ARINDA

ARINDA
Flashback: Di balik peristiwa


__ADS_3

Sehari setelah pertemuan terakhir Erwin dengan Aris dan Nirwan di Hotel. Itulah saat di mana peristiwa kelam tersebut terjadi.


Malam sebelumnya, Arinda melarikan diri dari kamar hotel. Bahkan, Nirwan dan seluruh anak buahnya dilumpuhkan dengan cara di bius. Mereka baru sadarkan diri keesokan harinya.


Keluarga Anggoro menjadi berang. Pasalnya, sang pejabat tak terima jika putranya harus kembali menelan pil pahit kehilangan gadis yang ia cinta. Dan, merasa terhina akibat semua anak buahnya terbius dan terkurung dalam satu kamar.


Malam harinya, Aris beserta anak buahnya mendatangi Erwin dan Nita. Menginterogasi mereka berdua. Bertanya ke mana Arinda pergi melarikan diri? Dan, siapa yang menolongnya untuk kabur saat berada di hotel?


Tentu saja, baik Erwin ataupun Nita tak mengetahui tentang hal tersebut.


Erwin hanya tahu jika Arinda pergi melarikan diri dibantu seorang pria seumuran sang putri. Tapi, tak mengetahui secara pasti siapa pemuda tersebut. Kondisi lampu temaram dan setengah mabuk juga membuatnya kesulitan mengingat jelas.


“KATAKAN! DI MANA ARINDA?!”


Aris berteriak kencang. Belum lagi tiga buah pistol mengacung ke arah mereka berdua. Spontan membuat Erwin dan Nita semakin tercekam ketakutan.


“JAWAB ATAU KALIAN AKAN MATI!”


Erwin dan Nita refleks bersimpuh di bawah kaki Aris memohon kehidupan. Keduanya mengatakan sebenar-benarnya jika tak tahu ke mana sang putri pergi.


Akan tetapi, jawaban mereka tidak membuat Aris puas. Ia kadung sakit hati atas penolakan kembali yang dilakukan Arinda kepada Nirwan. Sang pejabat bersumpah akan membunuh gadis itu.


“Bunuh wanita tua itu. Sisakan yang pria.” Aris memerintah dengan suara pelan kepada anak buahnya. Namun, kata-kata tersebut penuh makna dan penekanan. Ia berjalan menuju kursi dan mendudukkan diri di sana seraya mulai menikmati pertunjukan.


Mendengar perintah tersebut, Erwin dan Nita gemetar. Keduanya berteriak memohon ampunan.


Namun, peluru sudah memelesat tepat ke arah Nita. Suara tembakan dari tiga pistol, sukses membuat wanita paruh baya itu tergeletak bersimbah darah.


Erwin syok! Ia terdiam di tempat dengan mulut menganga dan mata melotot dengan tubuh semakin gemetar. Bulir keringat dingin pun menguar dari kening. Saat kesadarannya kembali, pria itu langsung menghampiri sang istri. Lalu, mengangkat kepalanya kemudian menaruh di atas pangkuan.

__ADS_1


Saat pertunjukan usai, Aris beranjak bangun. Ia mendekati Erwin dan memberi titah mengancam. “Cari putrimu! Bawa padaku dan kau akan selamat. Tapi, jika tidak, nasibmu akan sama seperti itu.” Tunjuknya dengan ekor mata ke arah Nita. “pilihan ada padamu. Kau atau Arinda yang mati selanjutnya?”


Usai mengatakannya Aris pergi meninggalkan pasangan suami-istri tersebut.


Nita tengah meregang nyawa. Dengan terbata, ia mencoba mengatakan sesuatu. Erwin pun memegang erat tangan sang istri seraya menangisi tubuh bersimbah darah di atas pangkuannya.


Erwin takut akan kehilangan sosok Nita. Ia memang sering menyakitinya. Namun, jauh di lubuk hati, sebenarnya sangat mencintai sang istri.


Nita memohon kepada Erwin agar melindungi Arinda dari kemarahan Aris. Jangan sampai sang putri mati di tangan Ayah Nirwan.


Nita kembali berucap lirih dan masih terbata agar Erwin mengabulkan permohonannya. Pria itu mengangguk seraya berurai air mata.


Selang beberapa menit kemudian Nita mengembuskan napas terakhir. Erwin menangisi sang istri. Tubuh tak bernyawa itu ia gerakkan terus berharap ada keajaiban. Namun, jiwa sudah terlepas dari raga. Peluru yang menembusi bagian dada, salah satunya bersarang tepat di jantung.


Malam kelam bagi Erwin. Kematian Nita begitu merobek relung hati. Ingin membalas dendam pun tiada arti. Pasalnya, harus membalas dengan apa? Kekuasaan dan uang tak ia punya sementara Aris memiliki segalanya.


Aris merupakan salah satu pejabat dengan memiliki banyak koneksi orang penting. Kebal hukum pastinya akan berlaku.


❄️❄️❄️


Erwin menatap kedatangan Arinda bersama dua orang laki-laki. Salah satunya baru ia ingat adalah orang yang menolong sang putri melarikan diri.


Seketika perasaan lega bersemayam. Setidaknya, Arinda aman bersama mereka yang Erwin yakin pasti anak baik-baik.


Erwin akan mengabulkan permintaan terakhir sang istri. Karena, pria itu tahu betul jika Arinda tidak bersalah. Karena, semua terjadi memang murni adalah kesalahannya seorang.


Erwin semalaman banyak merenungi kehidupannya yang salah jalan. Ia memang terlambat karena sang istri telah tiada. Itu semua terjadi akibat frsutrasi. Kemudian, berubah menjadi keserakahan dan nafsu bersenang-senang sesaat.


Akan tetapi, pria itu berpikir belum terlambat untuk menyelamatkan nyawa Arinda. Pikirnya, ia mau menebus dosanya kepada sang putri. Erwin terus memutar otak. Bagaimana caranya agar gadis itu pergi tanpa pernah berminat lagi untuk kembali ke rumah ini?

__ADS_1


Sejenak terdiam dengan pikiran yang berkelana. Akhirnya, Erwin memiliki satu ide. Memang akan menyakiti hati Arinda, tetapi itu yang terbaik untuk sang putri.


Erwin pun ingin Arinda memiliki kehidupan yang lebih baik tanpa ada dirinya. Bagaimanapun anak yang dibawa Nita belasan tahun lalu, sejak kecil sampai sebesar ini adalah anak yang penurut dan baik. Jadi, gadis itu juga berhak mencari kebahagiaannya sendiri.


Usai tahlilan, Erwin memastikan jika semua yang ikut mendoakan sudah pulang. Dari jarak beberapa meter dari rumah, ia melihat kedua teman Arinda pulang.


Erwin melangkah perlahan menuju rumah. Suasana di dalam sudah sepi. Ia mencari keberadaan sang putri. Setelah menjelajah ternyata terlihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Arinda berada di kamarnya dan Nita.


Erwin menarik napas panjang terlebih dahulu dan mengembuskan perlahan. Setiap hari hobinya menyakiti sang putri, tetapi entah kenapa kali ini hatinya rasanya ingin menolak. Namun, demi janji kepada Nita untuk melindungi Arinda agar selamat. Ia akan memulai aksinya walaupun dengan berat hati.


Erwin membuka pintu secara kasar dengan menampilkan wajah tak bersahabat. Kemudian, tuduhan-tuduhan mulai dilayangkan. Tapi, sepertinya itu semua hanya membuat Arinda marah saja, bukan berkeinginan pergi dari rumah.


Akhirnya, dengan terpaksa Erwin mengucapkan kata-kata yang lebih menyakitkan. Memberikan label 'Anak Pembawa Sial' pasti akan membuat sang putri murka. Dan, benar saja, gadis itu berang.


Erwin pun terus melancarkan kata-kata kejam. Bahkan, mengusirnya dari rumah.


Karena kesal dan amarah menguasai. Arinda mengiakan perkataan Erwin.


Saat itulah, di dalam hati Erwin merasa lega. Akhirnya, Arinda mau pergi dari rumah. Lalu, untuk mengantisipasi sang putri memiliki niat kembali pulang. Ia melontarkan kembali hinaan-hinaan. Berharap gadis itu semakin membencinya dan selamanya menghilang dari pandangan.


Akan tetapi, Erwin tak memungkiri kalimat balasan terakhir dari Arinda sangat menohok. Padahal, apa yang diucapkan sang putri benar adanya bahwa ia adalah Papa yang jahat.


❄️❄️❄️


Selang beberapa saat, Arinda keluar dari rumah. Sang putri benar-benar pergi.


Erwin menatap kepergian Arinda dari jendela kamar. Ia mengembuskan napas lega sekaligus sedih.


“Berbahagialah di luar sana, Nak. Pergi yang jauh dan jangan pernah lagi menengok ke belakang. Raihlah masa depanmu yang sempat suram. Papa akan selalu berdoa agar orang-orang baik senantiasa selalu mengelilingimu.”

__ADS_1


Kemudian, dirinya pun segera membereskan sedikit pakaian dan beberapa barang ke dalam tas. Lalu, secepatnya pergi juga dari rumah.


Erwin memilih untuk melarikan diri daripada mati konyol di tangan Aris. Ia masih ingin hidup. Apalagi cara kematian yang pejabat itu tawarkan sangat mengerikan. Bahkan, bagaimana Nita tertembak sampai meregang nyawa pun masih terbayang-bayang di kepala.


__ADS_2