
HAPPY READING 🤗💞
.
.
.
Ricko bolak-balik di ruangannya dengan posisi ponsel didekatkan ke telinga. Sudah berkali-kali menelepon, tetapi tidak juga diangkat.
Ia frustrasi saat membaca surat resmi dari pemimpin kedua tertinggi di Narendra Corp. Kertas putih itu bertuliskan instruksi bahwa Rahardian menugaskan dirinya dan Arinda untuk mengurus klien di Yogyakarta.
Mall tersebut baru rampung sekitar 70 persen. Namun, sudah mulai banyak tenant menghubungi untuk ikut bergabung.
Oleh karena itu, Rahardian mengirim keduanya supaya mengurus segala sesuatunya agar berjalan lancar dan baik. Kebetulan yang memang terencana, mereka berada di satu tempat yang sama dan tugas tersebut bagian dari divisi marketing.
Saat itu, senyum lega dan senang tercetak jelas di wajah peserta rapat. Karena, merasa beruntung tak ikut rencana kerja tersebut. Pasalnya, mereka takut berlama-lama bersama dengan bos dinginnya.
Namun, berbeda dengan Arinda. Rasa bahagia tidak perlu ditanyakan lagi. Ia senang bukan main. Senyum pun tak lepas dari bibir merah muda itu.
Sementara Dini, diam dalam kebingungan. Banyak pertanyaan di kepala. Wanita hamil itu memang tak tahu-menahu jika semuanya merupakan skenario dari wanita-wanita Narendra. Jadi, wajar kalau ia tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi.
“Halo, Pap!”
Setelah hampir satu jam terus menelepon sang papa. Akhirnya, diangkat juga.
“Ada apa?”
“Pap, kenapa hanya aku dan satu karyawan saja yang harus memantau proyek mall di Jogja? Aku tidak mau!”
Protes keras dilayangkan Ricko. Ia tak mengerti jalan pikiran sang papa. Kenapa memilih dirinya dan Arinda? Catat! Mereka hanya berdua saja.
“Ricko, kamu Marketing Director dan karyawan lainnya merupakan Supervisor VM. Papa dengar gadis itu sangat cekatan dan juga sering berhubungan dengan para tenant. Jadi, kalian bisa saling bekerja sama untuk mengurus semua klien.”
“Kalau begitu biar aku mengurusnya sendiri saja.”
“Tidak bisa! Gadis itu juga perlu melihat lokasi agar bisa memikirkan desain yang pas dan baik. Sebenarnya, ada apa? Kamu tidak menyukainya? Apakah kinerja karyawan itu menurutmu buruk?”
Alasan dan pertanyaan yang dibuat-buat oleh Rahardian. Padahal, kalau hanya desain, masih bisa mengerjakannya dari jarak jauh.
Akan tetapi, ia butuh alasan agar rencana mengalir natural dan pertanyaan-pertanyaan pendukung perlu dilontarkan. Supaya, semua berjalan sempurna tanpa ada rasa curiga dari sang putra.
“Pap ....”
“Ricko, perlukah Papa turunkan jabatan kamu menjadi cleaning service? Bersiaplah memegang sapu, kain pel, dan membersihkan toilet setiap saat.”
Takut rencana itu gagal. Rahardian terpaksa membuat sedikit ancaman.
“Apa?” Aku membersihkan toilet? Apartemenku saja berantakan.
“Jangan membantah! Bekerja saja yang benar. Kamu butuh banyak pengalaman.”
Ricko menghela napas berat. “Baik, Bapak CEO yang terhormat. Aku menurut.”
“Tambahkan juga co-Founder. Ingat! Papa memiliki dua jabatan sekaligus.”
Ricko mencebik. “Sombong sekali! Sebentar lagi, aku juga akan memiliki jabatan-jabatan tersebut. Bahkan, akan lebih baik dari Papa.”
“Baguslah! Kalahkan Papamu ini. Bekerja yang giat untuk mendapatkan jabatan itu. Karena, Roni tak akan memberikannya begitu saja. Sekalipun kamu cucu kesayangan. Kakek tua itu butuh bukti.”
__ADS_1
“Pap ....”
“Jangan menganggu lagi! Papa dan Mama mau bersiap honeymoon ke Paris!”
Telepon terputus! Ricko menatap layar ponsel yang sudah mati dengan kesal!
“Apa-apaan orangtua itu? Honeymoon? Sudah memiliki banyak cucu, tetapi tidak malu menyebut kata-kata tersebut kepada anak bujang sepertiku.”
Oh, Tuhan! Lalu, selama satu bulan berdua dengan Arinda di Yogyakarta. Kenapa terdengar seperti honeymoon juga? Apakah Papa mengetahui siapa Arinda di masa laluku? Seperti ada yang aneh? Ricko membatin.
Dua hari kemudian
Sudah dua hari Arinda tidak muncul di Kantor Pusat. Gadis itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia ingin menyelesaikan semuanya sebelum berangkat ke Yogyakarta. Memastikan jika tak ada pekerjaan yang tertinggal.
Tanpa Arinda sadar, seseorang sudah berdiri di ambang pintu ruangannya selama kurang lebih sepuluh menit. Tak mencoba masuk atau melakukan apa pun. Hanya berdiam diri di sana dengan sorot mata tak terbaca.
“Cantik.”
Tiba-tiba, tanpa dikomando satu kata itu keluar. Selanjutnya, menggeleng untuk membantah perkataan berisi pujian yang barusan terucapkan.
Sayangnya, ucapan spontan tersebut tak di dengar oleh Arinda. Ia tengah sibuk dan terlihat serius dengan pekerjaannya. Seandainya saja gadis itu mendengar, mungkin senyum akan mengembang dan tentu akan terus menggoda Ricko.
Suara berdeham membuat Arinda mendongakkan kepala.
“Ricko!”
“Sibuk?”
“Merindukanku?”
“Di jawab, bukan malah balik bertanya.”
Arinda bertopang dagu. “Ada perlu?”
“Kita makan siang.”
Arinda mengerling. “Ah, mau melamarku?”
“Mimpi!”
“Kalau begitu ... aku sibuk.” Arinda melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Arinda ....”
“Baiklah ... aku hanya bercanda. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan langka di ajak makan siang pria tampan sepertimu.”
Ricko berdecak kemudian berdiri. “Cepatlah!”
Arinda bangun dari duduknya. Melangkah dan meraih tangan Ricko. Kemudian, menggenggam dan menariknya untuk jalan.
Ricko buru-buru melepaskan genggaman tersebut. “Aku bisa jalan sendiri!”
“Kalau kamu tidak menggandengku, nanti banyak cowok-cowok menggoda. Kamu lupa dulu selalu melakukannya dengan alasan tersebut.”
“Aku tidak ingat.”
Ricko melangkah cepat di depan dan meninggalkan Arinda di belakang. Wajahnya seketika memerah. Karena, memang benar dulu pria itu selalu melakukan hal tersebut. Posesif!
__ADS_1
Restoran seafood yang terdapat di lantai lima menjadi pilihan Arinda. Sebelum memulai percakapan, gadis itu menginstruksikan untuk makan terlebih dahulu.
Usai makanan tandas. Perut pun kenyang. Arinda mulai membuka obrolan.
“Sayang, bagaimana kabar Dito dan Zacky? Aku merindukan kedua sahabatmu.”
“Baik.”
“Sayang ....”
Ricko menghela napas lelah. “Dito masih di Batam ada proyek di sana. Zacky masih menyelesaikan kuliahnya di Jerman. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan tentang mereka, Nona?”
“Tidak perlu cemburu. Mereka sudah kuanggap sebagai sahabat juga.”
“Terserah sajalah!"
“Lalu, ada perlu apa mengajakku makan siang?”
“Lusa kita berangkat ke Yogyakarta ....”
Arinda memotong ucapan Ricko dengan senyum sumringah. “Kamu pasti senang bisa berduaan denganku, 'kan?”
“Hentikan omong kosongmu!”
“Iya-iya.”
“Di sana jangan menganggu, menyentuh secara fisik, memanggil 'sayang', mengikutiku, pokoknya jangan dekat-dekat denganku. Mengerti?!”
“Tidak.”
“Arinda ....”
“Di sini yang jadi wanita itu aku! Seharusnya, aku yang takut denganmu. Siapa tau di sana kamu tiba-tiba menyelinap ke kamarku?”
“Itu tidak akan terjadi.” Meski aku ingin.
“Kamu yakin? Padahal aku bisa membuka pintu kamarku nanti daripada harus menyelinap.”
“Arinda!”
Arinda tertawa. “Mengajakku makan siang hanya untuk membicarakan hal tak berguna ini.”
“Ini sangat berguna untukku.”
“Tapi, tidak untukku.”
“Aku tidak peduli pendapatmu.”
“Kamu harus peduli. Karena, mungkin saja di Yogyakarta nanti aku akan mati-matian merayumu. Dengar, Sayang! Tidak ada laki-laki yang bisa menolak pesonaku. Aku akan mendapatkanmu. Apa pun caranya! Jadi, bersiap saja, Ricko Bagaskara!”
Arinda bangun dari duduknya dan melangkah pergi. Meninggalkan Ricko dengan wajah melongo.
“Apa barusan dia sedang mengancamku?! Oke, Arinda. Aku akan mengikuti sejauh mana permainanmu. Tapi, jangan salahkan aku jika nanti lepas kontrol.”
Ricko tersenyum sinis seraya terus menatap kepergian Arinda yang mulai menghilang dari pandangan.
Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞
Saranghaeyo 💞😘
__ADS_1
Jangan lupa vote-nya 🤗💞
Jangan lupa klik tombol like-nya juga 🤗💞