ARINDA

ARINDA
Pengantin baru


__ADS_3

Tengkiu untuk komentar, like, dan vote-nya 🤗😘 Kalian terdebesst 😍 👏👏👏


Kuy, kita langsung ke TKP. Cekidot 😉


Tepat pukul dua belas malam acara usai. Kini keduanya berada di dalam kamar hotel. Aura canggung kentara terasa. Baik Ricko ataupun Arinda hanya duduk diam di pinggir kasur. Mereka masih mengenakan pakaian pengantin.


Ricko berdeham untuk netralisasi keadaan agar bisa sedikit santai.


“Sayang.”


“Sayang.”


Keduanya saling memanggil dan melempar pandangan kemudian tertawa bersama.


“Ladies first.”


Arinda menggeleng. “Tidak mau.”


Ricko mengalah. “Kamu atau aku yang mandi lebih dulu?”


“Kamu. Aku mau menghapus riasan dan melepas aksesori ini dulu.” Tunjuk Arinda pada mahkota di kepala.


“Aku bantu melepasnya.”


“Aku bisa sendiri.”


“Ya, sudah. Aku mandi dulu.” Ricko segera masuk ke dalam kamar mandi. Namun, keluar kembali seraya cengar-cengir. “Aku lupa bawa handuk.”


Di dalam kamar mandi, Ricko bersandar di balik pintu. Ia memegang dadanya. Degup jantung itu sangat kencang. Kemudian, menghela napas berat.


“Gue gak nyangka malam pertama kondisinya bisa sekikuk dan menegangkan begini. Padahal, belom juga mulai.”


Sementara di luar, Arinda melakukan hal yang sama. Memegang dadanya yang terus berdetak dengan ritme sangat cepat.


“Jantung gue. Berasa abis lari maraton di Stadion Senayan. Oh, malam pertama. Belum juga tempur, gue serasa udah ngos-ngosan duluan.”

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian


Sebelum keluar dari kamar mandi. Ricko memantapkan hati agar tidak gugup.


“Gue laki-laki. Harus gentleman. Jangan mentang-mentang masih perjaka terus malu-malu. Bisa gagal cetak gol nanti. Ayo, Ricko. Tunjukkan kejantanan lu. Semangat, lu pasti bisa.”


Ricko menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Lalu, keluar dengan memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Pria itu tengah mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Ia mencoba bersikap seolah-olah biasa saja agar tidak terlihat sedang gugup.


Arinda memandangi Ricko dari cermin di depannya. Duh, doi sekarang udah jadi laki gue. Lihat aja, tu body seksi banget, peluk-able, sandar-able, paket komplet. Pokoknya, semua punya gue, gumam Arinda hampir meneteskan air liur.


“Sayang, jadi mandi?”


Suara tanya Ricko membuyarkan lamunan Arinda.


“Ah, mandi. Tentu.” Arinda beranjak bangun, tetapi baru tiga kali melangkah berhenti kemudian berbalik.


Ricko menaikkan satu alisnya. “Ada apa?”


“Aku gak bisa membuka ritsleting belakang. Boleh minta tolong?”


“Sekalian buka semua pengait longtorso, ya.”


“Lontongso? Yang mana?”


“Longtorso, Sayang. Ini.” Tunjuk Arinda mengarahkan tangannya ke belakang.


“Oh.” Ricko melepas satu per satu pengait tersebut dengan sesekali menelan air liurnya. “Sudah.”


“Makasih.” Arinda bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Ricko lagi-lagi harus mengembuskan napas berat. Saat membuka ritsleting sampai ke pinggul tadi, sudah terlihat kalau body sang istri sangat aduhai. Di tambah, melepaskan pengait longtorso tanpa sengaja jemarinya menyentuh kulit punggung Arinda. Dengan segenap kesabaran, ia menahan gejolak yang memang sudah muncul.


“Dia gak pakai apa-apa di balik ... apa tadi namanya, ya? Ah, pokoknya itulah. Oh, Arinda. Kulit punggungmu saja selembut dan semulus itu. Bagaimana bagian yang lainnya?”


Ricko menatap pintu kamar mandi dengan lekat. Membayangkan Arinda tidak mengenakan apa pun di dalam sana. Kemudian, ia menurunkan pandangan ke area sensitifnya. “Sabar, ya, junior. Sebentar lagi giliranmu. Bermain yang hebat, ya, nanti. Buat wanitaku kewalahan menghadapimu.”

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian


Arinda keluar dengan memakai bathrobe dan handuk kecil yang sudah dililit di kepala. Ia masuk ke dalam ruang ganti tempat di mana kopernya berada. Namun, kebingungan karena miliknya tak ada.


“Sayang, kamu lihat koperku?”


“Bukankah ada di sana semua?” Ricko balik bertanya dari dalam kamar. Pasalnya, ia belum berganti pakaian. Karena, masih mengenakan handuk.


“Punyaku gak ada, Sayang. Keduanya bukan milikku.”


Ricko datang menghampiri Arinda. Ia melihat satu koper adalah miliknya.


“Coba buka isi koper itu, barangkali punyamu. Mungkin kamu lupa.”


Arinda mengernyit. Ia merasa tak mungkin lupa. Bahkan, koper ini juga bukan miliknya. Akan tetapi, ia menuruti Ricko saja supaya tidak penasaran.


Begitu koper terbuka, ada satu lembar kertas kecil berisikan pesan. Ricko mengambil dan membacanya dengan lantang.


“Dari yang tersayang, Rifa dan Risa. Sukses malam pertamanya. Ayo, Arinda! Buat Ricko K.O.” Ricko menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua kakaknya. Tapi, ia cukup senang karena mereka begitu pengertian.


Risa dan Rifa sengaja menukar koper Arinda. Agar malam pertama mereka semakin bertambah bergairah dan bersemangat.


Kedua pengantin baru itu saling pandang. Wajah Arinda terlihat sudah bersemu merah karena ucapan tersebut. Kemudian, mencoba mengalihkan tatapan pada isi koper.


Arinda mengambil satu dan mengangkatnya. Gaun tidur transparan berwarna merah menyala. Buru-buru ia menaruhnya karena malu dengan Ricko yang berada tepat di samping.


Sebagai wanita dewasa. Arinda cukup tahu pakaian macam apa yang diberikan oleh Rifa dan Risa.


Ricko pun tahu pakaian jenis apa itu. Meskipun tidak mengetahui secara mendetail. Tapi, dipikiran nakalnya sekarang sudah terbayang jika Arinda memakai gaun tersebut. Pasti semakin cantik dan seksi.


“Sayang, kenapa ditaruh lagi?”


“I-itu ....”


Ricko mengambil satu dan memberikannya kepada Arinda. Kemudian, berbisik di telinga sang istri. “Aku suka warna hitam. Pakailah. Aku tunggu di kamar.” Ia mengecup pipi mulus itu dan bergegas pergi.

__ADS_1


Wajah Arinda seketika menegang dan memanas. Kemudian, ia meluruhkan diri ke atas lantai. Mengangkat gaun tidur tersebut seraya berucap lirih, “Kenapa Ricko jadi genit gitu, sih? Gue kan malu pake beginian. Duh, Zacky. Tolong gue. Gimana, nih?”


__ADS_2