
***
Arin menghampiri Danis dengan langkah yang amat pelan. Dia terlalu gugup, bertemu dengan laki-laki itu. Dia mati-matian menahan senyum bahagiannya. Setelah sekian lama, dia bisa segera berkomunikasi langsung dengan laki-laki yang sikapnya sedingin es itu.
Saat pertama kali Arin menyukai Danis, ada perasaan bahagia sekaligus keraguan. Mencoba mengenalnya lebih dekat adalah harapan terbesarnya. Dan kesempatan itu datang kali ini. Banyak pertanyaan yang muncul di benak Arin. Apakah ini mimpi? Apakah Arin sudah berhasil maju selangkah untuk mendekat pada Danis? Apa benar kalau selama ini sikap acuhnya hanya tameng untuk menutupi perasaan yang mungkin sama dengan Arin? Pertanyaan seperti itu yang mendominasi pikirannya saat ini
Langkah Arin terhenti, ketika seorang laki-laki keluar dari salah satu warung dengan senyum yang dtunjukkan untuknya.
"Udah dateng Rin?" Tanya laki-laki itu.
Danispun mendongak, mendapati Arin yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Perempuan itu bingung, karena bukan Danis yang menyambut atau menyapanya. Tapi laki-laki lain, badannya lebih pendek dari Danis, dan berabut tebal. Laki-laki bernama Ilham Robiansyah yang menyapa Arin.
"Duduk Rin," Katanya, mempersilahkan duduk. Tepat di seberang Danis. Sedangkan Ilham duduk disebelah temannya itu.
Danis hanya diam, dia kembali mengutak-atik handphone tanpa peduli dua manusia didepannya itu.
"Kamu?"
"Lebronjames," Jawab laki-laki itu. "Sorry ya, aku pake nama samaran. Soalnya malu." Dia sedikit menunduk, kelihatan kalau dia memang malu dan gugup.
Kecewa sudah pasti. Karena ini semua diluar ekspektasi Arin. Dia sudah hampir berteriak histeris kalau saja laki-laki itu Danis. Tapi, sayangnya bukan. Sekarang, dia merasa kalau harapannya semakin jauh, saat melihat laki-laki didepannya itu lagi-lagi acuh.
"Sebenernya nama kamu siapa?" Tanya Arin.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya, "Ilham. Namaku Ilham." Arinpun menjabat sebentar tangan Ilham.
"Sekali lagi sorry ya." Ilham lagi-lagi menunduk, sedangkan Arin mendengus kesal.
Arin kembali bersikap ramah, ketika Ilham menatapnya. "Oh iya, kamu mau pesen apa Rin? Biar aku yang pesenin."
"Gak usah Ham. Sorry ya, aku gak bisa lama-lama. Soalnya aku pulang bareng Kakak. Jadi, aku pulang duluan ya," Pamit Arin sesopan mungkin.
"Oh, gitu. Ya udah gapapa kok. Kamu hati-hati ya."
Arinpun berdiri, lalu pergi meninggalkan Ilham dan si bongkahan es itu di kantin. Perempuan itu berjalan lemas menghampiri Lia yang menunggunya di depan kelas kosong sambil bersenandung pelan dengan earphone di telinganya.
Arin menepuk bahu Lia pelan, karena dia terlalu menikmati lagu yang didengarnya. "Mbak."
__ADS_1
Lia segera melepas earphonenya. "Udah? Beli apa ke kantin?"
"Gak beli apa-apa. Ayo balik," Ajak Arin karena moodnya sudah jelek. Dia tidak mau berlama-lama di sekolah.
Perasaan Arin kacau. Campur aduk, antara kesal, kecewa, dan entah apalagi yang dia rasakan. Satu-satunya hal yang paling menyedihkan adalah di abaikan seseorang yang kita sukai, dan merasa tidak ada dalam satu barisan perempuan idamannya. Siapapun pasti sedih, saat mereka tenggelam dalam perasaan yang tidak terbalas. Angan-angannya yang ingin menjalin suatu hubungan bersama Danis membuat Arin tetap tidak bisa menghapus perasaannya. Ini sudah gila, kenapa seorang laki-laki yang tidak setampan Ezra itu bisa membuatnya seperti ini.
Walaupun tidak semenyakitkan dia berpacaran dengan perempuan lain, tapi tetap saja bagi pengagum rahasia seperti Arin kejadian tadi menjadi hal yang sangat menyakitkan. Perasaaannya itu ibarat puzzle, kepingan yang sempurna membentuk gambar hati, kini terlepas satu bagian. Entah ini pertanda agar perempuan itu tidak lagi menggila pada Danis atau sebuah tantangan untuk menyatukan kembali kepingan puzzle yang terlepas, agar kembali sempurna.
*
Sejak pertemuan Arin dengan Ilham di kantin tempo hari, mendadak namanya terkenal dikalangan anak basket. Setiap kali mereka melewati kumpulan murid pecinta bola basket itu, mereka selalu menggoda Ilham dan Arin. Sudah jelas perempuan itu merasa risih dengan candaan mereka. Dia bahkan hanya menanggapinya hanya dengan senyuman pada mereka. Ilham juga sering sekali mengirimi chat, padanya, tapi Arin jarang menanggapinya. Dia tidak mau memberi harapan pada laki-laki itu. Sekarang saja, dia sudah di goda seperti itu, bagaimana jika dia menanggapi Ilham?
Karena kerjadian itu, Arin sangat jarang mengikuti temannya ke kantin, dia lebih sering menitip makanan atau minuman. Teman-temannya tau kalau dia tidak nyaman dengan sorakan para lelaki itu. Sekarangpun, Arin juga enggan melangkah keluar dari ruangan selepas pelajaran komputer. Dia hanya bermain game 'spider solitaire' di komputer yang menurutnya lebih menyenangkan daripada mendengar namanya di jodoh-jodohkan dengan Ilham.
"Rin, gak ke kantin lagi?" Tanya Jihan.
Arin menggeleng, pandangannya masih fokus pada layar Komputer, tangannya juga sibuk menggerakkan mouse kesana kemari.
"Ah gak asik lo Rin, gitu doang masa nyali lo ciut sih," Ejek Risa.
Arin berdecak, "Aku gak suka aja di jodoh-jodohin gitu, teriak-teriak lagi."
"Sok tau. Udah sana ke kantin, aku nitip pop ice cokelat 1," Jawab Arin.
"Ya udah biarin aja sendirian noh si Arin. Ayo ke kantin," Ajak Risa.
Jihan, Kiki, dan juga Nita mengangguk mengiyakan ajakan Risa. Tinggalah Arin sendirian di ruang komputer, dia melihat kesekeliling, ruangan ini benar-benar kosong. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Arinpun beranjak untuk membukakannya. Perempuan itu sedikit kaget melihat seseorang yang berdiri di depannya dengan senyuman manis.
"Hai," Sapanya.
"Kak Niko? Tau dari siapa aku disini?"
"Dari temen-temen kamu. Barusan ketemu. Aku boleh masuk?" Tanya Niko.
"Gak boleh, Kak. Entar ketahuan guru bisa gawat. Soalnya gak ada siapa-siapa di dalem. Bentar aku ambil tas, ngobrolnya di luar aja." Arin meninggalkan Niko sebentar, untuk mengambil tasnya.
Perempuan itu memasang sepatunya, lalu mengajak Niko duduk di bawah tangga di sebelah ruang Komputer.
"Kok tumben gak bareng temen-temen kamu? Lagi berantem?"
__ADS_1
Arin menjawab, "Enggak kok. Lagi males aja, tadi udah titip sama mereka."
"Oh iya, kamu nanti malem ada acara gak?" Tanya Niko.
"Nggak ada, Kak. Kenapa?"
"Mau nemenin aku manggung gak?" Tanya Niko.
"Manggung?" Ulang Arin.
"Nge-band. Nanti malem anggota band sekolah diundang ngisi acara di stadion buat kegiatan amal korban bencana," Jelas Niko.
Satu hal yang baru di ketahui oleh Arin, Niko ternyata adalah anggota band sekolah, karena memang dia tidak pernah mencari tau tentang laki-laki itu. Dia lebih suka menguping pembicaraan anggota basket kelas sebelah yang membahas soal jadwal latihan mereka.
"Sorry, Kak. Bukannya gak mau, tapi aku gak boleh keluar malem sama orang tua," Jelas Arin.
Niko tertawa pelan, "Masih ada ya ternyata yang gak boleh keluaran rumah."
"Ya gitu deh, orang tuaku itu disiplin banget, Kak. Jadi susah kalo mau ijin keluar malem."
"Dicariin di dalem, taunya malah pacaran disini," Ujar Kiki, yang entah sejak kapan berdiri di sebelah Arin bersama ketiga temang lainnya.
"Kak, aku ke kelas dulu ya," Pamit Arin sambil berdiri menggendong tas ranselnya.
Niko mengangguk sambil tersenyum manis. Baru beberapa langkah Arin menjauh, Niko memanggilnya. "Arin."
Perempuan itu menghentikan langkah, lalu membalikkan badan. "Ya?"
"Nanti aku telpon kamu ya?"
Arin mengangguk, "Iya Kak." Lalu berjalan meninggalkan Niko.
"Rin, kenapa lo gak pacaran sama Kak Niko aja? Daripada Ilham, lebih lumayan dia kan," Ujar Risa.
"Iya Rin, kalo kamu udah punya pacar, anak-anak basket kan gak kira godain kamu lagi," Sahut Jihan.
Kiki juga menyahuti, "Bener tuh."
Nita mengangguk, "Kalo Kak Niko sampe nembak kamu, langsung terima aja."
__ADS_1
***