
Menangis itu menguras energi dan cukup melelahkan walaupun membuat hati lega. Arinda pun sudah berhenti mengeluarkan air mata. Ia memutuskan untuk pergi. Namun, menunggu keadaan sepi.
Tepat pukul delapan malam, semua orang akan masuk ke dalam kamar. Rutinitas harian bagi keluarga Dini, jika tak ada hal penting, tidur pasti tepat waktu.
Saat keadaan sudah aman. Perlahan, Arinda keluar kamar dan melangkah pasti pergi dari rumah Dini. Dengan sebelumnya meninggalkan secarik kertas permintaan maaf dan ucapan terima kasih.
Apartemen miliknya adalah tujuan pertama. Begitu tiba, police line masih terpasang di depan pintu, Arinda melangkahinya.
Knop pintu ditarik ke bawah dan terbuka. Saat masuk terlihat jelas darah bekas penembakan itu sudah mengering. Keadaan di dalam pun masih sama ketika ia pergi.
Sepertinya, tak ada yang berani masuk. Pencuri pun mungkin enggan mengingat peristiwa mengerikan tersebut menewaskan korban dan tersangka. Berita tersebut pun sudah ramai baik di media elektronik ataupun media cetak. Mereka pasti menganggap tempat ini horor.
Ya. Setelah Erwin meninggal, dua hari kemudian Aris menyusul ke alam baka. Meninggalkan sang putra, Nirwan, di Penjara. Vonis memang belum dijatuhkan, tetapi sudah pasti tuntutan keluarga Arinda dalam hal ini Zacky sebagai wali. Dan, Keluarga Narendra sebagai pendukung akan memberatkan.
Arinda masuk dan duduk di pinggir kasur seraya memandangi setiap sudut ruangan. Ia melihat ponselnya masih berada di tempat semula. Mengambilnya di atas nakas kemudian mengisi baterainya sebentar.
Arinda beranjak bangun, mengambil koper di atas lemari. Memasukkan baju-baju dan keperluan lain ke dalam sana.
“Life must go on, Arinda. Kesendirian adalah temanmu. Jadi, jangan takut.”
Usai memasukkan semua kebutuhan ke dalam koper. Arinda kembali duduk di pinggir kasur. Menyalakan ponsel dan membuka aplikasi biru kuning. Memesan sebuah tiket ke Bali beserta tempat penginapan untuk sementara.
Kemudian, Arinda mengutak-atik benda pipih tersebut. Agar Ricko tak lagi bisa melacak di mana ia berada. Selesai.
“Bali. Seumur hidupku belum pernah menginjakkan kaki di tempat tersebut. Tapi, mulai besok aku akan memulai hidup baru di sana. Hah! Semoga saja Pulau Dewata itu bisa menjadi tempat peruntunganku.”
Arinda mengambil tas dan memasukkan beberapa berkas penting miliknya.
“Mbak dini, Mas Fajar, kesayangan aunty, Febi, dan Fina. Aku pasti merindukan kalian. Ricko, Zacky, dan Dito. Selamat tinggal semua.”
Arinda beranjak bangun dan pergi dari apartemen menuju bandara. Tanpa gadis itu sadar, netra pekat dengan senyum misteriusnya membuntuti taksi biru yang ia sewa.
“Jalan, Pak. Ikuti taksi itu.”
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Arinda memilih menunggu di bandara hingga pagi tiba.
Netra pekat milik seorang pria tampan duduk tak jauh dari Arinda dan terus mengawasi. Pria itu tak mau lagi kehilangan. Jadi, memilih mengintai dan akan muncul di waktu yang tepat.
“Sudah kubilang jangan pernah mencoba untuk kabur, Nona. Pergi ke mana pun aku pasti menemukanmu.”
Flashback on
“Halo, Kak Shavic! Apa maksud tiket dan vila ini?”
“Untuk urusan asmara kau memang lamban sekali mencerna, Ricko.”
“Kak, please.”
__ADS_1
“Arinda berniat pergi darimu dan semua orang. Kejar dan tahan dia sesaat. Jangan sampai terlambat. Bulan depan Opa Roni bertandang ke Pulau Dewata untuk perayaan ulang tahun Hotel Diamond di Bali. Jaga gadismu sampai saat itu tiba.”
“Jadi, selama satu bulan aku akan bersama Arinda di Bali.”
Senyum nakal tercetak jelas di bibir Ricko.
“Ricko, singkirkan otak kotormu. Jaga Arinda dari dirimu juga!”
“Iya, Kak.”
Ricko mendengus. Punya kakak ipar paket komplet sekali. Sampai tahu isi kepalaku. Persis Kak Rifa. Suami-istri sama saja seperti cenayang, gerutunya dalam hati.
“Tidak usah menggerutu, Ricko!”
Astaga! Benar-benar cenayang. Ricko membatin.
“Iya, Kak. Iya. Sekarang aku akan menghubungi Zacky.”
“Tidak perlu. Dokter muda itu akan diurus Papa dan Mama.”
“Ah, begitu.”
“Arinda sekarang berada di apartemennya. Baru saja tiba. Cepat berkemas dan pastikan gadismu memang benar ke Bandara. Jangan sampai kehilangan jejak.”
“Baik, Kak. Aku bersiap. Kalian memang keluarga terbaik.”
Telepon terputus.
“Satu bulan di Bali dan hanya berdua. Aku pastikan hari-hari kita akan menyenangkan, Sayang.” Ricko tersenyum penuh makna. Kemudian, beranjak bangun untuk berkemas mengejar sang pujaan.
Flashback off
🌺🌺🌺
“Kita sudah sampai. Mau kugendong?”
“Tidak mau!”
Selama perjalanan di pesawat, Arinda terus menampilkan mimik cemberut. Ia kesal karena acara melarikan dirinya ketahuan.
“Lalu, kenapa tidak turun?”
“Bagaimana aku bisa turun kalau kamu menghalangi jalan!”
“Duh, judes banget. Calon istri siapa, sih, ini? Menggemaskan sekali.”
“Ricko, ih! Aku mau turun.”
__ADS_1
“Iya. Ayo!” Ricko menarik tangan Arinda dan gadis itu menepisnya.
“Tidak usah pegang-pegang!”
Ricko mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah. “Oke.” Ia tersenyum seraya memberi jalan dan mengikuti langkah sang pujaan dari belakang. Kemudian, menggelengkan kepala melihat cara jalan Arinda yang mengentak.
Koper sudah di tangan. Arinda mendorongnya sendiri menuju taksi biru.
Ricko ingin membantu, tetapi ditolak. Seperti biasa, pria itu hanya membawa tas punggung saja.
Di bantu sang pengemudi taksi untuk memasukkan koper ke dalam bagasi, gadis itu memilih lebih dulu masuk ke mobil.
Lima menit kemudian, Ricko ikut masuk dan duduk di sebelah Arinda.
Arinda menatap tajam. “Ricko! Pergi cari taksi lain sana.”
“Berdua kan bisa menghemat ongkos, Rin. Kita bisa patungan.”
“Ih, kamu kan orang kaya?”
“Aku sedang mengirit untuk biaya pernikahan kita nanti.”
“Ricko, ih. Perhitungan sekali.”
“Ah, jadi sudah setuju menikah denganku.”
“Siapa yang mau menikah denganmu? Percaya diri sekali.”
“Kamu.”
“Rick, sudah. Aku capek.”
“Malam pertama saja belum. Masa sudah capek.”
“Ricko Bagaskara!”
Ricko kembali mengangkat kedua tangan, menyerah.
“Mau ke mana kita Bapak dan Ibu?” tanya si Pengemudi begitu masuk ke dalam mobil.
Arinda menyebutkan tempat menginapnya.
“Antar saya dulu, Pak. Baru selanjutnya antar orang di samping saya.”
“Oh, maaf. Saya pikir suami-istri.”
“Suami-istri, Rin.” Ricko tersenyum jenaka ke arah Arinda seraya menaik turunkan alisnya. Menggoda.
__ADS_1
Arinda menatap Ricko dengan tajam sekaligus mencebik kemudian berpaling. Astaga! Kalau begini kapan aku bisa hidup tenang? Ya, Tuhan! Bantulah hamba-Mu dari godaan pria tengil, tetapi menawan di sampingku ini, batinnya.