
Setumpuk dokumen, membaca email-email, dan segudang aktivitas lain tak melunturkan senyum bibir merah muda. Mengerjakan dengan cepat, tetapi tetap pada koridor ketelitian. Belum lagi mengatur jadwal sang atasan sekaligus mencuri waktu memeriksa berkas dugaan kasus suap. Semua pekerjaan dikerjakan dengan hati senang.
“Rin,” panggil Ricko sudah berdiri menjulang di depan meja Arinda.
Arinda mendongak. “Ya.”
“Aku sangat sibuk. Tolong handle pekerjaan yang tidak terlalu urgen. Jika ada tamu tanpa membuat janji terlebih dahulu. Tolak saja, ya.”
“Iya.”
Ricko tersenyum dan sebelum pergi mengelus pucuk kepala Arinda.
Melanjutkan berkutat dengan segudang pekerjaan. Lalu, suara berdeham terdengar. Kembali Arinda mendongak.
“Mbak Arinda, Pak Ricko ada di ruangan?”
“Iya. Tapi, sedang sibuk.”
“Mau minta tanda tangan.”
Arinda mengambilnya. “Jam dua kembali lagi.”
“Makasih, ya, Mbak.”
“Iya.”
Telepon berdering. Arinda mengangkatnya, berbicara sebentar, sesekali mencatat dalam buku agenda harian. Tak berapa lama menutupnya. Begitu terus hingga beberapa kali.
“Ibu Asisten.”
Arinda mendongak. “Loh, Mbak Dini. Ada apa? Ricko tidak bisa diganggu.”
“Iya, orang yang suka diganggu sudah ada di depannya setiap hari.”
“Mbak, jangan mulai.”
Dini tertawa. “Mbak mau minta tanda tangan sebentar buat keluar kantor.”
“Mau izin ke mana, Mbak?”
“Ke sekolah Febi, ada rapat orangtua. Anak itu lagi nangis di sekolahnya. Karena maunya ada Mbak di sana. Enggak mau orang lain yang mewakili.”
“Duh, kesayangan Aunty kenapa tumben kolok?”
“Efek mau punya adik, Rin. Jadi, makin, deh.”
Arinda tersenyum. “Mbak Dini minta izinnya dadakan banget. Ricko lagi mode gak bisa diganggu. Kayaknya gak bakal dapet izin, deh, Mbak? Kita 'kan juga mau rapat jam satu nanti.”
“Rin, Mbak minta tolong, ya. Bantu ngomong ke Pak Ricko. Memang kamu gak kasihan sama Febi. Sebentar aja, kok. Habis makan siang balik lagi ke kantor.”
“Iya-iya. Apa, sih, yang enggak buat Mbak Dini dan si ceriwis kesayanganku. Sebentar, aku ke dalam. Mbak duduk dulu, ya. Jangan kelamaan diri, nanti capek.”
Dini tersenyum. “Iya.”
Arinda mengetuk pintu. Begitu suara di dalam sudah mempersilakan, ia masuk.
“Rick.”
“Apa?”
Arinda berbicara pada intinya. Memberi tahu perihal izin tersebut. Dan, Ricko tanpa berpikir langsung menolak. Gadis itu pantang menyerah. Ia menjelaskan alasannya. Akan tetapi, tetap ditolak.
“Ricko, kamu tega banget. Ponakan aku kasihan lagi menangis di sekolahnya.”
“Aku minta maaf. Tapi, itu bukan urusanku, Arinda. Kita harus profesional. Oke!”
“Ricko, please!”
“Tidak.”
Arinda berpikir sesaat. Kemudian, senyum jenaka terbit dari bibirnya. Ia beranjak bangun.
__ADS_1
Namun, baru saja mau merealisasikan ide nakal itu, suara Ricko menghentikan pergerakan Arinda.
“Jangan mendekat! Segera keluar dan lekas panggil Dini kemari. Aku akan menandatanganinya.”
“Serius? Ah, Ricko kamu memang terbaik.” Arinda lantas keluar untuk memanggil Dini.
Ricko mengembuskan napas berat. “Dasar gadis seribu akal! Aku tahu kamu mau melakukan apa? Tidak tahu tempat sekali. Ini di kantor. Kalo bukan, mungkin aku bisa pertimbangkan,” ucapnya seraya tertawa dan menggelengkan kepala.
Tak berapa lama Arinda masuk kembali bersama Dini. Ricko langsung menandatangani surat izin tersebut.
“Terima kasih, Pak Ricko.”
Ricko mengangguk tanpa menyahut.
Arinda dan Dini langsung keluar ruangan.
“Rin, makasih. Kalau gak ada kamu, gak tau lagi, deh, nasibnya Febi.”
“Aku 'kan juga gak tega melihat Febi menangis.”
“Iya, Rin. Ya, udah. Mbak langsung berangkat, ya.”
“Iya, salam buat kesayanganku, Mbak.”
“Oke.”
🌺🌺🌺
Dering ponsel mengusik kesibukan Arinda. Ia melihat layar dan langsung menggulir tombol hijau ke atas.
“Halo, Rin!”
Terdengar nada panik dari seberang sana.
“Iya, Mas Fajar. Ada apa?”
“Dini mengalami kecelakaan!”
“APA! Bagaimana kejadiannya, Mas?!"
“Taksi biru yang Dini sewa menabrak pembatas jalan.”
“Astagfirullah!”
“Mas Fajar minta tolong izinkan sama bosmu, ya, Rin.”
“Iya, Mas. Terus kondisi Mbak Dini dan baby bagaimana sekarang?”
“Masih di UGD, Rin. Dokter sedang menangani.”
“Pulang kerja nanti aku ke sana, Mas.”
“Iya. Terima kasih, Rin. Mas tutup, ya.”
“Iya.”
Telepon terputus. Tanpa sadar Arinda sudah berlinang air mata.
Ricko menghampiri. Menarik Arinda agar masuk ke ruangan dan mendudukkan gadis itu di atas kursi.
“Ada apa dengan Ibu Dini?” tanya Ricko penasaran seraya menghapus air mata yang masih mengalir.
“Mbak Dini kecelakaan. Aku khawatir dengan kondisi mereka.”
“Ya, sudah. Selesai rapat nanti aku antar ke rumah sakit.”
“Mereka pasti baik-baik aja, 'kan?”
Ricko memeluk Arinda. “Dokter pasti sedang menangani. Berdoa saja semua baik-baik.”
“Aku takut kehilangan Mbak Dini. Hanya Mbak Dini satu-satunya yang aku punya.”
__ADS_1
Satu-satunya? Aku pikir kalian hanya dekat sebagai sahabat. Tapi, kenapa ucapanmu terdengar ambigu di telingaku? Ricko membatin.
“Jangan berpikiran buruk.”
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Akan tetapi, Arinda sama sekali tidak berselera untuk makan. Pikirannya masih berada pada Dini.
Selang beberapa menit, benda pipih itu berdering. Arinda langsung mengangkatnya.
“Halo, Mas Fajar. Bagaimana kondisi Mbak Dini? Baik-baik aja, 'kan? Baby juga sehat, 'kan?”
Rentetan pertanyaan di berikan Arinda.
“Iya, Rin. Alhamdulillah mereka baik-baik aja. Mas, takut kamu khawatir. Makanya, cepat-cepat menelepon supaya gak menganggu pekerjaan kamu. Sekarang sudah dipindah ke ruang rawat.”
“Alhamdulillah.”
“Ya, sudah, Rin. Mas mau info itu aja. Mbak Dini juga pesan menyuruh kamu agar tidak khawatir dan jangan lupa makan.”
“Iya, Mas. Salam untuk Mbak Dini.”
“Iya.”
Telepon terputus.
🌺🌺🌺
Rapat penting seluruh staf marketing. Ricko memimpin rapat dengan berwibawa. Banyak hal dirubah. Termasuk perjanjian kontrak dengan para tenant.
Isinya lebih ketat dan tentu punishment akan diberikan kepada siapa pun jika melanggar aturan. Intinya, semua harus tunduk tanpa pengecualian.
“Kamis ini saya dan Arinda akan berangkat ke Surabaya. Jadi, secepatnya selesaikan apa-apa yang membutuhkan tanda tangan. Ada pertanyaan?” Semua menggeleng. “Kalau begitu, rapat selesai. Kalian boleh keluar.”
Satu per satu meninggalkan ruangan. Menyisakan Arinda dan Ricko saja.
“Rick, hari Rabu aku izin tidak masuk.”
Ricko mengangkat satu alisnya. “Kita banyak pekerjaan Arinda.”
“Aku akan menyelesaikannya dengan cepat.”
“Mau ke mana?”
“Wisuda.”
“Kenapa tidak bilang dari jauh-jauh hari?”
“Aku lupa. Tadi pun baru ingat belum minta izin kamu.”
Ricko mengelus punggung tangan Arinda. “Aku tidak datang tak apa, ya?"
Arinda tersenyum. “Iya.”
“Aku bangga padamu. Dan, selamat untuk kelulusanmu. Aku belum mengucapkan selamat, 'kan? Maaf, terlambat.”
“Hanya ucapan selamat?”
“Minta apa?”
“Hadiah.”
“Apa? Sebutkan.”
“Buku Burung Garuda.”
Ricko tersenyum. “Nanti aku cari di toko buku, ya.” Seperti anak sekolah saja masih mencari buku-buku pelajaran Moral Pancasila.
“Tidak ada di sana.”
“Lalu, ada di mana? Membeli buku, ya, di toko buku. Itu sudah benar.”
“Ricko, ih! Nyebelin! Bercandanya gak lucu!”
__ADS_1
Arinda keluar ruangan dengan muka masam.
“Siapa yang bercanda, sih? Salah lagi. Salah terus. Heran! Wanita maunya apa? Buku ‘kan memang harus di beli di toko buku. Tidak mungkin belinya di toko material?! Ah, terserah sajalah.”