ARINDA

ARINDA
Hal. 06.


__ADS_3

***


"I-iya." Jawab Arin, tersenyum lemah.


"Ini nih, Kak Niko yang tadi beliin lo nasgor sama teh anget," Jelas Risa. "Nih, gue balikin uang lo." Risa memasukkan uang Arin ke dalam saku seragamnya.


Arin mengeliarkan uangnya kembali, mengulurkan uang yang jumlahnya di tambah lima ribu rupiah pada laki-laki yang sekarang berjongkok menatapnya. "Ini Kak. Aku ganti uangnya."


"Gak usah, kamu simpen aja. Aku ikhlas kok," Jawabnya dengan senyuman manisnya.


"Kayaknya gue bakal jadi nyamuk aedes nih disini. Gue kekelas duluan Rin, lo abisin dulu makannya nanti gue ijinin ke guru," Pamitnya sambil meletakkan piring nasi goreng yang tinggal setengah itu di sebelah Arin.


Arin memasukkan uang ke sakunya sambil mengangguk, "Makasih Ris."


"Yoi Sist," Jawabnya, lalu pergi meninggalkan Arin.


UKS yang tadinya ramai, kini mulai sedikit sepi karena beberapa murid sudah kembali ke kelasnya masing-masing. Tersisa 5 orang termasuk Arin dan Niko.


"Kak Niko gak masuk kelas?" Tanya Arin, yang mengambil sepiring nasi gorengnya, lalu melahapnya perlahan.


"Bentar lagi aja, mau nemenin kamu dulu," Jawabnya.


"Gak usah Kak, nanti di marahin guru. Aku gapapa kok, bentar lagi juga balik ke kelas."


Niko mengacak pelan rambut Arin, "Udah gapapa. Kamu selesaiin makannya. Aku tungguin." Kini Niko duduk tepat di sebelah Arin, menunggu perempuan itu menghabiskan makannya.


Karena Arin tidak mau Niko telat masuk pelajaran pertamanya, dia mempercepat makannya lalu meneguk teh hangat sampai setengah gelas. Begitu selesai, Arin membenarkan seragamnya yang terlihat sedikit berantakan, lalu memasang sepatunya.


"Udah?" Tanya Niko.


"Udah Kak," Jawab Arin, lalu berdiri membenarkan rok panjangnya.


Arin hendak mengambil piring kosong dan gelas berisikan setengah teh hangat, tapi salah satu siswi anggota PMR menghentikannya. "Biar aku aja Dek yang ngembaliin, kamu ke kelas aja," Katanya dengan ramah.


"Oh, iya makasih Kak."


"Nik, anterin ke kelasnya. Jangan kamu bawa kemana-mana," Kata perempuan anggota PMR itu.


"Tak bawa ke pelaminan aja entar dia Yun," Jawab Niko yang membuat Arin terkejut.


"Apa sih Kak." Arin memukul lengan Niko sambil.


"Oh gitu, mentang-mentang, udah kenyang, tenaganya balik, aku di pukul-pukul." Niko mendekatkan wajahnya didepan wajah Arin.


Perempuan itu tertawa pelan, lalu berjalan mendahului Niko keluar dari UKS.


"Ayo aku anterin ke kelas," Kata Niko ketika mereka sudah berada di luar UKS.


"Gak usah Kak, kelasku jauh. Depan lapangan basket," Tolak Arin karena dia tidak ingin menimbulkan gosip diantara teman-teman kelasnya.


"Gapapa lah, cuma di situ doang. Ayo." Niko mempersilahkan Arin berjalan terlebih dulu.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, seseorang memanggil nama laki-laki yang berjalan bersama Arin. "Niko."

__ADS_1


Niko dan juga Arin menoleh ke belakang. Seorang laki-laki berjas, dengan kacata mata minusnya berdiri tepat didepan kelas Niko sambil berdacak pinggang, menatap laki-laki disebelah Arin dengan tatapan menakutkan. Niko memejamkan matanya sebentar, karena yang memanggilnya adalah guru killer yang mengajar kelasnya.


"Rin, sorry ya, aku gak bisa nganter kamu sampe kelas," Seru Niko lemah.


"Iya gapapa kok Kak. Udah buruan sana, nanti malah di hukum."


Niko mengangguk lalu mengedipkan mata padanya dan berlari menghampiri sang guru. Arin menoleh lagi, memperhatikan sebentar laki-laki yang sedang di marahi oleh guru tersebut.


"Sok-sok mau nganter sih," Gumam Arin sambil tertawa kecil.


Saat perempuan itu hendak berbelok kekelasnya, dia tidak sengaja menabrak pelan bahu seseorang. Wangi pafrum beraroma segar tercium, tumpukan buku di tangannya, serta topi putih abu-abu putih yang masih menempel di kepalanya berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Danis?


Arin memebalikkan badannya, memperhatikan punggung Danis yang perlahan menjauh. Lagi-lagi, hanya kebungkaman di antara mereka. Bahkan laki-laki itu tidak memandangnya ataupun hanya sekedar melirik.


Pura-pura gak merhatiin kamu itu ternyata cukup sulit. Sayangnya, aku gak pernah ngerasa keberatan sama keadaan kayak ini. Mencintai sendiri, ngangenin kamu sendiri, sampai rasanya mau meledak saking geramnya sama diriku sendiri yang cuma diam di tempat kayak sekarang. Batin Arin


*


Bunyi dering telepon dari handphone Arin, mengganggu tidur siangnya. Sepulang sekolah satu jam yang lalu, perempuan itu terkapar di kamarnya. Seragam pramukanyapun masih ia kenakan saking lelahnya karena diterpa dengan rumus fungsi kuadrat. Angka-angka yang membuat kepalanya pening bukan main karena Arin adalah salah satu murid yang tidak suka pelajaran matematika.


Dengan matanya yang masih tertutup, tangannya meraba mencari keberadaan handphonenya karena masih mengeluarkan bunyi nada dering. Dia segera menerima panggilan tersebut tanpa melihat nama si penelpon.


"Hmm."


"Tidur ya Rin?"


Mendengar suara laki-laki, matanya terbuka lebar. Dia mendudukkan dirinya, memeriksa siapa yang memiliki suara merdu itu. Sayangnya, nomor si penelpon tidak tersimpan di handphonenya.


"Masa lupa sih sama suaraku?"


"Bukannya lupa. Tapi emang gak tau."


"Kalo gitu tebak dong."


"Bukan kuis."


"Jutek banget sih, Arinda."


Arin menghela nafas jengah. "Ini siapa? Kalo masih gak bilang, aku tutup."


"Eh, jangan dong. Ini aku Niko."


"Oalah, Kak Niko. Bilang kek dari tadi."


"Hehe, maaf. Kamu tadi tidur? Aku ganggu tidur kamu dong."


"Enggak kok. Kebetulan juga Kakak telpon. Aku mau ekstrakulikuler."


"Sekarang?"


"Setengah jam lagi."

__ADS_1


"Aku jemput mau?"


"Enggak usah Kak. Aku bareng Kakakku."


"Siapa? Cewek apa cowok?"


"Kenapa nanya-nanya?


"Ya kalo cowok aku cemburu lah."


"Apaan sih Kak."


"Hehe, bercanda. Ya udah sana mandi. Entar telat."


"Ya udah aku tutup Kak."


"Iya, see u Arin."


Arin tidak menjawab karena dia sudah memutuskan sambungan telepon. Perempuan itu bergegas untuk segera bersiap-siap pergi ke sekolah untuk kegiatan ekstrakulikuler.


15 menit kemudian, Arin sudah rapi dengan rambutnya yang dicepol, celana jeans hitam, T-shirt hitam bersablonkan teks hitam 'Pena Bhakti' lengkap dengan logo di bagian belakang T-shirt, flat shoes berwarna mocca hadiah dari Lia, serta tas yang berisi binder dan kotak pensil bermotif spongebob.



Seperti biasa, mereka berdua berangkat ke sekolah dengan sepeda motor Kakak Lia. Selama perjalanan, mereka hanya mengobrol seputar pelajaran sekolah. Karena Lia juga sama pusingnya menghadapi tugasnya yang begitu susah. Sampai tak terasa mereka sudah sampai di sekolah.


Lia segera memarkirkan motornya dengan rapi. Banyak deretan motor yang terparkir, karena memang hari ini banyak anggota ekstrakulikuler lainnya yang melaksanakan kegiatan mereka masing-masing.


Lagi. Arin melihat kumpulan anggota basket dilapangan, saat melewati area tersebut. Tidak seperti sebelumnya, banyak pasang mata yang memperhatikan Arin dan Dian sampai mereka berdua merasa risih.


"Rin, mereka ngeliatinnya gitu banget. Kamu ada masalah sama mereka?" Tanya Lia setelah melirik pada kerumunan yang memperhatikannya.


"Enggak, Mbak."


"Aneh," Gumam Lia.


"Udah, ayo buruan entar telat," Ajak Kakak sepupunya itu.


Mereka berduapun berjalan sampai di depan ruangan. Langkah Arin terhenti karena satu chat masuk ke handphonenya.



Jantung Arin berdegub lebih kencang karena akan bertemu dengan laki-laki itu. Berharap kalau laki-laki itu benar Danis.


Pertemuan ekstrakulikuler Arin selesai setelah kalimat penutup dari Ezra. Tugas untuk pembuatan majalah baru sudah bagi. Arin dan Selly, teman sekelasnya, diberi tugas untuk mengumpulkan biodata murid berprestasi di sekolahnya. Sedangkan Lia, ditugaskan untuk mencari berita perihal kandidat yang mengajukan diri untuk menjadi ketua Osis baru.


Selesai dengan pertemuan, Arin menyuruh Lia untuk menunggunya sebentar. Awalnya dia mengajak saudaranya itu ke kantin bersamanya. Tapi saudaranya itu menolak karena harus membahas tugasnya dengan rekan timnya, jadi dia berjalan sendirian menuju kantin sesuai dengan apa yang di katakan oleh teman Dimas yang katanya sudah tiba disana.


Hanya ada satu orang yang duduk di bangku kantin. Laki-laki yang sangat dikenalnya, yang namanya selalu dia sematkan sebagai penyemangat belajarnya. Danis.



Arin mengambil handphone untuk memastikan kalau benar laki-laki itu sudah sampai di kantin. Benar. Chat darinya menandakan kalau dia sudah tiba di tempat mereka bertemu.

__ADS_1


Jadi bener, cowok itu Danis?


***


__ADS_2