ARINDA

ARINDA
Foto kebersamaan


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Telepon berdering, sang asisten dengan sigap mengangkat.


“Halo, selamat pagi!”


Seseorang di seberang sana berbicara sangat cepat. Begitu selesai langsung menutup telepon. Arinda mengernyit dan beranjak bangun.


Pintu ruangan diketuk. Ketika suara di dalam sudah mempersilakan masuk, Arinda bergegas membuka pintu. Menghampiri Ricko yang sedang berkutat di depan laptop.


“Rick, ada ....”


“Di luar jadwal, jika ada yang ingin bertemu, tolak saja. Aku sibuk.”


“Pak Rahardian menunggumu di ruangannya. Beliau ingin menyampaikan hal penting kepadamu.”


“Papa disini?” Bukankah dua Minggu lalu baru kembali ke London?


“Iya. Aku hanya menyampaikan pesan dari sekretaris Papamu.”


“Arinda, kemarilah!” Gadis itu menurut. “Duduk disini dan tolong cek ulang hasil laporan itu. Aku sedang memeriksa seluruh laporan keluar masuk barang dan sewa gedung. Sudah 90 persen rampung. Bisa selesaikan sisanya, sementara aku bertemu Papa?”


“Tentu.”


“Terima kasih. Aku ke atas dulu.”


🌺🌺🌺


“Pak Rahardian di dalam?”


“Iya, Pak Ricko. Beliau sudah menunggu Anda. Silakan masuk.” Sang sekretaris langsung beranjak bangun dan membukakan pintu.


Ricko mengangguk tanpa menyahut. Ia masuk dan mendudukkan diri di depan sang papa.


“Ada apa, Pap?”


Rahardian melempar amplop cokelat cukup tebal ke hadapan Ricko. Wajahnya terlihat kesal dengan tatapan tajam menusuk menatap sang putra.


Ricko menaikkan satu alisnya. Mengernyit bingung.


“Ada apa, Pap?”


“Buka saja! Dan, lihat hasil perbuatanmu!”


Ricko mengambil amplop cokelat tersebut. Menarik isi di dalam dan melihatnya dengan wajah tercengang.


“I-ini ....”


“Jaga dirimu dan Arinda! Jangan mengumbar kemesraan di depan khalayak ramai!”


Ricko menunduk. Isi amplop itu adalah hasil foto-fotonya bersama Arinda. Mulai dari saat berada di taman bermain, makan kepiting di Surabaya, salon, dan Pantai Ancol.


Semua momen tak ada satu pun yang terlewat. Jepretan itu bisa dipastikan dari orang yang sudah mahir mengingat hasilnya sangat jelas dan bagus. Fotografer tersebut layaknya paparazi, begitu lihai. Sampai Ricko pun tidak mengetahui jika ada orang yang menguntitnya.


“Maaf, Pap.”


“Maaf darimu tak akan berguna jika gadis itu mati. Hanya penyesalan yang akan kamu rasakan, Ricko!”

__ADS_1


Ricko semakin menunduk dalam. Tangannya mengepal di atas pangkuannya.


Sial! Siapa yang melakukan ini. Membuat hubunganku dengan Arinda semakin bertambah susah saja! Ricko membatin geram.


“Aku tak akan mengulangi.”


“Papa benci mengatakan ini, sepertinya kamu harus kembali ke London.”


Ricko langsung mendongak kaget. “Pap! Aku janji tidak akan melakukannya lagi.”


“Biar Papa urus perusahaan disini. Kamu pindah ke London. SEGERA!”


“Pap! Aku sudah minta maaf dan aku janji tidak akan mengulangi lagi. Kurang apa lagi, Pap! Jangan memisahkanku dengan Arinda.”


“Kalian tidak bisa mengontrol perasaan. Itu berbahaya, Ricko!”


“Untuk pertama kalinya aku benci menjadi anakmu sekaligus keturunan Narendra!” seru Ricko menatap Rahardian dengan tatapan permusuhan.


Rahardian mendengus. “Kebencianmu tidak akan mengubah apa pun. Kamu tetap anak Papa sekaligus keturunan Narendra!”


Ricko menggemeretakkan giginya. Ia geram dengan kondisinya sebagai pewaris.


“Papa dan Mama juga pernah muda, 'kan? Papa pasti tahu betul rasanya jatuh cinta.”


“Keadaan dulu dan sekarang jelas berbeda. Mereka mengincarmu dari segala macam arah. Kamu terlihat sempurna, Ricko. Susah untuk musuh mencari celah untuk menghancurkanmu. Tapi, sekarang hadir Arinda. Wanita itu kelemahanmu!”


“Aku akan menjaganya.”


“Lalu, saat kamu lengah kemudian dia mati. Kamu yakin tidak akan frustrasi? Kamu tidak mungkin menjaganya selama 24 jam, 'kan?”


“Pap ....”


“Ricko! Kalian putus saja sudah mengubahmu menjadi sosok yang semakin tak tersentuh. Membuat cemas Mamamu. Opa pun ikut khawatir.” Rahardian menatap sang putra dengan lekat.


“Kalau begitu, aku akan menikahinya. Jadi, aku bisa menjaganya selama 24 jam, 'kan?”


“Tidak semudah itu, Ricko! Keadaan sedang berbahaya. Kita tidak tahu siapa sebenarnya musuh-musuh tersebut.”


“Lalu, aku harus apa, Pap?!”


“Dengar! Musuh kita mengincar jantung hatimu. Kamu tahu apa alasannya? Agar bisa merusak mentalmu. Kemudian, tak ada yang meneruskan Narendra. Tamat sudah!”


Ricko tertawa. “Lucu. Mereka mengincarku, tetapi Papa sendiri mengirimku kembali ke Tanah Air. Bukankah, sebelumnya aku sudah menolak untuk kembali. Ini juga salah Papa sehingga Arinda harus terlibat didalamnya.”


“Ya, itu salah Papa. Awalnya ini semua rencana Mama dan kedua kakakmu agar kalian bersatu. Mereka tak tega melihatmu terus murung.” Karena ini kesalahan Papamu juga, maka Papa akan membenarkannya kembali, Nak.


“Apa maksudnya?”


Rahardian menceritakan perihal semua rencana wanita-wanita Narendra secara gamblang. Tanpa ada satu pun yang terlewat.


Ricko menyimak semuanya dengan saksama. Keluarganya begitu menyayangi sampai harus rela turun tangan demi kebahagiaannya.


Ricko menunduk dalam. Ia malu melihat kondisinya sendiri yang menyedihkan. Sebegitu frustrasinyakah dirinya sehingga membuat repot semua orang?


Dan, pertemuannya dengan Arinda ternyata sudah masuk skenario. Gadis itu juga sama dengannya. Target dari rencana wanita-wanita Narendra.


“Ricko. Papa pun baru mengetahui, perihal lawan bisnis kita yang mengincar siapa pun wanita yang kamu cinta. Info itu Papa dapat satu hari sebelum kalian berangkat ke Jogja.”

__ADS_1


“Pasti ada cara lain. Jangan memisahkan kami, Pap. Aku mohon! Aku tak bisa hidup tanpa Arinda. Aku cinta dia, Pap.”


Ricko mulai frustrasi memikirkan keselamatan Arinda. Benar saja. Lawan bisnis Narendra sepertinya cukup cerdas untuk tidak menikamnya melainkan jantung hatinya.


“Papa tahu kamu cukup cerdas untuk mencari jalan keluar sendiri, Ricko. Toh, kamu sudah menolak usul Papa agar kembali ke London. Jadi, mulailah berpikir untuk menjaga gadismu jika masih ingin terus melihatnya hidup. Bertanggung jawablah atas keputusan yang sudah kamu buat.”


Dan, Papa akan sedikit membantumu demi menebus kesalahan Papa, Mama, dan kedua kakakmu. Karena, sudah membuat Arinda dalam bahaya. Rahardian membatin.


Ricko menatap sang papa datar. Bibirnya bergetar. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan luar biasa.


🌺🌺🌺


Ricko masuk ke ruangannya. Menatap Arinda di depan laptop dengan wajah seriusnya menatap layar dan tangan di atas mouse.


Berjalan perlahan menghampiri Arinda. Memeluknya dari belakang kemudian mengecup berkali-kali puncak kepala sang pujaan.


“Ricko! Ada apa?” tanya Arinda heran melihat Ricko tiba-tiba datang dan melakukan hal tersebut.


“Mau menikah denganku?”


Arinda mengernyit heran. “Kamu sakit?”


Ricko memutar kursi dan bersimpuh di depan Arinda. “Aku serius.”


“Kenapa tiba-tiba? Pak Rahardian bicara apa?”


“Tidak ada sangkut pautnya dengan Papa. Ini murni keputusanku.”


“Ada apa?”


“Arinda, kita menikah di bawah tangan dulu setelah semuanya selesai ....”


Belum juga Ricko menyelesaikan ucapannya, tetapi sebuah tamparan mendarat di pipi. Arinda menampar cukup keras pria tampan di depannya.


Ricko terbengang menatap Arinda. Mata gadis itu tengah berkaca-kaca.


“Apakah aku begitu buruk di matamu, Rick? Sampai ingin menikahiku, tetapi di bawah tangan saja? Kenapa? APA SALAHKU PADAMU?!”


Arinda menahan bulir bening agar tidak keluar. Menahan getaran di bibir dan sesak di dada. Namun, ternyata air mata tak bisa lagi terbendung. Semua rasa akhirnya tumpah di sana.


“Arinda, bukan beg ....”


“Cukup! Mau seperti apa lagi kamu menyakitiku?”


“Rin, aku ....”


“IYA! AKU MEMANG WANITA MURAHAN! CUKUP, RICK! Tapi, aku juga ingin menikah dengan benar. Tidak seperti itu. DASAR BRENGSEK!” Arinda mendorong Ricko kemudian keluar dari ruangan.


Arinda pergi ke lantai teratas gedung pencakar langit. Ia berada di rooftop. Memandangi langit cerah dengan derai air mata.


“JAHAT! KAMU JAHAT! AKU BENCI KAMU!” teriak Arinda meluapkan emosinya kepada Ricko.


“Arinda.”


Merasa namanya dipanggil, seketika Arinda menghentikan tangis. Menghapus sisa air mata. Kemudian, ia membalikkan badan dan tercengang melihat siapa orang yang berada di depannya.


“Iya,” sahut Arinda ketakutan seraya langsung menundukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2