
HAPPY READING 🤗💞
.
.
.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Sedih dan marah beberapa waktu lalu sudah hilang ditelan bumi. Kemudian, tak kapok untuk mengulangi. Keinginan memiliki terlalu kuat daripada menjaga harga diri!
Bulshit!
Itu yang Arinda katakan perihal harga diri. Mengejar cinta terlebih dahulu tak harus selalu pria. Wanita juga sah-sah saja! Hanya mungkin terdengar tak pantas.
Akan tetapi, Arinda tak peduli, itu hidupnya sendiri! Jadi, biarlah gadis itu melakukan apa pun yang ia suka.
Meskipun masih mendapat penolakan. Tapi, kali ini Arinda menganggap itu sebagai cambuk, untuk menuju masa depan benderang bersama sang pujaan tersayang.
Pasalnya, Ricko masih dengan mulut pedasnya. Sikap tak acuh pun semakin menjadi!
Sejak pertemuan terakhir mereka. Tiga hari kemudian, Arinda selalu menyempatkan diri untuk mampir ke ruangan Ricko. Sekedar menumpang sarapan.
Terdengar konyol! Tapi, Arinda memang melakukan hal tersebut.
Kapok sepertinya tak ada di kamus Arinda.
Ricko sering melakukan pengusiran! Tapi, Arinda tak mengindahkannya.
Hingga akhirnya, Ricko benar-benar menyerah dan ikut masa bodoh!
Namun, saking sering melihat bagaimana cara Arinda makan. Selanjutnya, Ricko beberapa kali justru turut serta melahap bersama makan-makanan itu.
Satu kantor pun sudah menjadikan keduanya sebagai objek bahan pembicaraan. Banyak yang mengatakan jika mereka cocok! Pasalnya, sang pria dan wanita sama-sama berwajah dingin. Mereka pun tak suka disentuh secara sembarangan!
Beruntungnya, baik Ricko maupun Arinda, keduanya sama-sama memiliki tipikal cuek. Mereka hanya akan bertengkar saat berduaan. Tapi, jika di depan khalayak ramai, layaknya rekan kerja pada umumnya saja. Bersikap profesional!
Si pria gede gengsi dan si wanita over percaya diri. Pas sekali disebut pasangan hitam putih abad ini alias tidak jelas. Karena, di bilang menjalin kasih, tetapi nyatanya tidak. Di bilang atasan dan bawahan, namun terlalu dekat.
Jadi, mengutip ucapan Ricko yang selalu bilang ‘terserah sajalah'. Sepertinya, sangat pas untuk menggambarkan isi kepala mereka dalam menanggapi gosip di luar sana.
Pintu terbuka dan menampilkan wajah ceria seperti biasa jika berhadapan dengan Ricko.
“Pagi, Sayang.”
“Arinda ... tak adakah sedikit rasa malu memanggilku begitu. Sementara orang yang kamu panggil tidak suka. Kamu benar-benar tidak takut kita keceplosan lagi."
Ricko menurunkan ritme bicaranya. Jika sebelumnya selalu dengan intonasi tinggi, tetapi kali ini tidak.
Ricko mengaku kalah, menyerah, dan terserah sajalah!
“Kamu suka, hanya gengsi.”
“Sok tau.”
“Aku memang tau.”
“Diamlah. Aku banyak kerjaan.”
Arinda mengangkat bahunya, tak peduli.
“Makan dulu.”
__ADS_1
“Sudah kenyang.”
Seolah tak peduli pada ucapan Ricko. Arinda meletakkan semangkuk bubur ayam di hadapan sang pujaan. Wangi gurih yang menguar membuat perut six-pack itu goyah. Menyendok satu kali untuk merasakan dan selanjutnya melahap hingga tandas.
“Teh manis atau air putih?”
“Air putih.”
Arinda menuangkan air ke dalam gelas kemudian memberikannya kepada Ricko.
“Aku berangkat dulu. Banyak kerjaan di mall. Bye, sayang. Nanti makan siang sendiri, ya. Aku ada rapat dengan para tenant.”
Ricko melongo dan bergumam. Apa-apaan itu! Siapa juga yang mau makan siang bersama. Percaya diri sekali!
❄️❄️❄
Gadis pecicilan, banyak omong, manja, dan selalu tersenyum hanya saat dekat dengan Ricko. Akan berubah seratus delapan puluh derajat jika sudah berurusan dengan para tenant. Wibawa sangat terlihat dan profesionalitas tidak perlu diragukan lagi!
Meskipun Arinda seorang wanita. Jika ada tenant yang berulah ataupun sulit di atur, akan segera diberi peringatan sebanyak tiga kali. Jika mereka masih juga tak menggubris. Selanjutnya, sanksi dan denda akan segera melayang ke Kantor Pusat mereka.
Aturan adalah aturan! Arinda hanya menjalankannya.
Semua perihal layout, promosi, dan apa pun yang berhubungan dengan visual merchandising akan begitu menjadi perhatian Arinda. Tak heran, jika melenceng sedikit saja dari tema yang sudah di beri, bersiaplah akan hal-hal tersebut di atas!
Usai rapat, Arinda menelepon Mbak Dini. Wanita itu sudah tiga kali melakukan panggilan. Tapi, karena sedang rapat, jadi tak dingkat.
“Halo, Mbak.”
“Rin, besok bawa semua berkas desain ke kantor. Kita ada rapat dadakan. Sepertinya, banyak jadwal harus dipercepat.”
“Oke. Besok aku bawa. Kebetulan juga aku masih di mall. Baru banget selesai rapat. Tapi, aku datang telat, ya, Mbak. Besok pagi ada briefing bareng beberapa tenant.”
“Ya, sudah. Tapi, usahakan jangan terlalu lama. Nanti si bos bete. Bisa habis kita di maki!”
Telepon ditutup! Arinda menaruhnya ke dalam tas.
🌺🌺🌺
Sesaat sebelum tidur, perut harus dalam keadaan kenyang. Agar tidur menjadi nyenyak! Kebiasaan rutin Arinda supaya bisa tidur dengan pulas.
Pukul tujuh malam adalah waktu yang pas untuk makan. Akan tetapi, kali ini ia tak ingin makan sendirian.
Menekan bel beberapa kali! Tak ada sahutan. Angka-angka ditekan, maksudnya hanya iseng saja. Tapi, terbuka!
Arinda menganga. Sesaat tertegun! Kemudian, senyum mengejek sekaligus letupan kebahagiaan meletus bagai kembang api tahun baru. Menyala meriah!
Gelap gulita! Menggambarkan kondisi di dalam unit apartemen mewah di salah satu kawasan elite Jakarta. Meraba dinding untuk mencari tombol sakelar. Begitu dapat dan ruangan seketika benderang.
Arinda menggelengkan kepala. Mencibir Ricko.
“Ganteng, tajir, tetapi berteman dengan kejorokan! Untung sayang biarpun mulut persis samyang!"
Berantakan, kotor, dan sampah berserakan. Televisi posisi menyala dengan tontonan seputar olahraga. Masuk lebih ke dalam, melirik ke dapur, tumpukan cucian piring memenuhi wastafel. Lantai licin dan wangi tidak sedap tercium!
Arinda membereskan semua cucian piring, menyapu, mengepel, dan membersihkan ruang tamu yang sudah tak berbentuk. Sofa bergeser jauh dari tempatnya. Karpet penuh sampah kulit kacang dan kuaci.
Semua pekerjaan selesai! Belum ....
Arinda memasuki salah satu kamar pribadi yang ia yakin milik Ricko. Nuansa hitam dan putih favoritnya menambah rasa keyakinan itu.
Tanpa sungkan, Arinda menjelajah. Senyum mengembang! Setidaknya, kamar itu lebih rapi. Walaupun posisi seprai awut-awutan!
__ADS_1
Arinda membuka pintu kamar mandi dan lagi-lagi menggelengkan kepala. Kata-kata rapi tadi langsung ditarik kembali. Bagaimana tidak?! Pakaian kotor berserakan di dalam bathup, wastafel, gantungan baju, dan lantai.
“Kenapa bisa orang setampan dan sewangi dirimu ketika berada di luar, tetapi memiliki kehidupan sekotor ini. Ganteng-ganteng slebor!”
Arinda memunguti seluruh pakaian tersebut. Saat tiba giliran ingin memungut sesuatu yang biasa di gunakan untuk menutupi aset umat manusia. Ia ragu!
Benda berbentuk segitiga dan semuanya berwarna hitam tersebut seketika membuat rona di pipinya memerah. Malu!
Bimbang antara ingin memungut atau tidak mulai bertarung sengit dipikiran Arinda!
Kira-kira sepuluh menit berpikir. Lalu, keputusannya adalah memungut dengan mata tertutup. Mengambil satu per satu. Kemudian, segera berlari menuju tempat cuci pakaian.
Debaran jantung bagai berdisko! Badan pun turut gemetar! Arinda serasa baru saja melakukan pekerjaan teramat berat dalam hidupnya.
“Ini gak termasuk merendahkan kehormatan gue sebagai wanita ‘kan, ya? Niatnya juga cuma mau membantu sesama manusia aja. Bukankah di pelajaran sekolah dulu, mengajarkan untuk saling tolong menolong,” ucap Arinda dengan pembenarannya sendiri.
Arinda mulai memasukkan semua pakaian. Sebelumnya, ia sudah memilah pakaian berwarna putih agar tidak tercampur dengan yang berwarna.
Semua pekerjaan telah usai! Bagian babak kedua yang mendebarkan pun sudah terlewati dengan baik. Yakni, menjemur pakaian-pakaian dalam tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tanda-tanda akan kedatangan sang empunya hunian pun sepertinya tak ada.
Arinda memutuskan pulang dengan terlebih dahulu meninggalkan notice.
Makanan yang tadi niatnya untuk di santap bersama, sudah Arinda hangatkan. Ia menaruhnya di atas meja makan.
🌺🌺🌺
Pintu terbuka! Pekerjaan menumpuk membuatnya harus terpaksa lembur. Bahkan, makan malam terlewat dengan sukses!
Ricko melirik jam di tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia memutuskan mendudukkan diri di atas sofa. Menghirup udara dalam-dalam kemudian melepasnya perlahan.
“Wangi ruangan ini seperti aromaterapi. Sangat menenangkan!”
TUNGGU!
AROMATERAPI?
APA!
Ricko menjelajah isi ruang tamu. Melotot! Semua bersih!
Panik!
Berdiri dengan perasaan was-was! Melangkah pun penuh waspada! Dapur adalah tujuan selanjutnya.
Lagi-lagi, bersih, rapi, wangi, dan sate ayam berikut sop kambing tergeletak sempurna di atas meja makan.
Ricko menelan salivanya. Kemudian, ia melihat satu notice di atas meja. Meraihnya dan ....
“ARINDA!!!”
Suara teriakan menggema! Wajah siap berperang diberikan!
Entahlah, jika sudah melihat isi jemuran. Apakah Ricko masih bernyali bertemu Arinda dengan wajah bagai prajurit siap tempur?! Atau ... justru ingin menghilang dari pandangan mata sang mantan.
We'll see ....
Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞
Saranghaeyo 💞😘
__ADS_1
Jangan lupa vote-nya 🤗💞
Jangan lupa klik tombol like-nya juga 🤗💞