ARINDA

ARINDA
Arinda-Zacky


__ADS_3



Berjalan bersisian dengan riang. Bibir tertarik melengkung ke atas. Sesekali terlihat barisan gigi di sana. Lalu, berhenti melangkah saat melihat banyak orang berkerumun di dekat hewan melata berukuran panjang. Netra pun memancar berbinar-binar. Lalu, ikut berfoto bersama dengan si ular yang dilingkarkan ke leher. Kemudian, melanjutkan lagi perjalanan.


Lelah menelusuri Taman Margasatwa Ragunan. Keduanya memilih duduk di atas alas terpal. Pecel sayur dan air mineral dingin turut menemani dan siap untuk menyantapnya.


“Bu, mau bihun dan bakwan gorengnya satu porsi, ya. Saus pecelnya yang banyak.”


“Iya.”


Beberapa menit kemudian makanan tandas.


“Lumayan kenyang.”


“Dua porsi loh, Rin. Masa lumayan?"


“Isinya dikit, Zack. Beda sama isi dari sebungkus nasi Padang."


Zacky menggelengkan kepala, tetapi ia juga tertawa. “Perbandingannya gak adil.”


“Yang ada di kepala gue sekarang lagi melintas nasi dan rendang. Jadi, ya, maklum aja.”


“Kenapa gak bilang mau makan itu? Gue juga sampe lupa kalo makan lu banyak."


Arinda cengar-cengir. “Tadi, liat pecel kayaknya enak.”


“Ya, udah, ayo. Sekarang kita makan nasi Padang.”


“Enggak, deh. Kita bersepeda aja. Gimana?”


“Oke.”


Keduanya berkeliling taman yang berisikan aneka satwa dengan sepeda tandem. Namun, kali ini hanya mau menikmati suasananya saja. Roda bergelindingan di atas aspal. Sesekali meminggir saat delman atau kereta keliling lewat.


Teriknya mentari tak menyusutkan kedua muda-mudi itu untuk terus mengayuh.


Lalu, keduanya menghentikan laju sepeda untuk membeli sebungkus harum manis berwarna pink. Kemudian, mendudukkan diri di atas trotoar dan menikmatinya berdua.


“Rin, besok ada acara?”


“Enggak ... kayaknya?”


“Kok, kayaknya?”


“Nanti gue tanya Ricko dulu.”


“Loh, kok, pake nanya Ricko lagi?”


“Iya, takutnya Ricko ngajak jalan.”


“Terus kalo Ricko ngajak jalan, berarti gak bisa?”


“Iya.”

__ADS_1


“Gue ngajak jalan duluan. Berarti besok sama gue?”


“Nanti Ricko marah. Gue bilang sohib lu dulu, deh.”


Brengsek lu, Rick! Lu apain si Arinda sampe nurut begini? Padahal, cuma lu anggap teman. Dari kemarin gue ajak jalan juga jawabnya selalu 'bentar, ya, gue nanya Ricko dulu'. Kalo gak gue samper dan paksa, hari ini juga belom tentu bisa keluar bareng. Zacky membatin kesal.


“Lu berdua hubungannya apa, sih? Pacar?”


“Teman.”


“Lu sama gue juga teman. Terus apa bedanya?”


“Zack, lu jangan banyak nanya bisa, 'kan?”


“Padahal, gue mau ngajak lu ke acara Book Fair. Ya, udah kalo gak mau.”


“Serius? Zack gue mau. Mau banget malah. Tapi, emang lu betah lama-lama di sana?”


“Betah.”


“Oke!”


“Terus Ricko?”


“Bentar.” Arinda melihat ponselnya dan melihat apakah ada pesan dari Ricko atau tidak. Dan, ternyata tidak ada. “aman. Sohib lu kayaknya lagi sibuk. Karena chat gue juga hanya dibaca.”


Shit! Beneran brengsek lu, Rick! Gue gak terima Arinda lu buat sampe begini! Dia begitu memprioritaskan elu. Sementara status bukan sebagai kekasih. Kembali Zacky membatin seraya menggeram.


🌺🌺🌺


Kebahagiaan tak terkira bagi Arinda bisa berada di tengah-tengah jutaan buku. Ia mengitari semuanya. Gadis itu, rasanya ingin menari saking gembiranya.


Mengambil buku apa pun yang ia suka. Sesekali saat menemukan yang memang menjadi favoritnya sejak dulu. Ia memeluknya erat terlebih dahulu.


“Sudah puas?”


“Iya. Thanks, Zack. Lu baik banget. Ini tu buat gue kayak surga dunia. Udah lama gue gak ke tempat seperti ini, abis sibuk cari duit,” ucap Arinda seraya tertawa.


Zacky mengacak rambut Arinda. “Gue bakal lebih sering ngajak lu ke acara-acara kayak gini.” Apa pun yang bikin lu bahagia, akan gue kasih.


“Serius?”


“Iya.”


“Ah, makasih, Zack.”


Zacky tersenyum. “So, mau ke mana lagi kita?”


“Makan. Gue laper.”


“Oke. Piza, betul?”


Arinda cengar-cengir. “Iya.”


Zacky melajukan mobilnya ke restoran piza. Duduk berhadapan dengan Arinda. Mereka melahap makanan hingga tandas.

__ADS_1


“Masih jam empat sore. Bagaimana kalo kita lanjut ke Kota Tua?”


Arinda berpikir sejenak. “Gimana, ya?”


“Ayolah, Rin. Sore-sore di sana rame loh. Seru, deh, pokoknya.”


“Iya, sih. Tapi, takut Rikco nyariin.” Mau atau enggak, ya. Kok, perasaan gue gak enak. Tapi, ponsel di dalam tas dari tadi juga gak bunyi-bunyi. Kayaknya dia beneran sibuk. Ya, udahlah lanjut aja. Toh, Zacky kan sohibnya, gak mungkin Ricko marah dong. Lagi pula udah bilang juga.


Ricko lagi? Rick, ini cewek cinta mati sama elu. Kok, bisa lu abaikan perasaan dia begitu aja! Zacky membatin geram.


“Rin. Helo!” Zacky menggoyangkan lengan Arinda. Pasalnya, sudah dari tadi di panggil, tetapi tidak menyahut.


“Ah, iya!” Arinda kemudian tersadar. “oke.”


“Kuy.” Lu harus bahagia, Rin.


🌺🌺🌺


Kota Tua banyak memiliki bangunan bersejarah. Kita bisa mempelajari sejarah-sejarah pada zaman dahulu, berbagai kebudayaan, dan melihat barang-barang kuno peninggalan para pahlawan.


Selain bisa mengunjungi monumen-monumen, banyak spot menarik untuk yang hobi fotografi. Berbagai macam jajanan khas Kota Jakarta pun ada.


Begitu tiba, Zacky dan Arinda langsung ke Taman Fatahillah. Karena museum sudah ditutup sejak pukul lima sore. Keduanya datang terlambat sepuluh menit. Mereka pun memilih menaiki sepeda onthel.


Enggan melewatkan kesempatan, Zacky menyewa satu juru foto yang berseliweran agar mengikuti mereka untuk memotret. Berfoto bersama di atas sepeda dan manusia patung pun tak luput dari jepretan.


Momen yang wajib di abadikan, begitu pemikiran Zacky.


Lelah berpose dan berkeliling. Mereka memutuskan untuk mencicipi aneka kuliner. Selanjutnya, atas permintaan Arinda, keduanya pulang.


“Rin, kapan-kapan kita jalan lagi?”


“Iya, nanti ajak Ricko dan Dito juga. Biar rame.”


“Kalau mereka punya waktu.” Udah dua hari jalan sama gue. Tetep elu selalu ingetnya Ricko. Bahkan, sampai kita pulang pun. Dasar bodoh lu, Rick. Menyia-nyiakan cewek setia, baik, cantik, dan pintar kayak gini.


Arinda tersenyum. “Waktu bisa di atur. Lu bertiga kan anak bos.”


Zacky menaikkan alis. Menggelengkan kepala kemudian tertawa. “Ya, terserah.”


“Zack, gue sampe lupa mau nagih hutang.”


“Hutang? Siapa? Gue?”


“Iyalah. Lu hutang cerita.”


“Cerita apa?”


“Kenapa lu bisa memilih menjadi dokter? Jujur, gue penasaran. Secara, ya, sepak terjang lu saat sekolah rada males.”


Zacky tertawa. “Oke. Kapan-kapan pasti gue cerita.”


“Okelah. Kalau begitu gue balik dulu. Thanks untuk weekend-nya, Zack. Jangan kapok mentraktir gue lagi,” ucap Arinda seraya tertawa. Kemudian, turun dari mobil dan mulai memasuki kawasan gedung apartemen.


“Gue gak pernah kapok, Rin. Bahkan, sekali pun lu minta semua harta yang gue punya. Akan dengan senang hati gue kasih. Asal lu bahagia.” Zacky berkata serius seraya menatap kepergian Arinda.

__ADS_1


__ADS_2