ARINDA

ARINDA
Terungkap


__ADS_3

Selang infus terpasang di tangan Ricko dan Dito.


Ricko pun terpaksa diberi obat bius agar bisa istirahat. Sementara Dito masih belum sadarkan diri.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


Arinda memilih duduk di kantin rumah sakit. Sekadar untuk menghangatkan tubuhnya dengan segelas teh manis.


“Boleh ikut bergabung?”


Arinda menoleh. “Pak Shavic! Silakan. Anda mau minum teh juga?” tanyanya berbasa-basi.


“Terima kasih. Saya butuh kopi,” jawab Shavic seraya mengangkat gelas di tangannya ke arah Arinda.


Arinda mengangguk dan tersenyum kikuk.


Suasana hening. Mereka sedang asyik menyeruput minuman masing-masing.


Sepuluh menit kemudian


“Pulanglah. Saya akan menyuruh orang untuk mengantar.”


Belum juga Arinda menjawab, Shavic sudah melambaikan tangan ke arah dua orang pria yang tengah duduk tak jauh dari meja mereka.


Kedua pria tersebut lantas bangun dan menghampiri.


“Iya, Tuan,” ucap salah seorang dari mereka.


“Antar Nona pulang dan pastikan mengantarnya dengan selamat.”


“Baik, Tuan.”


“Tunggu. Saya tidak bilang ingin pulang,” sela Arinda.


“Ini sudah pagi. Kau harus pulang.”


“Mari, Nona.”


“Tunggu!” Arinda berdiri dan menatap lekat anak buah Shavic. “Kau?! Aku seperti pernah melihatmu. Apakah kita pernah bertemu?”


Pria itu memilih menunduk dan mengambil langkah mundur tanpa menyahut.


Shavic hanya diam melihat tingkah Arinda. Ia memerhatikan gadis itu dengan seulas senyum.


Arinda sedang mengingat-ingatnya. Kemudian, ia menyipitkan mata dan berujar, “Aku ingat sekarang. Kau kan pria yang menolongku sewaktu di hotel. Ah, akhirnya kita bisa bertemu lagi. Aku berhutang budi padamu. Tapi ... tunggu.”


Arinda menoleh ke arah Shavic. Ia menelan salivanya. Pasalnya, pria bule di sampingnya tengah menatapnya intens dengan senyum terpatri.


“Ingatanmu cukup tajam dalam mengenali seseorang.”


Arinda duduk kembali dan menunduk. “Ja-jadi, yang menolong saya adalah orang suruhan Anda. I-itu berarti ....”


“Ya. Saya mengutus mereka untuk menyelamatkanmu.” Shavic memotong ucapan Arinda.

__ADS_1


Arinda semakin menunduk dalam. “Terima kasih. Berkat Anda saya masih hidup sampai saat ini.”


“Sejujurnya, saya tidak pernah mau peduli urusan orang yang bukan termasuk keluarga.”


“Apa Ricko yang ....”


“Bukan. Rifa yang meminta untuk menolongmu. Dia istri saya. Kakak Ricko.”


Arinda tercengang. Ia tidak tahu harus berkata apa. Rasa malu seketika datang menyergap.


“Sampaikan ucapan terima kasih saya untuk istri Anda.” Arinda terdiam sejenak kemudian berdiri. “Saya akan pulang. Dan ... maaf sudah merepotkan Anda. Permisi.”


Arinda pergi tanpa lagi menoleh ke arah Shavic. Ia masih syok. Gadis itu sudah tak lagi memiliki muka.


Kakak Ricko menolongku. Itu artinya mereka mengetahui siapa aku dan Papa Erwin. Oh, Arinda. Masihkah berharap menjadi menantu di sana. Kau dan keluargamu tidak lebih dari sampah masyarakat. Sementara mereka berlian yang berkilauan. Arinda membatin.


“Nona, silakan masuk,” ucap pria itu membukakan pintu mobil seraya membungkukkan badan ke arah Arinda.


Gadis itu tersadar dari lamunannya.


“Terima kasih, Pak.” Arinda masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang.


Arinda menatap kaca spion di samping. Kebetulan kaca mobil terbuka. Gadis itu melihat wajah si Pengemudi. Seketika, matanya melotot dengan mulut membulat.


“KAU!”


Si pengemudi menoleh dan menatap Arinda.


“Bukankah kau pengemudi yang mengantarku pulang dari rumah sakit. Jadi ....”


“Pak Shavic, apakah Anda juga yang menolong saya saat di hutan?” tanya Arinda dengan deru napas memburu.


Shavic mendongak. “Pulanglah, Arinda. Kau bisa menanyakan lagi setelah mengistirahatkan diri.”


“Saya tidak ingin pulang sebelum Anda menjelaskan.”


“Kau sedang memaksa?”


Arinda menunduk. Mendudukkan diri di depan Shavic. “Maaf.”


“Kau tidak lelah?”


“Tidak. Anda yang menolong saya di hutan, bukan?” Arinda mengulang pertanyaan.


“Ya. Anak buah saya mengeksekusimu dari sana.”


“Apakah itu juga atas perintah istri Anda?”


“Saya yang mengetahuinya lebih dulu. Saat di hutan kau mengirim video ke alamat email Ricko, bukan? Saya yang membukanya. Dan, menontonnya bersama Rifa. Saat itu, ia khawatir denganmu. Jadi, saya langsung mengirimkan orang untuk mencari keberadaanmu.”


Arinda menggeleng tak percaya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian, membukanya lagi dan menatap Shavic.


“Anda mengetahui alamat email Ricko?”

__ADS_1


“Ya, dulu saya meretasnya atas permintaan Rifa.”


“Maaf. Saya benar-benar menyusahkan.”


“Kau gadis cerdas. Jika saja saat itu kau tak melakukannya, mungkin saja kematian sudah datang menjemput.”


“Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih kepada Anda dan Ibu Rifa.”


“Kau tahu? Rifa langsung terbang ke Indonesia begitu mendengar kau selamat dan berada di rumah sakit. Dia menungguimu sampai sadar. Saat itu, istri saya sangat khawatir. Tapi, setelah memastikan kau tersadar langsung kembali pulang.”


“Benarkah?!” Kalian memang malaikat tak bersayap. Terlihat dingin dari luar, tetapi nyatanya berhati hangat. Aku semakin malu kalau masih saja mengotot ingin bersama Ricko. Aku tak pantas berada dekat dengan keluarga berhati mulia semacam ini.


“Rifa sangat menyayangi Ricko. Ya, begitulah seharusnya bersaudara, bukan? Saling mengasihi dan tolong menolong.”


“Iya, Anda benar. Ricko memiliki keluarga yang sempurna.” Dan, aku datang di kehidupan Ricko dengan tidak tahu dirinya menuntut pernikahan. Padahal, dulu hampir merusak hidupnya yang indah.


“Sepertinya kepercayaan dirimu mulai menghilang mendengar hal tersebut?"


Arinda tersenyum kikuk. Kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Lalu, apakah Ricko mengetahui perihal peristiwa-peristiwa tersebut?”


“Tidak.”


“Kalau begitu, bisakah Anda jangan pernah memberi tahu Ricko?”


“Oke.”


Shavic pun enggan menjelaskan jika hanya Ricko dan Opa Roni yang tak mengetahui perihal kejadian di hutan dan hotel.


Sejujurnya, Shavic tahu semua kehidupan Arinda. Bahkan, sejak gadis itu terlahir ke dunia.


Shavic mencari tahu semua hal tentang Arinda. Awalnya, memang atas permintaan Rifa.


Namun, saat menemukan sesuatu yang mengganjal. Shavic semakin menggali lebih dalam kehidupan Arinda.


Walaupun hanya sebagai kakak ipar. Tapi, ia juga ingin sang adik ipar tidak mencintai wanita yang salah.


Bagaimanapun Ricko adalah bagian dari kehidupan istri tercintanya yang artinya juga harus dijaga.


Sebagai mantan ketua mafia dan cukup lama bergelut di dunia hitam. Bukan hal yang sulit untuknya mencari tahu kehidupan seseorang.


Saat dalam penyelidikan tersebut, ia sempat tercengang mengetahui fakta-fakta yang tersaji. Enggan untuk menambah beban pikiran sang istri atau wanita-wanita Narendra. Shavic lebih memilih bercerita kepada sang mertua, Rahardian.


Mereka berdua menyimpan rapat hasil penyelidikan itu. Pikir mereka, biar Arinda mengetahui perihal kehidupannya dengan sendirinya. Jika Arinda bukanlah anak kandung dari Nita dan Erwin. Ia terlahir dari keluarga baik-baik dan cukup terhormat.


Dan, Shavic tak mau ikut campur urusan keluarga orang lain. Ia lebih memilih diam. Buatnya sudah mengetahui saja sudah cukup.


Toh, keluarga kandung Arinda sudah menemukan keberadaan sang gadis kecil yang dulu menghilang. Hanya tinggal menunggu waktu saja.


“Pak Shavic, bolehkah saya bertanya satu hal lagi kepada Anda?”


“Ini pertanyaan terakhir. Setelahnya, kau harus pulang.”


Arinda mengangguk. “Mama saya tewas tertembak. Apakah orang suruhan Anda yang melakukannya?”

__ADS_1


“Menurutmu?”


__ADS_2