ARINDA

ARINDA
Menghalau rasa takut


__ADS_3

Wow 👏👏👏😍


Mamacih jempol seksih dan cuitannya. Saranghaeyo 😘💞


Kalian luar biasa, Guys 🤗


Semoga gak pada kapok main challenge, ya 😁😉💞


Happy reading, yesss 🤗💞


“Rin, tarik napas lu. Coba buang rasa takut itu. Demi Ricko juga.”


“Tapi, Dit. Gue ....”


Dito menghadap Arinda. Memegang kedua bahu gadis itu. “Rin, semua orang punya trauma. Saat ini, elu pasti takut banget. Tapi, sekarang hanya ada dua pilihan. Ikut atau turun. Gue bakal nolong Ricko dengan atau tanpa elu. Walaupun gue gak paham, kenapa bisa ada drama penculikan segala? Gue bakal minta penjelasan setelah semua selesai dan doi ketemu.”


“Gue ... ikut.”


“Lu yakin?”


Arinda mengangguk. “Iya.”


Dito tersenyum dan mengacak rambut Arinda. “Kuy, berangkat!”


Mobil sedan hitam melaju kembali menuju tempat di mana Ricko berada. Dito berkendara dengan mengikuti arahan maps.


Dua jam perjalanan, sampailah mereka di sebuah vila. Gelapnya malam dan suara burung hantu membuat suasana terlihat horor.


“Dit, gue ... gemetar.”


Dito menoleh. Ia melihat wajah gadis itu sudah pucat pasi seraya memegang tangan Arinda. Dingin. “Rin, lu tunggu sini, deh. Gue gak tega sama lu.”


“Tapi, Ricko ....”


“Memang kuat?”


“Dit, gue ....”


“Mau ikut atau enggak?”


“Mau. Tapi ....”


“Arinda, cukup. Bisa sampe besok kita adu argumen gak penting. Sohib gue keburu mokat.”


“Iya, maaf.”


“Tanam di kepala elu kalo pepohonan dan hutan adalah teman. Mereka gak berbahaya. Tutup mata lu sebentar, tarik napas dalam-dalam dan embuskan perlahan. Ayo, mulai!”


Arinda menurut. Ia memejamkan mata sejenak dan mulai mengikuti arahan Dito. Sepuluh menit kemudian, membuka mata.


“Ayo, Dit!”


“Sudah siap?”


“Iya.”


“Kuy.”


Mereka turun dari mobil. Mendekati vila. Lalu, memanjat pagar tembok.


Dito menganga melihat Arinda mampu melewatinya tanpa kesusahan dan bantuannya. Untung juga gadis itu memakai celana yang dibalut seperti rok jika terlihat dari depan. Jadi, memudahkan untuk bergerak.


Mengendap-endap dalam melangkah. Mereka menunggu keadaan sepi.

__ADS_1


Satu jam menunggu. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka mencoba memasuki pintu belakang, tetapi terkunci.


“Dit, lihat pohon itu.” Tunjuk Arinda pada pohon besar dengan cabang mengenai halaman lantai dua. “kita bisa ke atas lewat sana.”


“Rin, lu udah gak trauma?”


“Berkurang. Berkat lu, Dit.”


“Kok bisa, ya?” Padahal, tadi gue asal kata doang. Tauk, ah. Yang penting Arinda udah lebih berani.


“Lu ngomong apaan, Dit?”


“Kagak. Kuylah!”


Kembali Dito dibuat tercengang melihat Arinda dengan piawai memanjat pohon. Matanya nyaris tak berkedip. Gadis itu bagai kucing liar yang ahli sekali naik ke atas genting. Dalam hal ini pohon.


“Dit, lewat mana?”


Dito berpikir sejenak. Ia menebak-nebak. “Sini, deh.”


Memasuki rumah orang bagai pencuri. Keringat pun bercucuran dan jantung berdegup kencang. Satu orang penjaga berbadan kekar terlihat berjaga di depan sebuah pintu.


“Feeling gue, Ricko ada di sana.” Tunjuk Arinda lewat ekor matanya ke arah pintu yang dijaga itu.


“Rin, lu takut gak?”


“Enggak. Jangan bilang kalo lu takut?"


“Manusiawi, Rin. Gue kan bukan Ricko yang jago bela diri. Dia piawai aja masih bisa diculik. Terus, apa kabarnya gue?”


“Lu tenang aja, Dit. Gue bakalan jagain lu.”


Hah! Muke gile! Ya, kali gue dijagain cewek. Mao ditaro mana harga diri gue. Entaran bisa dimaki Kong Naim kalo ketemu di akhirat, batin Dito seraya membayangkan wajah marah Almarhum sang kakek.


“Oke.”


Sejujurnya, Dito gemetar. Bahkan kakinya rasanya lemas untuk melangkah. Tapi, demi sohib dan citra jantan di depan Arinda. Pria itu mau tak mau berjalan di depan.


“Tunggu, Rin.”


“Apa lagi?”


“Ada baiknya kita berdoa lebih dulu supaya selamet.”


Arinda terdiam sejenak kemudian mengangguk. Mereka berdoa memohon di beri keselamatan.


“Kuy, Rin.”


Melangkah perlahan dengan merembet. Saat mulai mendekat, Dito berhenti.


“Rin, kita berdoa lagi, ya.” Baru saja selesai bicara, Arinda melintas. “Lah ... lah ... lah ... Rin ....”


Dito terbengang melihat Arinda bagai sang jagoan. Maju mendekat ke arah penjaga dengan langkah mantap. Di tangannya terdapat senjata andalan, semprotan cabai.


“Hai, Dude!”


Penjaga itu menoleh. “Siapa lu?”


“Aku ...,” Satu semprotan cabai tepat mengenai sasaran. “..., penikmat cabai rawit pedas.” Pria berbadan kekar itu berteriak kesakitan. Lalu, Arinda langsung menendang alat vitalnya dengan kaki. Kemudian, meninju wajahnya tanpa belas kasih hingga pingsan.


Dito mematung melihat aksi Arinda. Ia syok!


“Dit, ayo.”

__ADS_1


“Hah, iya.” Harga diri gue terjun bebas sudah. Malu gue malu! Kong Naim, cucu kesayangan engkong kalah sama perempuan. Maapin Dito yang tak berguna ini, Kong.


“Di kunci, Dit. Kita dobrak.”


“Gue aja. Lu mundur, Rin.” Kali ini harus berhasil. Supaya kehormatan gue sebagai lelaki tangguh kembali.


“Oke.”


Hanya butuh tiga kali mendobrak, pintu terbuka. Dan, menampilkan langsung Ricko di atas kasur. Tergeletak dengan jas sudah terlepas dan kancing yang terbuka.


Arinda melongo melihatnya sekaligus kesal. Api cemburu bercampur amarah berkobar. Ia melirik Siska dengan pakaian tak senonohnya duduk tak jauh dari Ricko.


“KURANG AJAR!” Arinda melangkah maju melewati Dito yang berada di depan. Gadis itu ingin membumi hanguskan Siska. Wajahnya murka dengan hidung kempas-kempis.


Dito pun turut mengekor di belakang.


Sementara, Siska tampak tenang. Ia justru menampilkan senyum mengejek ke arah Arinda.


Kemudian, saat Arinda dan Dito masuk. Suara pintu tertutup terdengar. Satu pukulan benda tumpul tepat mendarat di tengkuk kemudian tergeletak tak sadarkan diri.


Arinda menoleh. “Dito!” Lalu, melihat siapa si pelaku. “Jessica! Lusi!”


“Kejutan!” seru Jessica.


Siska turun dari kasur dan menghampiri Arinda. “Baru aja gue mau melakukan sesi pemotretan foto hot. Eh, ada pengacau.”


“BRENGSEK!” Arinda menggeram.


Siska tertawa. “Lu sekarang sendirian. Sebentar lagi malaikat maut bakal datang menjemput. Sudah siap?”


Arinda melempar senyum mengejek. “Dari dulu sampai hari ini. Lu semua gak lebih dari pecundang. Beraninya keroyokan. Dasar nyali squishy! Lembek!”


“Lu ....”


“Lusi! Jangan terpancing. Biarkan saja perempuan murahan ini berkata sesukanya dia. Anggap itu kata-kata terakhir sebelum ajal tiba," ucap Siska.


“Jadi, lu mau bunuh gue?”


“Ya. Lu harus mati!”


Arinda diam untuk melihat situasi. Matanya berkeliling. Ia akan beraksi di saat yang tepat. Dan, sekaranglah waktunya untuk eksekusi.


“Ricko, kamu sudah sadar.”


Spontan grup tante menor berfokus ke arah Ricko di atas kasur. Arinda sukses mengelabui mereka.


Kemudian, suara teriakan Lusi dan Jessica menggema. Mata mereka pedih akibat semprotan cabai milik Arinda.


“Siska!” panggil Arinda.


Saat Siska menoleh. Kembali, suara teriakan bergema. Kemudian, pintu terbuka menampilkan banyak penjaga.


Dengan sigap, Arinda mengalungkan tangan ke leher Siska. Gadis itu mengambil pisau kecil yang sengaja ia selipan di paha dengan cara mengikatnya.


“BERANI MAJU! DIA MATI!” Arinda berseru seraya menodong pisau tersebut ke leher Siska.


“MUNDUR BODOH! MUNDUR SEMUA! MATA GUE SAKIT! PANAS!” teriak Siska sudah tak sanggup menahan perih.


Bahkan, Jessica dan Lusi sedang bergulingan di lantai. Mereka terus berteriak kesakitan.


Anak buah Siska mundur teratur mengikuti perintah sang bos. Saat dipastikan semua keluar. Arinda mendorong Siska sampai tersungkur ke lantai bergabung dengan kedua temannya.


Kemudian, maju perlahan menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba tangan kekar melingkar di perut, memeluknya dengan erat. Arinda menegang. Untuk beberapa saat tak bergerak. Ia mematung di tempat dengan mimik terkejut.


__ADS_2