
“ASTAGA! ARINDAAAAAAAAA!” Ricko langsung berdiri. “TUTUP MATAMU!”
Refleks sebuah handuk yang menggantung di leher dilempar ke wajah Arinda. Kemudian, Ricko berlari menuju ke kamar. Saking malu dan terburu-buru dalam pelarian, ia terpeleset jatuh. Tapi, segera bangun, langsung masuk dan menutup pintu dengan kencang.
Saat pria itu berdiri tadi, Arinda ikut bangun. Spontan handuk tersebut mendarat tepat di wajah cantik itu. Kemudian, ia mengambilnya dan menggelengkan kepala menyaksikan Ricko jatuh. “Dasar ganteng-ganteng slebor!”
Antara polos dan bodoh terkadang memang beda tipis. Itulah Arinda jika berhubungan dengan Ricko. Menganggap hal biasa, padahal tadi sempat hampir meneteskan air liur.
Walaupun pernah melihat dada terbuka Ricko sewaktu di Jogja. Tapi, kali ini berbeda, pria itu hanya mengenakan handuk saja. Oleh karena itu, laki-laki itu juga malu kepada Arinda akan kondisi tersebut.
Sepuluh menit kemudian
Ricko keluar dari kamar sudah dengan pakaian santainya. Celana pendek hitam dan kaus oblong pendek berwarna putih. Kemudian, mendudukkan diri di sofa di samping Arinda. Pria itu memandangi gadisnya dengan lekat.
Hening!
Sepuluh menit tanpa ada yang mulai bicara. Ricko berdeham untuk mengusir rasa canggung dan keheningan.
“Rin ....”
Akan tetapi, baru saja mau mulai bicara. Arinda sudah menyela dengan cepat.
“Lain kali kalau mau berkeliaran pake baju dulu. Apa kamu gak malu hanya mengenakan handuk? Aku tu jadi mupeng liat rambut basah kamu. Udah mana kamu tu seksi banget. Jangan menggoda anak gadis!”
“Iya, maaf.” Tapi, tunggu! Kenapa harus aku yang minta maaf. Sepertinya disini ada yang salah. Apa, ya?
Sepersekian detik kemudian, Ricko melongo dan tersadar dari kebodohannya.
“Arinda!” seru Ricko menahan geram.
“Ricko, kenapa berteriak?”
“Kamu ...,” Ricko menunjuk wajah Arinda. “,... yang salah, bukan aku. Ini apartemenku. Jadi, terserah dong mau melakukan apa pun. Dan, kamu mau apa disini?!”
Arinda mulai memakai jurus andalannya. Memasang wajah memelas dengan suara seolah-olah sedang teraniaya. “Tu 'kan kamu marah. Sudah semingguan ini kamu gak pernah begitu. Tapi, sekarang mulai lagi. Jahat!”
Seketika, Ricko tersadar pada mode pikiran jika gadis ini adalah masa depannya. Jadi, pantang untuk menyakitinya dalam bentuk lisan maupun tindakan.
Ricko menghela napas lelah. Kemudian, meraih tangan Arinda dan mengelusnya lembut. “Maaf. Aku refleks. Kenapa kamu ada disini?” Oh, Tuhan! Sabarkanlah aku dalam menghadapi cobaan-Mu berupa makhluk cantik ini.
“Kamu belum mengganti pin apartemen. Jadi, ya, aku masuk.”
“Aku belum sempat mengganti. Maaf. Nanti aku ganti.”
“Berhubung aku baik dan sabar. Jadi, aku memaafkanmu.”
Ricko menutup mata sebentar agar kesabarannya menguap. Kemudian, tersenyum lebar dan berujar, “Terima kasih, kamu memang wanita sabar. Lalu, mau apa kamu disini? Ini sudah malam. Pulang, ya. Aku antar, oke!”
“Tidak mau. Aku mau bantu kamu memeriksa berkas-berkas itu.”
Apa?
Ricko membelai pucuk kepala Arinda. “Aku sudah bilang akan mengerjakannya sendiri.”
“Kata kamu kita tim audit rahasia. Kenapa aku gak boleh bantu?”
“Boleh. Tapi, tidak malam ini dan di apartemen ini. Berbahaya buat kamu berada disini malam-malam.”
“Bahaya apa? Memang kamu punya binatang buas?”
__ADS_1
Aku binatang buasnya, bodoh! batin Ricko mulai frustrasi.
Ingin menjedotkan kepala ke dinding. Namun, urung melakukannya. Karena, banyak pekerjaan, takut kepalanya nanti pusing.
“Arinda, pria dan laki-laki berada di satu tempat yang sama di malam hari, berdua saja, itu tidak baik. Kamu pulang, ya.”
“Kamu takut aku goda. Aku gak bakal melakukannya. Aku janji.”
“Bagaimana kalau sebaliknya? Aku yang menggodamu?”
“Itu tidak akan terjadi.”
“Kenapa tidak?”
“Sudah kubilang, tidak ada cinta di sana,” ucap Arinda menunjuk tepat di dada Ricko.
AKU CINTA KAMU, ARINDA! batin Ricko berteriak.
“Laki-laki tidak membutuhkan cinta kalau hanya untuk having sex.”
Arinda kaget mendengar penuturan Ricko. “Jadi, kamu udah gak perjaka! Sama siapa aja kamu begituan?”
Ricko menutup mulut Arinda. “Arinda, tolong jaga bicaramu. Aku bukan laki-laki brengsek.” Enak aja! Aku masih perjaka. Itu gara-gara susah move on dari kamu. Jadi, gak tertarik dengan wanita lain. Aku hanya napsu sama kamu. Astaga! Cinta macam apa ini? Kenapa dalem banget?
“Jadi, kamu masih perjaka, 'kan?”
“Oke, kita mulai saja bekerja. Aku ambilkan berkas-berkas dulu.”
Ricko memilih untuk mengalah. Mengalihkan pembicaraan lain agar tidak perlu ada pertanyaan yang harus dijawab lagi. Itu semua membuatnya hampir gila.
Saling membalas omongan dengan Arinda, juga sama saja seperti menusukkan pedang ke jantung sendiri. Sudah tidak pernah menang. Ujungnya, kita yang akan mati konyol dan di tangan sendiri pula. Jadi, kalau masih ingin hidup, mengalah adalah jalan terbaik.
Ricko datang membawa berkas-berkas tersebut. Mereka mulai memeriksa satu per satu dengan serius.
Arinda mendekat, tetapi ia justru gagal fokus. “Rick, kenapa kamu selalu wangi?” tanyanya seraya mengendus aroma yang menguar dari leher Ricko.
Namun, kepala itu langsung di dorong. “Arinda, bisa kita serius. Fo-kus,” ucap Ricko mengeja kata terakhir dengan pelan, tetapi penuh penekanan.
“Maaf, lupa.”
“Mau pulang saja atau membantuku?”
“Iya, aku bantu.”
Keduanya mulai lagi serius. Arinda menatap layar itu dengan tercengang.
“Rick, ini 'kan ....”
“Iya. Teka-teki perlahan terjawab. Itu hanya salah satu bukti saja.”
“Infokan ini kepada Papamu.”
“Jangan sekarang. Bukti belum lengkap.”
Arinda mengangguk. “Kalau begitu, kita cari lagi.”
Arinda mulai lagi berkutat dengan tumpukan dokumen. Sementara, Ricko memeriksa disket.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ricko menutup laptopnya dan bersiap mengantar Arinda pulang.
“Ayo, aku antar kamu pulang!”
“Kata siapa aku mau pulang?”
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Pekerjaan kita belum selesai, Rick.”
“Aku akan menyelesaikannya.”
“Kita tim, Rick.”
“Arinda, sudah malam. Kita teruskan lagi Senin besok di Kantor.”
“Kamu mengusirku?”
Ricko menghela napas lelah. Mengelus pipi lembut Arinda. “Tidak sama sekali. Tapi, ini sudah malam. Kamu harus pulang. Enggak mungkin 'kan kamu menginap disini?”
“Kenapa?” tanya Arinda seraya mencebik.
“Aku tidak punya baju untuk kamu pinjam. Jadi, lebih baik pulang, ya,” jawab Ricko asal.
Arinda mengangkat tasnya ke atas. “Di dalam sini sudah aku siapkan.”
Ricko menganga. “Jangan bilang kalo kamu memang berniat menginap.”
“Iya,” ucap Arinda tersenyum.
“Arinda, kamu tidak boleh menginap disini. Ini apartemen laki-laki. Jangan bercanda.”
“Di Jogja kita tinggal serumah selama satu bulan. Tapi, lihat. Tidak ada yang terjadi, 'kan?”
Ah, aku benar-benar benci berdebat denganmu, wahai wanita cantik pujaan hati Ricko Bagaskara Narendra. Aku selalu kalah! Sang marketing director itu membatin kesal dan pasrah.
“Kalau kamu mau menginap, ada syaratnya.”
“Apa?”
“Cium aku.”
Satu kecupan mendarat di bibir Ricko. Padahal, pria itu hanya bercanda.
“Syarat terpenuhi. Aku menginap. Nanti aku tidur di kamarmu, ya. Dan, kamu boleh, kok, tidur di sofa ini.”
Ricko menggelengkan kepala. Kamu memang ajaib Arinda. Belum menjadi Nyonya Ricko saja sudah mengatur ini dan itu. Sabar-sabar! Untung sayang! batinnya.
Tiga jam kemudian
Berjam-jam menatap layar dan dokumen. Membuat sepasang mantan kekasih itu tertidur pulas. Mereka kelelahan.
Pria itu tertidur dengan posisi kepala di atas meja. Kedua tangannya menjadi bantalan. Sementara, Arinda tidur dengan bersandar pada tubuh Ricko.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Ricko terbangun. Namun, merasa berat di tubuhnya itu. Ia lantas menoleh dan mendapati Arinda tertidur pulas disana. Kedua tangannya pun masih memegang dokumen.
Ricko perlahan menggeser tubuh Arinda. Setelahnya, mengangkat gadisnya ke dalam kamar. Menaruh tubuh mungil itu di atas kasur.
Ricko duduk di pinggiran kasur. Memandangi wajah pulas tersebut.
“Heran, kalau sudah tidur sangat pulas sekali. Di geser dan di angkat pun tidak bangun.” Ricko menjawil hidung mancung Arinda. “Hei, Nona Cantik. Aku cinta gila kepadamu.”
Ricko membelai lembut pucuk kepala Arinda. Turun ke pipinya dan berakhir di bibir. Mengelus bibir merah muda itu dengan ibu jari.
“Aku akan segera menyelesaikan semua tugas dari Papa. Juga, akan selalu menjagamu dari lawan-lawan bisnis kami. Mereka tak akan pernah bisa menyakitimu. Tak akan aku biarkan kamu menjadi tumbal hanya perkara pria ini calon pewaris. Dan, jangan pernah bersedih lagi. Kamu harus selalu bahagia. Bersabarlah! Kita pasti akan bersanding di atas pelaminan.”
Ricko memajukan kepalanya mendekat ke arah Arinda. Kemudian, mencium bibir merah muda itu dengan lembut. Lalu, melepasnya seraya tersenyum.
“Have a nice dream, Baby.”
__ADS_1