
Kegaduhan terlihat jelas di depan mata. Suara ketakutan dan pekikan orang-orang terdengar tiada henti.
Sementara, senyum tipis seseorang samar terlihat di tengah kericuhan. Rasa bahagia yang terpancar mengiringi bunyi genderang kemenangan yang ditabuh. Saatnya menyalakan kembang api kebahagiaan.
Melangkah pergi dengan senyum terpatri. Meninggalkan hiruk pikuk yang telah usai.
Suara tawa menggema di dalam sebuah mobil di tempat parkir Mal Diamond. Lusi menelepon kedua sahabatnya. Kemudian, menyuruh berkumpul di Rumah Jessica. Wanita itu segera melajukan mobil menuju lokasi perayaan.
“Let’s go to the party!”
❄️❄️❄️
Tak ada hal yang lebih membahagiakan bagi pembenci adalah dengan melihat pesaingnya jatuh telak.
Kelemahan adalah celah untuk menghancurkanmu. Kesulitan adalah bahan untuk menertawakanmu. Kecerobohan adalah bumerang untukmu. Sekaligus membuka jalan musuh meraih kemenangan.
Lusi juga tak pernah menyangka, akan bertemu dengan perempuan yang amat ia benci. Niat hati ingin jalan-jalan saja sendirian menikmati suasana mal. Tapi, harus berubah menjadi seorang penguntit. Wanita itu tak mau melewatkan kesempatan bagus untuk menghancurkan si Matrealistis.
Seringai mengerikan terbit di bibirnya yang selalu berwarna merah. Bagai menang undian lotre, kebahagiaan terasa sempurna. Bendera sang juara mulai berkibar. Trio tante menorlah juaranya.
Satu jepretan dari kamera ponsel miliknya memotret dengan sangat jelas dan baik. Seperti seorang anak yang mendapat hadiah sebatang cokelat, kejutan ini terasa manis.
Mencari nomor kontak seseorang. Kemudian, tanpa beban mengirimkan foto hasil buruannya tadi.
“Done!”
Merasa belum cukup, Lusi terus mengikuti kedua orang tersebut dari jarak cukup jauh. Meskipun begitu, mata terus mengawasi gerak-gerik mereka. Berharap akan ada situasi menguntungkan yang bisa mengabadikannya kembali.
Berjalan mengendap layaknya mata-mata. Wanita itu tak sedikit pun melepas pandangan. Pemburu sudah siap dengan alat berburunya. Kamera ponsel dalam posisi standby untuk berjaga-jaga. Jadi, jika ada peristiwa yang mengejutkan terjadi, tinggal melepas jepretan.
Lusi melihat buruan masuk ke toko perhiasan dan duduk bersebelahan. Layaknya sepasang kekasih yang tengah berbahagia. Ia lantas kembali menyeringai.
“Teruslah tersenyum, Arinda. Karena, setelah ini lu bakal menangis. Ucapkanlah selamat tinggal pada kemewahan dan kepada kekasih tercinta.”
__ADS_1
Lusi berjalan mendekat. Ia hanya memberi jarak sekitar dua meter saja. Demi hasil foto yang baik, tentu risiko ini mau tak mau di ambil wanita itu.
Secara diam-diam, Lusi berhasil memotret beberapa momen yang menurutnya terbaik. Saat merasa hasil fotonya cukup untuk menjadi senjata, ia kembali menjauh.
Secepat kilat, wanita itu mengirimkannya kembali kepada Ricko. Kali ini tidak hanya satu. Tapi, tiga foto sekaligus berikut alamat di mana mereka berada, telah sukses terkirim.
“Arinda, oh, Arinda. Di saat kita sudah mengaku kalah, tetapi justru lu mengantar sendiri kemenangan yang tertunda ini.” Tawa bahagia dan seringai mengerikan terbit dari bibir tipis merah berona itu.
Perang akan segera dimulai.
“Selamat menikmati hasil dari keserakahan lu itu, Arinda! Siapa yang suruh jadi cewek gak tahu diri. Perempuan matre, memang gak pantes untuk Ricko. Cowok itu terlalu mahal buat murahan kayak elu.”
Beberapa saat kemudian, seseorang yang ditunggu akhirnya muncul. Lusi mengembangkan senyum.
“Saatnya menonton pertunjukan.”
Lusi mendekat ke arah mereka, tetapi tetap bersembunyi di balik dinding. Suara teriakan dan baku hantam kentara sekali terdengar.
Lusi begitu menikmati adegan action secara live tersebut. Isak tangis dari seorang wanita yang merupakan targetnya ikut mengiringi. Semakin seru! Suasana pun telah ramai oleh orang-orang yang penasaran dengan keributan di toko tersebut.
Saat pihak keamanan datang, Lusi menyudahi tontonan. Ia pergi dari sana dengan hati riang.
❄️❄️❄️
“TOS!”
Tiga gelas kaca saling beradu mengiringi tawa yang tiada henti bergaung. Misi untuk menghancurkan lawan telah berhasil. Semua tanpa rencana dan tak di sengaja. Mereka merasa Dewi Fortuna saat ini tengah berpihak kepada orang yang tepat.
Setelah berkali-kali berusaha menjatuhkan si Cewek Matre. Perempuan itu akhirnya bisa hancur. Bagi mereka bertiga, semua kejadian hari ini adalah kado terindah.
“Hebat, Lus! Akhirnya tu cewek kalah. Gue yakin setelah ini mereka akan putus.”
“Pastinya!” sela Siska bersemangat.
__ADS_1
Siska adalah orang yang paling berbahagia di antara mereka bertiga. Bagaimana pun juga, dendam terhadap Arinda masih berkobar. Dengan kejadian ini, sang rival telah membayar semua kekalahan yang sebelumnya terpaksa diterima.
“Terus, apa rencana kita sekarang?” tanya Jessica dengan wajah polos.
“Menikmati lagi masa kejayaan kita di sekolah. Tentu, tanpa perempuan matrealistis itu ikut mendominasi. Karena gue yakin, sekarang tu cewek udah gak punya power lagi,” jawab Siska seraya tertawa.
“Yup! Kita akan kembali menjadi trio yang paling populer di Sekolah. Tapi, bagaimana Arinda? Mau kita bikin kayak apa tu orang?”
“Enggak usah menggubris dia lagi, Lus,” jawab Siska cepat.
“Jadi, kita main aman?” tanya Jessica lagi-lagi dengan wajah polos.
“Bukan begitu, Jessica! Lepas dari Ricko, si Arinda cuma upik abu. Inget! Dia tu pembawa sial! Jangan dekat-dekat, deh. Entar kita bisa ketularan!” seru Siska menjawab seraya tersenyum mengejek.
Sebenarnya, itu hanya alasan Siska. Ia hanya takut Arinda akan merealisasikan ancamannya. Yakni, mengadukan mereka bertiga kepada Ketua Yayasan lewat sang putra, Ardi.
Ardi sama dengan Ricko. Cinta mati kepada Arinda. Bisa gawat kalau putra Ketua Yayasan kembali dekat dengan si Matrealistis, batin Siska.
Siska pun tak mau pesaingnya itu kembali hidup dalam limpahan kemewahan. Ia sungguh tak rela jika itu terjadi. Sudah susah payah meraih kemenangan tanpa bersusah-susah, masa harus secepat itu kalah lagi.
Oleh sebab itu, menjauh dari Arinda adalah rencana yang tepat.
Siska geram jika mengingat saat-saat Arinda bersama Ricko. Si Matrealistis itu semakin populer, terutama di kalangan laki-laki. Di tambah lagi pesaingnya itu begitu dimanja sang kekasih. Ia begitu iri oleh nasib baik yang selalu menghampiri perempuan matre itu.
“Setuju, deh! Anggap aja sekarang dia sudah punah,” timpal Lusi.
“Wah! Enggak sabar gue buat menikmati masa-masa emas kita lagi. Pokoknya, kita harus menjadi yang terbaik dari semua orang di Sekolah,” ucap Jessica.
“Masa itu sudah di depan mata, kok!” Siska berseru.
Tawa mereka kembali pecah. Kesenangan dan obsesi menjadi paling populer seperti dulu, seakan-akan tak membuat mereka kapok pada hal-hal buruk yang menimpa.
“Ayo! Kita merayakan dua hal sekaligus. Kemenangan kita dari si Matrealistis dan kembalinya masa kepopuleran kita di Sekolah.”
__ADS_1
“TOS!”