganteng. Lu mau bilang itu, 'kan?”
Arinda tersenyum simpul seraya menunjuk jas di tangan Zacky. “Ini ....”
“Ini jas dokter.”
“Hah! Sumpah, Zack! Gue gak lagi berhalusinasi, 'kan? Pasti bohong, 'kan? Lu ... dokter?”
Zacky berdecak kesal. “Please, Rin! Gue beneran dokter.”
Arinda sedikit berteriak. “Aaaaa! Gue iri! Kan itu cita-cita gue.”
Zacky tertawa. “Mau gue kasih tahu satu hal lagi biar lu tambah iri?”
“Isshh! Udah lama gak ketemu, kok, ngeselin, sih! Apa?”
“Sebentar lagi gelar dokter spesialis bedah bakal gue sandang.”
Arinda menganga tak percaya. Zacky yang dulu belajar saja malasnya minta ampun. Di ajak ke toko buku pun berdua Dito pada kapok. Lalu, sekarang malah menjadi dokter spesialis bedah.
“Sumpah, ya! Lu hutang cerita sama gue. Ini gak nyogok, 'kan?”
“Enak aja! Murni gue belajar, Rin.”
“Syukur, deh. Terus lu ngapain disini, Zack?”
“Ikut mengisi seminar bareng dokter muda lain. Baru selesai. Niat mau balik, eh, liat bidadari lagi duduk sendirian. Jadi, gue puter langkah, deh.”
“Lu hebat, Zack! Gue ikut bangga.”
“Iya, dong. Lu harus bangga sama gue.”
“Iya.”
“Dan, lu sendiri ngapain disini pake baju toga. Wisuda?”
“Iya.”
“Terus, kok, malah disini?”
“Bawel lu, Zack.”
“Ya, elah, Rin. Gue nanya. Khawatir gue lu ketinggalan.”
Arinda tersenyum. “Masih ada waktu, kok, tenang aja.”
Zacky celangak-celinguk. Kemudian, ia menatap Arinda. “Lu sendirian, 'kan?”
Arinda membisu. Tak menyahut.
Zacky berdiri dan meraih tangan Arinda. “Gue temenin lu wisuda sampe kelar. Ayo!”
Arinda menahan tangan Zacky yang tengah menariknya. “Enggak usah, Zack. Lu pasti punya urusan lain 'kan? Gue sendiri gak papa.”
“Gak papa? Gue tau lu duduk sendirian karena sedih gak ada yang menemani, 'kan? Ngaku sama gue?”
Arinda menunduk. “Iya.”
“Sekarang ada gue. Lu gak usah sedih. Apa lagi minder.” Gue gak suka lihatnya, Rin.
Zacky menarik tangan Arinda menuju ballroom tempat acara wisuda berlangsung.
“Duduk, gih! Sebentar lagi acara mulai.”
Arinda mengangguk. “Makasih, Zack.”
Zacky mengangguk. Memandangi punggung Arinda yang berjalan menuju kursi peserta wisuda. Kemudian, ia mengambil benda pipih di saku dan menelepon.
“Halo, Brother.”
“Hoi, Zack. Napa lu tumben nelpon? Di Indo, nih, ceritanya?”
“Iya. Bawain gue satu boneka gede berwarna putih.”
“Wow! Untuk siapa, nih?”
“Kepo banget! Bawain cepat, kagak pake lama. Gue transfer ke rekening lu, ya.”
“Oke, Bro. Kirim alamat.”
“Oke. Makasih, Brother.”
Telepon terputus.
Zacky mengetikkan alamat pengiriman. “Done!”
Kemudian, ia terlihat lagi menelepon seseorang.
__ADS_1
“Halo, Koh! Ini Zacky.”
“O, iya, Zacky! Lu apa kabal?”
“Baik. Koh, sorry dadakan, nih. Bisa sewa satu fotografer untuk sekarang?”
“Ada acala apa lu tumben?”
“Wisuda temen, Koh.”
“Temen apa demen?”
“Temen, Koh. Bisa gak, nih?”
“Bayalannya dobel lu, ya, dadakan gini.”
“Beres, Koh.”
“Okelah! Kilim alamat lu. Olang gua siap belangkat.”
“Oke! Xie xie, Koh!”
Kembali Zacky mengetikkan alamat dan semua selesai.
Menurut Zacky, bunga dan berfoto. Dua hal yang wajib ada saat wisuda. Apa lagi untuk wanita, Arinda. Namun, pria itu lebih memilih boneka agar tidak terlihat sama seperti yang lain.
Acara wisuda pun di mulai ....
Zacky menepati janjinya untuk tak beranjak ke mana pun. Ia mengikuti acara dengan serius, sesekali menatap punggung Arinda di depan sana.
Zacky pun meminta fotografer yang ia sewa untuk mengabadikan setiap momen.
Beberapa jam kemudian
Acara wisuda akhirnya selesai tanpa kendala. Semua berjalan lancar.
Zacky menghampiri Arinda dan merentangkan kedua tangannya, tetapi ditolak. Sakit, tetapi tidak berdarah. Namun, pria itu tak marah. Justru langsung memberikan boneka yang dipesan tadi.
“Zack, ini boneka buat gue?”
“Iya.”
“Gemesin banget, sih!”
“Pastinya.” Sama kayak lu, Rin. Menggemaskan!
Arinda tersenyum. “Makasih, Zack.”
Zacky tersenyum mengangguk. “Kita foto, yuk!”
Zacky menarik tangan Arinda.
Arinda tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berfoto sendiri dengan mengenakan baju kebanggaan itu. Selanjutnya, berpose bersama Zacky.
Mereka memperagakan berbagai macam gaya. Mulai dari yang serius, sampai bergaya tengil. Spot tempat keren juga tak luput menjadi incaran agar hasil foto semakin bagus.
Lelah beradu gaya. Keduanya memutuskan untuk menyudahi.
“Bro, makasih, nih. Sorry dadakan.”
“Woles, Bro. Happy terus buat kalian berdua, ya. Langgeng selamanya. Wedding nanti, bolehlah gue di calling lagi.” Sang fotografer pun berlalu tanpa tahu akibat dari omongannya tadi membuat suasana menjadi awkward.
Arinda dan Zacky membisu. Keduanya tak ada yang mulai untuk angkat bicara.
Hening!
Sepuluh menit kemudian
“Rin!”
“Zack!”
Mereka berdua berbarengan bicara kemudian tertawa. Keduanya mencoba mencairkan suasana agar tidak terjadi kekikukan yang berkepanjangan.
“Rencana mau ke mana lagi?”
“Pulang.”
“Makan dulu, yuk! Laper gue.”
“Oke. Piza, ya?”
“Siap. Ini hari, lu bebas, Rin. Pilih apa pun yang lu suka. Gue akan mengabulkanya.”
“Peres lu, Zack.”
“Seriusan.”
“Arinda.”
Zacky dan Arinda menoleh.
“Alfian.”
Alfian menjulurkan tangan ke arah Arinda. Gadis itu menyambutnya.
“Sekali lagi saya ucapkan selamat.”
“Terima kasih, Alfian.”
Alfian mengangguk. “Kalau begitu, saya pamit duluan, ya.” Kemudian, menoleh ke arah Zacky. “Mari, Pak. Saya permisi.”
Zacky mengangguk. Lalu, berdecak kesal. “Dia panggil gue barusan 'Pak'. Rin, sumpah! Muka gue emang tua banget, ya?”
Arinda tertawa. “Iya.” Gadis itu semakin terpingkal-pingkal.
Zacky mencebik. “Resek, lu, Rin. Ganteng gini.”
“Udah buruan, deh. Katanya mau makan?”
__ADS_1
“Iya. Tapi, ketawa lu bisa berhenti, gak. Bikin Keki aja. Siapa, sih, dia?”
“Dosen gue.”
“Hah! Kok lu manggil nama doang.”
“Gue 'kan mahasiswi tua. Jadi, umur gak beda jauh.”
“Oh.”
“Udah cabut, yuk.”
“Kuy!”
🌺🌺🌺
Dari satu loyang piza berukuran besar, setengahnya tandas dimakan sendiri oleh Arinda. Belum lagi satu spaghetti brulee ukuran sedang habis tanpa sisa. Dua gelas lemon tea dan satu botol air mineral pun, turut hadir menyemarakkan perut sang sarjana baru.
“Emang elu doang, Rin, cewek yang kagak jaim. Mesen banyak, abis lagi. Tapi, herannya, citra cantik lu tetap gak luntur. Dua jempol buat Arinda Nabila.”
“Separuh piza elu yang abisin, Zack. Padahal, gue masih mau. Emang dasar ganggu banget gue makan!”
“Astaga! Beneran perut karung, tetapi tetap aja mungil.”
“Mungil dan memesona, Zack.”
“Iya-iya. Terserah.”
“Lagian rugi tau jaim. Laper perut lu kebanyakan gengsi. Apa lagi ditraktir. Gue sayang melewatkannya begitu aja.”
Zacky tertawa. Ia senang bisa bertemu lagi dengan Arinda. Terakhir bertemu saat gadis ini kehilangan Mamanya tercinta.
Keesokan hari, saat bersama Dito ingin menjenguk keadaan Arinda. Wanita di hadapannya ini sudah pergi. Entah ke mana?
Zacky dan Dito sempat mencari keberadaan Arinda. Namun, tak menemukannya di mana pun. Sedih dan khawatir meliputi mereka berdua. Tapi, apa mau dikata. Keberadaan gadis itu tak terlacak.
Padahal, Zacky sudah memberikan kunci rumahnya agar Arinda punya tempat pelarian. Namun, sepertinya gadis itu memiliki pemikiran lain.
Penyesalan sempat menerpa Zacky. Kenapa pada malam itu tidak menemani gadis yang tengah mendapat banyak luka di hatinya? Padahal, ia berjanji akan menjaga Arinda.
Zacky hanya tidak pernah berpikir, Arinda akan secepat itu meninggalkan rumahnya. Karena, duka yang sedang menyelimuti akibat kepergian sang mama.
“Rin, gue gak lama di Indonesia. Besok gue balik ke Jerman. Tapi, beberapa bulan lagi gue lulus.”
“Lu ngambil spesialis di sana?”
“Iya.”
“Safe flight, Zack. Dan, semangat sampe akhir.”
“Thanks.”
“Sudah ada rencana mau praktek di mana?”
“Kebetulan bokap gue punya rumah sakit di Jakarta.”
“Ah, gue gak sangka bisa kenal anak orang kaya.”
“Geli gue sama omongan lu.”
Mereka berdua tertawa.
“Zack, terima kasih untuk hari ini. Kehadiran lu membuat acara wisuda gue menjadi berwarna.”
Zacky tersenyum dan menggenggam tangan Arinda. “Buat lu tersenyum emang udah kewajiban gue.”
“Sweet banget, sih! Pantes persahabatan lu bertiga langgeng.”
Zacky mengangguk. “Rin, nanya sesuatu, boleh?”
“Enggak, sih, sebenarnya. Tapi, berhubung gue udah ditraktir makan, ya, bolehlah. Apa?”
Zacky menatap Arinda lekat. “Lu bahagia menjalani hidup yang sekarang?”
TIDAK! teriak Arinda dalam hati.
“Iya.”
“Bohong!”
“Zacky, jangan sotoy!” seru Arinda seraya menarik tangannya yang tengah digenggam semakin erat.
“Gue udah tahu kehidupan lu. Jadi, gak perlu berbohong. Lu gak bahagia, Arinda. Mata lu mengeluarkan sorot yang tersirat kalau hidup ini menyedihkan.”
Arinda tertawa. “Jadi, selain belajar ilmu kedokteran, lu juga belajar ilmu psikologi.” Gue benci bilang kalo yang lu ucap itu benar. Tolong, jangan mengasihani gadis menyedihkan ini. Karena, gue gak suka!
Rin, tunggu sekolah gue selesai. Zacky membatin.
Zacky tertawa. “Gue bercanda.”
Arinda mencebik kemudian mencubit tangan Zacky. Sehingga, membuat pria itu mengaduh. “Resek!”
“Sorry.”
Arinda tersenyum. “Balik, yuk! Gue capek banget. Mau rebahan.”
“Oke, kuy!”
Satu jam perjalanan, begitu sampai Zacky menatap gedung apartemen sederhana tempat tinggal Arinda.
Ia menoleh ke arah Arinda. Mengelus puncak kepala gadis itu sebentar. “Rin, lu harus bahagia. Gue bakal secepatnya menyelesaikan kuliah dan kembali ke Indonesia. Lu orang pertama yang bakal gue cari begitu menginjakkan kaki di Tanah Air.”
“Iya, Zack, iya. Serah, lu, deh.” Kenapa juga, sih, orang-orang menyuruh gue bahagia? Perasaan, selama ini akting riang gembira udah sekelas artis sinetron. Nyaris sempurna! Walaupun pura-pura bahagia itu suka bikin laper. Makanya, makan gue banyak. Supaya gak oleng menghadapi kenyataan. Tapi, ternyata masih kebaca juga.
“Gue serius.”
“Oke. Dan, lunasin hutang lu, ya,” ucap Arinda seraya tersenyum.
“Hutang?!”
__ADS_1