
Menikmati silir angin di pinggir pantai bersama sang pujaan. Menunggu langit memunculkan warna kemerah-merahan seraya melihat matahari menenggelamkan diri.
Mengayunkan kaki bersisian dan saling mengeratkan jemari. Wajah sumringah dengan senyum mengembang pun terus terpatri.
“Rin, katanya kebahagiaan kamu itu adalah aku, bukan?”
“Iya. Lalu?”
Ricko tersenyum. Ia berhenti berjalan dan memeluk Arinda dari belakang. Menyandarkan dagu di bahu sang pujaan. “Aku pun. Bahkan, separuh jiwaku berisikan kamu.”
“Merayu, huh?”
Ricko tertawa. “Ketahuan, ya.”
“Aku juga bisa merayumu.”
“Aku menunggu.”
Arinda tersenyum. “Rasanya aku mau menghentikan waktu detik ini juga. Aku ingin terus begini sama kamu. Selamanya.”
“Waktu berjalan cepat pun, aku pastikan kepadamu kalau kita akan terus begini. Bersama ... selamanya.”
“Tapi, aku masih takut pada kenyataan. Takut penolakan datang.”
Ricko membalikkan tubuh Arinda. “Kamu tu kebiasaan banget. Suka merusak suasana romantis kita. Please, Rin. Bicara yang indah-indah aja.”
Arinda tertawa. “Intermeso, Rick. Sekaligus pengingat supaya tidak tenggelam dalam rayuan semu.”
“Aku yakin Tuhan sudah menggariskan takdir kita untuk berjodoh.”
“Hei. Kamu sok tahu.”
Ricko mengecup bibir Arinda dua kali dan mengalihkan pembicaraan. “Setelah kita menikah, aku ingin memiliki banyak anak. Rumah harus selalu ramai oleh suara menggemaskan mereka.”
“Rick, ucapanmu terlalu jauh. Status kita masih menggantung. Vonis Pak Roni pada nasib hubungan kita belum ketuk palu tiga kali.”
“Kita seperti terdakwa yang sedang menunggu penghakiman.”
“Kamu terdakwanya, aku korban.”
__ADS_1
“Loh ... loh ... loh.”
“Iya aja, sih, Rick,” ucap Arinda bergelayut manja di lengan kekar Ricko.
Ricko memeluk Arinda erat. “Ya-ya. Berhubung korbannya cantik, aku menurut.”
Menunggu datangnya cinta seperti menerka sebuah pertanyaan. Namun, ketika menemukan, terbitlah senyuman.
Memiliki cinta, hidup terasa bermakna. Beribu untaian kata cinta dan rayu pun membuai terlena.
Kebahagiaan mereka semoga langgeng sampai maut memisahkan.
🌺🌺🌺
“Pagi, Cantik,” sapa Ricko seraya memeluk Arinda yang tengah memasak dari belakang. Kemudian, melayangkan kecupan di pipi satu kali.
“Ricko, ih. Malu sama pekerja disini dong. Lepas.” Arinda mencoba meronta, tetapi gagal.
Para pelayan pun memilih menundukkan kepala.
“Biar saja. Mereka sudah sering lihat juga.”
Tak terasa sudah dua Minggu berlalu. Sejoli yang tengah di mabuk asmara itu tetap tinggal dalam satu atap. Syahwat dari ajakan setan masih bisa ditahan. Keduanya saling menahan hasrat dan gawang masing-masing. Agar tidak ada yang membobol sehingga menyebabkan terjadinya kebobolan.
Akan tetapi, si pria pemilik wajah tampan nan menawan itu tak peduli. Janji beberapa waktu lalu untuk tak lagi mencium pun terabaikan. Ricko bilang, sudah kadung kecanduan.
Sarapan sudah tersaji. Pagi ini Arinda membuat nasi goreng dengan telur mata sapi.
“Air putih atau teh?”
“Teh hangat tanpa gula.”
Secepat kilat Ricko bergerak. Satu gelas pesanan sang tuan putri siap untuk diminum. Aktivitas satu Minggu terakhir yang akhirnya menjadi rutinitas harian.
Arinda yang membuat sarapan. Ricko yang menyediakan minuman. Selalu air putih atau teh hangat tanpa gula. Karena, gadis itu tak mau ambil risiko minumannya menjadi asin. Jadi, main aman saja.
Sementara para pelayan akan pergi begitu sarapan telah tersaji di atas meja makan. Titah yang diterbitkan sang tuan muda yang tak ingin acara makan paginya terganggu oleh orang-orang.
Usai sarapan, pelayan akan datang kembali untuk membereskan. Arinda dilarang keras oleh Ricko untuk mencuci piring. Hanya memasak yang pria itu izinkan.
“Aku bantu kamu mengecek email, ya?”
Kali ini, mereka berdua berada di ruang keluarga.
__ADS_1
“Tidak usah. Nanti kamu capek.”
“Aku gak capek. Paling minta gaji.”
Masa kontrak kerja Arinda telah berakhir. Baik gadis itu ataupun Ricko tak mau memperpanjang.
“Nah, itu. Aku gak mau mengeluarkan biaya untuk asisten dadakan.”
Arinda mencebik. “Perhitungan.”
“Biaya nikah mahal, Rin.”
“Bicara nikah terus. Kapan itu terjadi? Ah, tidak-tidak. Bukan kapan, tetapi semoga itu terjadi.”
“Rin, masih pagi, loh. Jangan mulai, deh.”
Arinda mendudukkan diri tepat di samping Ricko. “Rick, ajak aku shopping.”
“Begitu pekerjaanku selesai, kita berangkat.”
“Ada limitnya?”
Ricko mengalihkan perhatian dari laptopnya ke arah Arinda. “Beli apa pun yang kamu mau. Sepuasnya.”
“Aku akan menghabiskan uangmu.”
“Habiskanlah jika kamu sanggup. Aku tak keberatan.”
“Menarik. Bersiaplah jatuh miskin karena ulahku nanti.”
“Asal kamu tetap berada di sisi. Aku siap.”
“Ih, tidak mau.”
“Kenapa?”
“Hidup itu harus realistis, Rick. Aku cantik. Jadi, suamiku kelak harus kaya raya. Karena, merawat diri di salon hanya bisa dibayar pakai uang bukan cinta. Membeli makanan favoritku pun harus dengan rupiah bukan rayuan gombal.”
Ricko tertawa. “Oke! Aku akan selalu bekerja keras agar tetap kaya raya.”
“Nah, gitu dong.”
Keduanya tertawa. Selipan canda yang kadang menjadi selingan saat mengobrol. Cinta keduanya terlalu melekat. Jadi, sesekali harus saling melempar umpan untuk melepas tawa. Agar tidak terlalu banyak pikiran pada status hubungan yang masih belum jelas.
__ADS_1