ARINDA

ARINDA
Kia


__ADS_3

Dalam sekejap semua pergi. Anak kecil yang belum mengerti apa-apa, tentu tak berurai air mata. Namun, waktu terus berjalan. Saat mulai bertumbuh besar. Semua cerita terkuak.


Sesal dan sedih! Ingin rasanya berlari menyusuri setiap sudut kota.


Akan tetapi, umurnya belum cukup untuk banyak bertindak. Perpisahan paling menyakitkan itu begitu merobek relung hati. Entah gadis kecilnya masih hidup atau sudah mati.


Bertahun-tahun mempertanyakan. Sekarang adalah waktunya untuk menemukan.


Tujuh tahun terakhir, ia gencar mencari. Menelusuri semua pelosok negeri. Namun, hasilnya nihil.


Rasa frustrasi menyerang. Namun, kewarasan tetap ia jaga agar tetap tenang. Demi sang tersayang.


Ruang sempit dengan cahaya lampu berwarna kuning. Dinding-dinding dipenuhi ratusan foto. Hawa sesak pun sesekali menyeruak saking sedikitnya ventilasi udara.


Sepasang bola mata menatap tajam satu lembaran foto anak kecil berpakaian baby doll. Secepat kilat, tatapan itu berubah sendu. Bibir bergetar menahan pilu.


Selang beberapa menit, benda pipih berdering. Merogoh saku dan melangkah keluar ruangan seraya mengangkat telepon.


“Halo.”


“Om ada di depan rumahmu. Ada informasi penting dari orang sewaan kita."


“Aku keluar, Om.”


Telepon ditutup. Kemudian, melangkah keluar. Membuka pintu dan mempersilakan Om Dahlan masuk.


“Ini laporan beberapa tahun lalu. Di mulai dari kecelakaan itu.” Om Dahlan memberikan sebuah rekaman percakapan antara mata-mata yang mereka berdua sewa dan saksi mata.


Pemuda berbadan tegap dan berwajah tampan mendengarkan dengan saksama hasil percakapan itu.

__ADS_1


“Jadi, firasatku benar. Kia masih hidup?”


“Ya.”


“Ceritakan saja semua apa pun yang Om tahu.”


“Kamu sudah siap untuk mendengarkannya?"


“Ya. Katakan saja, Om. Mendengarnya masih hidup saja aku sudah senang.”


Dahlan menceritakan semuanya. Pemuda itu mendengarkan dengan saksama. Tak ada satu kalimat pun terlewat.


Namun, bukan wajah tercengang yang ditunjukkan melainkan tawa. Kemudian, menggelengkan kepala.


“Kamu baik-baik saja.” Dahlan heran, kemenakannya bukan berwajah sedih mendengar kisah yang barusan ia ceritakan, tetapi justru sebaliknya.


“Gila! Ini benar-benar gila! Hidup ini mempermainkanku.”


“Entah! Aku kesal dengan kehidupan ini, Om.”


“Om belum memberikan fotonya kepadamu. Tapi, kenapa sepertinya seolah-olah kamu sudah tahu?”


Pemuda itu menoleh menatap Om Dahlan. “Ah, iya. Om benar. Tolong berikan foto itu. Biar aku bertambah yakin.”


Dahlan memberikan beberapa lembar foto kepada sang kemenakan.


Pemuda itu menerimanya. Matanya menatap dengan berbinar-binar. Senyum pun mengembang.


“Bertahun-tahun aku mencari. Ternyata kamu berada tak jauh dariku. Setelah semuanya selesai. Aku pastikan kamu adalah prioritas hidupku, Kia.”

__ADS_1


“Kamu mengenalnya?”


“Ya.”


“Ingin Om bertindak?”


“Tidak untuk saat ini, Om. Dia pasti terkejut dan belum tentu mau menerima. Mengingat kehidupannya juga sangat berat. Aku hanya tak ingin dia lari. Kita pelan-pelan saja, Om."


“Lalu?”


“Aku memiliki rencana. Om tidak perlu khawatir.”


“Om percaya padamu. Bawa dia kepada Om jika kalian sudah bertemu.”


“Ya. Setelah semuanya sesuai rencana. Aku pasti membawanya ke hadapan Om dan Tante.”


“Kalau begitu, Om pulang dulu. Jaga dirimu, Nak!” Dahlan menepuk pundak si pemuda kemudian pamit pulang.


Sejak kepergian Dahlan, pemuda itu tak beranjak sedikit pun dari tempat ia duduk. Mata elangnya masih menatap lembaran foto itu.


Memutar kenangan bertahun-tahun lalu di kepala. Pemuda itu merasa sangat bersalah. Kehidupan mewah dan tak berkekurangan berbanding terbalik dengan Kia-nya.


Rasa sesak tentu menyeruak. Akan tetapi, setidaknya ia bisa sedikit bernapas lega. Kia-nya baik-baik saja dan tumbuh menjadi gadis yang cantik.


Banyak janji terucap di hati. Salah satunya ingin menjaganya sampai mati. Tak akan lagi ia biarkan gadis itu merasa sepi.


“Kia ....”


Episode ini masih nyambung, ya. Harus di post karena termasuk dari bagian isi cerita. Harap bersabar. Setiap hari terbit, kok. Jadi, nanti terjawab.

__ADS_1


Kayak biasa aja, aku memang suka menulis cerita teka-teki. Apalagi ini novel on going, jadi kudu banget nungguin setiap episode berikutnya di keesokan hari.


Terima kasih untuk yang selalu mampir membaca. Like, comment, dan vote-nya juga makasih 😘💞


__ADS_2